Oleh: Azan bin Noordien | Maret 16, 2011

Meramal Masa Depan Setelah Mati

Kita pasti ‘merasakan’ mati

بســم الله الرحمن الرحيم والحمدلله رب العالمين و الصلاة والسلام على سيدنا محمد و على آله و صحبه و من تابعهم بإحسان إلى يوم الدين

Manusia akan selalu diteror oleh mati. Mati adalah satu kata yang mengingatnya saja membuat kita termenung. Satu hal yang pasti akan menghampiri siapapun. Satu per satu saudara kita telah mati, bahkan banyak dari keluarga terdekat yang sudah mati. Mati adalah pasti. Kemana diri ini akan pergi setelah mati adalah kajian serius, yang jika kita berhasil memaknainya, maka teror mati akan berubah menjadi satu hal yang menyenangkan dan dirindukan.

Saya bahagia setelah beberapa hari lalu mengikuti kajian teologia kristen-islam oleh seorang doktor bernama Muhammad Yahya Waloni, mantan pendeta yang kemudian menjadi muslim. Ia berceritera panjang mengenai konsep filsafat, sejarah, dan tentunya teologi yahudi dan kristen secara khusus, yang kemudian hal inilah menjadi jalan bagi beliau untuk menemukan kebenaran hidup di dalam islam. Namun, satu hal yang menarik ketika ditanya apa pengalaman dan perubahan dalam diri beliau setelah memeluk islam adalah ketenangan dalam menghadapi kematian.

Mati adalah rahasia. Dan tabiat manusia benci dan penasaran dengan hal-hal yang bersifat rahasia. Namun satu sisi, manusia pun tidaklah ingin berekperimen dengan kematian. Krn mati berarti tidak hidup, dan tidak hidup berarti gagal dalam penyelidikan. Siapapun manusia secara psikologis akan takut menghadapi mati. Namun bagi seorang yang mantap konsep hidupnya, kematian bukanlah hal yang perlu ditakuti. Dalam islam, kematian justru awal dari kehidupan abadi setelah mati. Namun, tentu saja bagi kita yang awwam akan kebingungan, kenapa seseorang begitu mudah menjinakkan teror psikologis kematian?? Berikut sedikit uraian yang bisa kami jelaskan.

Secara psikologis, seseorang akan mencintai apa yang ia usahakan dan ia dapatkan hasil dari kerja kerasnya. Di dunia setiap manusia bekerja untuk keperluan hidup, keluarga, kekayaan, penghormatan, dan kesenangan-kesenangan fisik lainnya. Agama ada didunia meluruskan seluruh pekerjaan-pekerjaan manusia akan memiliki nilai-nilai ilahi, sehingga kehidupan menjadi bermakna. Bukan islam itu meniadakan dunia, namun pemahamanya adalah islam menjadikan ‘alam materi’ bukan tujuan namun hanya bias, dan kebutuhan manusia terhadap Tuhan yang Maha Esa adalah tujuan utama. Namun, seseorang yang salah dalam memaknai kehidupan akan terjebak di dalam kungkungan materialisme. Hidup dunia akan kering karena hanya mengejar kepuasan fisik dan benda semata.  (Duh, saya tak ingin pula tulisan ini menjadi sekedar khutbah singkat yang tidak tersentuh aspek ilmiah terkini..)

Kungkungan materialisme inilah sumber ketakutan dan penyakit dalam hati-hati manusia. Setiap gerak-geriknya, fikirnya, dan hatinya tertuju kepada pemuasan diri sendiri dan melupakan bahwa ada kehidupan setelah mati. Maka, wajar saja bila seseorang lemah imannya terhadap Allah dan hari akhir, ia akan didera oleh penderitaan akan panggilan sang maut. Apa yang bisa ia perbuat, karena pekerjaan sehari-harinya tiada hubungan erat dengan persiapan hidup setelah mati? Tidaklah cocok apa yang ia usahakan di dunia dengan alam maut yang akan ia tempuh.

Maka, berangkat dari sini, ada pekerjaan besar bagi kita semua, bahwa masing-masing kita tahu persis apa dosa yang telah diperbuat, dan masing-masing kita sebetulnya tahu dimana posisi kita dalam hal menghadapi mati. Hanya Allah dan diri kita yan tahu, seberapa siap kita menghadapi mati. Senangkah atau masihkah hati kita ciut setelah mendengar kata mati?? Berbahagilah mereka yang senang dalam menyambut kematian, namun sungguh malang jika kita masih takut dengan kematian. Wallahu alam.

صلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وسلم


Responses

  1. amien ya rabbal alamin, semoga kita ummat muhammad mendapatkan tempat yg terbaik disisi Allah kelak


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: