Oleh: Azan bin Noordien | Desember 7, 2010

Menggapai Ketenangan yang Awet

Saya mengutip kata-kata seorang yg telah berhasil menemukan ketenangan hakiki, yakni Sakti SO7 kini telah berganti nama menjadi Salman Al Jugjawi. Kata-kata beliau Saya rasa sangat pas menjawab pertanyaan tentang bagaimana cara memperoleh ketenangan yg awet. Beliau berkata: Siapa saja yang semakin tahu kesempurnaan Allah ia akan tenang dan bahagia.

Lebih lengkapnya silahkan baca saja:

“Dulu saya tak tahu dimana harus bersandar bila ada masalah, saya juga tak tahu apa sebenarnya tujuan hidup ini. Tapi setelah diberi kesempatan semakin mengenal Allah, kita sadar bahwa Dia Maha pengasih, Maha Penyayang semua makhluk, Maha penjawab setiap doa, kita jadi tahu bahwa Dialah tempat bersandar yang paling tepat”

“Dalam hidup manusia mengejar rasa. Ketika seseorang ingin punya mobil, kemudian mendapatkannya, ia pun ingin merasakan merk mobil yang lain. Begitu pula dalam hal-hal lain. Tapi jika rasa itu diarahkan sepenuhnya kepada Allah Subhanahu Wata’ala, maka ketenangan dan kejernihanlah yang diraihnya.” 

“Ketenangan itu adalah fitrah yang dicari semua orang di dunia. Tak ada jalan lain meraih itu selain mendekatkan diri kepada Allah, karena Dialah sumber kebahagiaan. Dan pendekatan itu harus dibuktikan dengan amal, harus dicicipi oleh pribadi-pribadi yang memang menginginkan itu.”

 

Begitu juga yang Saya rasakan. Memang jalan hidup yg lurus itu selayaknya memang itu yg kita tempuh. Ketika jalan hidup kita sudah berbelok sedikit saja, maka kita akan jauh daripada ketenangan. Ibarat seorang musafir yang tidak tahu tujuan, maka ketika ia merasa lapar dan haus ia singgah di beberapa tempat asing. Sedang ia hanya sedikit membawa bekal uang dan keluarganya pun tidak ada dimana pun. Coba bayangkan?

Memang benar ketika membaca Quran atau shalat hati akan menjadi tenang, permasalahannya kenapa setelah beberapa saat setelah itu hati kita kembali gundah? Jawaban yg paling mungkin ialah keimanan kita yang masih lemah, sehingga kita masih mudah terpengaruh oleh godaan-godaan dunia. Ibarat musafir tadi, ketika ia makan minum, mungkin ia akan merasa tenang, tetapi setelah ia beranjak pergi melanjutkan perjalanan apakah ia akan tetap tenang? Jawabnya: tidak! Kenapa? Karena ia tidak memiliki tempat bersandar yg kuat dan tujuan hidup yg mantap. Berbeda jika hati kita bersama Allah, maka dimanapun berada, arah hidup kita jelas dan menyakinkan.

Ikhlaskan hati bersama Allah, mungkin itu kuncinya. Dan ini tidak mudah bila kita tidak ada upaya yang nyata utk selalu menguatkan keimanan kita kepada Allah. Pesan guru-guru spiritual saya disini ialah satu saja: Kuatkan IMAN! Seperti sabda Nabi Muhammad saw yg artinya:

Perbaruilah iman kalian! Bagaimana caranya ya Rasulullah? Nabi menjawab: Perbanyaklah kalian mengungkapkan (makna dari) Laa ilaha illallah..!” Makna Laa ilaha illah ialah tidak ada ilah (tempat hati berlabuh) selain kepada Allah! Artinya jangan sampai hati kita terkotori dengan adanya kecintaan terhadap dunia sehingga mengecilkan kehadiran Allah dan akhirat.. Inilah hakikat iman.

Jika iman kuat, maka kedekatan kita kepada Allah akan bertambah, ketaatan terhadap perintah Allah menjadi mudah, dan meninggalkan laranganNya terasa indah. Sebaliknya, ketika iman lemah, maka yg timbul adalah angan2 semu dunia, merasa jauh daripada Allah, mudah meninggalkan perintah Allah, bahkan menikmati maksiyat kepada Allah..naudzubillah.

Maka, harus diagendakan setiap hari usaha kita mendekat kepada Allah. Sediakan waktu khusus utk khuruj (keluar di jalan Allah), agendakan membaca Quran/dzikir, agendakan shalat malam, agendakan mempelajari agama, bisa lewat buku-buku agama yg baik, mendengarkan ceramah agama, mengikuti pengajian/majelis dzikir, kumpul2 dengan orang2 yg shalih, dsb. Itu semua merupakan gerak nyata kita dalam menguatkan iman. Jika tidak demikian,  iman akan mengendur terus, bahkan bisa keluar dari hati.

Kita masih belum bisa mengamalkan satu ayat Allah yg artinya: Hai orang2 yg beriman, masuklah kamu ke dalam islam secara sempurna, dan jangan ikuti langkah setan, sungguh ia (setan) itu musuh yang nyata bagimu”. Maknanya kita belum ada kekuatan iman yg membuat kita bisa melaksanakan seluruh perintah Allah dan meninggalkan seluruh laranganNya. Tapi apakah dibiarkan demikian saja? Tentu tidak! Maka, disini upaya yg paling mungkin kita lakukan ia mendidik diri kita dengan perlahan, yakni dengan menguatkan iman. Jika konsisten, maka ayat tadi bisa kita amalkan  Insya Allah.

Kemudian upaya kita sembari menguatkan iman ialah: Memperbaiki kualitas shalat (jgn kuantitas dulu). Shalat adalah kunci amalan, nabi bersabda artinya: Shalat adalah tiang agama, jika baik shalat maka akan baik semua perbuatan, jika buruk shalatnya maka pasti buruk juga semua perbuatan (seseorang). Kenapa setelah shalat hati menjadi tenang, tapi lama setelahnya kenapa kembali gelisah. Jawabnya mungkin maksud dan tujuan shalat itu sendiri belum tercapai.

Maksud dan tujuan dari pada shalat khusyu itu ialah kita mampu membawa sifat-sifat keta’atan di dalam shalat ke luar shalat. Maksudnya ketika shalat kita dalam keadaan menjaga kesucian lahir bathin, maka hendaknya ketiak tidak shalat juga begitu. Ketika shalat kita menutup aurat secara sempurna, ketika selesai shalat usahakan tetap begitu. Ketika shalat kita dzkir/membaca Sayauran/shalawat, maka di luar shalat juga senantiasa mengingat Allah. Dst…

Memperbaki kualitas shalat dimulai dari benar tidaknya cara berinstinja (bersuci) dan berwudhu. Nabi bersabda artinya: “Kunci Syurga ialah Shalat, dan kunci Shalat ialah Atthuhur (Bersuci)”. Maka penting dan jangan meremehkan kesucian jasad melalui mandi janabat, wudhu, cara menghilangkan najis dsb. Maka perlu kita instrospeksi dan sempurnakan lagi.

Kemudian, nabi Bersabda: Ungkapkanlah bahwa saya beriman kepada Allah, dan beristiqomah (berkelanjutan)….Qul aamantu billa summastaqim.. Semoga kita senantiasa berdoa kepada Allah agar diberi kepahaman agama yg baik, beramal istiqamah dan menjalani hidup dengan tenang..


Responses

  1. salam kenal…kadang untuk iklhas harus ada yang mengena dalam hidup misalnya harus sakit dulu, harus miskin dulu ato harus gagal dulu…

  2. setelah di beri cobaan insan biasanya seorang hamba baru akan mendekat pada hambanya ,,,cobaan itu adalah teguran ,dalam menjalani masa itu seorang baru mengenal arti iklas sabar dan tawakal…makasih artikelnya

  3. […] https://azansite.wordpress.com/2010/12/07/menggapai-ketenangan-yang-awet/ […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: