Oleh: Azan bin Noordien | Desember 10, 2014

Wanita Jujur dan Pemimpin Masa Depan

10322668_10200913472279405_5515985568605458832_nKhalifah ‘Umar bin Khattab sangat terkenal dengan kegiatannya beronda pada malam hari (jaulah atau ‘blusukan’ istilah skrgnya) di wilayah islam. Pada suatu malam beliau mendengar dialog seorang anak perempuan dan ibunya, seorang penjual susu yang miskin.Ibu itu berkata “Wahai anakku, ayolah kita tambah air dalam susu ini supaya terlihat banyak sebelum terbit matahari!”. Anak gadisnya lantas menjawab dengan santun “Kita tidak boleh berbuat seperti itu wahai ibuku, Amirul Mukminin (‘Umar bin Khattab) melarang kita berbuat begini…” Si ibu masih mendesak dan berkata: “Tidak mengapa, Amirul Mukminin tidak akan tahu”. Kemudian anak gadisnya berkata: “Jika Amirul Mukminin tidak tahu, tapi Tuhan-nya Amirul Mukminin Maha Tahu”.

Sayyidina ‘Umar yang mendengar kemudian menangis. Sunggu betapa mulianya hati anak gadis itu! Ketika pulang ke rumah, Umar bin Khattab menyuruh anak lelakinya, ‘Asim bin ‘Umar agar melamar dan menikahi gadis miskin itu. ‘Umar pun berkata: “Semoga lahir dari keturunan gadis ini bakal pemimpin Islam yang hebat kelak yang akan memimpin orang-orang Arab dan ‘Ajam (non-arab)”.

‘Asim yang taat tanpa banyak tanya segera melamar dan menikahi gadis miskin tersebut. Dari pernikahan ini melahirkan anak perempuan bernama Laila. Ketika dewasa Laila menikah dengan Abdul-Aziz bin Marwan yang melahirkan Umar bin Abdul-Aziz. ‘Umar bin Abdul ‘Aziz inilah yang dikenal sebagai khalifah yang adil di masa Daulah Umawiyah (Umayyah). ‘Umar bin Abdul Aziz juga digelari ‘Umar ke-2, beliau memimpin Kaum muslimin baik bangsa Arab dan nonArab (Ajam).

Dari cerita di atas faktor munculnya pemimpin adalah

:1. Kejujuran dan sifat taqwa seorang muslimah. Sifat jujur dan taqwa inilah yang akan diwariskan saat mendidik anak-anaknya kelak

2. Atas motivasi Ilmu agar segera melamar jika mendapati sosok muslimah yang sholehah, walau bagaimanapun keadaan ‘dunia’nya

3. Keta’atan kepada orang tua, pemimpin, dan ulama’. Sebagaimana keta’atan ‘Asim kepada ayahnya yang merupakan orang yg paling ‘alim, faqih, pemimpin islam, dan juga ayah baginya..

Namun saat disayangkan saat ini, seorang laki-laki lebih memilih perempuan yang cantik, kaya atau berkedudukandibandingkan penilaiannya terhadap ketaqwaan (agama) hingga saat ini banyak bermunculan pemimpin-pemimpin yang tidak mampu mengelola masyarakat dan tanggungjawabnya.

Ya, semua peradaban dimulai dari rahim seorang perempuan Wallahu a’lamKriteria wanita jujur adalah sederhana, bahwa ia memang merasa menjadi hamba Allah. Dengan itu ia merasa malu apabila menyelisihi kehendak dan perintah Allah. Otomatis ia akan berhijab, kalaupun belum sempurna ia memaksimalkan keinsyafannya untuk segera berhijrah selalu lebih baik. Wanita yg tidak jujur lebih tertipu terhadap dunia dan tipu daya, wahm (rasa-rasa bangga) ketika dipuji dan merasa mulia apabila dirinya tampil di depan banyak orang dgn memamerkan kecantikan dan asetnya. Wanita seperti ini belum siap menjadi sosok ibu. Wallahu a’lam

Jakarta, 10 Desember 2014
**


Responses

  1. itu gambar apa/siapa?
    bagus gambarnya..
    meskipun cemberut.. haha

    • Itu lukisan wanita minang zaman dulu. Saya peroleh gambar nya dari fp Anak-anak Minang. Terimakasih kunjungannya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: