Oleh: Azan bin Noordien | September 9, 2015

Dakwah Lembut ala Rasulullah ﷺ

Bismillah walhamdulillah wassalamu alal habib almustafa, amma ba’du

1099531

Bangsa Arab yang tadinya keras, menjadi lembut karena akhlaknya Rasulullah

Sangat disayangkan , saat ini muncul sebagian pembicara yang kurang memahami ilmu komunikasi dakwah, melemparkan kalimat-kalimat yang ‘sulit’ kepada awam hingga menyulut perpecahan diantara kaum muslimin di masjid-masjid mereka. Kalimat haram, bid’ah, dolalah, sesat, neraka– adalah kalimat ‘berat’ di telinga orang awam. Oleh karena itu, dalam penyampaian hendaknya seorang mubaligh mau menyesuaikan tingkat pemahaman mustami’ (pendengar). Sebuah kalimat walaupun cuma sepatah kata, namun jika tidak sesuai pada tempatnya dan tidak sesuai dengan kadar ilmu mustami’, maka bisa menjadi sebuah awal terpeciknya api perpecahan dan suuzon. Oleh karena itu, muballigh harus memperhatikan gaya komunikasi dan melakukan pendekatan yang terbaik kepada umat.

Generasi salafuna salih dan para ulama sangat hikmah dalam komunikasi dalam dakwah dan ta;lim mereka. Contoh sederhana, sebagaimana ulama terdahulu biasanya mengganti kalimat ‘haram’ dengan menggunakan istilah ‘ma laa yurdhillah’ artinya apa-apa tidak diridhai oleh Allah. Atau kalimat bid’ah diganti dengan ‘khilaf assunnah’ (menyelisihi sunnah), atau dengan kalimat ‘sesat’ harus diimbangi dengan iringan do’a yang banyak (Allahumma yahdihim ‘smg Allah beri hidayah mereka) tanpa ada perasaan paling benar dan tidak perlu pakai ta’yin (menyebutkan nama atau kelompok tertentu). Ini semua soal uslub atau metode bayan, harus berhati-betul betul dengan umat Islam awam apalagi khitobnya kepada ahli masjid, kibaru-sin (orang-orang tua), apalagi tokoh agama.

Berikut beberapa ayat dan hadits yang memberi kita alasan yang kuat mengapa kita harus lemah lembut dalam berdakwah:

***

عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن الله يحب الرفق في الأمر كله

Dari ‘Aisyah Ra. berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda “Sesungguhnya Allah menyukai kelembutan pada setiap perkara.” (Hadits Muttafaqun ‘alaihi)

Allah ta’ala berfirman:

اِذْهَبَا إِلى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغى فَقُوْلَا لَهُ قَوْلًا لَيِّناً لَعَلَّهُ وَيَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

Pergilah kalian berdua (Musa dan Harun) kepada Fir’aun sesungguhnya dia telah melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS Thaaha: 20)

**

فإن كان أسلوب الخطاب هذا لذلك الطاغية، فكيف بإخوانكم المسلمين

Jika dakwahnya dua orang Nabi saja kepada Fir’aun diperintah Allah harus dengan lemah lembut apalagi dakwahnya seorang muslim kepada muslim lainnya? Tentu lebih harus berhati-hati lagi dalam memilih kata-kata. Kita tidak semulia Nabi Musa dan Harun, dan audien kita tidaklah sehina Fir’aun, jadi mengapa kita begitu keras dan tidak mau lembut dalam berda’wah?

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan, tolaklah (keburukan itu) dengan cara yang paling baik (ahsan), maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS Al-Fusshilat: 34)

**

Berarti dakwah itu tidak bisa tegas?

Pembahasan hukum syar’i di ranahnya memang wajib tegas. Yang halal tetaplah halal, yang haram tetaplah haram . Namun, metode dalam taghyir (mengubah) masyarakat awam itu tidaklah keras (anf/ghilzhah) dan tidak pula terburu-buru (isti’jal), tetapi dengan uslub (metoda) yang ‘lyin (lunak) dan rifq (lembut). Karena itu asasnya mahabbah (cinta), rahmah (kasih sayang), sebagaimana Allah ﷻ menjadikan salah satu namanya Ar-Rafiq (Maha lembut), dan di dalam al-Quran Allah sebutkan kaedah umum:

كَتَبَ اللهُ عَلى نَفْسِهِ الرَّحْمَةُ

Allah telah menetapkan sifat Rahmah (kasih sayang) pada diriNya

Dan di dalam taghyir (merubah) pola masyarakat yang menyelisihi syariah menuju masyarakat Islami adalah adanya sistematika ‘Attadarruj’ yakni bertahap dan memiliki fase, sebagaimana Allah sendiri melakukan tahapan dalam penerapan hukum sprti pengharaman khamr, riba, kewajiban puasa, dlsb.

Sekarang bagaimana teladan Rasulullah ﷺ?

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin

(QS At-Taubah: 128)

**

default_7

Islam berasal dari kata ‘salam’ yang berarti ‘kedamaian’

Rasulullah ﷻ sangat memperhatikan metoda dakwah dan sangat memilah perkataan yang akan disampaikan. Bahkan beliau membedakan gaya penyampaian sesuai dengan kadar ilmu dan akal pendengar, bahkan ‘lahjah’ (dialek) masing-masing suku arab pun disesuaikan oleh Rasulullah (ajib kan nabi kita?🙂 )

Jika di depan Rasulullah adalah sahabat yang kadar imannya sempurna, maka kalimat tegas pun mudah diikuti. Namun di depan orang yang masih lemah imannya, beliau memilih perkataan yang lebih lembut agar hati orang tersebut siap dan tidak berat. Dan juga Rasulullah menggunakan tamsilan (analogi) dan lebih banyak mendoakan, seperti kisah pemuda yang meminta ijin zina.

Lain lagi kepada Arab Badui, Rasulullah lebih sederhana lagi dalam berkomunikasi. Rasulullah ﷺ lebih memilih sikap yang sederhana ketimbang memperpanjang kalam yang kadang tidak bisa difahami kecuali orang yang berilmu. Sebagaimana kisah badui yang -maaf-kencing di masjid Nabawi, beliau tidak lantas marah dan mencaci, bahkan tetap lembut dan tenang (di Shahih Bukhari). Dan sungguh, masih banyak lagi teladan indah dari Baginda Nabi ﷺ🙂

Allah berfirman:

فبما رحمة من الله لنت لهم ولو كنت فظا غليظ القلب لا نفضوا من حولك فاعفوا عنهم واستغفر لهم وشاورهم فب الأمر

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu..” (QS Ali Imran: 159)

**

Lembut itu adalah akhlak, bukan dibuat-buat

Sesungguhnya, sikap lemah lembut itu bukanlah sikap yang bisa dibentuk secara mendadak, tetapi ia adalah akhlak yang tercipta dari 1)beningnya hati, 2) dalamnya ilmu, dan 3) luasnya tsaqafah Islamiyah, ianya adalah nur Allah yang diberikan kepada hambaNya melalui 4)proses belajar yang bersambung (muttashil) kepada ulama’, atau bersanad serta memiliki manhaj Islam yang moderat.

Berikut tafsilannya:

Pertama, hati yang bersih lahir dari mujahadah bathin, selalu berupaya membersihkan hati dari sifat hasad, dengki, amarah dan menjauhkan diri dari maksiyat yang mengotori hati. Sebelum berbicara di depan manusia, seorang da’i harus insaf dirinya tidaklah lebih baik dari orang lain, tidak merasa paling benar, dan objek kalam dakwah sejatinya adalah untuk diri dia sendiri. Ia harus meyakini bahwa setiap ucapan akan dipertanggungjawabkan kelak. Ini adalah amalan-amalan bathin dan sirr.

Kedua, dalamnya ilmu syariah, yakni mengetahui hal-hal yang bersifat ushuli (pokok) dalam agama dan faham ikhtilaf fiqhiyyah diantara a’immah ulama’ hingga muncul keinsafan tidak mudah menghukumi salah segolongan muslim yang berbeda pandangan selama tidak berbeda akidah yg qath’i (pasti).

Ketiga, memperkaya Tsaqafah Islami yaitu wawasan terhadap ahwal keadaan umat Islam hingga menjadikan da’i tersebut tidak kaku fikrahnya. Kemudian dengan itu ia lebih mengetahui bagaimana sejarah dan I;tibarnya, aplikasi syariat Islam ke depan hingga menjadi maslahat umat.

Keempat, memiliki sambungan dengan ulama yang muttashil hingga Rasulullah ﷺ .

Sikap lemah lembut tidaklah cukup dengan mengecilkan volume suara, atau dengan ‘senyum yang dipaksakan’, namun juga esensi dari manhaj islam yang disampaikan. Jika manhaj islamnya sudah ekstrim, maka selembut apapun perkataan yang keluar, pada hakekatnya telah mencederai fitrah ajaran Islam itu sendiri. Sebaliknya, manhaj Islam yang moderat (washatiyah) yakni Ahlussunnah waljamaah secara lahir bathin akan mudah diterima oleh masyakarat karena akan mendapatkan nasrullah dari Allah.

**

Penutup

11

Perbanyak memberi hadiah daripada ‘ceramah’ retorika

Seperti disinggung di awal, dakwah asasnya adalah mahabbah (kasih sayang) sesama manusia terlebih kepada sesama muslim (ahlil qiblah). Sama sekali dakwah itu bukanlah didasari rasa benci, dengki atau merasa paling benar sendiri. Jika hati sudah benci, mana mungkin kalimat indah akan keluar dari lisan seorang yang menyeru kepada Allah? Bahkan Habib Umar ibn Hafiz berkata: Siapa yang membawa agama ini dengan menebar benci, permusuhan, dan perpecahan maka dakwahnya bathil dan berasal dari Talbis Iblis. Wa iyyadzubillah..

Jadi hukum tetap tegas dan jelas, namun metode dakwah/tabligh itu bab lain dan khusus, ada adab-adabnya. Tidaklah sembarangan dalam berdakwah. Dakwah bukan ajang main hantam keras. Karena baru belajar dan tahu satu hadits shohih, maka ia merasa benar sendiri, semuanya tampak salah dan mesti berubah saat itu juga. Walhasil, bukan maslahat yang didapat, tapi malah mendatangkan maksiat baru yaitu mencoreng dakwah Islam itu sendiri.

Semoga kita dianugrahi kesabaran, kebeningan hati, kecintaaan kepada umat, dan semangat menuntut ilmu hingga menjadi luaslah wawasan dan lebih dekat kepada sikap dan akhlak yang penuh hikmah dan santun. Wallahu a’lam

Jakarta, 8 September 2015


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: