Oleh: Azan bin Noordien | Mei 29, 2012

Saatnya Aktivis Da’wah Lintas Haroki paham Mana yang Ushul dan Mana yang Furu’

 Banyaknya masalah yang muncul hanya karena hal-hal kecil, menjadikan umat ini berpecah belah. Tidak hanya karena disebabkan keegoisan diri tetapi mungkin saja kita tidak paham tugas besar yang lebih wajib kita prioritaskan dan kita kerjakan bersama..

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين و الصلاة و السلام على النبي الكريم وعلى آله و صحبه أجمعين

Definisi

Ushul berasal dari bahasa arab (أصول) kata jamak dari kata ‘ashl’ (أصل) yang berarti dasar, pokok, pondasi atau akar. Sedangkan ‘furu’ berasal dari kata far’un (فرع), jamaknya furu’ (فروع) yang berarti cabang/ranting. Allah ta’ala memakai kata ushul dan furu’ ini di dalam al-Quran:

{ أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاء}

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. (QS. Ibrahim: 24)

Dalam khazanah ilmu islam dikenal dengan istilah ushuluddin (pokok-pokok ajaran agama) yang membahas masalah aqidah. Ada juga istilah ushul-fiqh yang membahas sistematika atau kaidah-kaidah yang digunakan untuk mengistinbath (penggalian hukum) di dalam agama dengan dalil yang terperinci. Para ulama sepakat dalam masalah ushuluddin, namun terkadang ada perbedaan di dalam masalah furu’ sehingga dituntut santun dan menghargai hasil ijtihad ulama tersebut di dalam masalah furu’.

Ushul dan furu’ dalam perspektif dakwah dan aktivis da’wah

Dalam tulisan ini, saya tidak akan mencoba mengangkat ushuluddin dalam artian yang ilmiah di dalam ilmu-ilmu islam. Namun, sesuai dengan judulnya kita sebagai generasi muda islam harus paham betul mana hal-hal yang menjadi ushul dan furu’ di dalam derap langkah da’wah. Jangan sampai kita keliru tidak bisa membedakan mana yang prioritas dan mana yang kurang, mana yang wajib dan mana yang harus ditoleransi. Karena sikap toleransi itu bukanlah muncul dari ‘tata moral’ belaka, tetapi sikap saling menghargai kpd sesama ikhwah adalah keluar dari pemahaman ushul yang kuat. Kita secara fitrahnya tidak akan berbasa-basi terhadap sesuatu yang salah (dalam pandangan kita), tapi saat ini bagaimanakah kemampuan kita agar pemahaman agama kita benar-benar kembali kepada haqnya dan kita puas menjalani da’wah sesuai dgn pos-pos yang sudah ditentukanNya.

Harokah al-islamiyyah, secara ‘am-nya adalah salah satu bentuk ijtihad ulama ketika pada masa-masa tertentu dan pada daerah tertentu. Contoh, Ikhwan al-Muslimin lahir di Mesir oleh seorang ‘Alim bernama Hasan al-Banna, lalu ada Syaikh Taqiyyuddin an-Nabani. Begitu juga di kawasan belahan dunia lain, bermunculan ulama mujtahid yang mengambil satu langkah untuk memperbaiki keadaan Islam ketika itu. Seharusnya kita sebagai awwam harus apresiasi dan ta’zhim kepada seluruh ulama yang berjuang dalam agama ini. Tidak malah saling curiga saling tuding bahkan saling membid’ahkan. Kecuali ada yang bermasalah dalam masalah aqidah dan tidak melenceng dari madzab mu’tabaroh yang empat (Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali). Dalam aqidah mengikut kepada  al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi, sebagaimana aqidah jumhur umat Islam saat ini.

Harokah tetaplah sebuah permasalah ijtihadi dan furu’ (cabang). Jadi banyaknya pergerakan bukanlah sebuah bagian daripada ushulluddin yang harus diperdebatkan, namanya masalah furu’ selamanya tidak bisa disatukan dan tidak ada firqah yang sempurna dalam ijtihad dan pergerakannnya. Seyognyanya seorang yang merasa kurang, harus melihat kepada saudaranya mengenai kebaikannya yang kemudian saling silaturahim dan bersinergi, bukan malah bercerai berai. Allah ta’aala berfirman mengingatkan kita semua kaum muslimin agar berpegang kepada ushul bukan furu’ dan kemudian dilarang keras berpecah belah:

{ وَاعْتَصِمُوْا بِهَبْلِ اللهِ جَمِيْعاً وَلَا تَتَفَرَّقُوْا..}

Berpegang teguhlah kalian semua dalam tali (agama) Allah, dan jangan kalian bercerai berai…(QS. Ali Imran:103)

Ulama tafsirkan tali agama Allah itu adalah kalimat tauhid ‘laa ilaha illah’ dan dikuatkan dengan kata  jamii’an sehingga kita berkewajiban untuk saling berjemaah. Sebagaimana hadits Rasulullah salallahu alaihi wasallam:عليكم با لجماعة

“Selalulah kalian bersama jama’ah. “

Keberadaan kita di dalam satu organisasi Islam atau harakatul islam bukan lantas melepaskan tanggung jawab berjemaah itu sendiri, tetapi konteksnya lebih luas yaitu seluruh umat islam. Adanya diri kita dalam harakat islamiyah hanyalah tuntutan dan amanah ketika saat itu saja, mata kita harus luas memandang bahwa di luar sana banyak saudara kita yang sama-sama kita kuatkan pondasi/ushul kita dalam beragama.

Lalu, apakah yang menjadi ushul dalam agama ini? Menurut guru-guru saya di pesantren, yang menjadi pokok-pokok islam yang harus dimiliki setiap muslim diantaranya adalah

Memperkuat keimanan, artinya benar-benar yakin kepada ALLAH, tanpa syak/keraguan sedikitpun. Hal ini perlu riyadhoh secara kontinyu dan dijadikan ‘adat seorang muslim. Maka jika bertemu dgn siapa saja dari saudara seiman selayaknya kita membicarakan iman, sebagaimana para sahabat bila saling bertemu mereka bertanya ‘kaif imanukum ya akhi..?’ artinya bagaimana kabar imanmu hari ini wahai saudaraku..? bagaimana dgn kita saat ini, adakah demikian? Nah, iman inilah yang menjadi ushul utama dalam berda’wah, kepada siapa saja dan dengan siapa saja, hanya satu kita mengajak yaitu da’wah ilallah mengajak semua manusia kepada ALLAH. Nah, dakwah ilallah adalah tanggung jawab setiap muslim dan merupakan perkara yang pokok (usul). Dalam al-quran disebutkan:

{ وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِنْ مَنْ دَعَا إِلى اللهِ}

Dan siapakah yang lebih baik perkataan daripada orang yang menyeru (mengajak) kepada ALLAH?

Yang kedua, mendirikan ibadah, menjadikan ibadah sarana utama atau ikhtiar mutlak seorang hamba kepada ALLAH dalam segala kondisinya. Ibadah shalat berjemaah adalah perkara ushul, ebgitu juga dengan zakat, haji, sedekah, puasa,interaksi dengan Quran merupakan perkara ushul yang harus diusahakan dan diprioritaskan. Selanjutnya,

Menghidupkan amalan-amalan sunnah, apakah sunnah fikriyah (mind-set Nabi), sunnah shiroh (perihidup nabi), sunnah sariroh (penampilan fisik Rosulullah). Semua amalan sunnah ini bermula dari usaha yang konkrit untuk mencintai Nabi. Mencintai nabi adalah masalah ushul dalam da’wah, dan diejawantahkan dengan adanya usaha untuk menghidupkan sunnah-sunnahnya. Sebagaimana sabda Nabi: barangsiapa yang menghidupkan sunnahku sungguh ia mencintaiku, barangsiapa yang mencintaiku ia wajib di syurga bersamaku. Masalah ushul selanjutnya adalah,

Ada usaha konkrit dalam ‘Tazkiyatun-nafs, yaitu dengan menyucikan jiwa, misal dgn mengambil bagian dalam majelis-majelis dzikir, kajian tasawuf, dsb.  Saya baca dalam manaqib Hasan al-Banna bahwa beliau memiliki banyak guru di bidang tasawwuf dan tariqah yang bersilsilah (bersanad). Begitu juga jika bercermin kepada sejarah islam, kemenangan Salahuddin al-Ayyubi di baitul maqdis, kejayaan Muhammad al-fatih di kontantinopel adalah buah dari tazkiyatunnafs oleh ulama-ulama tasawuf ketika itu.

Selanjutnya seorang da’i /aktivis da’wah wajib memiliki ilmu syari’ah. Nah ini ada dua konteks: (pertama) Hukumnya wajib ‘ain yaitu mengetahui dan mengamalkan segala yang menjadi fardhu dalam agama ;(Kedua) Hukumnya wajib kifayah yaitu berusaha menjadi seorang yang ‘Aalim’ dengan mempejari ilmu2 khos (khusus) dalam metode mengkaji ilmu syar’i misalnya tata bahasa arab (nahwu shorof balaghoh dsb), ushul fiqh, uluumul hadits, musthalahat dan syarah hadits, ilmu tafsir, dsb.

Terkait poin 5, seorang aktivis harus/mesti/kudu memiliki sambungan kepada ulama besar yang jelas sanad ilmu dan amalannya dari gurunya dan seterusnya hingga kepada Rosulullah salallahu alaihi wasalaam, baik dalam ilmu al-Quran, hadits, fiqh, dsb.. sehingga pemahaman yang muncul bersih dan bebas dari debu-debu pemikiran. Karena setahu saya, seluruh ulama mujtahid dalam harakah islam memiliki guru dan mahdzab yang jelas dalam perkara fiqh mereka, seperti Hasan Al-Banna berpegang pada fiqh Hanafi, sedangkan Ust Rahmat Abdullah bermahdzab Syafii (terlihat guru2 beliau saja bermahdzab syafi;i). Artinya jangan karena kita ‘fanatik buta’ dgn pemimpin pergerakan kita, kita melupakan untuk dekat dengan ulama dan pesantren, padahal para pendiri harakah adalah ulama yang byk menuntut ilmu kepada ulama pada masanya. Sehingga mereka memiliki pikiran yang luas dan dewasa.

Perkara-perakara ushul yang penting selanjutnya ialah amalan hati yaitu keyakinan kpd ALLAH, sifat khouf (takut kepada ALLAH), raja’ (harap), ikhlas, tawakal, ihsan, ihtisab, dsb. Sifat-sifat ini betul-betul harus tertanam dalam jiwa seorang da’i sehingga setiap geraknya adalah hikmah dan berbobot amal bathin.

Jadi intinya, setiap aktivis dan da’i harus kuat dalam ushul sehingga dimanapun dia berkonstribusi maka konstribusi nya itu tinggi nilainya di sisi ALLAH. Coba perhatikan, mana ada ulama atau pejuang islam yang tauhidnya lemah, mana ada pejuang islam yang jauh dari sunnah?mana ada yang Qurannya lemah, mana ada yang dzikirnya lemah, mana ada yang shalatnya gak khusyu’, mana ada yang akhlaknya tidak santun? Mana ada yang tidak ‘alim dan faqih?

Jikalau seorang ulama ketemu dgn ulama lain yang mungkin saja berbeda haraki/organisasi, saya yakin mereka akan bersinergi, ibarat uang seratus ribu bila bertemu tidak ribut, malah akan tambah nilai mereka (jadi 200rbu). Sebaliknya, yang suka ribut-ribut itu adalah orang yang tidak kuat di ushul, tapi hobi berkoar-koar merasa paling hebat dan paling benar dalam harakahnya. Padahal yang para ulama yang berada di atas mereka adalah pejuang dan ulama-ulama mujtahidin yang kuat dalam membina ushul mereka.  Ingat, hanya koin receh yang nilainya rendah yang apabila beradu dgn receh yang lain, maka mereka akan berisik dan saling terlempar jauh.

Wallahu a’lam 

صلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وسلم


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: