Oleh: Azan bin Noordien | April 13, 2011

Kemana mau berlari? Sebab segalanya adalah Tauhid!

Tiada Tuhan selain Allah

بســم الله الرحمن الرحيم والحمدلله رب العالمين و الصلاة والسلام على سيدنا محمد و على آله و صحبه و من تابعهم بإحسان إلى يوم الدين

Kebutuhan manusia akan Ilahi adalah perkara yang tidak terbantahkan. Semua orang butuh beribadah kepada Allah, karena pada dasarnya ada kebutuhan hati makhluq kepada sang Khaliq. Telah menjadi kebutuhan dasar bagi manusia untuk beribadah melebihi urusan makan dan bernafas. Hal ini jelas di dalam Al Quran, Allah telah gambarkan: “tidaklah kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku..”. Maknanya seolah-olah manusia itu adalah kreasi Allah yang telah di program khusus untuk beribadah kepadaNya. Ulama tafsirkan makna kata “ li ya’buduun (agar mereka beribadah)..” adalah mentauhidkan Allah.

Manusia di dunia bekerja dan beraktivitas, segala macam aktivitas dilakukan manusia itu sangat beragam. Maka konteks ibadah dalam kehidupan menurut ajaran islam adalah setiap gerak-gerak manusia itu haruslah berlandaskan Tauhid (peng-Esaan kepada Allah), disamping Allah juga perintahkan manusia dengan ibadah-ibadah yang bersifat khusus, seperti shalat, puasa, zakat, kurban, membaca qur’an dsb. Alangkah indahnya jika setiap aktivitas bernafaskan tauhid, ia akan memulai aktivitas dengan bismillah, semuanya dilakukan dengan profesional karena Allah maha melihat, perkara yang haram akan dijauhi, jika dalam perdagangan ia akan memudahkan dan niat saling menolong, dan jika dalam aktivitas mu’asyaroh ia akan berakhlak dengan baik karena Allah adalah Ar Rohim (Maha Penyayang)..” 

Itulah mengapa kalimat Tauhid menjadi induk segala urusan. Segala aktivitas, bahkan sampai kepada lintasan hati/niat, merupakan urusan agama. Satu hadits yang ma’ruf berbunyi.” Sungguh tiada amal itu kecuali atas niatnya..”. Dalam hadits lain disebutkan..” niat seorang mukmin itu lebih baik daripada ‘amalnya”. Dalam hadits lain bahkan disebutkan niat kebaikan seorang sudah dihitung sebagai pahala walaupun ia belum mengerjakannya. Hadits pertama dalam banyak kitab para fuqoha adalah hadits niat, dan ulama sampaikan masalah niat ini mencakup 70 bab dalam ilmu fiqh.

Intinya, urusan agama itu bukanlah urusan ibadah ritual saja, namun mencakup seluruh gerak-gerak keseharian kita bahkan menyangkut masalah hati, yang mungkin tidak ada yang tahu isi hati kita selain kita dan Allah saja. Mungkin itulah ma’na kalimatullah yang artinya : ..Masuklah ke dalam Islam secara sempurna..” karena “ siapa yang berbuat walaupun sebesar atom (misqola dzarrotin) maka akan dibalas..” Bahkan lebih khusus lagi, dalam urusan hati dan amal ini, Allah jadikan keduanya menjadi standar penilaian Allah terhadap diri kita, dalilnya: “..sungguh Allah tidak melihat bentuk rupamu dan hartamu, tapi Dia memandang (tertuju hanya) kepada hati-hati dan segala amal perbuatanmu..” (hadits). Dalam hadits rasulullah kepada sahabatnya Mu’adz bin Jabal, beliau bersabda..”ya Muadz, ikhlaskanlah niat. Karena amal yang sedikit namun ikhlas itu mencukupi…”

Makanya, sangat mengherankan bila segala permasalahan yang terjadi pada saat ini,dikembalikan kepada selain urusan agama. Bahkan dalam sains dan jenjang pendidikan tinggi, seolah tidak ada celah sedikitpun ma’na tauhid yang sesungguhnya, dan seolah agama dipisahkan jauh-jauh daripada urusan dunia. Jika kita menilik lebih detail, siapakan pelaku kehidupan ini? Jikalau ada semiliyar teori tentang ekonomi/pertanian/hukum/seni/politik/dsb, yang akan mengamalkan itu adalah manusia itu juga. Tapi kenapa seringkali kita berlari dari fitrah dalam mentauhidkan Allah?? dalam sebuah hadits dikatakan: ..”jika di dunia ini tidak ada lagi yang menyebut asma Allah, maka dunia akan kiamat..”. maknanya, jika aktivitas manusia tidak ada lagi pemahaman Tauhid yang benar (sekuler, meniadakan Allah), maka sehebat apapun aktivitas manusia dalam kajian A hingga Z-nya, maka itu semua adalah bentuk kesia-siaan dan kehancuran. Sebaliknya, walaupun umat islam ‘terlihat’ lamban, namun karena ada keikhlasan dan imaniyah yang benar, maka Allah pandang urusan itu sebagai sesuatu yang mencukupi. Allah tidak pandang usaha kita (sebab-akibat) tetapi Allah pandang keyakinan kita kepadaNya. Inilah makna Tauhidullah.

Untuk memahami dan mendapatkan tauhid yang sempurna ini, tidak bisa dengan hanya membaca tulisan mengenai tauhid atau ikut kajian membahas kitab tauhid. Tauhid adalah bukti keimanan dan yakin, sedang iman adalah sifat yang hanya didapatkan dengan mujahadah dan riyadhoh (latihan hati) yang kontinyu. Satu kisah seorang pemuda bertanya kepada Al Imam Ghazaly  “Apa itu iman..?” maka Imam Al Ghazaly tidak menjawab dan langsung mengajak sang pemuda ke sebuah danau besar. Mereka berdua berjalan dan naik perahu yang kemudian membawa mereka ke tengah-tengah danau yang dalam itu. Di tengah danau yang sepi itu, Imam Ghazaly lantas melemparkan sang pemuda ke tengah danau sendirian. Sang pemuda kaget dan berteriak ketakutan karena ia tidak bisa berenang. Sang imam pergi begitu saja. Sang pemuda berteriak-teriak..” imam….imam….tolong aku..tolong…”. namun imam Ghazaly tidak menolong malah makin menjauh. Akhirnya dalam keadaan demikian, sang pemuda berteriak lagi..namun dengan nada dan keyakinan yang berbeda,  ”Ya Allah, tolonglah aku..”. Sesaat kemudian, datang pertolongan Allah dan menyelamatkan pemuda itu. Setelah pemuda itu selamat, dan kembali menemui sang Imam, maka sang imam menjawab: “Itulah iman. Iman adalah kau lepaskan semua keyakinanmu selain kepada Allah..”.

Itulah sebabnya orang kafir (mengingkari Allah) itu tidak ada harganya sedikitpun di mata Allah. dan itulah sebabnya mereka mendapatkan adzab yang kekal di neraka. Ia telah melawan fitrahnya, mengikuti hawa nafsu, memusuhi orang mukmin, mengejar dunia, dan tidak belajar mengenai kebesaran illahi. Dalam sebuah hadits disebutkan kunci syurga adalah kalimat Laa ilaha illa Allah. Bagaimana mungkin seorang masuk ke rumah tanpa kunci?

Umat islam saat ini telah mengucapkan kalimat ini, namun sangat jarang yang mengupayakan keyakinan yang sempurna atas kalimat ini dan mengaplikasikan tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Adapun yang mengupayakan kalimat iman ini dan belajar mengamalkan maka akan dikatakan orang asing (ghuroba). Dalam sebuah hadits dikatakan: “ Islam muncul dalam keadaan asing dan kembali nya dalam keadaan asing. Maka, sungguh beruntung orang-orang yang yang asing itu..”

Asingnya konsep islam di mata umum boleh jadi disebabkan karena kuatnya pengaruh media, tv, film, musik, dsb yang telah memerangi pola fikir (mind set), dan terus menanamkan konsep yang meletakkan kebahagiaan melalui kehidupan yang materialistik dan hiburan, bahkan seringkali menfitnah islam adalah teroris dengan menelurkan konsep islamophobia. Intinya, media massa telah dikontrol dan diprogram agar menjauhkan umat islam dari islam walau ia masih berstatus muslim, dan makin menjauhkan umat non islam kepada islam. Sebuah penelitian mengatakan, 90% opini masyarakat dikontrol oleh media. Lihat pola fikir dan keyakinan kita hari ini, jika kita merasa susah memahami konsep islam yang mulia, boleh jadi hati dan fikiran kita telah di-brain-washed oleh musuh-musuh Allah. Karena kebenaran itu mahal, yang dengki dan berusaha menghambat kita ke jalan ini sungguh banyak sementara yang menghibau ke jalan kebenaran itu sedikit. Karena kebenaran itu syurga dan mengikuti hawa nafsu itu neraka. Sebuah hadits berma’na..”Syurga itu diliputi oleh hal-hal yang tidak disukai hawa nafsu, neraka itu diliputi oleh hal-hal yang disukai hawa nafsu…”. Wallahu a’lam

صلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وسلم

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: