Oleh: Azan bin Noordien | Juni 16, 2016

PUASA DAN IHSAN

تقرب الى اللهDi saat hawa nafsu tidak dikendalikan, manusia layaknya seperti binatang yakni memuaskan batinnya kepada sesuatu yang sifatnya lahirah dan materi, tidak lebih dari kebutuhan perut dan –maaf- sejengkal di bawah perut. Manusia juga tidaklah seperti malaikat, yang tidak memiliki nafsu dan keinginan hingga mampu terhindar dari kesalahan dan dosa, 100% taat kepada Allah Swt tanpa maksiat. Oleh karena itu di dalam Islam, kedudukan manusia sangat istimewa, karena pada saat ia memiliki potensi buruk, ia juga memiliki kesempatan memilih untuk menempuh dan menaikkan potensi baiknya.

Potensi baik manusia ialah pada akal dan rohaninya. Islam mengajarkan kita menempatkan hawa nafsu pada tempat dengan cara pengendalian. Di saat hawa nafsu dikendalikan, maka jiwa menjadi tenang dan bersih, mampu melihat dan memaknai kehidupan. Di saat hati terbuka, ia mampu menjadi pemantul cahaya ilahi sebagaimana yang diamanahkan Allah kepada para malaikat, hingga ia mampu mengimplementasikan syariah dan tuntunan Allah Swt di dunia. Inilah yang disebut dengan keadan ‘fitrah’, yakni keadaan ingin dekat dan selalu mendekat kepada Allah Swt, sang Penciptanya. Allah Swt berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah bahwasanya) Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran..” (QS Al Baqarah:186).

TUJUAN PUASA

Tujuan puasa yang adalah mencapai derajat Ihsan: yaitu melihat keagungan Allah Swt dari dalam diri setelah melalui latihan berpuasa, menahan nafsu dari hal-hal yang mubah, seraya memaksimalkan momentum tersebut untuk At-Taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepadaNya) dengan amalan-amalan sunnah, qiyamu ramadhan, tilawah Al Quran, sedekah dlsb. Sedangkan derajat ihsan yang paling rendah yaitu merasakan kehadiran Allah swt dlm Amal. Dalilnya sebuah hadits panjang yang masyhur yang disebut oleh para ulama sebagai, ‘Hadits Jibril’,

أخبرني عن الإحسان. قال أن تعبد الله كأنك تراه و إن لم تكن تراه فإنه يراك

(Jibril As bertanya kepada Nabi ﷺ) Beri tahu aku apa itu Al-Ihsan? Rasulullah ﷺ menjawab: “Kamu beramal (beribadah) seola-olah kamu melihat Allah Swt, jika kamu tidak mampu maka Allah swt pasti melihatmu..” (HR Muslim)

Dalam sebuah hadits qudsi dikatakan: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Allah swt berfirman: “Setiap amal Bani Adam baginya, kecuali puasa. Maka sesungguhnya puasa itu untuk Aku, dan Aku sendiri yg akan membalasnya..” (Hadits muttafaq alaihi)

Ulama katakan, amalan seseorang dibalas sesuai dengan kadar ‘ihsan’nya kepada Allah swt. Semakin tinggi nilai ihsan seseorang semakin besar pahalanya dan semakin tinggi kedudukannya. Sebaliknya, ada orang capek beramal shalih, dikarenakan sifat ihsannya lemah maka pahalanya rendah bahkan menjadi riya (disorientasi) jika meliburkan ihsan dalam amal. Sifat Riya adalah kebalikan dari Ihsan, dan ini paling dikhawatirkan oleh Rasulullah terhadap umatnya.

Allah Swt mengaruniakan pahala/fadhilah yang besar bagi hamba yang mncapai maqam Al-Ihsan. Makanya di dalam Al Quran ada pahala yang tidak terbatas (unlimited) yang diberikan sesuai dengan kehendak Allah Swt.

وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: “Allah memberi rizki bagi yang Dia kehendaki dengan tanpa batas..” [QS 2:212]

Demikian juga dikatakan dalam hadits, Rasulullah melarang keras mencaci para Sahabat-sahabatnya, bahkan dikatakan walaupun amal seseorang sebesar gunung uhud tidak akan menandingi amalan Sahabat Nabi, kenapa? Karena amalan sahabat nabi walau sedikit tapi dengan bobot Al-Ihsan. Radiyallahu anhum ajma’in

PENUTUP

Puasa adalah ibadah yang benar-benar menguji keikhlasan, latihan menjaga kebeningan hati, memusatkan perhatian hanya kepada Allah Swt, menyerahkan segala penilaian diri hanya kepada Allah Swt. Oleh karena itu riyadhah atau latihan seperti selama Ramadhan hendaknya menjadikan seseorang memiliki sifat Al Ihsan di dalam dirinya, menghiasi segala ibadah dan tindak tanduknya hanya untuk Allah Swt, hingga berjalan menuju tangga Taqwa. Puasa juga ibadah yang universal, ia adalah sebuah thariqah atau metode yang ditetapkan Allah Swt kepada hambanya dari setiap zaman agar menjadi hamba yang dekat dan bertaqwa kepada Allah Swt, oleh karena itu Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian puasa, sebagaimana telah diwajibkan bagi umat sebelum kalian, agar kalian bertaqwa..” (QS Al Baqarah; 183)

Wallahu a’lam bi shawaab


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: