shapeimage_1Allah ﷻ berfirman:

وَآمِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ ۖ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ

Terjemahan:

Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa.

TAFSIR & PENJELASAN

Ayat ini adalah sambungan dari ayat sebelumnya yangmana Allah memanggil Bani Israil agar memenuhi janji mereka agar beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ dan Alquran yang diturunkan kepada beliau. Allah berfirman:

وَآمِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ

Dan berimanlah kalian terhadap apa yang telah Aku turunkan

yaitu wahai pemuka-pemuka Ahli Kitab, berimanlah kalian kepada kitab suci Al-Quran yang dibawa oleh Nabi Muhammad, yang membenarkan kitab-kitab kalian yang sebelumnya yaitu Taurat dan Injil._

Selanjutnya redaksi ayat berbunyi:

1وَلَا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ

Dan janganlah kalian menjadi orang yang pertama-tama kafir kepadanya

Yaitu janganlah kalian mendustakan Nabi Muhammad ﷺ dan apa yang ia bawa (Al-Quran), padahal kalian adalah kaum yang pertama kali mengetahui akan kedatangan Rasulullah melalui kitab-kitab yang kalian miliki, bahkan pengetahuan kalian mengenai nabi Muhammad ﷺ mendahului klan Qurays dan ahli Makkah, bahkan seluruh bangsa-bangsa yang ada di dunia.

Abul Aliyah dan Imam Ar-Razi meriwayatkan bahwasanya kaum Ahlul Kitab mengetahui persis akan dimunculkannya Nabi penutup, yaitu Nabi Muhammad ﷺ. Hal itu tertulis dalam kitab mereka, bahkan mereka mengetahui dengan rinci sosok Muhammad ﷺ da ciri-ciri beliau, lebih dari mengenal anak mereka sendiri.

Allah ﷻ berfirman:_Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal dia (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri,._ (QS 2: 146)

Selanjutnya, redaksi ayat berbunyi:

وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ

“dan janganlah kalian memperjualbelikan ayat-ayatKu dengan harga yang rendah

Yaitu: jangan disebabkan kecintaan kalian kepada harta dan kekuasaan/kewibawaan agama, menjadikan kalian kufur kepada nabi Muhammad ﷺ yang Allah utus ke atas kalian.

Khitam (punutup) ayat ini adalah larangan yang bersifat global. InsyaAllah perinciannya akan dijelaskan pada penjelasan tafsir pada ayat-ayat selanjutnya.

FAEDAH & HIKMAH

💡 Bahwasanya ilmu tanpa pengamalan adalah percuma. Ibarat pohon berdaunlebat tapi tidak berbuah. Persis seperti yahudi Bani Israil, mereka adalah kaum yang pertama mengetahui informasi tentang akan hadirnya Nabi Akhir Zaman, penutup dan penyempurna risalah agama yaitu Nabi Muhammad ﷺ. Tapi justru mereka pulalah yang paling awal mendustakan (kafir) kepada beliau ﷺ, lantaran sifat hasad , sombong dan cinta dunia.

[mengenai sebab/alasan Yahudi menolak Nabi Muhammad akan dibahas pada tafsir ayat-ayat berikutnya]

💡 Redaksi ayat yang berbunyi (مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ) ‘membenarkan apa-apa yang ada pada kalian’, sering terulang pada ayat-ayat mengenai yahudi Bani Israil, meski kadang dalam bentuk redaksi yang sedikit berbeda.

Hal ini menjadi penegas bahwasanya Al-Quran adalah kitab suci yang meneruskan substansi kitab-kitab samawi sebelumnya (taurat, injil, zabur dlsb) dalam perkara ushuluddin yaitu tauhid (mengEsakan Allah), nubuwah (kenabian), iman kepada akhirat, dan bentuk-bentuk ibadah secara umum.

💡 Banyak ayat Al-Quran menggunakan ungkapan ‘jual beli’ baik dengan kalimat ‘syira’ atau ‘tijaroh’, termasuk ayat ini. Banyaknya penyebutan istilah jual beli di dalam al-Quran dikarenakan fitrah manusia yang menyukai bisnis (jualbeli), dan kepemilikan.

Adapun redaksi ayat (وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا ) ‘janganlah kalian menjual ayat-ayatKu dengan harga yang murah’,  di dalam Al-Quran bisa bermakna dua: yaitu hakiki dan maknawi.

Adapun makna secara kiasan, serupa dengan ayat (اشْتَرَوا الضَّلاَلَ بِالْهُدى) ‘mereka membeli kesesatan dengan petunjuk’, maksudnya mereka meninggalkan kebenaran wahyu Allah, dan cenderung kepada kesesatan dan mengambilnya sebagai sebuah pilihan hidup, seolah seperti orang yang bertransaksi jual beli. Maka mereka merugi atas pilihannya ini, memilih neraka daripada surga yang dijanjikan.

Terkhusus kepada yahudi bani Israil, ayat ini bisa bermakna hakiki dan maknawi. Sebab pendeta yahudi betul-betul mempreteli ayat-ayat Taurat, dan menggunakan ayat-ayat yang diubah tsb untuk kepentingan mereka, baik ekonomi maupun politik (kekuasaan).

[Mengenai kecurangan dan kezaliman Yahudi ini, insyaAllah akan dibahas lebih lengkap pada tafsir ayat-ayat selanjutnya]

Demikianlah kajian kita seri kali ini.  Semoga bermanfaaat,  menambah wawasan keislaman kita, guna meningkatkan iman dan amal salih.  Aamiin.

وَالسَّلَامُ عَلَيكُم وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ 🙏🏻

 

Jakarta, 2 Mei 2017/6 Sya’ban 1438 H

✍  Penulis Rizki Usmul Azan [www.azansite.wordpress.com/penulis/ ]

 

gabung @kajiantafsirLT (Telegram)

Referensi:
Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Fathul Qadir, Tafsir Al-Munir, Tafsir Sofwah Tafasir, dlsb

 

Iklan
Oleh: Azan bin Noordien | Agustus 9, 2017

Bani Israil, penuhi janji kalian! (Tafsir QS Al-Baqarah : 40)

shapeimage_1Allah ﷻ berfirman:

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

Terjemah:

Wahai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk)

TAFSIR & PENJELASAN

Ayat ini adalah perintah kepada Bani Israil agar masuk Islam dan mengikuti Nabi Muhammad ﷺ. Ayat ini adalah ayat pertama dalam surat Al-Baqarah yang berkisah tentang Bani Israil dan yahudi nasrani keturunan mereka.

Bani Israil adalah sebutan bagi anak keturunan Nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim ~alaihimussalam. Dikatakan Israil adalah nama lain dari Nabi Ya’qub, atau julukan kpd beliau. Israil berasal dari bahasa Ibrani (Hebrew) yang berarti Abdullah (hamba Allah).

Khitob (pesan) ayat ini dikhususkan kepada Bani Israil dengan ungkapan (يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ) “Wahai bani Israil”. Seolah Allah hendak menyampaikan: “Wahai anak keturunan Nabi yang salih Ya’qub, jadilah kalian seperti bapak kalian dalam menempuh jalan kebenaran..”

Allah ﷻ mengingatkan mereka atas ‘nikmat’, yang telah Allah berikan ke atas mereka. Berkata Abul Aliyah: ‘Nikmat’ tersebut adalah dijadikannya banyak Nabi dan Rasul dari kalangan mereka, lalu diturunkannya kitab-kitab suci kepada mereka. Sebagaimana Nabi Musa dulu telah mengingatkan mereka:

(وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا وَآتَاكُمْ مَا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ)
_Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain”_ (QS Al-Maidah: 20)

Ibnu Abbas juga menambahkan, bahwa maksud nikmat Allah pada ayat ini adalah diselamatkannya Bani Israil dulu dari kekejaman rezim Fir’aun. Selanjutnya:

وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ
_Maka penuhilah janji kalian kepadaKu pasti kupenuhi janjiKu kepada kalian_

Berkata Hasan Al-Basri: “Ayat ini dijelaskan dengan firman Allah ﷻ :
_Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus._ (QS Al-Maidah: 12)

Sebagian ahli tafsir menjelaskan maksud ayat ini adalah diinformasikannya di dalam Taurat, bahwa akan muncul seorang Nabi yang agung dari Bani Isma’il (keturunan Ismail bin Ibrahim As.) yaitu Nabi Muhammad ﷺ. Sesiapa yang mengikutinya, diberi ampunan Allah, dihapuskan dosanya dan dimasukkan ke dalam surgaNya. Inilah janji Allah kepada semua orang beriman, sebagaimana firmanNya:

_”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal salih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan berkuasa orang-orang sebelum mereka, dan sungguh Dia akan meneguhkan (memberikan kemapanan) agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka.”_ (QS. An-Nur: 55).

Ayat ini ditutup dengan kalimat:

وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ
_dan (hanya) kepadaKu lah kalian takut_

Kata ( َإِيَّاي ) adalah bentuk pengkhususan sebagaimana dalam kaidah nahwiyah. Mengenai khitam (penutup) ayat ini, Ibnu Katsir berkata: “Ini adalah bentuk tarhib (warning) setelah Allah memberikan targhib (motivasi) pada awal ayat yang menceritakan banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka.

Mengenai apa saja janji Bani Israil kepada Allah, dan bagaimana Bani Israil bersikap tentang janji itu insyaAllah akan dibahas pada ayat-ayat berikutnya.
~

FAEDAH & HIKMAH

💡 Walaupun ayat ini dan ayat-ayat seterusnya ditujukan kepada Bani Israil, namun pesan adalah bagi semua ummat. Sebagaimana kaidah dalam ilmu tafsir:

العِبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب
“Hikmah itu diambil dari keumuman lafaz bukan dari sebab-sebab khususnya.”

💡 Bahwasanya Islam mengajarkan untuk menepati janji. Allah berfirman: “..maka penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya..” (QS Al-Isra’: 34)

Orang yang ingkar senantiasa ingkar janji tanpa ada perasaan bersalah dan meminta maaf kepada orang yang ia khianati, maka ia memiliki memiliki salahsatu ciri-ciri kemunafikan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Ciri orang munafik ada tiga; bila berbicara ia dusta, bila berjanji ia ingkari, dan jika diberi amanah ia khianati..” (HR Bukhari, Muslim)

💡 Bahwasanya kita diperintahkan untuk selalu mengingat nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah; baik nikmat hidup, nikmat sehat, nikmat ukhuwah, nikmat ibadah, nikmat ilmu, nikmat agama, nikmat harta, dlsb.

Dan cara menyukuri nikmat tsb adalah dengan meningkatkan keta’atan kepada syariatNya. Ini adalah bentuk tanda syukur kepada Allah yang paling utama, tidak hanya sekedar ucapan saja.

☕Demikianlah kajian kita seri kali ini. Semoga bermanfaaat, menambah wawasan keislaman kita, guna meningkatkan iman dan amal salih. Aamiin.

وَالسَّلَامُ عَلَيكُم وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ 🙏🏻
___________________________________
Jakarta, 29 April 2017/3 Sya’ban 1438 H
✍  Penulis Rizki Usmul Azan [www.azansite.wordpress.com/penulis/ ]

gabung @kajiantafsirLT (Telegram)

Referensi:
Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Fathul Qadir, Tafsir Al-Munir, Tafsir Sofwah Tafasir, dlsb

Oleh: Azan bin Noordien | Juni 16, 2016

PUASA DAN IHSAN

تقرب الى اللهDi saat hawa nafsu tidak dikendalikan, manusia layaknya seperti binatang yakni memuaskan batinnya kepada sesuatu yang sifatnya lahirah dan materi, tidak lebih dari kebutuhan perut dan –maaf- sejengkal di bawah perut. Manusia juga tidaklah seperti malaikat, yang tidak memiliki nafsu dan keinginan hingga mampu terhindar dari kesalahan dan dosa, 100% taat kepada Allah Swt tanpa maksiat. Oleh karena itu di dalam Islam, kedudukan manusia sangat istimewa, karena pada saat ia memiliki potensi buruk, ia juga memiliki kesempatan memilih untuk menempuh dan menaikkan potensi baiknya. Baca Lanjutannya…

Oleh: Azan bin Noordien | April 13, 2016

Mewujudkan Ulama Di Tengah Umat

بسم الله الرحمن الرحيم

zxcvbnmvmcxzghgfdh1.jpg

Tersebarnya banyak kemaksiatan dan kerusakan dikarenakan karena kurangnya kehadiran sosok ulama di tengah masyarakat. Karena ulama ibarat lentera yang menerangi kejahilan dan kebodohan. Ulama adalah marja’ (rujukan) masyarakat agar menempuh jalan yang diridhai oleh Allah s.w.t yaitu syariah Islam. Allah s.w.t berfirman: “Bertanyalah kepada ulama jika kalian tidak mengetahui (AlAnbiya:7). Kita tidak perlu teriak “disini gelap, disini banyak maksiat” tapi cukup bawakan lampu, maka biarkan cahaya itu yang mengusir kegelapan dengan wibawa cahayanya.

Hadirnya sosok ulama yang benar-benar kredibel, mutlak sesuatu yang dirindukan insan beriman, sesuatu yang dibutuhkan bagi setiap masyarakat yang berakal. Namun sayangnya, tidak semua orang paham bagaimana cara mewujudkannya, apalagi bersedia berkorban untuk mencetak kader dan calon ulama di masa depan. Seolah pengkaderan ulama itu urusan orang lain, diri kita tidak ada andil sama sekali. Seolah-olah ulama itu muncul di masyararkat sekonyong-konyong, seperti turunnya hujan lebat di terik matahari siang. Baca Lanjutannya…

Oleh: Azan bin Noordien | September 9, 2015

Dakwah Lembut ala Rasulullah ﷺ

Bismillah walhamdulillah wassalamu alal habib almustafa, amma ba’du

1099531

Bangsa Arab yang tadinya keras, menjadi lembut karena akhlaknya Rasulullah

Sangat disayangkan , saat ini muncul sebagian pembicara yang kurang memahami ilmu komunikasi dakwah, melemparkan kalimat-kalimat yang ‘sulit’ kepada awam hingga menyulut perpecahan diantara kaum muslimin di masjid-masjid mereka. Kalimat haram, bid’ah, dolalah, sesat, neraka– adalah kalimat ‘berat’ di telinga orang awam. Oleh karena itu, dalam penyampaian hendaknya seorang mubaligh mau menyesuaikan tingkat pemahaman mustami’ (pendengar). Sebuah kalimat walaupun cuma sepatah kata, namun jika tidak sesuai pada tempatnya dan tidak sesuai dengan kadar ilmu mustami’, maka bisa menjadi sebuah awal terpeciknya api perpecahan dan suuzon. Oleh karena itu, muballigh harus memperhatikan gaya komunikasi dan melakukan pendekatan yang terbaik kepada umat.

Generasi salafuna salih dan para ulama sangat hikmah dalam komunikasi dalam dakwah dan ta;lim mereka. Contoh sederhana, sebagaimana ulama terdahulu biasanya mengganti kalimat ‘haram’ dengan menggunakan istilah ‘ma laa yurdhillah’ artinya apa-apa tidak diridhai oleh Allah. Atau kalimat bid’ah diganti dengan ‘khilaf assunnah’ (menyelisihi sunnah), atau dengan kalimat ‘sesat’ harus diimbangi dengan iringan do’a yang banyak (Allahumma yahdihim ‘smg Allah beri hidayah mereka) tanpa ada perasaan paling benar dan tidak perlu pakai ta’yin (menyebutkan nama atau kelompok tertentu). Ini semua soal uslub atau metode bayan, harus berhati-betul betul dengan umat Islam awam apalagi khitobnya kepada ahli masjid, kibaru-sin (orang-orang tua), apalagi tokoh agama.

Berikut beberapa ayat dan hadits yang memberi kita alasan yang kuat mengapa kita harus lemah lembut dalam berdakwah: Baca Lanjutannya…

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori