Oleh: Azan bin Noordien | Januari 8, 2011

Akhlak adalah da’wah

Islam bangkit karena akhlaq

Salah satu ketidak hati-hatian saya belakangan ini adalah kurang berakhlak kepada orang lain. Saya sangat menyadari itu. Tapi kemudian saya berfikir bahwa hal seperti ini akan sangat berdampak besar kepada da’wah. Maka perlu satu bahasan yang betul-betul akan membuka cakrawala kita dalam da’wah islam dan bagaimana membangunnya atas prinsip dasar Akhlak!

Nabi Muhammad bersabda: Inna ma bu’itstu li utammima makaarimal Akhlak! Artinya: Sungguh tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak (manusia). Kita semua pasti tahu hadits ini. Sejak saya ngaji waktu kecil dulu, kalimat pendek ini selalu dijejali ke telinga para santri, dengan maksud sang ustadz berusaha memperbaiki akhlak-akhlak kami sebagai murid yang seringkali bandel.

Siang itu, seperti biasa. Jam sudah menunjukkan waktu dzuhur telah datang. Aku segera beranjak dari bangku kuliah menuju mushalla di kampus. Setelah shalat, aku jalan keluar mushalla dan memperhatikan beberapa tulisan-tulisan di mading mushalla itu. Sebagian besar tulisan yang dimuat berisi kecaman-kecaman terhadap Amerika, Obama, Densus 88, Kapitalisme, dsb…

Aku pun berfikir, kalau tidak salah setiap saya lewat di mushalla ini saya selalu mendapati ’genre’ tulisan yang sama, yakni kecaman-kecaman/kritikan terhadap kebathilan di negeri ini, baik kepada organisasi maupun kepada pribadi bersangkutan yang bersalah. Tulisan dan headline yang dipasang sangat memikat dan persuasif. Tidak sekedar menampilkan paragraf deskriptif argumentatif yang brilian, namun juga agresif!

Setiap para muslim yang bersemangat pasti terbakar hatinya dan terpacu jiwa jihadnya membaca tulisan semacam itu, karena secara gamblang kebathilan itu dimunculkan dengan seterang-teranganya, seperti terangnya matahari di siang bolong. Dan pada kesimpulannya, disana ditampilkan bahwa hanya Islam lah satu-satunya solusi!!

Nah, tunggu dulu. Apakah hal semacam ini sudah benar-benar tepat? Berhubung kita membawa islam sebagai solusi, tentu kita akan dibebankan satu tanggung jawab penuh apa itu ISLAM! Sebagaimana dicantumkan di atas yakni hadits nabi mengenai akhlak, apakah tulisan-tulisan tersebut sudah mencerminkan Islam?? Saya kira belum, masih sangat parsial sekali!

Saya kira kita sama-sama mengiyakan, bahwa Islam bukanlah cacian dan caci maki dan luapan perasaan marah bukanlah solusi dalam Islam. Islam dengan kesempurnaannya mengajarkan akhlak, akhlak dan akhlak saja.  Allah ta’ala berfirman dengan indahnya:

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Al Quran: Ali Imran 3: 157)

 

Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. (Al Quran: Shaad 38: 46)

Dalam konteks hukum, tentu apa yang telah dilakukan orang-orang yang dengki kepada Islam itu sangat salah. Namun, apakah seseorang yang mulia akan balik mencaci maki orang yang ia sangka bersalah atas dirinya?? Tentu tidak! Islam diibaratkan seorang ulama yg mulia, ketika tiba-tiba seorang dungu mencacinya, apakah orang yang mulia itu balik mencaci ulama itu? Tentu tidak!

Begitulah akhlak yang dicontohkan Nabi kita Muhammad. Beliau adalah seutama-utamnya dzat setelah Allah itu sendiri! Maka, ketika beliau dilempar dengan batu ketika berda’wah di egeri Tha’if, apakah beliau mengeluarkan satu kata saja yang berupa cacian? Bagaimana sikap beliau ketika setiap kali berjalan di satu jalan menuju masjid beliau selalu diludahi oleh seorang yahudi? Tidaklah beliau dendam, bahkan beliau memberikan orang itu hadiah! Apakah beliau mengurangi jatah makanan seorang gelandangan tua yang setiap hari menfitnah beliau?? Tidak! Bahkan beliau bersabar menyuapi makanan itu ke mulut orang itu! Masih banyak kisah teladan dari nabi kita dan para salaf tentang begaimana mereka menampilkan akhlak yang notabene adalah bentuk da’wah yang sempurna??

Ketahuilah, akhlak itu sendiri adalah da’wah. Akhlak akan muncul di hati orang-orang yang dekat dengan Allah. Jika akhlak bathiniyyah ini telah menyelubungi seorang hamba, maka akhlaknya itu mengantarkan orang disekelilingnya menjadi pribadi yang tersentuh dengan keindahan islam itu sendiri dengan izin Allah. Jadi, janganlah kita mengabaikan sedikit saja bagian daripada akhlak, karena itu adalah besar porsinya dalam kesuksesan da’wah!

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: