Oleh: Azan bin Noordien | Januari 9, 2011

Agar dekat dengan Ulama

Majelis Habib Umar bin Hafidz di Tarim Hadramaut

بســم الله الرحمن الرحيم والحمدلله رب العالمين و الصلاة والسلام على سيدنا محمد و على آله و صحبه و من تابعهم بإحسان إلى يوم الدين

Allah ta’ala berfirman yang artinya: Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah Ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun…(Al Fathir: 28)

Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah berkata: “Jika kamu mampu, maka jadilah seorang Ulama. Jika tidak mampu, jadilah seorang yang penuntut ilmu (kepada ulama). Jika tidak mampu jadilah, orang yang berkhidmat (melayani) terhadap ilmu (agama). Jika tidak mampu juga, janganlah membenci para ahli ilmu (agama)..”

***

Jalan kehidupan ini pada hakikatnya telah ditetapkan oleh Allah akan dipenuhi dengan berbagai ujian dan rintangan. Dalam hidup akan banyak sekali hal-hal yang merintangi seseorang untuk sampai di jalan Allah, yakni jalan hakiki, jalan kebenaran yang menuntun seseorang untuk bahagia di dunia dan akhirat.

Maka, segala sesuatu yang merintangi seseorang di jalan yang lurus ini disebut dengan dzulumat (kegelapan) yang identik dengan hawa nafsu hewani yang dilepaskan sejadi-jadinya.  Maka dengan rahmat Allah, Dia mengutus ruh dan jasad da’wah yakni para nabi manusia pilihan  yang mengemban misi da’wah sebagai cahaya penuntun manusia agar mudah kembali kepada Allah.

Maka, penting bagi setiap insan yang beriman atau siapapun yang menghendaki kehidupan yang bahagia, dengan mengikuti jejak Nabi dan para ulama sebagai pewaris anbiya’. Rasulullah pernah bersabda: “Ulama adalah pewaris para nabi…”. Jika hidup kita jauh dari ulama, maka hidup kita akan mudah terombang ambing dengan badai kehidupan. Ibarat sebuah kapal yang tidak ada nahkodanya. Maka, kemana angin berhembus ia akan bergerak ke sana ke mari tidak tahu tujuan.

Permasalahannya sekarang adalah: Bagaimana caranya agar kita dekat dengan ulama dan mendapatkan sentuhan ruhani secara langsung dan bisa mengakrabi mereka? Seorang Mufasir kondang -di forum pengajian di radio Wadi 102.0 fm- pernah ditanya dengan pertanyaan ini. Beliau menjawab dengan sederhana: Perbaiki sholat anda!

Saya pun agak geleng-geleng kepala mendengar jawaban beliau ini. Beliau yang faqih dan paham Al Quran tentu mempunyai alasan yang kuat sehingga menjawab pertanyaan tersebut dengan begitu sederhana. Jawaban dari sang ustadz adalah konsep AlQuran, yakni ketika seseorang sudah maksimal mengamalkan satu amalan inti -yakni sholat fardhu- maka Allah akan mudahkan ia sampai dan dekat kepada ulama.

Memperbaiki kualitas Shalat

Perbaiki sholat anda! Walaupun jawaban di atas terdengar sangat remeh, maka sebetulnya langkah-langkah dalam memperbaiki shalat itu tidaklah mudah dan tidaklah terlalu sulit, kecuali kita merasa malas dan enggan untuk memulainya. Tahap awal dalam memperbaiki shalat ialah dengan 2 cara saja:

Pertama. Meningkatkan keimanan yang shahih (mantab) kepada Allah. Iman adalah yakin, bukan sekedar percaya. Iman ialah suatu kepastian hati yang betul-betul menghujam. Yakni keyakinan yang sempurna kepada Allah sebagai sang Maha atas segala sesuatu. Untuk mencapai derajat yakin seperti ini, maka wajib perlu ada usaha yang betul-betul disengaja dan diluangkan, yakni dengan khuruj (keluar) di jalan Allah bersama jamaah da’wah. Langkah awal untuk meningkatkan iman adalah mencari suasana agama, bisa dengan mendatangi secara berkala majelis-majelis agama. Nikmatilah halaqah dzikrullah bersama ustadz, habaib, kiyai dsb.

Kedua. Perbaiki cara berinstinja! Mungkin hal ini juga terdengar remeh. Padahal jika kita salah dalam berintinja (tata cara dan bersuci setelah buang air), maka wudhu kita bisa tidak sah karena intinja yang masih berlepotan. Jika wudhu kita tidak sah, maka shalat pasti tidak sah. Nah, dalam hal ini mempelajari fiqih intinja adalah fardhu ‘ain. Demikian juga wudhu dan tata cara shalat sesuai dengan mahdzab di Indonesia, Imam syafi’i. Jangan shalat seperti orang yang bingung dan asal-asalan. Allah berfirman: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk (tidak sadar dan tidak tau menahu) sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan..(QS Annisa 4: 43)

Jika keimanan sudah disemai dan kita juga sudah berusaha terus memperbaki shalat dengan segala lahir dan bathinnya, maka insya Allah, Allah akan segera anugrahkan kepada kita khusyu’, yakni buah dari usaha dan doa kita agar shalat kita betul-betul berkualitas. Jika shalat kita sudah benar, maka minimal kita akan mendapatkan beberapa tingkatan maqom (kedudukan), yakni:

  1. Orang yang shalat terhindar dari perbuatan keji dan mungkar. Karena Allah berfirman: “ Sesungguhnya Shalat (yang benar itu) mencegah perbuatan keji dan mungkar..” (Al Ankabut 29:45). Jika pada tahap ini kita sudah mampu meninggalkan perbuatan yang laknat, maka secara otamatis mental kita akan terbiasa meninggalkan lingkungan dan pergaulan yang tidak benar. Secara tidak sadar diri kita telah meng-filter hal-hal yang tidak baik.
  2. Orang yang sudah mampu keluar dari lingkungan dan perbuatan buruk seperti poin satu, selanjutnya ia akan masuk kepada ‘alam dzikir’ -yakni shalat khusyu yang ia dapatkan secara istiqomah- akan teraplikasi dalam kehidupannya sehari-hari. Allah ta’ala berfirman: Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat, (maka) ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu (kewajiban) yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (Annisa 4:103)
  3. Setelah poin yang kedua dilewati, maka seseorang yang khusyu’ shalat akan menjadikan shalat sebagai peraduannya kepada Allah, sesuai hadits nabi: “Shalat itu adalah mi’raj (tempat naiknya seseorang kepada Allah) nya orang-orang yang beriman…”. di dalam Al Quran Allah berfirman”Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,..(Al Baqarah 2:45). Dalam satu hadits disebutkan jika Rasulullah menemukan masalah maka beliau langsung mengambil wudhu dan shalat.

Terang sudah. Maka, jika permasalah kita adalah kita jauh dari ulama, maka mudah bagi Allah untuk ‘menggerakkan’ulama tersebut bersatu bathin-nya dengan hamba-hamba yang lemah seperti kita ini. Kembali kita perhatikan poin-poin di atas, bahwa seseorang yang telah berhasil mengkondisikan dirinya ke dalam lingkup kebaikan dan amal shalih, maka tidak mustahil ia akan masuk kepada alam ruhani yang suci, yakni kedekatan terhadap orang-orang shalih dan para ulama Allah yang dimuliakan. Kedekatan bathin (mahabbah) dan lahir (fisik)

Terkadang kita bisa menyadari, bahwa terhalangnya kita dengan para ulama adalah dikarena hijab (pembatas) yang disebabkan oleh dosa-dosa yang kita lakukan selama ini. Betapa banyak maksiyat kita kepada Allah tanpa kita sadar maksiyat itu yang membatasi diri kita dengan ulama. Tidaklah mungkin cahaya dan kegelapan disatukan.

Satu buah kisah, ketika ada kunjugan seorang Habib di Jakarta, maka seorang kawan bertanya kepada satpan di depan, beliau berkata: “kepada bapak tidak ikutan salaman dengan habib, padahal orang-orang sudah berebut mendekat kepada beliau…? Maka, satpan tadi menjawab dengan polos: “ Saya ini banyak dosa, malu salaman sama habib..”. Jadi intinya, dosa dan maksiyat akan memblok hubungan kita kepada Allah dan orang-orang yang dekat denganNya, dalam hal ini adalah ulama. Walaupun begitu, janganlah kita merasa terlalu minder dan rendah diri, tetaplah usahakan mendekat kepada Ulama dengan niat mendapatkan keberkahan dan doa dari beliau.

Penutup

Maka, saatnyalah kita beraksi! Berjihad dengan amal kita yang paling mendasar yakni shalat agar kita dekat dengan Allah dan para kekasihnya di dunia. Sebagai penutup, saya menyampaikan pesan Allah untuk kita semua:

Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan. (14:31). Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (20:132).

صلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وسلم


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: