Oleh: Azan bin Noordien | April 8, 2010

Habib Umar bin Hafidz: Sikap Salafussalih terhadap Pemerintahan yang Sah?


Kita juga perlu memperhatikan bagaimana metode para salafussalih dalam bermu’amalah. Kita ambil contoh, umpamanya saat mereka berinteraksi dengan para pejabat pemerintah. Apakah mereka para salaf yang berupaya keluar menentang pemerintahan resmi? Tidak kita temukan upaya pemberontakan dari mereka!

Apakah Sayyiduna Zainal ‘Abidin bin Husain menentang pemerintahan pada masanya? Tidak ditemukan adanya upaya penentangan dari beliau!

Hasan Al Bashri? Tidak pula hal serupa terjadi pada Imam Hasan Al Bashri! Muhammad Al Baqir bin Ali, apakah ia menentang pemerintahan? Tidak pernah tercatat beliau menentang pemerintahan di masanya!

Ajiib..kalau begitu baiklah, siapa lagi setelah mereka?Diantaranya Sayyiduna Sa’id bin Musayib dari kalangan tabi’in. Siapa lagi selanjutnya setelah mereka dari kalangan tabi’ut tabi’in?Misal, Sayyidunal Imam Abu Hanifah, Sayyiduna Malik. Mereka tidak menentang pemerintahan! Setelah mereka ada Imam Syafe’i, Imam Ahmad bin Hambal. Tidak ada catatan bahwa mereka menentang pemerintahan yang sah!

Apakah pemerintahan yang sah pada masa mereka dalam setiap tindakan dan kebijakan hukum mereka memang betul-betul berpegang dan menerapkan Al Quran dan sunnah?? Pada masa itu ada pembunuhan, ada tindakan kedzaliman, banyak tindakan yang menyimpang dari syari’at walaupun juga ada hukum syari’at yang ditegakkan. 

Baik, tapi apakah ada dari kalangan salaf yang kemudian mengekor kepada pemerintah dan tercatat sebagai loyalis pemerintah? Hal ini tidak mungkin. Ali Zainal ‘Abidin tidak bergabung dalam pemerintahan dan tidak pula mengekor kepada pihak penguasa!

Mereka mengambil sikap untuk tidak memberontak dan pada saat yang sama mereka tidak pula menyerahkan ilmu agama diatur oleh pemerintah. Ilmu mereka hanya mengekor kepada isnad mereka yang bersambung kepada Rosulullah saw. Merekalah sesungguhnya pemilik khilafah batin! Khalifah Rosulullah dalam bathin dalam ilmu beliau.

Sementara para pejabat tersebut, mereka meraih khilafah dhohir dalam wilayah hukum. Jika mereka menjalankna dengan baik, mereka akan selamat , dan sebaliknya jika mereka berbuat zalim mereka akan celaka. Namun para salaf, mereka meraih khilafah bathin dan menunaikan tugasnya dengan baik.

Baik. Apakah mereka tidak optimal memberikan nasehat kepda para penguasa/pejabat, jika peluang itu ada? Tidak! Tidak! Mereka secara optimal memberikan nasehat. Apakah mereka para salafa itu jika berpapasan dengan pejabat lalu memprovokasi mereka dengan cacian dan hinaan? Tidak! Mereka tidak pernah melakukan itu.

Kalau begitu mereka telah mengambil jalan tengah (moderat). Zaman sekarang, ada saja orang yang mempertanyakan, apakah politik bagian dari agama atau bukan? Apakah kita erlu berpolitik atau tidak? Mari-mari, politik macam apa yang ingin anda terapkan??

Anda betul-betul ingin menasehati para pejabat tanpa menjadikan agama dan ilmu mengekor kepadanya? Ini satu hal yang baik dan merupakan jalan hidup para shahabat, tabi’in, dan para salafussalih.

Anda ingin menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar di wilayah hukum pemerintahan tanpa ada unsur Mudahanah (Berbasa basi) dalam urusan agama. Ini satu hal yang baik dan saling bahu membahu dengan mereka dalam hal ini. Tapi jika dalam berpolitik anda katakan pada pejabat yang mengeluarkan kebijakan maksiyat bahwa itu benar. Ini bukan bagian dari agama, ini bukan politik yang bermuarakan agama.

Engkau ingin menjadikan ilmu yang merupakan manhaj Allah mengekor pada partai politik atau pemerintahan?? Tidak! Tidak boleh mengekor! Agama Allah posisinya di atas pejabat, rakyat, pebisnis, dan diatas semuanya. Kepala kita semuanya tunduk kepada agama Allah. Tidak layak ilmu dijadikan alat untuk memenuhi ambisi pribadi seseorang.

Kalau begitu permasalahannya jelas dan tidak samar. Kita punya konsep yang tegas dan proporsional (mu’tadil). Adapun permasalahan yang mencuat selanjutnya, mulai dari isu kredibilitas ulama, saling mengkafirkan dengan mengeluarkan fatwa, mengangkat isu gender, HAM, dan emansipasi wanita. Innalillahi…musibah semacam apa ini?

Kita sudah faham betul urusan2 semacam ini. Jika mereka memang ingin tahu, kita akan berikan pemahaman kepada mereka, karena kita punya konsep dari Allah yang akan menyelesaikan semua permasalahan ini.

Kita tidak akan tinggal diam untuk menjelaskan sejelas-jelasnya dalam rangka menyelamatkan umat sekitar kita, tapi bukan berarti pula kita kemudian memusatkan perhatian kita hanya untuk meresponnya siang dan malam namun merupakan tugas pokok dan utama kita, yaitu menyelenggarakan majelis dzikir dan pembinaan jiwa bagi kader-kader unggulan kita, memberikan perhatian yang cukup terhadap keluarga kita, membaca Al Quran dan tahajjud di maam hari, hal-hal ini tidak boleh kita abaikan, hanya karena kita sibuk merespon isu-isu hangat yang bermunculan: beruspa isu-isu, apakah org ini ulama atau bukan? Layak atau tidak layakkah, atau apakah ini bagian dari islam atau bukan?

Situasi inipun juga terjadi pada ulama yang pro-fir’aun, berkata orang-orang dari pengikut Fir’aun. Apakah engkau membiarkan Musa dan pengikutnya berbat kerusakan di negeri ini dan ia meninggalkanmu dan tuhanmu begitu saja? Tidak ada yang boleh meninggalkanmu! Ulama semuanya harus mematuhimu! Ulama seperti ulama yang pro fir’aun diceritakan oleh Allah dalam AL Quran. Tentunya respon kita harus seperti jawaban Nabi Musa. Allah berfirman: Mereka berkata; Sesungguhnya kita berkuasa penuh atas mereka (coba perhatikan pendapat ulama-ulama busuk ini, suara yang bermuara dari logika kezaliman…) Kita akan bunuh putra-putra mereka dan mebiarkan hidup wanita2nya. Bagaimana sikap dan respon kita? Tidak perlu panik! Berkata Musa: Mohonlah bantuan kepada Allah dan bersabarlah. Biarkan mereka sesumbar memamerkan kekuatan mereka, biarkan mereka katakan apa yang ingin mereka katakan. Tenang saja, karena engkau memiliki manhaj Rabbani. Apakah Fir’aun hari ini akan lebih perkasa daripada Allah? Bersabarlah! Biarlah, hari ini Allah jadikan ia menguasaimu. Tapi kapan saja Allah mau, Allah akan menyingkirkannya. Engkau harus bersama Allah. Berkata Musa pada kaumnya,; Mohonlah bantuan pada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi hanya milik Allah. Allah akan berikan pada siapa saja dari hamba-Nya yang Dia kehendaki, entah dia kafir atau muslim, orang baik atau orang bejat orang saleh atau orang jahat. Siapapun mungkin bisa berkuasa di muka bumi ini. Namun akhir bahagia tidak untuk semua orang. Namun akhir yang bahagia hanya khusus bagi mereka.

Kekuasaan di bumi bersifat umum, untuk siapa saja, bisa jadi untuk org shalih atau org jahat, org baik atau org yang bejat, muslim atau kafir, namun akhir yang bahagia tidak untuk semua orang, hanya khusus untuk orang yang bertaqwa.

Baik Nabi Musa; ada problem dalam hidup kami, kami selalu disakiti dan disiksa sebelum engkau datang dan setelah engkau datang. Berkata Nabi Musa: Tuhan kalian pasti akan mengalahkan musuh kalian dan menjadikan kalian sebagai khalifah di muka bumi ini, untuk kemudian melihat apa yang kalian lakukan. Apakah kalian menegakkan perintahnya atau tidak? Tugas utama kalian adalah menegakkan perintah Allah, dan kemudian tejadilah apa yang akan terjadi.

Allah akhirnya menenggelamkan Fir’aun dan selesailah era kediktatoran dan pembangkangannya. Allah menyebuntukan hal ini dalam surat Al Qamar. Allah menceritakan tentang kaum nabi Nuh, kaum ‘Aad kaumnya Nabi Hud, kaum Tsamud, kemudian Nabi Luth dan umatnya, dan juga menceritakan tentang Fir’aun. Allah menceritakan semuanya. Allah berfirman setelah menyebut yang terakhir tentang mereka , Dan sesungguhnya telah datang kaum Fir’aun ancaman-ancaman. Mereka mendustakan mu’jizat kami dan semuanya , lalu kami adzab mereka sebagai adzab dari Maha Perkasa lagi Maha Kuasa. (to be continued)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: