Oleh: Azan bin Noordien | Januari 22, 2015

Komparasi Kampus IPB dan LIPIA Jakarta

530912_4566057556178_524409525_n

Bismillah. Disini saya akan coba membahas dan membandingan IPB dengan LIPIA dalam berbagai aspek. Mungkin jarang ada tulisan dengan topik ini, bahkan mungkin belum ada yang membahasnya secara mendetail. Jika membandingkan Al- Azhar dengan LIPIA, atau antara Universitas Islam Madinah dengan LIPIA adalah wajar. Tetapi saya ingin menghadirkan tulisan ini karena melihat adalah banyak titik persamaan antara kedua kampus ini dengan segala aktivitas dan geliat aktifitas ke-Islaman di dalamnya. Kedua kampus ini bisa jadi kampus model, karena terkumpulnya generasi muda islam Indonesia intelektual di kedua institut ini. Saya akan coba membandingkan kedua kampus ini berdasarkan kepada beberapa aspek, dan dari sudut pandang alumni yang pernah kuliah di kedua kampus ini. Jadi, simak uraiannya ya, semoga bermanfaat :) 

Sekilas tentang Sejarah Kampus

kampus-dramaga

Institut Pertanian Bogor – kampus Dramaga

Institut Pertanian Bogor (IPB) pada awalnya adalah Fakultas Pertanian-nya Universitas Indonesia. Berdasarkan keppres Bpk. Ir. Soekarno, tahun 1963 didirikanlah IPB sebagai institusi perguruan tinggi dalam bidang riset ilmu pertanian. IPB telah eksis selama lebih dari 51 tahun di Indonesia.

2

LIPIA Jakarta

LIPIA adalah singkatan dari Lembaga Ilmu Pengetahun Islam dan Arab. LIPIA adalah kampus Arab Saudi cabang dari Universitas Islam Muhammad bin Su’ud di Riyadh. LIPIA berdiri sejak tahun 1980 berlokasi di Buncit Raya, Jakarta Selatan. LIPIA sudah 36 tahun eksis di Indonesia, buah kerja sama antara Kementrian Pendidikan Tinggi (Wizarah At-Ta’lim Al-’Ali) Kerajaan Arab Saudi dan Pemerintah Indonesia. Tujuan didirikannya kampus LIPIA adalah menjalin kerja sama dalam bidang pendidikan atar kedua negara muslim terbesar, dan untuk menyebarkanluaskan ilmu Bahasa Arab dan Syari’ah Islam di Indonesia.

Filosofi Kedua Kampus

Secara filosofis, IPB dan LIPIA adalah sama. Kedua kampus ini berangkat dari kemaslahatan umat secara umum. Bedanya, IPB menggali potensi dan ayat-ayat kauniyah (alam) yang berfokus pada ilmu-pertanian dalam arti seluas-luasanya bagi kemandirian pangan, sosial dan ekonomi masyakat. Sedangkan LIPIA adalah institut ilmu qauliyah, yang fokus mengkaji ilmu-ilmu agama yang tertulis dalam teks-teks agama (Al Quran dan Sunnah) yang mencakup seluruh aspek kehidupan dalam bingkai syari’ah Islam. Keduanya merupakan kampus yang sangat bisa koheren dalam topik ‘Islam Rahmatan lil’alamin’

 Fakultas dan Jurusan

IPB menyediakan 37 Jurusan dalam 9 Fakultas. Semua jurusan ini adalah dasar dan pengembangan ilmu-ilmu pertanian, baik dari ilmu sains murni, ilmu produksi dan teknik pertanian (tanaman, ternak, perikanan dan kehutanan), kedokteran hewan, ilmu pertanian dalam aspek sosial ekonomi, hingga ekologi manusia. IPB menyediakan jenjang akademik S1 hingga Doktoral (S3). Sedangkan LIPIA hanya menyediakan tiga jurusan yaitu Syari’ah Islam (S1), Ilmu Ekonomi dan Manajemen Islam (S1), Pendidikan Bahasa Arab (Diploma).  Jenjang syari’ah ditempuh dalam 5 tahun (10 semester).

Fasilitas dan Bangunan Kampus

Harus diakui memang luas kampus LIPIA tidak ada apa-apanya dengan kampus IPB. Saat ini IPB memiliki 5 cabang kampus tersebar di Jabodetabek. Kampus utama terletak di Dramaga Bogor dengan puluhan hektaran luasnya, yang terdiri dari Rektorat, Lapangan, 9 fakultas yang bangunan berlantai 6, lengkap dengan laboratorium riset, lahan penelitan, masjid kampus, perpustakaan, sarana olahraga (GOR), taman hutan kampus, dll.  Sayangnya belum semua ruang perkuliahan memiliki AC dan Lift.

Kampus LIPIA lebih mirip perkantoran, dengan dua kembar gedung utama berlantai enam, 1 gedung untuk keamanan dan cafe (maqshof).  Di dalam gedung inilah terdapat kantor Mudir (rektor), Ruang Asatidzah (dosen), Idaroh (Tata Usaha), puluhan kelas, aula/masjid, laboratorium bahasa (ma’mal lughoh), sakan (asrama putera), dan maktab (perpustakaan). Walaupun minimalis, kampus LIPIA sudah full AC dan perpustaan kampus ini adalah perpustakaan literatur berbahasa Arab terbesar di Asia Tenggara.

Keterpaduan Jurusan

Setiap mahasiswa IPB wajib mengambil 3 SKS kuliah Pendidikan Agama Islam plus 2 SKS mentoring agama (halaqah), kecuali bagi nonmuslim dipersilahkan mengambil sesuai dengan agama masing-masing. Pada tahun 2010 IPB membuka jurusan baru, yaitu Ekonomi Syari’ah yang diampu Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM). Pada tahun 2013 LIPIA membuka jurusan baru yaitu Ilmu Manajemen dan Ekonomi Islam.

Pada tahun 2014 lalu, LIPIA mendapatkan akreditasi A oleh BAN-PT, yang memungkinkan lulusan kampus ini mendapatkan ijazah yang diakui oleh kedua negara.  Disini terlihat kesamaan ide dan gagasan antara kedua kampus tentang pentingnya Ekonomi Syari’ah.

Hubungan dan Alumni Kedua Kampus

Kedua kampus ini secara formal belum ada kerja sama. Namun beberapa alumni IPB dan alumni LIPIA pernah berkuliah di kampus ini, contohnya  Gubernur Jawa Barat, Bpk. Ahmad Heryawan,lc adalah alumni LIPIA, beliau melanjutkan kuliah di IPB pada program Magister Ilmu Sosial Ekonomi. Di IPB, terdapat dosen/ustadz pengajar mata Kuliah Pendidikan Agama Islam/Ekonomi Syariah yang berasal dari alumni LIPIA seperti Ust. Asep Nurhalim Lc dan Ust. Khalifah Ali.

Sistem Perkuliahan

IMG_5436_1

Program Kreativitas Mahasiswa (PKM)

Perkuliahan di IPB sebagaimana kampus Indonesia pada umumnya bisa diselesaikan dalam waktu 4 tahun (8 semester). Dengan sistem SKS (Sistem Kredit Semester) yang diatur sendiri pada tiap semesternya. Tahun pertama di IPB merupakan Tahapan Persiapan Bersama (TPB), perkuliahan masih seputar dasar-dasar ilmu alam seperti Matematika, Biologi, Kimia, Kalkulus, Bahasa Inggris, Pengantar Ilmu Pertanian, Kewarganegaraan, Olahraga, Seni dan lainnya. Pada masa TPB ini seluruh mahasiswa wajib tinggal di asrama, dengan segala tata tertibnya. Pada tahun ke-II mahasiswa baru masuk dan fokus jurusan dan fakultas masing-masing.

Berbeda dengan LIPIA, kurikulum di kampus ini mengacu kepada kurikulum Timur Tengah. Perkulihan aktif hanya 5 hari dalam seminggu yaitu senin hingga jum’at, dan 5 jam dalam sehari. Jadwal perkulihan seragam, malah mirip seperti sekolah/jam kantor yang terdiri dari dua shift, kelas pagi (shabahi) dan kelas siang (masa’i). Kelas pagi dimulai dari pukul 07.00 hingga 11.50, sedangkan mahasiswa pada shift siang dimulai pukul 12.00  hingga 16.45

Beasiswa

f10ea28867c72f27ad6bbc156422d157

Haflah Takharruj (Seremoni Wisuda) di LIPIA

Di sini LIPIA lebih unggul dibandingkan IPB. LIPIA menyediakan full-scholarship bagi setiap individu mahasiswanya mulai dari pendaftaran hingga lulus. Perkuliahan free, termasuk kitab-kitab tebal/muqarar berbahasa arab, sakan (asrama), uang saku bulanan (mukafa’ah), bahkan dana bantuan ketika sakit, rihlah (jalan-jalan) dan dana bantuan nikah. LIPIA menyediakan Kartu Mahasiswa dan kartu ATM.

Sedangkan di IPB juga terdapat beasiswa, namun dengan syarat dan ketentuan berlaku, tidak kepada semua mahasiswa/i nya. Selain itu IPB memberlakukan subsidi silang, maksudnya biaya pendidikan ditentukan oleh jumlah penghasilan orangta/wali mahasiswa.

Ujian Masuk dan Penerimaan Mahasiswa Baru

3-santri-ke-IPB-small-1024x768

Mahasiswi berprestasi di IPB

IPB adalah kampus yang mengutamakan siswa SMA berprestasi dalam penerimaan calon mahasiswa barunya, yaitu dengan lewat jalur USMI (Ujian Saringan Masuk IPB) merata disetiap provinsi/kota di seluruh Indonesia.  USMI tidak lain adalah jalur melalui rekomendasi sekolah berdsarkan catatan prestasi SMA calon mahasiswa dan alumninya. IPB menyediakan 70% kuota pada USMI, hanya 20% lewat UMPTN, 10% lainnya lewat Beasiswa Utusan Daerah (BUD) dan siswa/i ‘jebolan’ olimpiade. Terlihat IPB memang ingin meratakan alumni ilmu pertanian di setiap daerahnya.

Berbeda dengan IPB, kampus LIPIA cuma menyediakan satu jalur penerimaan yaitu dengan ‘Imtihan Qabul wa tasjil’ (Ujian Penerimaan Mahasiswa Baru). Nah, disinilah letak sulitnya menembus agar diterima di LIPIA karena persaingan masuk sangat ketat. Ujian terdiri dari tes lisan dan tulisan Bahasa Arab, sebelumnya telah melengkapi beberapa dokumen. Selama pendaftaran dan ujian, tidak ada biaya apapun.

Bahasa Pengantar

Bahasa pengantar resmi di kampus IPB adalah Bahasa Indonesia. Sedangkan di lingkungan kampus bahasa yang digunakan mahasiswa dan karyawan adalah Bahasa Indonesia ‘gaul’, dan bahasa-bahasa daerah; terutama bahasa sunda, jawa dan sumatera.

Sedangkan LIPIA mewajibkan seluruh kegiatan akademik berbahasa Arab Resmi. Dalam proses belajar mengajar dosen dan mahasiswa berbahasa Arab Resmi (fusha). Begitu juga bahasa di lingkungan kampus adalah Bahasa Arab (aturan wajib). Jika tidak berbahasa Arab, maka dikenakan denda.

Dosen dan Tenaga Pengajar

Dosen yang bermutu kunci dari kualitas suatu kampus. IPB memiliki jumlah dosen bergelar doktor terbanyak di PTN Indonesia. Strata minimal untuk bisa mengajar sebagai dosen di IPB adalah magister, namun sebagian besar dosen di kampus ini adalah doktor dan profesor, dan lulusan dari luar negeri. Sebagian dosen fasih berbahasa asing seperti; Bahasa Inggris, Jepang, Jerman. Maka dari itu, di IPB ada Unit Bahasa Asing yang pengajarnya  dosen IPB sendiri yang pernah kuliah di luar negeri.

LIPIA mendatangkan dosen secara khusus dari negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Sudan, Mesir, Syiria. Jadi ‘taste’ kuliah di LIPIA tidak jauh beda dengan kuliah di Arab, seperti Universitas Madinah, Ummul Quro Makkah, Khortum Sudan, ataupun Al Azhar Mesir.

Keberagaman Mahasiswa

Mahasiswa IPB didominasi oleh pelajar Indonesia dari berbagai daerah, terutama dari dari pulau Jawa dan Sumatera. Pelajar asing banyak ditemukan di strata magister dan doktoral. Sedangkan LIPIA, didominasi pelajar Indonesia dari berbagai daerah, sebagian kecil dari mahasiswa berasal dari Arab,Thailand, Afrika tengah, Malaysia, Philipina, China dan Perancis. Uniknya, walaupun banyak keragaman ras dan suku bangsa di kampus ini, namun semuanya disatukan dengan Bahasa Arab dan Identitas Islam🙂

Masa Libur dan Cuti Bersama

Masa libur IPB mengacu kepada kalender nasional Indonesia yaitu pada saat hari-hari besar nasional dan cuti bersama kampus setiap pergantian tahun ajaran dan semester, masanya hanya beberapa minggu. Sedangkan kampus LIPIA mengacu kepada dua kalender nasional yaitu Indonesia dan Arab Saudi. LIPIA memiliki libur musim panas (shoifiyyah) yang masanya sekitar 3 bulan (Sya’ban – Syawwal), libur Hari Raya Haji (sekitar 2 minggu), libur pergantian semester (1 bulan), dan libur-libur lainnya. Jadi perkuliahan efektif di kampus ini cuma sekitar 6-7 bulan dalam setahun. Pada masa libur yang panjang ini biasanya diisi mahasiswa dengan pulang ke kampung, mengajar, bekerja, bahkan menikah.

Suasana Kampus dan Aktivitas Keislaman

Sebagai kampus yang memang diperuntukkan untuk Studi Bahasa Arab dan Ilmu Syari’ah, lingkungan di LIPIA sangat kondusif bagi para pencari Ilmu. Ruangan kelas mahasiwa perempuan dan laki-laki terpisah. Pemandangan muslim/ah yang berpakaian syar’i tentu hal yang sangat biasa. Di LIPIA tidak akan akan ditemukan pemandangan muda-mudi bergaul bebas, jikalau adapun beberapa pasangan mahasiswa yang tamapak jalan bersama, in syaAllah bisa dipastikan mereka adalah suami-istri🙂

Sekarang kita lihat IPB. Selain terkenal handal di bidang riset dan enterpreneurship, IPB juga dikenal sebagai kampus yang islami. Bahkan sebagian mengatakan IPB itu singkatan dari Institut Pesantren Bogor. J  Berbagai aktivitas non akademik di bidang dakwah Islam sangat terasa di kampus ini. Tidak heran bila dikampus IPB banyak terselenggara majelis ta’lim dan syi’ar islam. Khasnya, pembahasan kajian Islam di IPB sangat kontemporer dengan sudutpandang sains dan sosial ekonomi.

arabstoday-frvghjkخمنتالdvgbh

suasana ujian akhir semester (imtihan niha’i) di LIPIA

Siapapun yang belajar pernah di pesantren, akan merasakan korelasi ilmu qauliyah (nazhori) dengan ilmu kauniyah yang memang fokus dipelajari di IPB. Jadi tidak heran, bila kita menemukan sensasi belajar islam dengan bahasa yang sedikit lebih ‘advanced’ dibandingan dengan ta’lim-ta’lim pada umumnya. Namun begitu, pembelajaran agama dasar seperti halaqah tahsin dan tahfizh (menghafal Quran)  biasanya terpusat di Masjid Kampus IPB, Masjid Al Hurriyah.

Walaupun IPB adalah kampus umum yang sangat heterogen, namun eksistensi para aktivis dakwah sangat menonjol. Pemandangan muslimah berkerudung rapi bukan hal yang asing di kampus ini, begitu juga dengan ikhwah berjenggot /berpeci adalah hal yang jamak di kampus ini, tidak hanya mahasiswa bahkan juga para dosen serta karyawan.

Kesimpulan

Sudah saatnya kita tidak lagi memisahkan antara ilmu agama dan ilmu sains (terapan). Karena jika seorang muslim berfikir benar, maka ia akan mudah menemukan kebenaran ajaran islam lewat dalil-dalil aqli dan naqli. Ketika ia menempuh jalur ilmu, maka semestinya juga ia bermanfaat bagi sesama dan lingkungan. Kerja sama antara ulama syariah dan sarjana ilmu sains sangat diperlukan dalam kehidupan islam saat ini dan ke depan. Adanya IPB dan LIPIA sangat menjawab tantangan besar Islam ke depan. Wallahu a’lam

***

Ditulis oleh Rizki Usmul Azan, SP
Alumni IPB ’44, mahasiswa LIPIA Jakarta
Jakarta, 22 Januari 2015


Responses

  1. afwan.. saya sudah mencari di BAN-PT tapi kok tidak ada nama lipia jakarta ataupun mana panjangnya ( Lembaga Pengetahuan Islam dan Arab )???

    • mungkin belum masuk data WEB, karena proses akreditasii LIPIA masih baru

      • salam.

        mhon info lebih lanjut ttg akreditasi LIPIA. apakah memang benar sudah ada akreditasi dari BAN PT? Mhon info sumbernya.. terima kasih

    • Bantu jawab, cb dicek nya pake Jami’atul Imam Muhammad bin Sa’ud Alislamiyah, Jakarta. Kl ga salah waktu terdaftar nya pake nama itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: