Oleh: Azan bin Noordien | Mei 30, 2012

Hikmah dari Novel ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Witjck’ karya Buya Hamka

Buya Hamka, ulama dan sastrawan

الحمدلله رب العالمين و الصلاة والسلام على سيدنا محمد و على آله و صحبه و من تابعهم بإحسان إلى يوم الدين

Walaupun saya orang padang dan cukup mengenal Buya Hamka (ulama minang), tetapi baru tadi saya menamatkan Novelnya yang ajib yaitu Tenggelamnya Kapal Van Der Witjck -selalu kesulitan menulis kata ‘Witjck’ -.-a

Karya Sastra dari ulama ini sangat bagus, terasa sekali nuansa sastra a la Hamka yang sangat Melayu dan Minangese dalam bahasanya. Saya menyangka tulisan Buya Hamka ini seperti tafsir al-Azhar, tetapi tidak, benar-benar sebuah roman cinta yang berbobot begitu haru biru hingga hati saya basah dan hampir-hampir meneteskan air mata karenanya. Saya juga menyangka, Habiburrahman el-Shirazy sepertinya sangat meniru pola penulisan Buya Hamka dalam setiap karya terdahulu seperti AAC dan KCB. Setidaknya saya juga termotivasi untuk menyelesaikan naskah Novel saya ..🙂

Seorang ulama tentu pandai dalam menyampaikan hikmah dalam tulisan-tulisannya, kita jangan seperti orang yg mencela sebagian ulama yang berkarya sastra, saya fikir itu adalah orang yang tidak tahu rasa dan keindahan. Walaupun tidak ada satu pun ayat Quran dan hadits dalam novel ini, tetapi pesannya begitu kuat memotivasi pembaca merenung, mensyukuri, tadabbur dalam menjalani hidup.Ada beberapa hal yang bisa saya ambil pelajarannya dari Novel ini dan kemudian saya hendak sekedar berbagi kepada teman-teman yang saya sayangi karena Allah. Ini adalah berupa resume biasa dan catatan kecil, jika ingin mendalami ibrahnya, silahkan miliki dan baca Novel tsb. :> Diantara hikmah yang ditekankan Buya Hamka adalah:

1. Adat budaya setempat bukan segalanya, apalagi sampai fanatisme buta terhadap adat karena sebaik-baik jalan adalah agama dan adat yang berselaras dengan agama

2. Kedudukan seseorang itu bukan karena nasab, suku, atau macam klasifikasi buatan manusia. Tetapi kemuliaan itu ada pada orang yang beragama dan benar-benar ta’at (taqwa)

3. Cinta dan pernikahan yang didasari ketertarikan fisik, semisal kecantikan/harta/dan kedudukan tidak akan berumur panjang

4. Tumpahan masalah dalam hidup, bukanlah satu kesialan tapi ujian untuk menaikkah derajat dan modal untuk sukses. Putus asa tidak menghasilkan apa, kecuali bertambahnya masalah

5. Jika seorang perempuan telah jatuh hati kepada seorang, maka sulit bagi perempuan itu melupakan, kecuali maut saja yang memisahkan raganya. Perempuan yang jatuh cinta sebelum menikah akan kurang pengabdian dan rasanya kepada suaminya yang sah.

6. Seorang pemuda harus berani dalam banyak hal, terutama dalam menuntut ilmu, bekerja, dan berkarya. Pergi ke berbagai daerah untuk mencari pengalaman (merantau menyebarkan da’wah islam)

7. Jangan mengecewakan orang yang baik hanya karena ingin nikmat dunia sebentar, atau karena ternampak aib dan salahnya sekali waktu kepada kita.

Wallahu a’lam

صلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وسلم


Responses

  1. Assalamu’alaikum ww! Ustad Azan rasanya terlambat sekali aku mengenal tulisan-tulisan ustad, semoga apa yang ustad tulis bermanfaat bagi orang yang haus akan ilmu, mudah-mudahan ustad lebih produktif lagi dalam menelurkan tulisan, amin!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: