Oleh: Azan bin Noordien | Maret 10, 2013

Sekilas tentang Tasawwuf

Tasawwuf

الحمدلله رب العالمين و الصلاة والسلام على سيدنا محمد و على آله و صحبه و من تابعهم بإحسان إلى يوم الدين

ALLAH ta’ala memberikan sebuah bekal untuk manusia agar bisa berjalan di atas bumi dengan pandangan yang benar dan selamat. Seringkali dan banyaknya fitnah, syubhat, kesamaran yang berlaku di alam dunia ini menjadikan jalan seorang hamba menuju Rabb-Nya terlihat sulit. Ketidakmampuan seorang hamba melihat persoalan, membedakan mana yang benar dan salah acapkali menyebabkan seseorang itu jatuh ke jurang kebodohan dan lembah dosa. Allah ta’ala memberikan satu bekal, yang apabila ia baik maka semua hal akan menjadi baik, yaitu hati. Sebuah al-hadits as-syarif menjelaskan:

إن في ابن آدم مضغة إذا صلحت صلح سائر جساده وإذا فسدت فسد سائر جساده وهو القلب
“Sesungguhnya di dalam diri anak Adam ada sebuah gumpalan, apabila ia baik maka baik pula seluruhnya, jika ia buruk maka buruklah semuanya, itulah hati..”

Sebuah hadits masyhur yang berbunyi:
قال: اخبرني عن الإحسان قال: أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك.
(Jibril bertanya kepada Nabina Muhammad saw): “Beritahukan kepadaku apa itu Al-Ihsan..?” (Nabi menjawab): “Kamu ber’ubudiyah (beribadah/bertauhid) kepada Allah seolah-olah kamu melihatNya, jika kamu tidak mampu sesungguhnya Allah Maha Melihat kamu…”

Di alam dunia, jelas mata zhahir (mata biologis) manusia tidak akan mampu melihat nur dan wajah Allah ta’aalaa. Dijelaskan di dalam al-Quran:

فَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّي أَرِينِي اَنْظُرْ إِلَيكَ قَالَ لَنْ تَرىنِي..”
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku..” (Al-A’raf: 143)
فَإنَّهَا لَا تَعْمَــى الأَبْصَــارُ وَلــكِن تَـعْمَــى القُلـُـوبُ الَّتِــي فِـي الصُّدُوْرِ
Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada..” (Al Hajj:46)

Jadi jelas, bahwa Allah sendiri membedakan makna ‘mata biologis’ dengan ‘mata bathin’. Perbedaannya begitu jauh dan jelas. Mata biologis kemampuannya terbatas hanya bisa melihat hal-hal yang berhubungan dimensi, bermateri dan ruang. Seluruh hamba/makhluk diberikan nikmat ini sang Ar Rahman. Namun tidak dengan mata bathin (bashirah), hanya diberikan kepada orang yang beriman.

Jadi, indera yang mampu melihat Allah ialah mata bathin manusia yaitu melalui hati yang bersih. Ketika hati seseorang kotor tertutupi oleh dosa dan sifat-sifat buruk maka otomatis terhijablah ia dari melihat kebenaran dan cahaya Allah (na’udzubillah min dzalik). Jadi, ketika hati seseorang bersih penuh dengan cahaya keimanan, maka hati tersebut bisa melihat Allah subhanahu wata’ala dan terwujudlah sifat ‘al-Ihsan’ yang dimaksud. Allah ta’ala memberikan anugerah ini kepada orang yang ia kehendaki, dan tidak ada yang bisa mendapatkannya kecuali bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh ingin berjumpa dengan rabbNya.

يهـد الله لنــوره من يشاء..”

Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki..” (QS An-Nuur 24:35)

Dengan cahaya ini, seorang mukmin akan mampu melihat Allah dengan pandangan bathinnya. sebagaimana di dalam hadits riwayat Imam At-Tirmizi:

اتقوا فراسة المؤمن فإنه ينظر بنور الله..”
Nabi bersabda: “Waspadalah kalian terhadap firasat seorang mukmin, karena sesungguhnya ia memandang dengan cahaya Allah..”

Firasah atau firasat itu adalah sebuah kebijaksanaan yang terbina dari penglihatan ruhani. Cahaya itu adalah keimanan refleksi dari nur Allah kepada hambaNya. Dengan hati inilah Allah melihat dan berkomunikasi dengan hambaNya.

إن الله لا ينظر إلى صوركم و أمولكم ولــكن يــنظر إلى قلوبكم و اعمالكم..
Sesungguhnya Allah tidaklah memandang kepada harta dan fisikmu, tetapi Dia memandang kepada hati dan perbuatanmu..” (al Hadits)
Tasawwuf dan peranannya

Istilah tasawwuf atau kemunculan ahli sufi adalah istilah yang datang belakangan setelah masa-masa fatrah (kelesuan beragama) umat islam. Di masa kenabian dan para sahabat tidak dikenal istilah tasawwuf atau sufiyyah, namun spirit dari ‘Al-Ihsan’ telah muncul sejak Allah utus kenabian itu sendiri. Dengan nur Nabi, umat menjadi bersih hatinya, menjadi mudah mereka menerima kebenaran agama, menjadi hilang keragu-raguan para sahabat dan umat yang duduk jumpa bersama nabi. Begitulah spirit dan esensi dari tasawuf telah wujud bersama ilmu-ilmu islam yang lainnya seperti ilmu fiqh (hukum-hukum). Menurut Prof DR Hamka, tasawuf Islam telah timbul sejak timbulnya agama Islam itu sendiri. Bertumbuh di dalam jiwa pendiri Islam itu sendiri yaitu Nabi Muhammad Saw. Disauk airnya dari Qur’an sendiri. (Perkembangan Tasawuf dari Abad ke Abad, Buya Hamka).

Disebabkan pula nabi tidak mengajarkan agama ini secara parsial, namun nabi Muhammad saw mengajarkan agama ini secara koprehensif dan praktikal. Setelah umat ini mengenal Islam sebagai suatu ajaran (teologia) maka terbagilah cabang-cabang ilmu itu menjadi beragam sebagaimana kita ketahui saat ini. Kita mengenal ilmu Lughah (bahasa) yang terdiri dari ilmu Nahwu, sharaf, balaghah dsb. Kita mengenal  ilmu fiqh dan ushul fiqh, ilmu hadits dan musthalatnya, ilmu tafsir, ilmu kalam, tarikhul islam, dan adab, dsb. Barulah pada tahun 150 H atau abad ke-8 M Ilmu Tasawuf ini berdiri sebagai ilmu yang berdiri sendiri.

Setelah beberapa kurun sejak masa nubuwah, umat islam diberikan wilayah dan kekuasaan yang luas. Bangsa arab dan kaum muslimin diliputi harta kekayaan dan ghanimah. Pada masa inilah dimulainya masa hubbuddunya (cinta dunia). Sebagaimana di sebutkan dalam khabar nubuwwah

سيأتي زمان على أمتي لا يبقي من القران إلا رسمه ولا من الاسلام إلا إسمه يسمون به وهم أبعد الناس منه
Akan datang kepada umatku satu zaman, ketika tidak tersisa dari Al-Quran kecuali tulisannya; tidak tersisa dari Islam kecuali namanya. Mereka menamakan dirinya dengan nama Islam, tetapi mereka orang yang paling jauh dari Islam.

Sebuah hadits dari Tsauban ra., ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Hampir bangsa-bangsa memperebutkan kalian (umat Islam), layaknya memperebutkan makanan yang berada di mangkok.’ Seorang laki-laki berkata, ‘Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit? Beliau menjawab, ‘Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di genangan air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut (para musuh) kepada kalian, dan akan menanamkan ke dalam hati kalian al-Wahn.’ Seseorang lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa itu al-Wahn?’ Beliau menjawab, ‘Cinta dunia dan takut mati’.” (HR Abu Daud)

Menanggapi situasi ini ulama-ulama yang konsisten membina umat, harus bekerja keras mengembalikan kecintaan umat dari pada dunia kepada kecintaan sejati yaitu kepada Allah, NabiNya, dan menghayati kehidupan beragama dengan orientasi yang lurus. Ulama-ulama ‘kritis’ inilah yang dikenal dengan ulama sufi yakninya yang mengajarkan ilmu tasawwuf. Mereka melaksanakan da’wah ilallah ‘ala bashirah, membersihkan hati-hati manusia dari khurafat, tahayul, berhala-berhala dunia, dan tuhan-tuhan selain Allah ta’ala. Intinya, ajaran tasawwuf itu mengembalikan esensi islam dan menghidupkan amal-amal agama sebagaimana yang dikehendakin Allah dan rasulNya.

Ilmu tasawwuf adalah ilmu untuk mengenal hati dan seluk beluknya, memeriksa keadaannya, apa yang menyebabkan ia sakit, dan bagaimana menghidupkannya. Para mutasawwif (ahli tasawwuf) mengembangkan metode-metode bagaimana cara untuk membersihkan jiwa, pembinaan bathin dengan berdzikir, mengenal dan mendekatkan diri pada Allah ta’alaa, sesuai dengan kaidah-kaidah dan hukum-hukum Islam. Jika ada orang yang mengaku sebagai sufi, tetapi mereka tidak mengamalkan syari’at Islam, tidak menghidupkan sunnah nabi saw, maka mereka itu bukanlah sufi.

Berkata Imam As Suyuthi rah.a: “”Tasawuf dalam diri mereka adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Ilmu tasawwuf itu menjelaskan bagaimana mengikuti sunnah Nabi dan meninggalkan bid’ah..”. (Ta’yad Al-Haqiqatul ‘Aliyya: 57). Berkata Syaikh Junaid al Baghdadi: Ilmu sufi (tasawuf) adalah benar-benar ilmu, yang tidak seorang pun dapat memperolehnya, kecuali dia yang dikarunia kecerdasan alami, dan berbakat untuk memahaminya. Tak seorang pun dapat berpura menjadi sufi, kecuali dia yang melihat rahasia nuraninya.”

Dari cabang ilmu ini dikenal para ulama mujtahid atau ulama pembaharu semangat keislaman pada setiap zamannya, yang membentengi aqidah dan memimpin perjuangan umat islam di dalam jihadnya. Sebut saja tokoh-tokoh tasawwuf yamg terkenal dari masa ke masa dari umat ini: Hasan Al-Bashri, Abu Hasyim Shufi Al-Kufi, Ibnu Muhammad Al-Baidhawi, Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri, Abu Sulaiman Ad-Darani, Abu Hafs Al-Haddad, Sahl At-Tustari, Al-Qusyairi, Ad-Dailami, Yusuf ibn Asybat, Basyir Al-Haris, As-Suhrawardi, Ain Qudhat Al-Hamadhani, Imam Al Ghazali, Syaikh Abdul Qadir Jilani, dan ulama-ulama sufi kontemporer hingga saat ini.

Adanya fitnah yang mengatakan ilmu tasawwuf itu tidak ada di dalam Islam  itu adalah hembusan dan fitnah dari golongan iblis dan umat yang disesatkan dengan pemikiran-pemikiran zionis yahudi. Mereka kaum yahudi dan nasrani yang belajar islam tahu betul asas dan kekuatan umat ini adalah dengan tasawwuf. Maka, mereka kerahkan sekuat tenaga agar islam itu hancur dari dalam, menghilang identitas dan inti dari ajarannya yaitu tasawwuf. Mereka fitnah ulama-ulama sufi dan kitab-kitab mereka, mereka buyarkan dan bakar sejarah perjuangan ulama-ulama sufi serta peranan/andil mereka. Terbukti saat ini apabila kita mendengar istilah tasawwuf atau sufi maka yang terbayang di benak orang islam adalah tari-tarian sufisme, atau musik-musik sufisme semata, kemudian disesat-sesatkan oleh golongan takfiri.

Seorang yang telah sampai kepada derajat sufi maka sesungguhnya ia telah sampai kepada Syumuliatul Islam (kesempurnaan Islam) yaitu arkanul-Islam, arkanul-Iman, dan sifat al-Ihsan. Sufi pada setiap gerak-geriknya merupakan hidayah daripada Allah ta’alaa, berkepribadiannya tenang dan berpengaruh karena wibawa ketaqwaannya, bersih dan jernih pandangan lahir dan bathinnya.

Adapun ciri-ciri orang yang mengamalkan ilmu tasawwuf menurut Imam An-Nawawi yaitu: (1) menjaga kehadiran Allah (muqarrabah) dalam hati pada waktu ramai dan sendiri, (2) mengikuti sunnah Rasulullah saw. dengan perbuatan dan perkataan, (3) menghindari ketergantungan kepada orang lain (tawajjuh dan berharap) hanya kepada Allah, (4) bersyukur pada pemberian Allah meski sedikit (qana’ah), (5) selalu merujuk masalah kepada Allah ta’ala. (dikutip dalam Kitab Al-Maqasid At-Tauhid)

Penutup

Hidup di akhir zaman ini penuh dengan kerancuan , fitnah dan syubhat. Seandainya kata ‘tasawwuf’atau ‘sufi’ itu tidak pernah muncul mungkin akan berbeda, karena pasti ada saja orang yang merusak kebenaran dengan istilah. Sebagai hamba Allah yang kita cari adalah ridhaNya, dan jalan mencapai ridhaNya adalah tidak lain dengan Islam, Iman, dan Ihsan. Kita sebagai muslim adalah sejatinya pencari hakekat atau esensi, bukan pencari slogan dan topeng agama belaka. Wallahu a’lam.

صلى الله على سيدنا محمد و على آله وسلم


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: