Oleh: Azan bin Noordien | Juli 11, 2012

Politik Nabawi dan Realita Demokrasi

الحمدلله رب العالمين و الصلاة والسلام على سيدنا محمد و على آله و صحبه و من تابعهم بإحسان إلى يوم الدين

Pemain dalam demokrasi paham bahwa masyarakat bodoh lebih banyak daripada masyarakat cerdas, oleh karena itu mereka gunakan cara-cara bodoh untuk mendapatkan ‘suara’. Mereka tidak membutuhkan suara-suara orang cerdas dan alim ulama, yang tentu jumlahnya sangat sedikit. dalam demokrasi, ‘suara’ menjadi Tuhan baru. Mirisnya, suara seorang ulama dihargai sama dengan suara seorang preman, suara perampok, bahkan suara pezina.

Mereka pakai cara pencitraan, agar terlihat bagus dihadapan publik. Merek pakai money politic, karena mereka tahu bahwa masyarakat awam butuh uang yang ‘real’ darpada apapun di dunia ini. Mereka pakai artis-artis dan dunia hiburan, karena mereka tahu masyarakat sedang bosan dengan kehidupan sehari-hari. Mereka pakai bendera agama, karena mereka tahu masyarakat masih ada ‘iman’ dan harapan pada agamanya.

Politik Rosulullah bukan mencari suara dan dukungan, tetapi politik Rosulullah adalah mendekatkan umat pada ilmu dan ulama, yaitu ilmu yang sempurna mengajak keta’atan kepada ALLAH dan ulama yang menjauhi pintu-pintu jabatan dan kekuasaan. Letakkan kebenaran pada tempatnya yang agung, jangan nodai kebenaran demi kepentingan-kepentingan sendiri yang dikarang-karang seolah menjadi bagian dari kebenaran itu sendiri.

Ketika raja Rum bertanya kepada sahabat utusan Rosulullah tentang ciri-ciri nabi akhir zaman yang utusan itu serukan, “siapakah pendukung nabi itu? Apakah mereka yang mendukung banyak dan dari golongan arab yang kaya..?” sahabat itu menjawab..” tidak, kebanyakan pendukungnya adalah orang-orang miskin dan orang-orang yang tidak memiliki kedudukan di kaumnya..”. raja Rum berkata..” benar ia (Muhammad) adalah seorang Nabi akhir zaman..” karen a faktor dunia dan kekuasaan, raja Rum itu akhirnya tetap tidak mau menjadi muslim.

Kemudian, apakah yang dijanjikan oleh Rosulullah adalah tertuntasnya berbagai masalah duniawi para sahabat? Terciptanya lapangan kerja, perbaikan masjid, perbaikan jalan, perbaikan pendidikan, perbaikan ini dan itu? Bukan! Nabi tidak menjajikan bentuk2 duniawi dalam da’wah beliau. Metode beliau adalah targhib wa- tarhib (dorongan beramal shalih dan ancaman jika berma’shiyat), karena fungsi seorang da’i adalah Basyira wa Nadzira (memberi kabar gembira dan memberi peringatan). Dan metode ini diberi pondasi berupa keyakinan yang kuat kepada al-Khaliq, bukan keyakinan dan janji-janji kepada kehebatan/kekuatan makhluk.

Di zaman nabi, banyak orang miskin. Miskin yang dita’rif (didefenisikan) oleh kapitalis menjebak mind set kita bahwa kemiskinan adalah musuh, padahal tidak seperti itu paham miskinnya nabi dan para sahabat. Mereka rindu menjadi miskin karena miskin bukan berarti miskin jiwa dan iman. Doa nabi untuk menjadi miskin sulit dicerna bagi orang-orang yang paham bahwa miskin bukanlah sebuah sarana tarbiyah ALLAH bagi umat.

Begitu juga saat ini, metode nubuwwah ini seharusnya juga diaplikasikan secara masiv. Umat yang kebanyakan adalah awam dibawa kepada iman dan amal agama, yang dibimbing cara hidupnya (muamalah, muasyarah, dan akhlaknya) oleh ulama. Dan ulama inilah yang berfungsi sebagai murobbi (pendidik) umat.  Sebagaimana sebuah hadits: Pasti akan datang suatu massa pada umatku, mereka berlari menjauh dari pada ulama dan fuqaha, maka ALLAH memebrikan mereka 3 adzab: (1) diangkat keberkahan dalam usaha mereka, (2) ALLAH mengangkat pemimpin yang Dzalim kepada mereka, (3) mereka mati tanpa membawa iman.

Kalimat dalam hadits tersebt adalah

يُسَلِّطُ الله عَلَيهِمْ سُلْطَاناً ظَاِلماً

“ALLAH pasti mengangkat ke atas mereka pemimpin yang dzalim…”

Jikalau saat ini kita memiliki pemimpin pemerintahan yang tidak sesuai dengan peraturan Islam , jangan buru-buru menjudge bahwa ini kesalahan cara berpolitik kita, ini akibat ini dan itu. Tidak demikian! Pahami ini juga merupakan ketentuan ALLAH sendiri, menolak ketetapan allah atas kelalaian kita adalah suatu dosa besar. Maka koreksi kembali amalan pribadi kita, koreksi amalan-amalan keluarga kita, dst.

Renungkan, tidak akan merugi jika kita setiap hari sibuk dengan ketaatan kepada ALLAh dan sibuk dalam usaha atas iman. Yang terdzolimi itu tetaplah orang-orang yang tidak memiliki iman dan amal shalih. Orang-orang yang usaha atas iman, dimana pun zamannya, siapa pun pemimpinnya akan tetap bahagia. Ini sudah jaminan dan keadilan ALLAH.  Jika sekiranya kita hidup di zaman nabi sekalipun, lengkap dengan fasilitias duniawi, apakah itu menjamin diri kita bahagia sesuai standar syari’ah? Tidak! Tetap saja orang-orang yang ALLAH beri kebahagiaan hidup adalah mereka yang beriman dan beramal shalih.

Intinya, jangan perbaiki dunia umat, sebelum benar-benar serius memperbaiki akhirat. Jika dunia yang sementara ini diperbaiki dengan begitu sibuknya, akhirat yang pasti menyongsong dan kekal abadi akan terlepas. Jika akhirat yang penuh keagungan dipelajari dan dijadikan acuan, maka dunia akan datang kepada umat islam secara hina. Itulah yang terjadi pada zaman keemasan Islam yakni zaman sahabat, sehingga ‘efek dunianya’ datang kepada kekhalifan-kekhalifan setelah khulafa ar Rasyidin yang ketika itu umat Islam penuh dengan harta dan wilayah kekuasaan. Setelah umat islam sebegitu cinta dunia yakni di zaman khalifah Utsmani turkiy (Turkey Ottoman), di saat itulah Yahudi bisa mengalahkan umat islam dan menggulingkan kekhilafan/ dinasti kerajaan Islam.

Menderikan sebuah imperium islam merupakan cita-cita umat islam semuanya. Menegakkan peraturan-perundangan syari’ah merupakan impian setiap mukmin. Namun bagaimanakah caranya? Memang kadang kita tidak sabar, ambil jalan pintas tapi rupanya jalan yang terjauh. Ambil politik praktis untuk kekuasaan padahal semakin hari semakin menjauhkan diri kita dari ulama dan barisan orang-orang yang ikhlas dalam da’wah ilallah. Ambillah metode Rosulullah pada awalnya sehingga tidak akan ada penyesalan dan kesusahan.

#nasehat dari al-Faqir kepada sahabat yang ingin memperjuangkan Islam namun belum ahsan dalam memahami bagaimana memperjuangkan Islam. Sempurnanya perjuangan karena ada yang masih ingat-mengingatkan. Sebagaiman kaidah yang dikatakan dalam al-Quran, “tawaassau bil-haq, wala tal bishul-haqqa bil bathil..” artinya “saling menasehati dalam perkara yang haq, dan jgn mencampuri perkara haq itu dengan kebathilan..”

Wallahu a’lam

صلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وسلم


Responses

  1. Subhanallah, mari pimpin diri sendiri dengan baik Dan sesuai syariat Islam,berikutnya pimpinlah keluarga Dan kerabat terdekat dengan amanah , trimakasih yaaa article yaaa..

  2. ayo akh,,
    sudah waktunya ntm u/ jadi murobbi

    banyak mutarobbi-mutarobbi yg haus akan ilmu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: