Oleh: Azan bin Noordien | September 22, 2011

Kenapa bangga dengan sesuatu yang haram? (sebuah refleksi dan terapi utk meninggalkannya)

بسم الله الرحمن الرحيم والحمدلله رب العالمين و الصلاة والسلام على سيدنا محمد و على آله و صحبه و من تابعهم بإحسان إلى يوم الدين

Perbedaan mencolok dari agama islam dari sekian banyak tatabuku tuntunan hidup, ialah ia mengenal halal dan haram. Mana yang diperbolehkan dan mana yang dilarang semuanya jelas dalam Islam. Bahkan lebih rinci lagi ada yang disebut fardhu (a must), sunnah (recommended), dan makruh (non recommended).

Perlu dipahami beberapa kaidah tersendiri dalam memahami tatabuku hidup dalam islam. Dengan tujuan agar kita sebagai user atau muslim dapat menikmati agama sebagai tuntunan bukan tuntutan, dan insyaAllah kita bisa mengamalkan islam secara sempurna secara perlahan. Dengan hati yang lapang dan tanpa beban..

Kaidah 1. Agama bukanlah teori, tapi ‘inilah aku’

Seringkali jika berbicara agama, pikiran awam langsung mengidentifikasii bahwa agama adalah kelompok ritual dan ciri sosial belaka. Seharusnya, ketika kita berbicara agama, langsung kita tanamkan perasaan bahwa pribadi kita adalah manusia yang butuh akan tuhan, butuh tuntunan hidup, butuh perhatian dan kasih sayang dari sang pencipta, dan kita butuh ketenangan dan kebahagiaan hakiki.

Dari lintasan hati semacam inilah akan hadir kerinduan akan agama, akan lahir semangat beragama tanpa ada maksud riya atau menonjolkan diri sebagai org yang shalih. Maka, ada seorang sastrawan selalu berusaha mengatakan bahwa, pandanglah saya sebagaimana saya sebagai hamba-Nya, jangan lihat saya sebagai anggota dari jamaah tertentu. Demikian lah, Islam bukanlah sebuah istilah kosong, tetapi islam itu adalah apa yang kita semua sama-sama cari dan islam itu tempat diri kita kembali.

Kaidah 2. Perkara Haram harus disikapi dengan bijak

Adanya hal-hal yang diharamkan Tuhan bagi kita, adalah harus diyakini sebuah bentuk kasih sayangNya. Perkara haram juga mesti dipahami sebagai salah satu ujian dan tantangan agar kita semakin dekat denganNya. Kita harus yakini hal yang haram itu adalah berbahaya bagi diri kita yang Dia lah yang paling tahu perkara sedetail apapun tentang diri kita.

Tidak pernah kita jumpai seorang pasien yang protes thd obat yang diberikan sang dokter spesialis kepadanya. Karena si pasien yakin bahwa dokter paling tahu keadaan tubuh dan penyakitnya. Adakah keyakinan kita saat ini kepada Allah melebihi keyakinan si pasien itu kepada dokter?

Adapun Allah dan Islam tlah sempurna dalam ajarannya. Adapun kita sebagai manusia penuh dengan kelalaian dan kelemahan. Tidak ada org yang mampu benar-benar sempurna dalam beragama. Mesti setiap kita ada kekurangan dalam beramal dan beragama. Oleh sebab itu, mesti ada keinsyafan terhadap internal diri kita dan ekternal, kepada saudara sesama muslim yang lain.

Pertama, kepada diri sendiri (Internal).

Lintaskan dan insyafi selalu di dalam hati bahwa perkara haram yang masih dilakukan memang haram hukumnya. Ini penting, jangan sampai kita berspekulasi mengatakan yang haram itu tidak haram dikarenakan hawa nafsu dan pemikiran sendiri. Org yang selalu membenarkan apa yang menurutnya benar –padahal itu salah- berpeluang tidak akan terbebas dari perkara haram itu. Cukup katakan dalam hati, “ya..ini adalah haram. Dan saya belum mampu untuk meninggalkannya karena keteledoran dan kebodohan saya..”. Ini adalah terapi yang lebih selamat.

Langkah selanjutnya ialah diri kita harus berani ‘membayar hutang’ dosa dengan cara melakukan amal shalih yang lebih setelah bermaksiat kepada Allah itu. Hal ini seperti yang dianjurkan Nabi saw dalam haditsnya: Bertaqwalah kamu sekalian kepada Allah dimana saja kalian berada, ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik. Karena perbuatan baik akan menghapus (dosa) perbuatan buruk..”

Contoh kasus kisah nyata:

Ada seorang pejabat Bank, dia rajin hadir majelis ulama dan akhirnya ia tahu bahwa riba itu haram, dan ia sadar gajinya setiap bulan adalah berasal dari hasil perputaran uang riba. Karena ia sadar akan kelemahan imannya dan logikanya belum mampu untuk keluar dari pekerjaan itu (mungkin krn faktor ekonomi dsb), setiap pagi–dengan keinsyafan bahwa riba itu haram- ia tetap bekerja seperti biasa. Kemudian di malam hari setelah pulang kerja, ia beranikan untuk konsisten bertahajud dan beristighfar atas dosa yang ia lakukan, dan sungguh2 ia berdoa agar diberi jalan keluar yang mudah baginya. Singkat cerita, tidak berapa lama, akhirnya ia bisa pindah kerja ke tempat yang baik dan ia terbebas dari riba.

Adapun kesimpulan terbaliknya, “Orang yang salah adalah yang bangga dengan keharaman yang ia lakukan tanpa sedikitpun berfikir untuk meninggalkannya. Bahkan ia mengajak org lain mengikuti perbuatannya dan menolak kebenaran.”

Kedua, kepada sesama saudara muslim (eksternal)

Jika kita menyadari bahwa tidak ada org yang mampu benar-benar sempurna dalam beragama, maka yang timbul dari keinsyafan seperti ini adalah husnuzon (sangka baik) dan kasih sayang kepada saudara sesama muslim. Dalam hadits nabi dikatakan” cukuplah aib/dosa mu menghalangimu dari melihat keburukan orang lain..”.

Dan aksi paling baik yang diharapkan timbul dari faktor eksternal ini ialah aksi saling menasehati dan mengingatkan dalam kebaikan. Maka,sebetulnya tidak ada istilah ceramah agama, yang ada hanya dalam rangka persaudaraan maka perlu saling ingat mengingatkan. Sungguh indah bukan??

Mukmin dgn mukmin yang lain ibarat cermin, jika seseorang hanya bisa melihat keburukan demi keburukan org lain, maka pada hakikatnya yang salah adalah dirinya sendiri.  Ketika seseorang mampu bercermin dan mengoreksi dirinya sendiri secara dalam, maka ia tidak melihat satu kesalahan dan keharaman yang dilakukan org lain sebagai objek kejengkelan personal tetapi justru yang lahir adalah sebuah misi tentang kewajiban untuk menyelamatkan diri dan saudara kita itu dari jalan hidup yang menyimpang (keharaman). Maka disinilah bisa dipahami tingginya nilai satu kebenaran dan solidaritas. Wallahualam

صلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وسلم

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: