Oleh: Azan bin Noordien | April 7, 2011

Kemalasan Spiritual, Induk Segala Kemalasan

بســم الله الرحمن الرحيم والحمدلله رب العالمين و الصلاة والسلام على سيدنا محمد و على آله و صحبه و من تابعهم بإحسان إلى يوم الدين

Pagi yang indah selalu menyambut hari-hariku di pondok pesantren. Jam 04.30 pagi biasanya kami para santri telah duduk di aula utama untuk bersiap melaksanakan shalat shubuh berjama’ah. Kemudian akan dilanjuntukan dengan dzikir dan tadarus Quran hingga langit memutih. Bagiku dulu, kegiatan seperti ini adalah biasa. Mungkin demikian juga dengan umat islam pada umumnya. Namun sekarang, bagiku hal tampak berbeda. Pernahkan kita berfikir bahwa segala rangkaian ibadah yang dilakukan umat islam ini adalah sesuatu yang luar biasa? Jika kita menyadari, maka kita akan terperangah, bahwa kita adalah luar biasa!

Kembali ke judul, malas dalam lingkup bahasan kali ini ialah malas dalam arti yang sesungguhnya, yaitu malas dalam mengenalkan diri kepada sang Pencipta, malas untuk membersihkan diri dari segala aib dan dosa, malas dalam berjuang meraih rahmat dan berkahNya, malas dalam berjuang meninggalkan segala keinginan nafsu belaka, malas mencari dan memetik hikmah dalam setiap putaran masa, yang akhirnya menjadikan kita malas untuk bertaubat kembali kepadaNya. Inilah malas yang disebut sebagai kemalasan spiritual.

Kemalasan spiritual ini menyebabkan jiwa-jiwa menjadi redup, bahkan perlahan bisa mati. Walaupun secara kasat mata, seseorang terlihat berpendidikan tinggi dan berlimpah harta, namun jika ia malas membangun jiwanya, maka sama saja ia seperti seorang yang fakir dan jelata. Walaupun ia memiliki wajah rupawan, namun jika hatinya mati, maka sama saja ia seperti patung-patung model yang tidak bernyawa. Nabi Muhammad s.a.w bersabda: “Permisalan orang yang berzikir (mengingat) Tuhannya dengan orang yang tidak berdzikir, adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati..” dalam hadits lain nabi Muhammad s.a.w.bersabda ”Sungguh Allah tidak melihat kepada bentuk rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia memperhatikan hati-hati dan perbuatan kalian..”

Kemalasan spiritual ini tidak ada obatnya kecuali perjuangan individu yang bersangkutan dalam mencari ketenangan ruhani, dan hal ini mutlak dengan hidayah dan inayah dari Allah. Inilah sebenarnya jihad yang tidak bisa diwakili dengan siapapun, kecuali diri sendiri yang berusaha. Jika diri tiada mau lagi kembali kepada Allah, maka kepada siapakah lagi kita akan berjalan dan meminta?? Sungguh Allah tidak akan merubah nasib, kecuali seseorang itu yang mau merubah dirinya terlebih dahulu.”

Seringkali kemalasan spiritual ini ditutup-tutupi oleh angan-angan dunia, pemikiran-pemikiran yang menyimpang, dan rasa sombong. (1) Banyak yang berusaha lari dari kebutuhan spiritual dengan jalan yang ia anggap sebagai pemenuhan dahaga jiwanya ini. Maka janganlah heran jika kehidupan barat yang notabenenya non-islam penuh dengan kemajuan dunia serta segala aksesoris yang mempesona. Karena mereka mengira bahwa pelarian pada hawa nafsu dapat menghantarkan dirinya pada pencapaian kebahagian hakiki. Sesungguhnya mereka telah sangat jauh dari hakikat ketenangan yang sebenarnya. Allah berfirman ”Pahamilah, dengan mengingat Allah hati menjadi tentram..”

(2) Godaan lain yang menghambat seorang hamba yang ingin sampai kepada Allah ialah pemikiran-pemikiran yang menyimpang. Yaitu pemikiran manusia, bid’ah serta agama yang dibuat-buat oleh para pendusta sejak zaman dahulu hingga sekarang. Secara global, dunia saat ini masih didominasi oleh agama salib yang dibangun oleh seorang Paulus yang meletakkan teori beragama hanya pada ‘percaya’ kepada trinitas. Efek dari konsep ketuhanan yang mengada-ada ini akhirnya menciptakan peradaban barat yang gersang, karena menganggap keselamatan hanya pada jalan ‘percaya’. Sedikitpun tidak ada jalan untuk berusaha meraih keridhaanNya, karena jika ia percaya maka ia sudah selamat walaupun ia dunia hanya menjadi pembuat dosa. Karena seluruh dosa anusia telah ditanggung di kayu salib oleh yesus, maka ia akan aman dari segala pertanggungjawaban Pengadilan Tuhan. Inilah konsep yang menjadi sumber penyakit dunia, yang akhirnya selama beratus tahun melahirkan generasi-generasi barat yang berjiwa malas serta dengki atas umat islam. Namun, saat ini para cendekia barat mulai sadar dari kesalahan nenek moyang mereka dan mereka bersedia kembali kepada Tuhan yang Maha Tunggal dan kepada agama Islam.

(3) Sombong disini bermakna merasa diri paling baik dan tidak mau menerima kebenaran. Kesombongan ini menghambat jiwa maju dan bangkit. Sombong bukanlah aksesoris kemenangan, namun ia adalah puncak kesalahan. Merasa diri sudah berada di puncak, menjadi seseorang jauh dari Allah, kemudian secara otomatis ia malas dalam mendekatkan diri kepada Allah. Allah sengaja menyembunyikan kemuliaan islam dari hati-hati yang sombong. Iblis dilaknat karena sombong terhadap Nabi Adam yang berasal dari tanah. Kaum nabi Nuh diadzab karena sombong terhadap kapal Nabi Nuh. Bangsa Israel sombong karena pernah menjadi adikuasa pada zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Israel sombong atas Nabi akhir zaman yang keluar bukan dari dari bangsa mereka, yakni Nabi Muhammad yang berbangsa Arab. Bangsa arab saat ini pun sombong dengan melimpahnya minyak bumi atas mereka, sehingga Arab menjadi fasilitator Zionis atas penyerangan terhadap saudara seiman di Afganistan, Irak, Palestina, dan Libya.

Flash back, peradaban Islam yang dibangun oleh Nabi Muhammad s.a.w adalah bukti nyata kebenaran ajaran islam sebagai pembangkit jiwa-jiwa yang mati. Nabi Muhammad telah berjuang untuk membangkitkan bangsa Arab bar-bar yang berperadaban paling rendah ketika itu hingga menjadi satu imperium besar yang mengusai 2/3 dunia dalam tempo 23 tahun saja. Kenapa Islam bisa jaya dari gurun tandus ‘Arab? Hal ini dikarenakan kesucian nubuwwah nabi yang berhasil menyadarkan dan membangkitkan jiwa-jiwa manusia dan melepaskan mereka dari sifat malas.

Kenapa Allah turunkan Nabi di tanah yang tandus yang sepi berpenghuni dan jauh dari peradaban? Kepada tidak Allah turunkan saja Nabi dari negeri subur Indonesia? Ini adalah bentuk rahmat Allah yang telah membuktikan bahwa malas tidak akan menghasilkan apa-apa selain kerugian. Fasilitas bagus tidak menjamin seseorang maju kecuali ia berhasil membuang sifat malasnya. Walau bangsa Indonesia berpenduduk muslim terbesar, namun karena ianya malas, maka Indonesia tidaklah ada gunanya buat peradaban dunia kecuali menjadi mangsa makhluk-makhluk yang dengki terhadap Islam. Islamnya Indonesia tetap mulia, tetapi terlalu ditutupi oleh kerak-kerak kemalasan bangsa ini.

Kemalasan spiritual telah mewabah melebihi penyakit apapun. Jika kita melihat dari kaca mata global, tidak ada solusi lain dari seluruh permasalahan selain berpulang kepada setiap individu kita agar bermuhasabah, dan kita belajar mengajak sesama saudara agar kembali kepada Allah. Ajak hati kita berdamai dengan Allah, suasanakan diri dalam gaya hidup yang islami, hijrah dari lingkungan dan kebiasaan yang tidak baik, upayakan diri akrab dengan al quran dan hadits nabi, serta berusaha mengamalkan ajaran islam secara kaffah. Semua akan berubah tergantung seberapa kuat kita bertindak. Satu upaya baik yang kita lakukan sebetulnya telah cukup merubah keadaan dunia ini. Semoga Allah lindungi kita dari sifat-sifat malas. Wallahu ‘alam.

صلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وسلم

 


Responses

  1. akhirnya ada postingan baru.. setelah lama ditunggu2..🙂

    • Semoga ada manfaatnya🙂

  2. bagus banget .(Y)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: