Oleh: Azan bin Noordien | Februari 16, 2012

Nasehat Muamalah – Apa hukumnya Melamar kerja di Freeport?

الحمدلله رب العالمين و الصلاة والسلام على سيدنا محمد و على آله و صحبه و من تابعهم بإحسان إلى يوم الدين

Seorang sahabat yang baru saja lulus dari sarjana teknik, meminta saran kepada saya mengenai hukum mualamah. Begitu kuat godaan bekerja di sebuah perusahaan tambang emas yang bergaji ‘wah’ sehingga sulit baginya membuat keputusan untuk lanjut atau tidak untuk masuk ke perusahaan Amerika yang terkenal itu. Sebetulnya, saya tidak bisa memberikan putusan hukum, tetapi setidaknya ini adalah bentuk nasehat yang berusaha membawa kita dekat kepada kehati-hatian dalam agama.

Mengenai urusan kerja atau muamalah ada kaidah-kaidah umum yang sebetulnya wajib dipahami bagi setiap muslim. Diantaranya adalah:

  1. Kerja bagi muslim itu adl menjemput rizki (ikhtiar), bukan mencari rizki. karena pada hakikatnya rizki itu sudah ditetapkan  secara adil oleh Allah, tinggal bagaimana menjadikan rizki yang diperoleh menjadi berkah. dengan cara diantaranya;
  2. Bekerja dengan niat ibadah dan menjaga diri dari meminta-minta dan bisa meringankan beban ekonomi keluarga dan sekitarnya, rizki yang didapat harus menjadi sarana beribadah misal, untuk fi sabilillah, zakat, infaq, haji, qurban dsb. Sehingga rizki bukan menjadi ‘goal’ atau ‘tujuan’, tapi ia menjadi sarana menuju Allah. Berbeda dengan orang kafir, mencari rizki untuk mendapatkan kepentingan duniawi saja.
  3. Mencari rizki yang halal dan dengan cara yang halal. Jika tujuan dalam menjemput rizki adalah sarana menuju Allah, maka caranya juga harus baik2 yang ditetapkan dalam ketentuan agama Allah (syariah Islam).

Jika sekiranya kita mengetahui tempat bekerja itu adalah hasil kezoliman (mengambil hak orang lain), maka wajib menjauhi karena itu adalah harta haram. Percuma rasanya kerja siang malam dengan gaji besar, tetapi berlawanan dengan syariaat Allah dan banyak menzolimi orang lain –bahkan sebuah bangsa- maka rizki yang diperoleh tidak akan berkah, dan di dalam diri siapa saja yang memakan harta itu akan mngalir darah haram. Apakah dimakan untuk sendiri, keluarga, teman dan siapa saja.

Minimal akan dtimpakan beberpa bencana oleh Allah karena rizki yang tidak jelas dan haram itu diantaranya ia tidak tenang dalam hidup, sulit melaksanakan ibadah, suka maksiyat, keluarga berantakan,-keturunan sulit diatur, doa-doa tidak diijabah,jauh dari orang-orang shalih,mati dengan keadaan buruk

Lebih baik dengan gaji yang sederhana atau biasa saja, tapi jelas sumber dan kehalalannya. Hal ini karena harta yang halal bisa mendatangkan keberkahan, diantaranya tenang dalam hidup (ini mahal harganya..), mudah melaksanakan ibadah, menghambat seseorang untuk maksiyat, keluarga akur dan keturunan kelak akan baik, doa-doa mudah dikabul, dekat dengan orang-orang shalih dan meninggal dalam keadaan baik.

Jika sebuah perusahaan sudah terbukti sebagai perusahaan yang merugikan banyak orang dan termasuk perusahaan  ‘ghosob’ yang bersumber dari ‘ghulul’ (harta curian), maka hal ini mutlak sebuah kemungkaran.

Sebuah hadits:

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان

“Barangsiapa yang melihat satu kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak bisa dengan lisannya, jika tidak bisa juga bencilah dengan hatinya (atas perbuatan kemungkaran itu), itulah selemah-lemahnya iman.. (Muslim)

Jika saat ini kita belum mampu merubah kemungkaran-kemungkaran yang ada setidaknya ada rasa benci dengan kemungkaran itu, jika dalam konteks ini kita sbg pelamar kerja, maka seharusnya menjauhi seluruh perusahaan yang terbukti mengandung harta haram, riba, dsb. Masih banyak perusahaan yang ‘halal’ dan jelas sumber keuangannnya. Jika kita memaksakan untuk memasuki perusahan haram tersebut, maka secara tidak langsung tlah mendukung suatu kemungkaran dan dipertanyaan keimanan kita (karena dengan membenci saja adalah selemah-lemahnya iman, setelah itu tidak ada lagi derajat keimanan..). Artinya, dengan bekerja dengan perusahaan tsb, kita secara tidak langsung telah ‘bagi-bagi’ keuntungan dengan ikut menikmati setiap rupiah yang diterima dari gaji.

Sebuah hadits

عن ابي عبد الله النعمان بن بشير –ر.هما- قال سمعت رسول الله – صلى الله عليه وسلم- يقول: إن حلال بين و إن الحرام بين وبينهما أمور مشتبحات, لا يعلمهن كثيرا من الناس. فمن اتقى الشبهاتِ فقد استبرأ لدينه وعرضه, ومن وقع في شبهات وقع في الحرام, كالراعي يرعى حول الحمى يوشِك أن يَرتَعَ فيه, ألا و إن لكل ملك حمّى ألا وإن حمى الله محارمه ألا إن في جسد مضغةًا (ابخاري و مسلم)

“Sesungguhnya yang halal itu jelas. dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agamanya dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang  Dia haramkan…” (Bukhari dan Muslim)

Bagi mukmin, cukup baginya menjadikan perkara syubhat menjadi sesuatu yang harus dijauhi dari ia menyeret kpd yang haram. Apalagi perkaram haram, tentu lebih wajib lagi untuk menjauhinya. Demi keselamatan agama dan keridhaan Allah.

Sebuah hadits:

عن ابي هريره –ر- قال: قال رسول الله –صلى الله عليه وسلم- : إن الله تعالى طيب ويقبا طيباً, وإن الله أمر المؤمنين بما أمر به المرسلين فقال: (يَآيّهَا الرَّسُوْلُ كُلُوْا مِنْ الطَيِّبَاتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحاً) وقال تعالى: (يَأيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُلُوْا مِنْ الطَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ..) ثم ذكر الرجل يطيلُ السفرَ أَشْعَثَ أَغْرَبَ يَمُدَّ يديه إلى السماء يا ربي ياربي ومطعمه حرامٌ و مشربه حرام و ملبث حرام وغُذِّيَ بالحرام فأنى يستجاب له. (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu  dia berkata: Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam  bersabda:

“Sesungguhnya Allah ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah

memerintahkan orang beriman sebagaimana dia memerintahkan para rasul-Nya dengan firman-Nya: Wahai Para Rasul makanlah yang baik-baik dan beramal shaleh-lah. Dan Dia berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rizkikan kepada kalian.” Kemudian beliau menyebuntukan ada seseorang melakukan perjalan jauh dalam keadaan kusut dan berdebu. Dia mengangkatkan kedua tangannya ke langit seraya berkata: Ya Tuhanku, Ya Tuhanku, padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan..? (Riwayat Muslim)

Memang untuk bersikap benar di zaman yang sudah banyak orang yang tidak peduli dengan halal-haram kadang terasa sulit, tetapi percayalah bahwa tidak ada yang sia-sia disisi Allah, yang buruk walau kecil akan dibalas, yang baik walau kecil akan dibalas. Yang menentukan sukses atau tidak kita bukan di dunia, tapi nanti di akhirat. Standar penilaian bukan pada pandangan orang lain, tetapi di mata Allah.

Jika kita istiqomah dan berlaku sesuai ketentuanNya, insya-Allah merupakan jihad yang akan diberi kesuksesan di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, para pencari dunia yang berpaling dari hukum Allah, di mata mereka seolah kesuksesan itu sudah di depan mata, padahal itu hanya angan-angan kosong dan pasti di balik keterlenaan mereka itu ada murka Allah yang besar. Naudzubillah..

wallahu a’lam

صلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وسلم


Responses

  1. thnks mas informasinya membangun.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: