Oleh: Azan bin Noordien | Januari 8, 2011

Kelicikan Media Massa*

*Oleh Aditya Abdurrahman

media always controls your mind

Tak lama setelah pondok pengasuh pesantren Al Mukmin Ngruki, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ditanggap densus 88 sebuah stasiun TV mengadakan dialog Live. Melalui  seorang presenter, stasiun tv tsb membuka kesempatan bagi pemirsa memberikan opininya tentang penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Tanpa disangka si penelpon rupanya sejalan dengan pemikiran ABB. Ia meyakini ada rekayasa asing dalam penangkapan itu. Di saat sang penelepon mengatakan bahwa densus 88 lah yang justru melakukan tindakan ‘teror’, telepon sang penanya lagsung diputus oleh pihak TV. Rupanya presenter tau betul, si penelpon kurang sejalan dengan missi -nya TV dalam dialoh yang bertema teroris ini.

Kasus-kasus seperti di medi amassa kita bukan terjadi satu-dua kali. Bulan Juni 2009, beberapa hari pasca peledakan bom kuningan, sebuha stasiun TV mewancarai mantan Kepala Densus 88, Polri Brigdjen Polisi (purn) Suryadarma Salim. Dengan panjang lebar mantan Kepala Satgas Antiteror Polri ini secara monolog, emnjelaskan masalah terorisme. Ia mengatakan”Mereka ingin mendirikan Daulah Islamiyah (Negara Islamiyah di Indonesia), dan habitat mereka itu paling subur di Indonesia”.

Bisa dibayangkan, seorang polisi, bukan seorang ahli yang mengenal gerakan islam, boleh dikata kurang paham mengenai masalah islam, memahas terorisme dan kaitannya dengan Islam secara monolog, tanpa ada pembanding. Yang mengejutkan, tayangan itu disiarkan berulang kali selama beberapa hari, dari pagi, siang  sore dan malam hari. Sekedar catatan, rata-rata utk tayangan iklan di TV butuh biaya sekitar Rp 10 juta per 30 detik. Memunculkan Suryadarma Salim dengan waktu panjang berulang kali, bukan sebuah kebetulan!

Islam dan propaganda media

Dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam  setiap missi media adalah membangun opini publik dan propaganda! Pertama, propaganda selalu memberikan informasi yang dirancang denga pesan yg sudah disiapkan tujuannya. Tentu saja, terserah kepada pengelola media yg bersangkutan. Semua pesan dan faktanya adalah pilihan redaksi. Pesan propaganda harus dapat menghasilkan pengaruh. Jadi, propaganda bukan suatu kebetulan, dia adalah bekerja utk  memanipulasi buah pikiran yg dikehendaki.

Kedua, opini publik (public opinion). Secara psikologis, opini publik pada dassarnya ditentukan oleh pendangan dan kepentingan pribadi atau golongan (dalam hal ini media). Meski demikian, kemampuannya mempu menggerakkan perangkat politikdan negara.

Korban kedua wacana ini bisa dilihat dari kasus wacana FPI, poligami, dan nikah sirri, dan terorisme. Syeh Puji dicitrakan negatif lantaran ia menikahi anak SMP. Karena itu media memberi image orang yg menikah sirri sebagai sebuah kejahatan. Sebaliknya, jutaan orang justru dimuliakan karena mereka kumpul kebo. Andaikata Syeh Puji meniduri 100 WTS (wanita tuna susila), dia tak akan dihukum dan tidak pula dicitrakan seolah ‘jahat’!

Kata mantan ketua PBNU pernah berseloroh, “Jika nanti ada polisi menggerebek orang nikah sirri, lebih baik mengaku saja kumpul kebo. Pernyataan ini sekedar menunjukkan, betapa tidak adilnya hukum dan logika media massa di negeri ini.

Di sinilah letak pentingnya mengaoa umat islam harus memiliki media massa. Hanya saja, meski sering menjadi korban, umat islam sering mengabaikan arti penting keberadaan media. Jika umat islam memiliki media yang bagusdan kuat, dikelola dengan baik, maka pemberitaan dan pembentukan negatif tentang islam akan mudah dinetralisir. Semua pencitraan buruk tentang islam oleh Zionis juga bisa terbendung. Insya Allah!

Adalah pernyataan Dr. Yusuf Qardhawy yang bagus. Beliau mengatakan “Kalau saja kita (umat islam) diberi kebebasan selam 20 tahun utk membina umat tanpa gangguan dan tekanan pengusa (Zion) atau konflik dengan mereka, itu sudah cukup utk mengembalikan kejayaan umat Islam! Faktanya, umat Islam tak berdaya bukan karena mereka tidak berdaya. Yang ada, karena mereka ‘diperdaya’.

Dr. Zakir Naik, seorang ilmuan, kristolog, da’I asal India, pernah merasakan ini. Memanfaatkan peluang emas beliau pernah melobi sebuah stasiun TV lokal utk program Islam tanpa disensor/ ditutup-tutupi atau diatur demi kepentingan rating. Ketika itu, waktu yg diberikan hanya beberapa puluh menit saja, namun alhamdulillah, program itu mampu menyedot perhatian pemirsa dan direspon sangat positif. Sampai akhirnya Stasiun TV itu membayar Dr. Zakir Naik atasusulan program beliau tersebut. Namun beliau menolak dengan berkata, “Saya tidak butuh uang anda, cukup berikan saya waktu lebih banyak lagi utk menda’wahkan Islam di televisimu.”

Media dan Kecerdasan Hati

Kepemilikan media memberikan konstrribusi positif dalam penyampaian kebenaran. Karenanya umat islam harus bertekad utk memiliki media sebagai wasilah menyampaikan yang haq. Media yang adil dalam menyampaikan berita berdampak bukan hanya utk umat islam tetapi juga umat manusia secara umum. Bukan media yg menuhankan rating.

Media yang menjadikan profit sebagai ideologi, cenderung menghalalkan segala cara. Karenya jangan heran banyak orang-orang cerdas tiba-tiba hilang kendali setelah mereka bergabung di media massa. Sebelum mereka masuk dikenal sebagai anak-anak yang cerdas. Sebab rata-rata IP masuk menjadi wartawan selalu di atas 3.0 dan memiliki kemampuan bahasa asing yang bagus. Sayangnya setelah menjadi wartawan, kebiasaan membaca, mendengarkan pendapat orang lain dan kemampuan menganalisa menjadi tumpul. Sebab, ia lebih mengejar ‘eklusivitas’ berita. Secara akademik mungkin ia masih cerdas, tapi ia tidak memiliki kecerdasan “Hati”.

Hampir semua orang yg digerebek densus-88 langsung disebut ‘teroris’, meski pengadilan belum berjalan. Media tidak akan pernah mengukur bagaimana perasaan anak istri mereka di lingkungan, di sekolah, dan tempat kerja mereka. Sebutan ini saja saudah hukuman beum tentu bisa hilang selama bertahun-tahun bahkan selama ia hidup. Tapi tak usah berharap banyak, sebab media yang visi utamanya dalah profit dan ideologi Zion, biasanya tidak bisa melahirkan wartawan/penulis/reporter/ redaktur yang memiliki kecerdasan hati dan perasaan!

*Oleh Aditya Abdurrahman dengan sedikit gubahan. Penulis adalah mahasiswa pasca sarjana Komunikasi Universitas Airlangga Surabaya.


Responses

  1. Yaa.. sya setuju kalau muslim juga harus punya media yang memfilter berita2, menegakkan yang Haq..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: