Oleh: Azan bin Noordien | Juli 30, 2015

Minimal, Komitmen itu Ada! (Makalah pra-Nikah)

husband-and-wifeIrama kehidupan setelah menikah lebih ‘cetar’ dan frekuensi ilahi lebih kuat seiring pahit-manis-getir hidup yang dilalui setelah akad. Dan ini ada special effect yang dihasilkan! Ada keseriusan untuk belajar ingin tahu lebih banyak untuk hidup lebih hidup dalam agama.

Banyak saya lihat teman-teman yang tadinya pacaran, kemudian menikah dikarenakan keduanya memiliki tekad dan komitmen untuk memperbaiki dien (amalan agama) mereka berhijrah! dan alhamdulillah its happened! perubahan yang lebih positif telah semakin tampak.

Misalnya si Istri, karena ingin menjadi shalihah untuk suaminya, hingga ia memutuskan berhijab bahkan berhijad syar’i. Karena ingin menjadi ibu yang baik untuk anak, ia pun rela dan lebih siap taat kepada syariat Allah dan sunnah Nabi-Nya.

Juga si suami, yang tadinya masih kekanakan-kekanakan hobi main keluyuran sanasini, sekarang lebih semangat bekerja dan menuntut ilmu syar’i. Selain memang tuntutan hidup dia sendiri ia juga ‘dipaksa’ keadaan agar menjadi imam yang baik di keluarga kecilnya. Awalnya mungkin juga ada faktor malu sama mertua, tapi lama-lama ia sadar bahwa agama itu untuk ‘gue’ bukan untuk orang lain.

Begitulah, masing-masing pasangan walaupun belum pernah menjadi santri, minimal wajib memiliki komitmen untuk sama-sama memperbaiki diri ketika masuk ke rumah tangga, saling support dan membahagiakan pasangan. Akad telah terucap, walimahan telah selesai, saatnya kita menyusun agenda-agenda luar biasa agar menjadi pribadi yang semakin baik di hadapan Allah!

Sebaliknya juga, tidak jarang ada suami istri merasa sudah sholeh atau merasa sudah sholehah. Akhirnya ketika masuk gerbang rumahtangga, keduanya saling menuntut ‘bukti kesholehan’, dan tidak ada lagi ‘spirit to learn’ atau sifat thalabul ilminya. Hasilnya tidak ada amalan apa-apa di rumah tangganya, inilah yang dikhawatirkan, Na’udzubillah. Sifat berpuas diri dan merasa telah ‘nyampe’ membuat kita semakin jauh dari ilmu Allah.

Namun apa jadinya apabila kedua pihak telah mengenyam indahnya thalabul ilmi sebelum menikah, sudah menjaga diri jauh-jauh hari sebelum pasangan itu ada, maka bangunan pernikahan akan kokoh dengan komitmen yang terjaga dan ditopang dengan bekal ilmu tadi. Inilah pernikahan yang berkah, the blessed couple dunia dan akhirat. Ia nya sudah baik, dan semakin baik tiap harinya dan semakin terbang menjulang ke awan potensinya. Mungkin inilah yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الْإِيمَانِ، فَلْيَتَّقِ اللَّهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي
Siapa saja yang menikah, berarti ia telah menyempurnakan setengah agamanya. Maka hendaknya ia bertaqwa kepada Allah untuk setengah sisanya‘”

Semoga kita dianugrahi pasangan hidup yang sama-sama berkomitmen menjadi hambaNya yg sholih, saling mendukung dalam kebaikan dan taqwa, hingga berjalannya kita di dunia telah tercatat sebagai bagian dari awal langkah kita menuju syurgaNya.


*

ditulis di hari Jum’at bulan Syawwal 1436 H (Jakarta, 30 Juli 2015)
oleh Azan bin Noordien


Responses

  1. subhanallah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: