Oleh: Azan bin Noordien | Agustus 3, 2015

Ya Rabb, Ternyata Aku Masih Musyrik..

الشركSuatu ketika Sayyidina Abu Bakr Siddiq menangis dan menyesali kepada dirinya” Abu Bakr telah munafik, Abu Bakr telah munafik, Abu Bakr telah munafik..” begitu yang ia katakan kepada dirinya sendiri. Hingga perkataan ini didengar oleh Sayyidina ‘Umar ibn al-Khattab.

“Wahai Aba Bakr, mengapa engkau berkata seperti itu..?” tanya Syd ‘Umar ibn al-Khattab

“Sungguh aku telah munafik, ketika di depan Rasulullah ﷺ aku merasa seolah telah melihat surga dan neraka, namun ketika aku pulang ke rumahku berjumpa dengan keluargaku aku seolah melupakannya dan senang bercanda-canda dengan istri dan anakku hingga lupa kebesaran akhirat di majelis tadi..”

Syd ‘Umar berkata “Sungguh, aku juga merasakan hal yang sama..!” “marilah kita bicarakan hal ini kepada Rasulullah..” ajak Syd ‘Umar ibn Khattab.

**

Begitulah keadaan para sahabat, selalu mengoreksi kondisi iman mereka khawatir mereka terjatuh kepada kemunafikan dan kemusyrikan bahkan hingga ke tingkat hawas (perasaan) yang halus yang sangat jarang orang berani menengok keadaan ke dalam diri mereka. Kebanyakan dari manusia menilai dirinya telah baik, paripurna, bahkan sombong dan mengaku-ngaku telah hebat dalam banyak hal.

Padahal para Sahabat Nabi ini adalah orang-orang yang telah dijamin masuk surga oleh Nabi ﷺ . Dengan apa kita menimbang kepada mereka? Secara keilmuan, mereka tidak diragukan jauh di atas level mujtahid mutlaq. Ibadah mereka jangan ditanya kualitas dan kuantitasnya, kecintaan dan pengorbanan mereka terhadap agama sudah terbukti, ridhwanullah alaihim. Namun mereka masih merasa jauh dari hakekat padahal mereka telah memperoleh hakekat? Itulah hakekat insaniyah mereka yang paripurna yaitu selalu merasa rendah di hadapan Allah hingga mereka sibukkan diri dengan melihat aib ke dalam bukan sibuk melihat keburukan orang lain.

**

Berbeda dengan manusia kebanyakan, kegelisahan kita adalah memikirkan dunia kita yang belum sempurna. Sibuk memikirkan fasilitas apa yang kurang di rumah tangga. Semuanya kembali kepada kebendaan-kebendaan fana yang belum ada manfaatnya untuk agama kita bahkan hanya menghasilkan maksiat baru berupa kelalaian, kesombongan dan berbangga diri. Bahkan kita pun sering bersu’uzon kepada Allah tentang segala takdir dan ketentuanNya yang tidak kita sukai. Maka semakin lemahlah iman, hingga terbuka banyak gejala kemusyrikan yang halus.

gurunKemusyrikan yang dikhawatirkan Rasulullah ﷺ pada umat akhir zaman bukanlah kemusyrikan ‘kasar’ seperti menyembah batu berhala, pohon atau semacamnya. Tapi yang dikhawatirkan Rasulullah adalah kemusyrikan yang tersembunyi, yaitu meragukan Allah dalam keadaan kita dalam takdirNya di dunia, asbab masuknya kebesaran dunia ke dalam hati, hingga timbul penyakit yang bernama ‘Al Wahn’, yaitu cinta dunia dan takut mati..”

**

Semakin tingkat kegelisahan kita pertanda semakin tinggi kemusyrikan kita. Semakin kita bergantung kepada makhluk, maka semakin besar kesedihan dan kehinaan yang menimpa kita. Semakin kita meragukan Allah atas segalanya, maka semakin terbukti bahwa kita masih ‘musyrik’ dalam pandangan Allah. Padahal faktor imaniyah adalah perkara yang dituntut sempurna tiada cela, wajib ada di setiap muslim. Allah tidak inginkan di hati kita bertahta selainNya, Allah tidak inginkan pengharapan kita ada kecuali penuh kepada Nya, Allah tidak inginkan hati kita kecuali dipenuhi cinta kepadaNya. Allah dzat Maha Cemburu, yang ia inginkan hanya kebersamaanNya di hati-hati orang beriman.

Dalam hadits Nabi ﷺ dikatakan bahwa riya’ adalah syirik kecil. Seorang ulama salaf berkata “Siapa yang tidak melakukan amal ibadah karena khawatir dianggap riya, maka dia telah riya. Dan siapa yang melakukan amal ibadah karena ingin disenangi manusia, maka dia syirik..” Bahkan Rasulullah mengatakan, riya itu lebih samar daripada semut hitam yang berjalan di batu yang hitam di tengah malam yang gelap. Pelaku musyrik kecil inipun diganjar neraka oleh Allah ta’ala. Sebagaimana kisah dalam hadits Bukhari, bahwa seorang ‘alim di’adzab karena ia menuntut ilmu karena ingin dipanggil sebagai ‘ulama, seorang mujahid di’adzab karena ia berjihad agar dipanggil pahlawan, dan seorang penderma di’adzab karena ia bersedekah karena ingin dipandangan dermawan di kalangan manusia.Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظًلْمٌ عَظِيْمٌ
Sesungguhnya Syirik adalah kezholiman yang besar

Allah menginformasikan bahwa kalimat syirik itu adalah kezholiman yang besar. Zholim dalam bahasa arab berasal dari kata ‘Zhulmun’ yang bermakna gelap jauh dari cahaya. Jadi, yang membuat hati seseorang gelap adalah adanya titik-titik kesyirikan kepada Allah hingga semakin jauh dari hakekat Tauhid yang menerangkan. Semakin gelap sebuah ruangan, semakin bingung keadaan seseorang di dalamnya jika hendak mencari dan melakukan sesuatu. Begitu juga hati yang dipenuhi kegelapan, maka ia sulit menjalani hidup dengan terencana, mapan dan sesuai dengan yang dikehendaki Allah. Hatinya selalu dipenuhi kebingungan, kegelisahan dan hilang arah.

Syirik kecil atau sifat kemunafikan adalah hal pertama yang diwaspadai oleh hati seorang mukmin. Karena tiada yang menjamin hati kita tetap lurus kepada Allah selain Allah ta’ala saja. Sifat munafik dan syrik akan selalu mengintai hati dalam setiap keadaan dan suasana, baik dalam amal ibadah maupun dalam sikap kita dalam menghadapi ujian hidup dari Allah ta’ala. Kita mesti mempertanyakan apakah setiap masalah yang datang, hati kita tetap tawajjuh (menghadap) kepadaNya atau tidak?

Jika Sahabat Nabi, saja masih bisa merasa ‘munafik’ ketika imannya tidak serupa ketika di dalam majelis dengan di rumah, apalah lagi kita umat akhir zaman ini, tentu sangat wajar bila kita mewaspadai ‘syirik-syirik’ yang ada di dalam hati kita. Jadi, sangat tidak bijaksana, kita mudah melempar kalimat syirik kepada orang lain yang muslim daripada kesibukan kita memperhatikan hati dan iman kita dari sifat-sifat kemunafikan dan kemusyrikan.

Wallahul musta’an–


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: