Oleh: Azan bin Noordien | September 17, 2013

Gimana sih..? Katanya minta yang sholeh?

Gambarالحمدلله رب العالمين و الصلاة والسلام على سيدنا محمد و على آله و صحبه و من تابعهم بإحسان إلى يوم الدين

Ada kisah seorang muslimah. Ia memiliki seorang pacar, walaupun pacarnya itu tidak pernah sholat dan kerjaannya keluyuran tidak jelas, tapi katanya demi cinta mereka tetap menjalin hubungan pacaran. Seiring berjalan waktu, si gadis semakin bertambah usia dan ada keinginan menikah. Ia akhirnya berdoa kepada ALLAH agar diberikan suami yang sholeh agar bisa membimbingnya soal agama dan kehidupan yang lebih baik/islami.  Semakin hari kegalauan si gadis menjadi-jadi karena sang pacar sampai saat ini belum jg mau melamarnya. Alasannya belum mapanlah, ini dan itu segala macam.

Namun setelah beberapa lama, datanglah seorang laki-laki yang baik akhlak dan agamanya, laki-laki itu datang melamar kepada orangtua si gadis. Ketika pria sholeh ini mengutarakan keinginannya kepada wali gadis tersebut, bapaknya tidak bisa menerima pinangan itu karena anak gadisnya sudah ada yang punya (maksudnya pacar nya yang sekarang). Pemuda tadi akhirnya pamit pulang, ada sedikit raut kecewa dari wajahnya.

Si gadis sebenarnya memiliki rasa simpati pada pemuda tadi, karena setaunya pemuda tadi adalah pemuda baik-baik yang rajin memberikan taushiyah/ta’lim di masjid kompleknya, ia pun terkadang mendengar kebaikan kebaikan – pemuda tadi dari orang-orang sekitarnya.

Doa sang gadis sebenarnya sudah diijabah oleh ALLAH taala yaitu mendatangkan seorang pangeran sholeh kepadanya, namun apa boleh buat karena kesalahan dari si gadis sendiri yang telah memiliki pacar membuat dirinnya terkekang. Hal ini ia insyafi dan akhirnya ia bertaubat kepada ALLAH dan berjanji akan memutuskan pacarnya.

Kegalauannya bertambah, seiring berjalan waktu dalam ‘kejombloannya’, tidak punya pacar membuatnya merasa aneh, dan lebih tidak nyaman lagi adalah ternyata tidak ada laki-laki sholeh lagi yang datang ke rumahnya seperti tempo yang lalu. Ia berdoa akan diberikan lelaki sholeh hanya sebatas di kamarnya.

Di luar rumah, si gadis beraktivitas seperti biasa, hang out bareng temen-temennya di  mall, belanja ini dan itu, segala fashion ia turuti, apa yang lagi trenia tidak mau ketinggalan, hadir pernikahan-pernikahan kakakk kelasnya yang wah.., dan selepas kuliah bulan lalu ia pun bergaul dengan kolega bapaknya di bisnis kehutanan, standing party , dsb… terkadang ia pun menghadiri pengajian jikalau sempat, namun setelah putus dari pacarnya ia semakin rapi dalam berpakaian.Walaupun belum terlalu nyar’i tapi tidak lagi terbuka atau ketat.

Dari kenalan seorang kolega bapaknya, ia kemudian dijodohkan dengan seorang pemuda. Secara finansial pemuda itu cukup berada,tapi yang membuat hati si gadis itu membuncah gembira adalah pemuda tadi alumnus universitas islam timur tengah!

Akhirnya terjadi perundingan kedua belah pihak keluarga, terjadi pembahasan yang cukup alot.. pemuda tadi mengajukan pernikahan yang sederhana, tidak ada campur baur antara laki-laki dan perempuan, tidak ada standing party, tidak ada musik hingar bingar, dan pakaian/make-up mempelai wanita jg disederhanakan. Hal ini membuat si gadis dan keluarganya agak terheran-heran… mereka tidak mungkin melakukan pernikahan anak gadis tunggalnya seperti itu apalagi rekan bisnis, koleganya, kerabatnya, keluarga besar mereka wajib diundang semua. Sedangkan pihak keluarga perempuan jg meminta mahar yang tinggi dan syarat-syarat yang memberatkan si pemuda.

Si gadis hanya bisa diam dan tidak bisa memutuskan siapa yang harus ia dukung, di satu sisi ia ingin memenuhi keinginan keluarganya tapi di satu sisi ia jg sangat siap mendukung calon suaminya dalam hal apapun. Di majelis itu ia hanya bisa tertunduk lemah menyaksikan hal-hal yang menurutnya sangatlah teknis, yang ia inginkan saat ini hanyalah menikah dengan pemuda sholeh itu tanpa syarat apa-apa lagi!

——-story ends———-

Hikmah

Sebuah doa dan keinginan memiliki konsekuensi dan kesiapan diri. ALLAH pasti mengabulkan doa hambaNya, tapi kitalah yang terkadang belum siap menerima anugrah ALLAH. Tidak salah kita berdoa meminta pendamping hidup yang baik dan sholeh, tapi apakah dirinya siap mendampingi dan bersinergi dengan calon yang kita minta tersebut? Dari kisah di atas, si gadis meminta suami yang sholeh, tapi jangankan masuk ke dalam berumah tangga nanti, proses akan mau akad dan walimahan saja sudah tidak ada harmoni.

Banyak diantara kita cinta dengan sosok yang sholeh tapi enggan untuk mengikuti amalan-amalan mereka.

Orang awam kadang hanya tahu ‘sosok yang sholeh’ tanpa mendalami definisinya dan jalan-jalan menuju tangga kesholehan itu. Mereka yang sholeh dan khusyu’ kepada ALLAH tidak akan cinta dengan dunia berlebihan, tidak melakukan habit (kebiasaan) yang sia-sia. Sebaliknya kebiasaan mereka adalah taqarrub (mendekatkan diri) kepada ALLAH,sedangkan kita terkadang belum siap dengan itu.

Maka, doa yang terbaik adalah diberikan taufik dan hidayah agar bisa mengikuti jejak-jejak mereka yang shalih. Berdoa adalah bukti ketundukan kepasrahan dan semangat memperbaiki diri, doa bukanlah sarana untuk mendikte ALLAH karena ALLAH Maha Tahu apa yang kita butuhkan dan Maha Tahu sejauh mana kesiapan diri kita. Wallahu a’lam.

Bogor, 12 Dzulqa’dah 1434 H
صلى الله على سيدنا محمد و على آله وسلم


Responses

  1. ouh gitu yo satad, jazakallah yo stadz


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: