Oleh: Azan bin Noordien | Januari 27, 2012

Kenapa harus kembali kepada ALLAH? (sedikit mengkaji kesalahan-kesalahan sistemik)

بسم الله الرحمن الرحيم والحمدلله رب العالمين و الصلاة والسلام على سيدنا محمد و على آله و صحبه و من تابعهم بإحسان إلى يوم الدين

Allah, indahnya namamu ketika disebut. Runtuhlah seluruh kehinaan ketika namamu disebut. Terangkatlah derajat seorang hamba ketika mengingati diriMu. Bukan karena kemampuan dan amal kami, tetapi karena Engkaulah yang hadir di sanubari ketika kami mengingat asmaMu. Engkau pernah berfirman dalam hadits qudsi:

من ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي
“Siapa yang mengingatku dalam dirinya, pasti Aku akan mengingatnya pula dalam diriKu.”

Alam ruhani memang sesuatu yang amat luas, menyelaminya seperti menyelami samudra indah yang seolah tiada berbatas. Kenikmatan dan keindahan bersama Allah adalah anugrah terindah, menjalani diri sebagai hambanya adalah satu semesta yang tiada habisnya. Nikmat luar biasa, tiada bisa dijelaskan dengan kata-kata bahasa dunia.

Kembali ke alam zhahir dan hiruk pikuk dunia, sebuah konsep spiritual terkadang sulit dipahami secara praktik oleh sebagian hamba. Seolah ada jurang pemisah antara Spiritual dengan pemecahan masalah-masalah yang selalu dihadapi manusia. Padahal jika kita sedikit mau mujahadah berfikir dalam, maka akan ditemukan jalan-jalan dan alur yang cerdas berwibawa ketika kita dengan Allah.
و من يتق الله يجعله مخرجا
“Siapa yang bertaqwa kepada Allah, dijadikan baginya jalan-jalan keluar (dari masalah)”

Sulitnya spiritualitas dipahami sebagai konsep pemecahan masalah disebabkan karena kurangnya pengenalan seseorang kepada Allah dan nihilnya usaha untuk menyakini Allah sebagai sesuatu yang Maha Menguasai segalanya. Ketika alam sadar dipaksa berjalan di atas satu keyakinan yang salah, maka jadilah akal itu budak dari ego dan hawa nafsu yang berakhir pada kebuntuan dan kehinaan. Namun ketika akal itu disandarkan kepada tauhid yang shahih kepada Allah, maka jadilah akal itu sebaik-baik sarana untuk semakin menghambakan diri kepadaNya.

Tauhid para salafussalih itu menyentuh kepada seluruh aspek dari kehidupan mereka. Apapun yang terjadi baik dan buruk, sedikit maupun besar, mereka yakini semua mutlak dari Allah. Adapun istilah ikhtiar dalam ‘kaca mata’ salaf bukan semata-semata ‘usaha dunia’ yang secara’ logika’ belaka, namun keinsyafan mereka yang membuat mereka begitu berbeda. Radhiyallahu anhum ajma’in.
Keinsyafan bahwa semua hal ada dalam genggaman Allah. Adanya masalah dan musibah tidak membuat mereka terlalu sedih, adanya rizki yang berlebih pun tidak membuat mereka bahagia luarbiasa larut dalam euphoria. Yang mereka sedihkan ketika ia gagal dalam beristiqomah dalam amalan agama ketika mereka diuji dengan datangnya rasa senang dan rasa sedih dari Allah.

Seorang sahabat bernama Nabi, Tholhah yang dikenal sebgai penguasaha kurma di Madinah. Suatu saat beliau ketinggalan takbir awal dalam shalat berjamaah, maka beliau begitu menyesal sehingga ia menafkahkan kebun kurmanya itu sebagai sedekah dan berkabung selama 3 hari. Beginilah sahabat, muridnya Nabi Muhammad, rela melepaskan keduniaan mereka demi menjaga bagian daripada agama (dien) mereka, karena mereka paham betul dunia ini tidak ada harganya dimata Allah, kecuali dalam ketaatan dan menambah kedekatan kepadaNya. Allah berfirman dalam Al-Quran:
ما أصاب من مسيبة إلا بإذن الله
“Tidak ada satu musibah pun terjadi kecuali atas izin Allah..”

Saat ini, kita memandang bahwasanya musibah itu adalah segala sesuatu yang merugikan secara materi saja. Sedangkan para sahabat memandang musibah itu adalah segala sesuatu yang menyebabkan mereka jauh dari Allah, melanggar syariatnya, dan melakukan ma’syiat kepadaNya. Jikalau seluruh bumi hancur, maka diri seorang mukmin tidaklah takut selama ia memiliki keimanan yanng teguh kepadaNya, karena Allah baginya adalah segalanya. Bagi kaum materialis, seandainya satu duri saja menusuknya saat ini, maka ia pandang satu musibah yang menjengkelkan dan merusak ‘zona nyaman’ dalam hidupnya. Sedangkan ketika ia lalai dalam menjalankan perintah Allah dan mati dalam keadaan yang tidak beriman, maka ia anggap satu hal yang enteng saja.

Dalam sebuah hadits, nabi kita Muhammad pernah bersabda yang artinya: “Sebuah dosa kecil bagi seorang mukmin adalah ibarat ia akan diruntuhi gunung besar. Sedangkan dosa besar bagi seorang fasik ia anggap sebagai lalat yang hinggap di tubuhnya sehingga mudah ia usir..”. Kata kunci untuk sukses dalam mengamalkan hadits ini adalah status ‘mukmin’  yang berarti seseorang yang memiliki iman (keyakinan yang shahih). Jika saat ini kita masih banyak lalai daripada ingat, maka status kita dalam keadaan yang sangat berbahaya dalam pandangan Allah, menganggap ‘gunung’ dosa hanya seperti ‘lalat’.??

Baginilah keadaan iman kita saat ini, belum sampai kepada taraf meyakini Allah pada porsi yang semestinya, ini maksiyat dan kedzaliman yang besar. Kita belum mampu menyakini Amal agama dan dien dalam porsi yang mendominasi dalam kehidupan, ini adalah kelalaian yang besar. Kita belum meyakini bahwa maksiyat dalam posisi yang sangat berbahaya, ini adalah kebodohan dan kealphaan yang besar. Jasad kita hadir dimana-mana, tetapi hati kita absen dari majelis kebesaran Allah. Allahu akbar!

Kembali kepada kenapa harus kembali kepada Allah? Ini adalah nasehat untuk diri saya dan bagi siapapun yang ingin meraih pencapaian yang ‘adzim dalam hidup. Kenapa harus kembali kepada Allah, karena inilah perintah dari Allah dan Rasulnya. Allah berfirman dalam Al-Quran Al Karim:
وسارعو إلى نغفرة من ربكم…
“Dan bersegeralah kalian semua kepada ampunan Allah..”
Wallahu a’lam.

صلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وسلم

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: