Oleh: Azan bin Noordien | April 13, 2016

Mewujudkan Ulama Di Tengah Umat

بسم الله الرحمن الرحيم

zxcvbnmvmcxzghgfdh1.jpg

Tersebarnya banyak kemaksiatan dan kerusakan dikarenakan karena kurangnya kehadiran sosok ulama di tengah masyarakat. Karena ulama ibarat lentera yang menerangi kejahilan dan kebodohan. Ulama adalah marja’ (rujukan) masyarakat agar menempuh jalan yang diridhai oleh Allah s.w.t yaitu syariah Islam. Allah s.w.t berfirman: “Bertanyalah kepada ulama jika kalian tidak mengetahui (AlAnbiya:7). Kita tidak perlu teriak “disini gelap, disini banyak maksiat” tapi cukup bawakan lampu, maka biarkan cahaya itu yang mengusir kegelapan dengan wibawa cahayanya.

Hadirnya sosok ulama yang benar-benar kredibel, mutlak sesuatu yang dirindukan insan beriman, sesuatu yang dibutuhkan bagi setiap masyarakat yang berakal. Namun sayangnya, tidak semua orang paham bagaimana cara mewujudkannya, apalagi bersedia berkorban untuk mencetak kader dan calon ulama di masa depan. Seolah pengkaderan ulama itu urusan orang lain, diri kita tidak ada andil sama sekali. Seolah-olah ulama itu muncul di masyararkat sekonyong-konyong, seperti turunnya hujan lebat di terik matahari siang.

Tidak demikian, ulama adalah manusia juga, bukan nabi yang mendapatkan ilmu berupa wahyu. Ulama adalah santri yang muncul dari proses pendidikan agama yang ditempuh dalam waktu yang tidak sebentar, dijalani dengan berlika–liku, penuh pengorbanan dan kesusahan. Karena jalan yang ditempuh ulama sama seperti jalannya para nabi-nabi yaitu membawa risalah Islam. Sabda Rasulullah S.a.w: “Ulama adalah pewaris para nabi.” juga beliau s.a.w sampaikan : “Ulama umatku seperti nabi-nabinya Bani Israil.” Siapa yang mengemban amanah besar mulia ini, akan diberikan Allah s.w.t cobaan sebagaimana para nabi dan rasul tentunya dengan ganjaran pahala yang juga besar. Tidak heran, kelak di akhirat derajat para ulama tepat di bawah derajat para Nabi dan Syuhada’.

Poin kita adalah: dibutuhkan usaha dan pengorbanan dari setiap individu dan keluarga muslim untuk mencetak ulama dengan cara menghidupkan suasana agama dan menggairahkan minat belajar agama secara konprehensif. Berkata Khalifah Umar bin Abdul Aziz: “Jadilah ulama, jika tidak mampu jadilah penuntut ilmu. Jika tidak mampu, cintailah penuntut ilmu. Jika tidak mampu, jangan kau benci para penuntut ilmu.”

Jika kita tengok sejarah ketika dulu peradaban Islam maju di zaman sahabat Nabi, juga setelahnya seperti pada zaman Umayyah, Abbasiyah, hingga Turki Ustmany (Ottoman), fakta berbicara di zaman itu penghargaan kepada Thalibul Ilmi (penuntut ilmu) sangatlah tinggi, melebihi penghormatan kepada khalifah dan pejabat. Dan kemerosotan terjadi ketika ilmu Islam dipinggirkan dan tidak disupport. Kita semua tahu kaidah ini, namun bila ada saudara/rekan, kita yang sibuk di thalabul ilmi di pesantren atau di Universitas Islam, kebanyakan dari kaum muslimin memandang sebelah mata dan tidak memberikan support yang nyata.

Karena ketinggian kedudukan seorang ulama, maka bukan perkara mudah belajar agama secara terperinci hingga nanti menghasilkan ulama yang mumpuni. Setidaknya ada beberapa cabang ilmu yang harus mutlak dikuasai seorang Thalibul ilmi (santri/mahasiswa syariah), diantaranya:

  • Ilmu Bahasa Arab: Ilmu yang mengkaji sistematika bahasa arab baik secara ta’bir maupun kaedah nahwu dan sharaf.
  • Ilmu Balaghah (Sastra Arab): Ilmu yang menjabarkan keindahan dan uslub bahasa arab
  • Ilmu Al Quran : Ilmu yang mempelajari qiraat, tajwid, asbab nuzul, dlsb
  • Ilmu Tafsir: Ilmu yang khusus mengkaji makna ayat-ayat di dalam Al Quran
  • Ilmu Tauhid: Ilmu yang menjelaskan teologi dan keyakinan asas keimanan dan agama.
  • Ilmu Fiqh : Ilmu yang menjelaskan teknis beribadah, muamalah dslb
  • Ilmu Ushul Fiqh: Ilmu yang mengkaji cara menyimpulkan hukum dari nash
  • Ilmu Hadits : Ilmu yang menjelaskan kalam Rasulullah dan penafsirannya
  • Ilmu Mustalah Hadits: Ilmu khusus dalam memahami istilah-istilah dalam ilmu hadits
  • Dan banyak ilmu pendukung lainnya seperti ilmu dakwah, sirah, tasawuf, ilmu kalam dlsb

Karena banyaknya beban studi tersebut, tidak salah bila Imam As-Syafi’i (204 H) pernah membuat sebuah syair yang menyebutkan enam syarat, wajib ada bagi penuntut ilmu syariah agar sukses menempuh jalannya para ulama terdahulu. Imam Syafii berkata:

أخي لن تنــــال العلم إلا بستــــــــةٍ     #       سأنييك عن تفاصيلها ببيـان

ذكاء وحرص واجتهاد وبلغــــــــة     #         وصحبة استاذٍ وطول زمان

Saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali setelah memenuhi enam syarat. Saya akan beritahukan keseluruhannya secara rinci, yaitu:

  • Kecerdasan (Dzaka’)
  • Semangat (Hirsh)
  • Kesungguhan (Ijtihad)
  • Harta yang cukup (Bulghah)
  • Bimbingan Ustadz (Suhbah al Ustadz)
  • Dalam tempo waktu yang lama (Thulul zaman)

 

Tidaklah mampu seseorang menguasai ilmu syariah kecuali dengan kecerdasan dan konsistensi. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menguasai semua cabang ilmu Islam. Perlu tekat kuat membaja, perlu semangat dan kesungguhan dengan bimbingan guru (Syaikh/Ustadz) yang juga kredibel, dan yang tidak kalah urgen adalah pendanaan materi, untuk akomodasi sehari-hari Thalibul Ilmi, membeli kitab, terutama bagi yang telah berkeluarga. Intinya, untuk mewujudkan seorang ulama perlu ketenangan dalam belajar tanpa disibukkan dengan perkara-perkara dunia, support dari orang-orang sekeliling dan lingkungan yang kondusif.

Kaedah dalam hal ini ada dua sisi; Pertama, makruh bila seorang Thalibul Ilmi meminta-minta bantuan kepada sekitarnya karena ini merupakan aib. Kedua, di sisi lainnya, orang-orang yang berada di sekeliling Thalibul ilmi-lah yang semestinya harus responsif dan memberikan kesediannya dalam melayani agama ini dengan membantu para pejuang agama Allah s.w.t dengan kesiapan yang sebaik-baiknya, ikhlash lillahi ta’ala.

Tidak ada salahnya, kita intip beberapa kesibukan seorang Thalibul Ilmi, agar kita sedikit memahami dengan melihat lebih dekat kepada proses terbentuknya sebuah kepribadian dan agenda seorang thalibul ilmi. Diantara kegiatan penting seorang calon ulama adalah:

  1. Muhadharah: yaitu duduk dalam majelis Syaikh untuk menyimak dan memahami penjelasan dan mengambil istifadah ilmu sebanyak-banyaknya. Kadangkala dibutuhkan menulis dengan cepat dan tepat.
  2. Muthala’ah : menelangah kitab-kitab turats (klasik) yang berbahasa arab gundul, karya para ulama terdahulu
  3. Muraja’ah: yaitu menghafal dan mengulang-ulang teks-teks syar’i misal: hafalan Al Quran, hafalan hadits, kaedah-kaedah hukum, malfuzhat, hikam, dan menghafal mutun ilmiyah (textbook yang menjadi dasar pijakan ilmu untuk kemudian dikembangkan) di setiap bidang ilmu.
  4. Munaqashah ilmiyah: yaitu berdialog, mengemukakan argumen dalam masalah-masalah tertentu terutama prolematika kekinian.
  5. Mulazamatul ustadz: yaitu kegiatan ziarah, menjaga hubungan baik dengan para guru (syaikh), berkhidmah melayani ustadz, sembari berdialog dan mengambil istifadah dan barakah dari guru.
  6. Qiyamul ibadah: yaitu meluangkan waktu untuk khalwat dalam rangka beribadah dengan khusyu’, menyerahkan semua usaha dalam menuntut ilmu agar diberkahi dan dimudahkan, dan diberikan taufik dan inayah agar paham dan istiqamah.

 

Demikianlah sekilas tentang ‘kesibukan’ seorang thalibul ilmi, yang sedikit kami bisa paparkan. Diharapkan kita bisa mendapatkan sedikit bayangan jalan yang ditempuh para Thalibul Ilmi agar kita bersiap membantu dan mensupport baik secara moril dan materil. diharapakan masyarakat juga lebih tersadarkan bahwa pentingnya untuk mencetak kader-kader ulama masa depan yang tidak lain adalah tugas kita bersama, tugas yang mulia yang diembankan dari Allah s.w.t kepada umat akhir zaman, khususnya di zaman sekarnag yang mana haq dan bathil tercampur sedemikian rupa.

Wallahul musta’an.

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: