Oleh: Azan bin Noordien | Agustus 9, 2010

Kerisauan akan umat, sunnah yang utama

Ba’da Shalat Ashar, tanpa janjian terlebih dahulu, saya bertemu dengan kedua guru saya yang mulia di sebuah masjid di Bogor. Lalu kami saling berpelukan dan duduk berlingkaran seperti membuat sebuah halaqah kecil. Sungguh kenikmatan tersendiri bertemu dengan ulama dan orang-orang shalih. Kemudian saya amati, tampak kerisauan dan fikir yang mendalam dari ustadz yang satu ini, kemudian ia menjelaskan suatu pertanyaan retoris yang aneh dan sulit. Maka beliau menjelaskan dengan penuh khusyu’ kepada kami. Ceritanya begini:

Dulu ada seorang muslim di india (muslim disana disebut musalman) bertanya kepada seorang Syaikh Maulana Inamul Hasan. Ia membacakan sebuah hadits panjang yang menjelaskan bahwa nabi pernah bersabda bahwa nanti di akhir zaman umat nabi akan terpecah menjadi 73 golongan, dan golongan yang selamat golongan Ahlussunnah Waljama’ah. Dalam artian 72 golongan lagi akan masuk neraka semua. Na’udzubillahi min dzalik.

Lalu pria muslim itu berkomentar, memang kadang muslim itu menganggap dirinya paling benar yakni golongan sunni. Lalu, menurut Maulana, siapakah sebenarnya golongan yang selamat itu?? Maka dengan tenang Maulana Inamul Hasan menjawab: Yakni golongan yang memikirkan dan mengupayakan bagaimana caranya golongan yang 72 itu tidak masuk neraka. Itulah golongan yang selamat! Subhanallah! Saya pun terdiam sejenak mendengar jawaban Maulana itu. Sambil terus memikirkan jawaban itu ustadz tadi berujar: betapa ‘alim dan dalamnya pemahaman beliau ini!!

Memang, terkadang kita terjebak dalam menjawab permasalahan yang termuat dari hadits-hadits nabi. Kita kadang merasa sudah merasa sebagai ahlussunnah sejati. Padahal ada satu sunnah besar dari nabi kita yang kita tinggalkan yakni keinginan agar semua umat akhir zaman ini selamat dari adzabnya Allah. Masya Allah!!

Para alim ulama sebetulnya sudah jauh-jauh hari mengklarifikasi mengenai macam-macam sunnah pada diri Rasulullah. Ada sunnah secara Zhahir (misalnya mengenai praktik ibadah, pakaian, akhlak dsb), dan ada pula sunnah secara bathin dan pemikiran (mindset) Nabi Shalallahu ‘Alaihi wassalam. Mindset Nabi yang Mulia yakni Kerisauan yang mendalam terhadap umat ini. Bahkan sunnah ini sudah ada sebelum wahyu diturunkan kepada Nabi ketika di Gua Hira. Hingga sunnah inilah yang dibawa Nabi hingga akhir hayat ketika ajal sampai di tenggorokkan beliau!

Setelah bertahun-tahun tinggal di kota Makkah, Nabi saw -yang dikenal sebagai Orang Paling Mulia di kota itu (Al Amin)- merasa kerusakan di kota itu semakin parah. Ia saksikan sendiri betapa banyak terjadi penyimpangan pada akidah tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim dulu. Belum lagi masalah syariat agama sudah jauh dari budaya yang manusiawi. Bahkan seorang Orietalis Barat mengatakan bahwa budaya bangsa arab Makkah ketika itu lebih keji daripada binatang sekalipun.

Maka, berangkat dari kerisauan inilah Nabi Saw hijrah ke Gua Hira. Beliau saw disana beribadah dan bertafakkur memikirkan/merisaukan keadaan di sekelilingnya yang sudah jauh menyimpang. Padahal jika kita lihat harta kekayaan Nabi Saw ketika itu, sangatlah banyak. Tidak ada cacat sedikitpun pada diri nabi ketika itu. Beliau punya kedudukan tinggi di kalangan Quraisy dan di luar kabilahnya. Beliau juga seorang kaya, juga seorang suami dari seorang wanita terpandang, Khadijah radhiallahu’anha. Maka, sangatlah mulia kepribadian beliau yang mau memikirkan keadaan umat disekelilingnya. Bahkan menurut Shirah Nabawiyah, nabi melakukan ‘Uzlah’ ke Gua Hira itu berlangsung selama tidak kurang dari tiga tahun!! Adakah diantara manusia serba berkecukupan saat ini yang rela menghabiskan waktunya selama 3 tahun hanya untuk ‘berfikir’ untuk keselamatan orang lain?? Saya rasa tidak ada.

Tidak salah Nabi Saw bersabda: “Berfikir sejenak (untuk perkara agama) lebih baik daripada ibadah selama 70 tahun”. Inilah harga sebuah pemikiran! Allah menghargai otak kita yang hina ini dengan harga yang sangat mahal, asal kita mau berfikir demi maju dan berkembangnya agama, mulai dari diri kita sendiri, keluarga, lingkungan, bahkan umat seluruh alam dunia ini.

Di dalam Al Quran, Allah menegaskan dan memilih umat akhir zaman ini sebagai umat terbaik, dikarenakan mereka mengikuti sunnah-sunnah Nabi dan ikut menda’wahkan agama ini. Allah berfirman yang artinya: “Kalian adalah sebaik-baik umat, yang dikeluarkan (dikerahkan) untuk seluruh umat manusia, (kalian) mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran (da’wah), dan kalian beriman kepada Allah..” (QS Ali Imran 110)

Maka layaknya tim Squadron terbaik, sebelum bertindak banyak, selayaknya lah kita mulai dari cara berfikir yang terbaik. Adakah cara berfikir yang lebih baik daripada cara berfikir Nabi saw? Yakni cara berfikir yang bisa mendatangkan hidayah (petunjuk) kepada orang lain. Kemudian barulah disampaikan secara lembut dan hikmah perkara pentingnya agama, inilah perkataan yang terbaik!! Allah berfirman: “adakah perkataan yang lebih baik dari pada (perkataan) orang yang mengajak (orang lain) kepada Allah..??” (Quran)

Semoga Allah jadikan kita sebagai umat terbaik, yang hanya memikirkan yang baik-baik, berkata yang baik-baik, bertindak yang baik-baik, dan selalu berkumpul bersama orang dan jamaah yang baik-baik!! Janganlah kita menganggap terbaik, sebelum kita mau bersusah-payah untuk memikirkan kebahagiaan orang lain, yakni dalam ketaatan bersama kepada Allah. Wallahu a’lam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: