Oleh: Azan bin Noordien | September 6, 2011

Aku Mahasiswa dan Aku Santri

بسم الله الرحمن الرحيم والحمدلله رب العالمين و الصلاة والسلام على سيدنا محمد و على آله و صحبه و من تابعهم بإحسان إلى يوم الدين

Aku mahasiswa. Mungkin tidak terlihat dari penampilanku. Setiap orang yang baru mengenalku atau menyapaku, pasti mengira aku santri atau ustadz muda. Wajar saja, karena selain di kampus, keseharian aku memakai pakaian sunnah, berkopiah, plus jenggot yang lumayan tebal. Apalagi sejak tingkat dua aku sudah belajar dan tinggal di pesantren salaf.

Masuk pesantren dan menjadi santri adalah suatu keganjilan dan anugrah tersendiri bagiku. Sampai-sampai orang kampung menyangka aku jauh-jauh meninggalkan kampung adalah bukan untuk kuliah, tapi nyantren. Jika ditanya, apakah aku santri, maka aku akan menjawab ‘iya’. Jika ditanya apakah aku seorang mahasiswa di universitas sains, maka aku menjawab ‘iya’. Pesantren dengan sistem salaf atau ‘kuno’ inilah memungkinkan aku untuk belajar secara bebas tanpa terikat kurikulum yang baku.

Sebagian orang yang jauh dari lingkungan pesantren, cenderung menganggap aku adalah orang yang nyeleneh, karena buat apa belajar agama lagi sementara –secara- akademis dan karirku nanti sudah jelas. Lain lagi sebagian orang yang memang dekat dengan dunia pesantren, mereka cenderung menyampaikan simpati dan pujiannya padaku. Jarang orang yang mau masuk pesantren di zaman yang sudah canggih ini, apalagi statusnya sudah menjadi mahasiswa PTN favorit. Bagiku ini bukan suatu pujian, karena aku sendiri merasa apa yang aku kerjakan adalah satu kemestian dan karena aku mencintai agama ini.

Memang agak aneh jika dilihat dari track record pendidikanku, aku lulusan SMA bukan lulusan pesantren atau aliyah negeri. Sejak kecil aku dibiasakan dengan bahasa inggris, bukan bahasa arab. Aku dulu tidak suka memakai kopiah putih, apalagi sorban dan jubah. Aku dulu juga tidak punya rencana sama sekali dan aku tidak punya bayangan akan menjadi santri. Tapi sekarang berubah, aku justru agak menyesal, aku baru sadar ternyata aku telah membuang-buang waktu dengan jenjang pendidikan formal seperti kebanyakan anak-anak di kota. Tapi itulah takdir dan jalan hidup. Bagiku, Allah punya rencana yang baik bagi hambaNya yang insyaf dan mau memperbaiki diri. Tidak akan ada yang sia-sia. Belum tentu juga orang yang sudah dari kecilnya berkempung di dunia pesantren akan konsisten dalam agama.

Setelah kujalani, memang tidak mudah menjadi mahasiswa dan santri dalam satu waktu. Banyak hal-hal yang secara tidak langsung saling bertentangan. Dan bagiku itu tidak mudah. Banyak hal-hal yang perlu difilter dan dikorbankan. Dari sisi lingkungan dan suasananya saja sudah berbeda. Di kampus aku harus benar-benar waspada dengan segala sesuatu yang bisa merusak kekhusyuan iman, apakah itu pola fikir sekularisme dan semacamnya, bahkan juga termasuk godaan perempuan dan keinginan berpacaran. Sebagai pemuda normal, tentu ingin mempunyai seseorang yang bisa diajak ‘jalan’. Tapi, apakah cukup sekedar ingin dan mengikuti nafsu? Itu alasan yang cukup kuat menahanku untuk tidak terjerumus.

Di samping harus meng-cut segala yang tidak penting, aku juga harus mampu menunjukkan bahwa aku punya kemampuan, tanggung jawab dalam nilai akademis yang baik. Aku sadar, orang lain tidak akan melihat ibadah dan konsistensi dalam halal-haram saja, akan tetapi hal pertama yang akan dilihat dari seorang mahasiswa adalah ‘Indeks Prestasi Kumulatif’ atau IPK. Terkadang orang tidak peduli, dan seakan mengagungkan IPK semata tanpa melihat background mahasiswa tersebut. Aslinya manusia memang sering terburu-buru menilai seseorang dengan memakai standar sendiri.

Aku lama dihantui oleh tanggung jawab sebagai mahasiswa dan da’i sekaligus. Sejak semester dua aku khawatir, image yang tercipta tentang diriku ini, tidak tercermin pada sisi akademikku. Itu karena membuatku gusar dan stress menghadapi materi kuliah. Selama kuliah aku tidak pernah berniat apa-apa selain menjaga hati, sehingga aku memilih jarang ke kampus, bahkan untuk mengerjakan tugas kelompok dengan teman-teman mahasiswi, sebisa mungkin aku hindari. Namun, dalam beberapa pertemuan yang tidak bisa kuhindari aku melakukannya dengan dada yang sempit. Di saat itu aku takut sekali bila hatiku bergeser dari Allah dan banyak terlibat dengan perkara-perkara yang sia-sia.

Kerap suara-suara miring sampai ke telingaku, mengatakan aku sombong, cuek, malas, tidak gaul, introvert, atau segala macam yang negatif. Hal itu ada ada benarnya dan wajar adanya yang kebanyakan yang berpendapat seperti itu adalah rekan mahasiswi sejurusan. Hampir tidak ada mahasiswi yang mengenalku dengan baik, karena aku memang tidak berusaha terlalu akrab dengan teman wanita. Lain dengan teman-teman cowok, aku merasa sudah mengakrabi mereka secara wajar. Harapan ku kepada mereka sangat besar bisa mengaji sama-sama.

Ini memang tidak mudah. Pernah satu ketika saat tingkat II dan III, aku ingin berhenti dari kampus, karena dunia kampus ini benar-benar tidak sesuai dengan batinku yang ingin bertholabul ilmi dan suasana hidup yang islami. Aku memilih fight. Kenapa? Satu alasan yang membuatku bertahan sampai sekarang di kampus adalah orang tua. Ibuku yang berpendidikan S2 betul-betul keukeh semua anaknya bisa mengikuti beliau, minimal sarjana. Ibarat buah simalakama, aku serahkan semua kelemahanku kepada Allah dan aku memilih tidak mengecewakan orang tua. Jika orang tuaku kiyai, mungkin lain lagi ceritanya. Untungnya orantuaku masih memberi izin untuk belajar agama, dan keluarga pada umumnya senang dengan itu.

Sebagai ‘pelampiasan’ ku terhadap ilmu agama, sejak awal semester I hingga tingkat akhir aku ‘melahap’ buku-buku kajian islam kontemporer, dan bergabung dengan berbagai macam ormas islam yang banyak memberiku inspirasi yang luar biasa serta memberiku pengalaman da’wah. Tingkat II aku rutinkan dengan diskusi dan mudzakaroh dengan beberapa ulama di pondok pesantren di sekitar kampus. Di masa-masa ini aku belajar mengenal apa itu aqidah ahlussunnah wal jama’ah dan fiqih syafi’iyyah. Tingkat III aku mencoba belajar bahasa arab dan nahwu shorof, sebagai basic seorang muslim mulai mempelajari nash-nash dan teks-teks asli islam. Alhamdulillah pada tingkat IV, aku mukim di pesantren dan belajar ilmu alat, tahfidzul quran, fiqh dasar dan hadits.

Saat ini aku sudah di tahapan akhir masa studi S1, yaitu skripsi. Penelitian berjalan agak lamban, dikarenakan semangatku yang kembang kempis mengerjakan penelitiannya. Aku sungguh tidak berminat pada awalnya, namun kemudian aku berfikir inilah ‘the last mission’ agar bisa lulus dari kampus ini. Aku benar-benar berusaha mencintai penelitian ini. Tapi tampaknya sulit.

Insya Allah, jika sesuai planning, awal tahun 2012 aku akan lulus dan akan sibuk mengurus beberapa beasiswa di universitas islam seperti di kota Jakarta dan Timur Tengah. Lampu hijau dari orangtua baru baru menyala untukku bila ijazah S1 sudah di tangan. Jadi, mau tidak mau wisuda harus dipercepat agar tahun depan aku sudah bisa bernafas lega di pembelajaran yang baru, suasana yang baru, dan lembaran hidup yang baru. Semoga Allah kabulkan. Amiin.

صلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وسلم

 

Ma’had Darul Huffadz, 3 September 2011


Responses

  1. Oh begitu, nice story


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: