Oleh: Azan bin Noordien | Oktober 18, 2013

Mengambil Hikmah dari Berita Duka

0016__16x20___Cliffjumpers

setiap orang hakekatnya sedang mengantri untuk menuju kematian

الحمدلله رب العالمين و الصلاة والسلام على سيدنا و حبيبنا محمد و على آله و صحبه و من تابعهم بإحسان إلى يوم الدين

Bicara kematian, bagi sebagian orang mungkin adalah topik yang tidak mengenakkan. Padahal kematian adalah sesuatu yang akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap hari ada-ada saja berita duka yang kita dengar, apakah melalui media TV, radio, corong TOA masjid, bahkan jejaring sosial memudahkan kita untuk mendengar berita duka. Kita mendengar si fulan meninggal, si anu wafat, tapi terkadang respon yang sampai kepada kita hanya sebatas ‘oo.. turut berduka“ “sedih ya…” kasihan keluarganya…dst..”

Jarang orang yang sampai benar-benar masuk ke dalam relung hatinya hingga menginsyafi bahwa sesungguhnya kematian orang lain adalah selfwarning yang sangat berharga. Tidak heran diceritakan dalam satu hiyakat waliyullah, ada seorang pemuda yang berjalan di jalan umum kemudian ia melihat iring-iringan jenazah dibawa dlm rombongan. Pemuda itu pun seketika penasaran dan langsung bertanya kepada seorang syaikh yang berada di sebelahnya. Ya Syaikh, siapakah yang meninggal itu? Maka syaikh tadi marah dan berkata: “yang meninggal itu adalah kamu, jika kamu tidak suka dengan jawaban saya maka yang meninggal itu adalah saya!”

Faham maksud perkataan syaikh tadi? Dari kacamata awam mungkin sulit dipahami, tapi dari kacamata hakekat maka sangat mudah kita resapi jawaban dan respon syaikh atas pertanyaan si pemuda tadi. Syaikh Waliyullah tadi marah atas ketidak awasan pemuda tadi akan hikmah kematian dan kesibukannya dalam mengidentifikasi siapa yang wafat hingga melalaikan kewajiban dirinya. Jika seseorang melihat atau mendengar kematian maka kewajiban pertama adalah membawakan kepada dirinya sendiri, apakah sudah siap menghadap ALLAH? Bukan malah sibuk bertanya-bertanya siapa yang meninggal, memberi empati, atau sekedar tau lalu cuek dengan pengambilan manfaatnya.

Oleh karena itu, ajaran Islam ketika mendengar kabar meninggal dunia adalah diam sejenak dan mengucapkan:

إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْن

“Sesungguhnya kita semua milik ALLAH dan sesungguhnya hanyalah kepadaNya kita semua kembali.”

Jika sunnah yang ini sederhana ini diaplikasi dalam kehidupan sehari-hari, maka tidak ada sifat cinta dunia, sombong, ananiyah, munafik, aniaya, zhalim, dan sifat malas dalam berbuat kebaikan. Jika makna kematian itu bisa diresapi, maka hancur tunduklah segala sifat yang merusak. Sifat-sifat  kebinatangan akan hilang dan akan muncul sifat-sifat malaikat yang penuh ketaatan. Potensi kebaikan akan naik signifikan dan potensi buruk cenderung lebih ditekan. Kematian seorang (baik mukmin, atau bukan), hakekatnya bisa menjadi rahmah bagi manusia yang masih hidup.

Kematian dan Rizqi

Dalam usia kandungan 4 bulan di rahim ibu, setiap manusia sudah diputuskan tiga perkara yakni jodohnya, kematiannya, dan rizqinya. Kematian tidak akan datang kecuali seluruh nikmat telah disempurnakan. Allah berikan hak dan keperluan hidup manusia dengan sempurna, tidak dikurang dan tidak dilebihkan hingga batas kematiannya. Bahkan di dalam hadits dikatakan, rizqi seseorang lebih cepat mengejarnya daripada usahanya dalam menjeput rizqi.

Jika kita sadar bahwa kematian tidak akan datang kecuali telah sempurna diberikannya rizqi, maka setiap nikmat yang diperoleh harusnya mengantarkan kita  kepada dzikrul maut. Ketika kita memperoleh nikmat, walau sekecil apapun, maka seharusnya yang teringat pertama kali adalah maut. Tidak heran bila ulama’ dulu pabila mereka sedang makan saja, mereka berkata: hambaMu yang banyak maksiyat ini sedang memakan nikmatMu..”. bahkan al Habib Mundzir Al Musawa –rahimahullah-  mengatakan: “Satu helaan nafasmu adalah satu langkahmu menuju kematian..” . Begitulah ulama’ salaf mencontohkan bagaimana mereka beraktivitas sehari-hari agar tidak lepas dari dzirullah dan dzikrul maut. Mungkin inilah yang dimaksud oleh ALLAH di dalam Al Quran:

الذين يذكرون الله قياما وقعودا و على جنوبهم
“yaitu orang-orang yang senantiasa mengingati ALLAH baik dalam keadaan berdiri maupun duduk dan ketika berbaring..”

Manusia itu kalau capek berdiri, pasti akan duduk. Jika sudah capek duduk dan berdiri (beraktivitas), maka pasti akan berbaring (istirahat). Maka, nikmat yang hakiki bukan hebatnya kita dalam pandangan manusia, sibuknya kita di dalam mencari nafkah dan penghidupan, bukan pada kekayaan materi atau sekedar titipan rizqi, tapi nikmat yang hakiki ialah apa-apa yang mengantarkan seseorang kepada penghidupan yang baik setelah mati.

Wallahu a’lam

Pagi di Bogor, 13 Dzulhijjah 1435 H/18 Oktober 2013 M.

صلى الله على سيدنا محمد و آله وسلم


Responses

  1. Takut mati saya….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: