Oleh: Azan bin Noordien | September 6, 2011

Faktor ‘X’ itu adalah Keberkahan

بسم الله الرحمن الرحيم والحمدلله رب العالمين و الصلاة والسلام على سيدنا محمد و على آله و صحبه و من تابعهم بإحسان إلى يوم الدين

Memang terlalu banyak istilah sampai saat sekarang ini yang belum mampu dijabarkan sempurna oleh para pakar. Baik dalam bidang sains, teknologi, sastra, psikologi, dsb. Istilah tersebut baru akan lebih dipahami bagi mereka yang ada pengalaman dengan istilah tersebut. Demikian juga dengan kata ‘berkah’. Mungkin sering kita mendengar ucapan ‘berkah/berkat’, tapi jarang yang mengerti apa yang dimaksud engan berkah, bagaimana meraihnya, apa faktor penghambatnya, dan apa pengaruhnya dalam kehidupan.

Kata berkah adalah kata serapan yang berasal dari bahasa arab, sering digunakan oleh Allah di dalam firman-Nya di dalam Al Quran dan digunakan oleh Nabi Muhammad s.a.w dalam hadits beliau yang diikuti oleh para pengikutnya. Apa itu berkah, sesungguhnya hanya Allah dan Nabi saja yang memahami betul. Para sahabat dan para ulama pun telah diberi kepahaman dan menjabarkannnya kepada kita. Tidak hanya menjabarkan, mereka jg yang telah membuktikan pada diri-diri mereka yang memang diberkahi/diberkati oleh Allah.

Ulama berpendapat bahwa Barakah atau keberkahan bermakna ziyadat al-khair, artinya kebaikan yang bertambah, atau bertambahnya kebaikan pada suatu hal karena rahmat dari Allah. Keberkahan ini seolah muncul menjadi sesuatu yang ghaib. Yang hanya bisa dirasakan seorang hamba yang benar-benar berma’rifat kepada Nya dan yakin atas kehendak Allah. Bisa jadi dalam satu peristiwa beberapa orang berpendapat berbeda mengenai kejadian tersebut. A menganggap satu peristiwa adalah musibah, sedang bagi si C adalah manfaat. Dalam al quran (2:216) dijelaskan oleh Allah: boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu, boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu. Berkah di awali dengan husnuzon kepada ketetapan Allah, dan keberkahan akan dicabut dari org yang sudah berputus asa dan bersangka yang tidak-tidak kepada Allah.

Faktor x yang paling penting yang menjadi misteri dalam kehidupan ini adalah faktor keberkahan. Jarang orang memahaminya sering terkadang lupa bagaimana memperoleh keberkahan tersebut? Faktanya saat ini dunia seolah memarginalkan faktor x yang dinamakan keberkahan. Di barat, orang lebih suka mengatakan luck (keberuntungan). Kita sebagai muslim selayaknya tidak mengikuti bahasa/istilah yang putus asa seperti itu. Kita mengenal akan adanya keberkahan seperti keberkahan umur, keberkahan harta, keberkahan rumah tangga, keberkahan pekerjaan, keberkahan takdir, keberkahan hidup dan sebagainya.

Rumus sederhana menilai sesuatu hal tersebut berkah adalah intinya apakah di sana ada keta’atan, ketundukan, serta keikhlasan kepada Allah. Jika satu pekerjaan masih dalam rel iman-ikhlas-syariah-sunnah-dakwah, maka insya Allah disana ada keberkahan. Sebagaimana dalam ringkasnya Allah berfirman dalam Alquran: Demi waktu, sungguh benar-benar manusia semua dalam keadaan rugi (defisit/pailit), kecuali mereka yang (1)beriman, (2)beramal baik-dan (3)saling menasihati dalam keta’atan dan saling menasihati dalam kesabaran.  Dimana ada keyakinan atas nafi’ dan isbat, kalimat agung laa ilaha ilallah, maka disana ada keberkahan. Saking berkah kalimat ini, maka dengan membacanya sekali di dunia , kelak akan menjadi syafaat di yaumil Akhir.

Sebuah contoh sederhana: buruh tani. Walaupun secara dzahirnya (kasat mata) seorang buruh tani itu terlihat susah, payah di dunia dalam bekerja, namun kita tidak tau sama sekali keadaan ia yang sebenarnya. Ternyata dengan penghasilan yang kecil ia bisa istiqomah dalam menjalankan ibadah, anaknya menjadi santri dan ulama, istrinya menjaga diri di rumah tanpa banyak menuntut. Kehidupannya tenang tanpa ada kecurigaan dari pihak manapun. Walaupun di siang hari ia lelah, namun di malam hari, dengan hanya selembar kasur tipis ia bisa tidur nyenyak tanpa ketakutan akan kehilangan harta berharga. Di kemudian hari tiba-tiba ia sudah naik haji. Di usia senja, anak keturunannya siap berbakti dengan penuh cinta. Ia bisa tersenyum meninggal di kemudian hari dan diridhai Allah. Inilah contoh kecil hidup yang berkah.

Lain lagi keadaan para koruptor atau penjabat ahli ghosob. Walaupun harta dan fasilitas hidupnya sangat mewah, semua orang mungkin menyangka dengan dengan menjadi demikian ia telah memperoleh bahagia. Padahal tidak sama sekali. Ternyata dengan kesibukan seperti itu, ia tidak bisa menjalankan kewajibannya kepada Allah. Shalat dan rukun islam diabaikan. Anak-anaknya kurang mendapat perhatian dan akhirnya broken home. Istrinya bisa jadi selingkuh/zina dengan laki-laki lain. Dia pun begitu, sering keluar malam dan meeting tidak jelas di club dan hotel yang memang disediakan oleh anak bawahannya untuk menjilat. Di malam hari ia tidak bisa tidur, karena otaknya terus berpikir bagaimana supaya aman dari ancaman-ancaman orang-orang yang dengki dan lawan politiknya. Akalnya selalu dipenuhi angan-angan, sehingga selalu lapar dan tidak pernah puas dengan keadaan yang ada. Bahkan pembicaraan dan geraknya sehari hari hanya lah uang uang dan uang. Kalaupun terkadang ia terlihat berbuat baik dan sopan, itu bukanlah dari hati yang ikhlas karena Allah, melainkan hanya ‘basa-basi sosial’ agar ia pun kembali dihormati. Di hari tuanya ia ditinggalkan anak keturunannya di panti jompo, bahkan ada yang menanti kematian di sel penjara. Di akhirat ia mendapat adzab yang jauh lebih pahit dan tiada berkesudahan. Apakah hidup semacam ini yang disebut berkah?

Hidup dan kehidupan manusia adalah sepenuhnya dalam kekuasaan Allah. Dan segala isi langit dan bumi yang dititipkan Allah kepada manusia hanyalah hak pakai, bukanlah hak utk menguasai. Lalu apa yang Allah kehendaki dari pada diri kita yang telah diberi fasilitas-fasilitas tersebut? Salah satunya adalah kita harus sekuat tenaga insyaf dalam keimanan dan berusaha mengamalkan syariah Allah, agar keberkahan sebagai faktor x diberikan kepada sang hamba dan kepada segala fasilitas yang Allah titipkan kepada-Nya. Keberkahan adalah kebutuhan kita, dengan jalan mena’ati dan ikhlas menyerahkan diri kepada Allah.

Dengan segala kelemahan kita kepada Allah. Apakah itu dosa, lemah iman, malas beribadah, maka sebenarnya sangat mustahil diri kita pantas mendapatkan keberkahan yang optimum. Namun, nilai satu keberkahan akan muncul pada amal yang ikhlas semata. Dalam sebuah hadits, dikatakan ‘amal yang sedikit namun ikhlas, mencukupi’. Dengan kata lain, penerapan syariat islam, tanpa adanya iman (keyakinan sempurna) kepada Allah dan sifat ikhlas, maka penegakan syariah secara utuh tidak akan pernah memberi manfaat sedikitpun. Justru keadaannya akan kontra produktif, satu amal yang riya’ maka akan dilaknat oleh Allah. Bahkan bentuknya berupa shalat sekalipun. Allah berfirman dengan tegas: Celakalah para mushollin yaitu orang yg lalai dalam shalatnya, orang-orang yang berbuat riya.. (QS Al Ma’un: 4-6)

Keberkahan yang diberikan Allah berbeda setiap individu, sebagaimana rizki itu berbeda dibagikan. Dan banyak rizki tidak selalu setara dengan nilai keberkahan. Sebuah kisah yang ma’ruf, seorang waliyullah yang miskin didatangi di dalam mimpi oleh seseorang yg menyuruhnya agar mengambil sekantung uang berjumlah 100 dinar di suatu tempat. Maka syaikh tadi bertanya, apakah di dalam uang itu ada keberkahan? Ia menjawab: tidak. Maka esok ia tidak mengambil uang itu. Malam kedua, ia kembali bermimpi yang sama dan ditanya kembali apakah di dalam uang itu ada keberkahan? Maka dijawab: tidak!. Maka ia pun tidak mengambilnya. Di hari yang ketiga, ia bermimpi dan diperintahkan seseorang utk mengambil 1 dinar uang di satu tempat. Ia bertanya: apakah disana ada keberkahan? Maka ia menjawab: ya, pada uang itu ada keberkahan. Maka, esok paginya ia mengambil uang itu di tempat yang diperintahkan. Setelah mendapatkan uang satu dinar, seorang miskin datang kepadanya memintanya agar membeli ikan yang ia jual dengan harga 1 dinar, sedang ikan itu sudah tidak segar lagi dan jarang ikan seperti itu untuk dimakan. Namun, karena iba dan yakinnya kepada Allah, maka ia jadi membeli ikan itu dengan uang satu dinar yang baru didapatkannya. Setelah sampai di rumah, istrinya membersihkan ikan itu utk dimasak, betapa kagetnya istrinya ketika menemukan satu mutiara yang harganya ribuan dinar.

Dan Al Quran ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan… (Al anbiya: 50). Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Al A’raf:96) Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran..(Shaad:38). Wallahu alam.

صلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وسلم

Ma’had Darul Huffad. Bogor, 6 September 2011


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: