Oleh: Azan bin Noordien | Maret 21, 2015

Hikmah dipilihnya Bangsa Arab sebagai Duta Awal Islam

desert-waterBismillah walhamdulillah wasshalatu ‘ala Rasulillah, amma ba;d.

Mengapa Islam muncul di tengah Bangsa Arab yang gersang? Mengapa kita sebagai muslim harus mengikuti sebagian dari hal peribadahan yang terkesan sangat arab? Sebagian kita mungkin berfikir tentang pertanyaan di atas dan masih belum menemukan jawaban yang memuaskan. Berikut akan coba saya sedikit uraian dan alasan mengapa Allah memilih Nabi terakhir dan memilih bangsa Arab sebagai pembawa agama Islam, dari berbagai prespektif yang berbeda.

1. Sejarah Kenabian dan Kerasulan Sebagian besar Nabi & Rasul diutus ALLAH di tengah bangsa Israil, dan hal ini diakui oleh berbagai sekte agama samawi baik yahudi dan nasrani. Misalnya Nabi Musa (Moses), ‘Isa (Jesus), Yusuf (Joseph), Ishaq (Issac), Yaqub (Jacob), Sulaiman (Solomon) dan Daud. Namun, jika kita pelajari sisilah dari pada Nabi Muhammad ﷺ , maka kita temukan bahwa nabi Muhammad adalah keturunan Nabi Ibrahim dari jalur Ismail yang berbangsa Palestina (Syams). Nabi Ibrahim menikah dgn seorang Putri Arab berkebangsaan Jurhum Yaman. Jadi, Nabi Muhammad ﷺ adalah percampuran dua bangsa, yaitu Syams dan Yaman. Secara paras, nabi Muhammad ﷺ sangat tampan dan mempesona. Secara struktur tulang beliau adalah kaukasoid. Kulit beliau putih kemerahan sebagaimana orang Palestina, namun rambut lebat dan warna mata berwarna hitam, ciri khas bangsa Arab. Kerupawanan beliau adalah bagian dari rahmahnya Allah kepada manusia, dan sangat mendukung dalam usaha dakwah dan penyebaran agama. Kebayang gak kalo nabi jelek?😀

2. Perspektif Geografis Arab dan Peta Politik Dunia

Jazirah Arab terletak di tengah-tengah dua imperium besar dunia saat munculnya agama Islam, yaitu imperium Rumawi yang berpusat di bagian Eropa selatan, dan imperium Persia yang terletak di Asia Barat (Irak/Iran). Kedua imperium ini tidak banyak memberikan pengaruh kepada Arab karena itu bangsa arab terjaga dari perpolitikan, tentu hal ini sangat bagus dalam membangun peradaban baru yang benar-benar baru tanpa ada pengaruh pergolakan politik praktis. Dikarenakan pula, jazirah Arab sulit ditembus dan dikuasai oleh kedua imperium ini karena Arab dikelillingi oleh Gurun pasir sejauh mata memandang. Gurun pasir ini seolah menjadi benteng alami dari negara penjajah. Bangsa Arab tumbuh menjadi bangsa yang eksklusif dari peradaban dunia ketika itu bahkan cenderung tidak dianggap dan tidak berpotensi.

3. Cuaca dan Iklim Arab

Kata ‘arab secara bahasa berarti panas yang menyengat, arab dibalik jadi bara😀 .. Ya, wilayah Arab adalah termasuk Asia beriklim subtropik, uniknya Arab berada di tengah-tengah semua benua dan Makkah adalah pusat Bumi. Jazirah Arab memiliki cuaca yang ekstrim, dengan rentang suhu -20  hingga 50 derajat Celcius (CMIIW). Iklim yang sangat tidak bersahabat ini menjadikan orang Arab bermental kuat dan tahan banting.

Penyebaran Islam setelah masa kenabian dilakukan para sahabat dari jazirah ke seluruh penjuru dunia dengan berbagai macam keadaan cuaca dan suhunya. Maka tidak heran apabila pada sahabat nabi telah sampai dan berdakwah berbagai belahan negeri. Sayyiduna Sa’ad bin Abi Waqash telah sampai ke negeri China dgn menyeberangi Himalaya dan Tibet. Sahabat-sahabat yang lain mengarungi lautan, hutan, pulau dan gunung Afrika, Asia dan Eropa. Coba bayangkan, apa jadinya kalau Nabi berasal dari Indonesia, yang beriklim manja dan sejuk? J Mungkin islam tidak akan sampai ke negeri-negeri jauh beriklim ekstrim. Islam tidak tersebar ke seluruh dunia🙂

4. Watak Pedagang dan Gemar Berhijrah Bangsa Arab tidak bisa dilepaskan dari perdagangan. Perdagangan oleh bangsa Arab dilakukan dengan cara safar (perjalanan), berombongan (kafilah), untuk melakukan pertukaran/pengiriman barang dagangan ke negeri-negeri jauh. Bangsa arab biasa melakukan safar hingga negeri jauh dengan keadaan suhu ekstrim, perbekalan minimum, dan dalam waktu yang panjang. Saat musim panas orang Arab berdagang ke Syams dan pada saat musim dingin mereka menuju Yaman.

Perdagangan mutlak harus dilakukan orang Arab untuk bertahan hidup karena mereka tidak memiliki sumber daya alam (sebelum ditemukannya minyak bumi). Mereka mendapatkan rempah, obat, kain, minyak wangi, dari Yaman atau dari Syams. Perjalanan dagang itu memakan waktu kurang lebih 8 bulan dalam setahun. Jadi, laki-laki Arab biasa terpisah dengan keluarga mereka dan mereka cuma berkumpul dengan keluarga mereka sekitar 4 bulan dalam setahun (luar biasa ya…).

Ketika kafilah dagang ini kembali ke rumah, maka disambut gembira oleh istri dan keluarga. Di momen yang haru biru ini mereka berpesta dan bersyair riang gembira J Kebiasaan berdagang dan safar dengan jarak yang jauh, serta kesetiaan dan ketabahan meninggalkan keluarga, adalah modal bangsa arab dan kaum muslim dalam menyebarkan Islam ke seluruh pelosok dunia pada awal penyebaran Islam J Karena Islam tidak datang lewat perantaraan angin atau air, tapi Islam ada lewat pengorbanan bangsa Arab pada awalnya dan diteruskan oleh ulama setelahnya. Tidak hanya safar dalam tabligh risalah Islam, namun safar untuk menuntut ilmu juga telah menjadi tradisi setelah masa-masa ekspansi wilyah Islam yang membentang dari Cordoba Spanyol hingga Baghdad.

5. Mukjizat Al Quran dan Cara Allah Menjaganya

Bahasa Arab adalah salah satu bahasa induk yang tertua di dunia. Bahasa Arab lahir dari percampuran Bahasa Suku Yaman dan Bahasa Aramis di Syams, satu rumpun dengan Bahasa Ibrani. Orang pertama yang bertutur Bahasa Arab secara fasih dan terstruktur rapi adalah Nabi Ismail bin Ibrahim -‘alaihumassalam-. Setelah kemunculan mata air Zam Zam, keturunan Bani Ismail berkembang di jazirah Arab , mereka hidup bercampur dengan bangsa Arab asli yang datang dari Yaman. Bani Ismail menjadi kaum yang dihormati karena mereka adalah pemegang hak Air Zam Zam dan pemeliharaan Baitullah, juga karena mereka adalah keturunan Nabi Ibrahim yang dihormati. Kelak dari Sulbi Nabi ‘Ismail inilah muncul Rasulullah.

Orang Arab memiliki tradisi sastra yang luar biasa. Seiring dengan berkembangnya Bani Ismail, Bahasa Arab kian pesat penggunaannya. Bangsa Arab gemar menghafal dan meriwayatkan sya’ir dan ungkapan hikmah (kebijaksanaan) tentang nilai-nilai kehidupan, kematian, pujian, roman, dll. Bersyair dan menghafal kata-kata indah merupakan sesuatu yang diperlombakan di tengah masyarakat. Para pujangga memiliki kedudukan istimewa di masyarakat. Oleh sebab itulah, bangsa arab tidak terlalu gemar menulis dan membaca karena kemampuan menghafal yang mereka miliki.

Tradisi oral yang kuat dan terwariskan ini, di masa depan adalah salah satu cara Allah menjaga agama Islam, yaitu dalam periwayatan Al Quran dan Hadits Nabi. Bahkan setelah masa kenabian, Islam mengukuhkan dengan tradisi penulisan. Tradisi menulis dan menghafal teks, adalah sebuah budaya intelektual yang sempurna dalam menyimpan naskah keilmuan.

Bagaimana dengan bangsa Yahudi? Bangsa Israil dan Nasrani disebut oleh sebagai ‘Ahli Kitab’ karena mereka menulis firman Tuhan dan Nabinya. Namun tulisan mereka rapuh dan terdistorsi seiring bergantinya zaman dan kepentingan penguasa atau otoritas keagamaan. Sebab lainnya adalah karena Yahudi bukanlah seperi Arab yang sangat menjaga kemampuan menjaga riwayat secara oral. Pernah ada seorang yahudi yang berhasil menghafal Taurat secara sempurna bernama Uzair, hingga orang yahudi menganggap Uzair sebagai anak Tuhan?! Berbeda dengan Islam, tradisi menghafal Quran sudah menjadi kewajiban bagi orang-orang shalih dan pentuntut Ilmu.

Bangsa arab dengan budaya dan kemampuan menghafal syair yang indah dan rumit, menjadi modal yang sangat sempurna dalam penjagaaan nash-nash agama, sekaligus pencegahan dari perubahan/pengrusakan sumber-sumber hukum agama. Hingga kini, berbagai cabang ilmu agama Islam mulai dari riwayat Al Quran (bacaan dan tafsir), Ilmu Hadits (Sanad, rijal/periwayat) dan ilmu lainnya sangat tersusun rapi dan memiliki riwayat yang jelas. Ilmu riwayat atau ilmu sanad inilah yang menopang agama Islam hingga kokoh hingga akhir zaman. Sekali lagi tradisi sanad ini hanya ada di dalam agama Islam. Subhanallah..

6. Bangsa Arab adalah Bangsa yang Menjaga Nasab Keturunan

Selain tradisi bahasanya yang hebat, bangsa Arab dikenal dengan penjaga nasab atau silsilah keturunan. Hal ini jauh berbeda dengan bangsa lain yang kurang memperhatian silsilah atau pencatatan riwayat keturunan. Bangsa arab menjaga nasab mereka hingga diketahui dengan jelas identitas keluarga seseorang hingga kakek-kakek buyutnya. Menjaga nasab bermakna menjaga diri dari perbuatan zina/asusila, hingga tatanan masyarakat menjadi bersih dan terstruktur rapi. Nabi Muhammad merupakan pribadi yang berasal dari keluarga yang terpandang dari berbagai hal, termasuk nasab beliau yang mulia di tengah bangsa arab. Karena beliau berasal dari suku Qurays, dari Keturunan Bani Adnan yang merupakan keturunan dari Nabi Ismail anak Nabi Ibrahim alahumassalam,

7. Sebagai Bantahan dan Pelajaran kepada Bani Israil

Allah ta’ala memilih Bangsa Arab ke atas Bangsa Israil dalam penutupan risalah kenabian. Bangsa Arab sebetulnya masih kerabat bangsa Israil dari jalur Nabi Ibrahim. Namun track record Bani Israil sangat parah. Mereka menghancurkan pondasi-pondasi agama dan menghasilkan peradaban yang rusak akidahnya. Mereka membunuh para nabi, mengganti ayat-ayat taurat dengan hawa nafsu dan kepentingan mereka. Semua ini Allah perbarui dengan munculnya Bangsa Arab sebagai pondasi agama Islam (tajdid), sekaligus sebagai pelajaran bagi bangsa Israil atas kesombongan ras mereka.

Apa jadinya jika nabi Akhir zaman muncul dari Bani Israil lagi? Atau bangsa yang sama sekali tidak memiliki sisi historis, geografis, dan hubungan nasab dgn Bani Israil? Tentu keingkaran Bani Israil semakin menjadi-jadi. Oleh karena itu, dipilihnya kerabat Bani Israil yaitu Bani Ismail sebagai penutup estafet kerasulan adalah sebetulnya juga sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada Bani Israil dan umat seluruh dunia.

Penutup

Demikianlah, beberapa hikmah dipilihnya Bangsa Arab sebagai duta Awal Islam dalam penyebarannya. Walaupun Islam sangat kuat hubungan dengan Arab, namun faktanya saat ini pemeluk agama Islam terbesar bukanlah dari bangsa Arab namun dari ras Mongoloid di Asia Tenggara, Hindi (India Pakistan Bangladesh) dan Pecahan Uni Soviet/Russia.

Dari sisi sejarah kejayaan Kerajaan Islam juga Allah pergilirkandari ras Arab ke orang Persia, Saljuk, Turki, dan seterusnya kepada siapa saja yang bersungguh-sungguh di dalam perjuangan agama. Karena yang paling mulia di sisi Allah pada akhirnya bukan ras tapi adalah ketaqwaan. Namun, kemulian bangsa Arab dan kecintaan kita terhadap Bahasa Arab harus kita akui dan junjung tinggi, karena disitulah awal mula estafet agama dan penopang ushul (pokok) agama kita yaitu Al Quran dan Sunnah. Wallahu a’lam Ditulis Oleh: Rizki Usmul Azan, SP Mahasiswa LIPIA Jakarta


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: