Oleh: Azan bin Noordien | Oktober 25, 2009

Habib Umar bin Hafidz: Konsentrasilah secara penuh pada upaya pembinaan jiwa..


Berikut adalah terjemahan dari Ceramah Habib Umar ketika kunjungan beliau ke Indonesia tahun 2008 dalam rangka multaqo’ ulama dan rangkaian silaturahim beliau di Indonesia ke beberapa pesantren/lembaga islam di negeri ini. Beliau tampak risau sekali dengan keadaan umat islam saat ini yang sudah ditipudaya oleh suasana dan keadaan dunia -yang memang disengaja diciptakan oleh musuh-musuh Allah- sehingga umat islam lupa dengan tugas utamanya. Penjelasan beliau berikut ini sangat perlu dicermati oleh setiap umat agar tercipta suatu pemahaman yang benar sesuai kesepakatan jumhur ulama dunia saat ini yang bersambung kepada generasi salafussalih. Selamat mencermati!

Sesungguhnya sudah merupakan ketentuan Allah di alam azali dan di lauhul mahfudz bahwa Dia yang telah membimbing kita untuk menerima tugas ini dan telah menetapkan melalui lisan Rosulullah sholallahu’alaihiwassalam dan para sholihin sesudahnya bahwa tugas ini merupakan hal yang sangat menggembirakan hati Rosulullah sholallahu’alaihiwassalam. Perkara tersebut tidak lain adalah: Jiwa semangat dan rasa tanggung terhadap da’wah, syari’at, dan umat beliau dengan berpegang teguh pada manhaj beliu yang datang dari Allah.

Dan tentunya yang patut juga dibincangkan dan difikirkan terkait dengan tugas ini adalah para ulama yang bertugas mengemban amanah ilmu syariat. Hari ini dengan nikmat Allah kita bisa berkumpul. Mudah-mudahan Allah membalas kebaikan Shohibul bait dengan sebaik-baiknya. Begitu pula membalas kebaikan pimpinan ulama Pattani dengan sebaik-baik balasan yang telah mempersiapkan dan menjelaskan kami tentang inti perjumpaan ini.

Islam sampai secara murni dan jernih ke negeri ini berkat jasa besar para keturunan Rosulullah sholallahu’alaihiwassalam yang mana mereka menyerap pemahaman terhadap Al Quran dan Sunnah daripara pembesar ulama secara berantai dari generasi ke generasi sebelumnya.

Yang sholeh menerima dari yang shaleh sebelumnya. Ahli wara’ dan taqwa yang menerima dari ahli wara dan taqwa sebelumnya baik dari orang tua mereka sendiri atau para ulama lain di masanya. Rantaian emas yang bersambung kepada Rosulullah sholallahu’alaihiwassalam. Karena itu kita tidak temukan pada ajaran mereka adanya bid’ah, kesesatan (dholal), dan tidak juga ada penyimpangan, sikap ekstrim (ghuluw), sikap konservatif (ifrod), maupun kebablasan (tafrith).

Mereka membawa agama yang murni dan bersih, bermuara pada sumber yang asli. Dalam masalah furu’ (cabang) fiqh bersandar kepada mahdzab Imam Syafe’i, dalam masalah aqidah berpegang kepada aqidah Imam Abul Hasan Al Asy’ariy yang merupakan keturunan Sayyiduna Abu Musa Al Asy’ariy Ra. Beliau adalah salah seorang anggota delegasi dari Yaman yang menemui Rosulullah yaitu Sayyiduna Abu Musa Al Asy’ariy rodiallahu’anhu yang mana salah satu cucunya adalah Imam Abul Hasan Al Asy’ariy yang membentengi aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Semoga Allah meridhoi mereka semuanya.

Sebagaimana Allah telah menetapkan islam masuk dan tersebar luas di pelosok negeri, maka Allah juga telah menetapkan adanya “Pembaharuan” bagi umat dan islam. Dan sebagaimana islam juga masuk ke negeri ini melalui tangan mereka. Maka kita optimis dengan terjalinnya kembali hubungan ini umat islam kembali akan memperoleh pembaharuan yang mencerahkan.

Sesungguhnya Allah akan memperbaharui bagi umat ini urusan agamanya setiap kali mereka mengalami masa fatrah (kelesuan beragama). Maka kami katakan sesungguhnya problematika yang terjadi pada umat hari ini yakni terjadinya berbagai pengaruh negatif yang diarahkan dan dipropagandakan di tengah-tengah mereka, berpengaruh besar pada pola fikir mereka, aqidah, dan akhlaq mereka.

Beragam cara untuk mempengaruhi mereka yang menjadi beban fikiran kita dalam kasus ini adalah apa yang menimpa para ulama dan yang menghambat mereka untuk menyikapi apa yang terjadi pada umat saat ini, yaitu kurangnya perhatian dan sikap lalai dalam menjalankan tugas da’wah ilallah dan upaya menyelamatkan umat manusia.

Wawasan yang sempit saat berinteraksi dengan kelompok di luar mereka dan tidak adanya ikatan kerjasama (ta’awun) yang serius antara mereka (para ulama). Dan konsekuensi sebagian dari kelompok Ahlussunnah wal Jamaah yang hanya terfokus pada urusan yang tidak terlalu penting namun cukup banyak menyita perhatian sebagian orang yaitu terlalu jauh dalam menyikapi permasalahan yang dikondisikan untuk mereka. Sehingga semua orang bersikap dan bertindak dengan wawasan dan persepsinya masing-masing, dan mengabaikan upaya serius untuk memahami apa yang ada di balik permasalahan tersebut.

Pada kesempatan ini kami menyarankan agar kita kembali serius berkonsentrasi dengan tugas utama kita yang dibebankan oleh Allah dan RosulNya. Maksudnya ada arahan dari Allah dan RosulNya yang harus segera kita kerjakan. Setiap kali kita menunda dan mengabaikan tugas tersebut, maka kita akan dikacaukan oleh kesibukan yang disengaja direkayasa oleh para perusak bumi ini (musuh-musuh Allah). Para perusak bumi ini selalu memprovokasi dengan problem yang muncul silih berganti. Terkadang mereka mengeruhkan suasana dengan isu moral, terkdang juga dengan isu aqidah dan sebagainya. Semua orang termasuk umat islam seolah tersentak dan ikut-ikutan sibuk menyikapi.

Ketika satu isu diangkat, langsung reaksi bermunculan. Respon bermunculan dalam bentuk mu’tamar, diskusi publik dan sebagainya. Namun tidak membuahkan solusi yang berarti ataupun sikap yang serius untuk menindaklanjutinya. Lalu bermunculan kembali masalah-masalah yang baru, lalu mereka mulai lupa dengan isu yang pertama, padahal mereka sudah bermuktamar dan membukukan sikap tapi tidak menuntaskan masalahnya. Lalu muncul lagi isu kedua, segera mereka respon dengan muktamar juga pernyataan di berbagai media massa. Tidak lama kemudian, merebak isu ketiga yang mengalihkan perhatian mereka. Mereka tersekat diam, seolah isu-isu sebelumnya tidak pernah muncul. Mereka disibukkan dengan isu yang ketiga.  Akhirnya kita terjebak pada kesibukan yang direkayasa oleh musuh-musuh Allah. Ini tidak lain merupakan konsekuensi logis yang harus kita terimakarena kuranya perhatian kita pada tugas yang Allah RasulNya limpahkan kepada kita.

Topik yang ingin kami kemukakan disini tidak lain adalah: menghidupkan kembali semangat dan perhatian kita terhadap tugas-tugas yang allah dan rasul-nya limpahkan kepada kita dengan hal-hal yang bisa mengantisipasi masalah-masalah tersebut dan penjelasan bagaimana semestinya kita bersikap saat masalah tersebut merebak ke permukaan.

(tugas tersebut adalah): Konsentrasi penuh pada upaya pembinaan jiwa dengan cara mensucikannya, yang merupakan barometer terjadinya berbagai perubahan pada umat manusia yang ditentukan oleh Al Quran.

Allah berfirman: Innallaha laa yu ghaiyruma bi qaumin, hatta yughaiyiruma bi anfusihim. “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah sendiri yang melakukan perubahan”

(Tafsirnya): “Tidak ada satu sarana yang bisa merubah jiwa manusia kecuali dengan TAZKIYATUNNUFUS, yang secara langsung diserap dari Sang Nabi Sholallahu’alaihiwassalam yang kemudian terus berantai kepada kita umat islam.

Metode ini dibawa oleh kaum sholihin dari kalangan umat islam, yang kemudian mereka dikenal sebagai kelompok Sufi. Kelompok yang berkonsentrasi dalam pembinaan jiwa dan penyuciannya ini dikenal dengan kaum sufi yang periodenya dimulai setelah berlalunya abad pertama. Nilai-nilai pembinaan jiwa ini memang dulunya ada pada masa shahabat, begitu juga pada generasi pertama kalangan tabi’in. Sampai akhirnya muncullah tren ‘Cinta Dunia’ dan kekuasaan angkara murka dan generasi selanjutnya semakin jauh dari periode kenabian.

Yang membuat mereka perlu para ulama’ berkonsentrasi dalam urusan tazkiyah ini. Maka muncullah kelomok Sufi dan Tasawuf yang secara konsisten melestarikan nilai-nilai ini.Yang melalui jasa mereka, Da’wah Islam tersebar ke berbagai penjuru dunia dan terealisasinya penegakkan JIhad fii sabilillah yang sesungguhnya. Tidaklah kita baca sejarah islam yang masuk ke dalam satu negeri, ataupun tegak pelandasan jihad menghdapi para pembangkang dari pasukan perang kafir terkecuali gerakan ini pasti dipimpin oleh para tokoh besar tasawuf dan tazkiyah. Ini semua ada dalam sepanjang sejarah islam semuanya.

Kita tidak akan temukan satu negeri yang dimasuki islam secara utuh tanpa peran para tokoh tasawuf, tidak ada tanpa para ahli sufi, pasti ada peran mereka. tidak mungkin kita temukan gerakan jihad sepanjang sejarah islam tanpa peran tokoh tasawuf.

Pasti ada para tokoh tasawuf yang berperan besar semenjak abad pertama dan hal tersebut terus berkelanjutan. Begitu pula tokoh pembawa kemenangan setelah periode para shahabat yang juga para pemuka ahli tazkiyah. Adapun para sahabat, tazkiyah mereka langsung diserap dari sumbernya. Merekalah para Sufi sejati, pemimpin para sufi yang tokoh-tokohnya rodhiallahu’anhum.

Adapun orangorang setelah mereka, cermatilah peristiwa-peristiwa besar yang terjadi setelahnya. Tersebarnya islam ke arah timur di perbatasan wilayah China yang juga sampai ke wilayah bagian Russia pada masa sahabat. Setelah masa mereka meluaslah wilayah kekuasaan islam hingga masuk ke nenegeri China dan skitarnya. Para panglima-panglima besarnya adalah para pemuka tasawuf dengan berbagai aliran dan guru-guru besarnya. Merekalah yang keluar berjihad di jalan Allah.

(contoh lainnya) Diraih kemenangan Baitul Maqdis melalui tangan Sayyidina Umar bin Khattob. Kemudian datanglah pasukan Salib yang merampas Baitul Maqdis. Semenjak itu baitul maqdis tidak bisa diambil alih oleh umat islam kecuali melalui peran ahli sufi. Tampillah Shalahuddin AL Ayyubi. Seorang tokoh thariqah tasawuf . Ia seorang penggagas Maulid dan ia juga aktivis majelismajelis dzikir yang banyak tersentuh oleh kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazaliy. Beliau terbina jiwanya melalui kitab tersebut dan memimpin umat islam dengan kekuatan imannya dengan ketaqwaannya, kebeningan jiwanya, kebersihan hatinya. Maka, beliau tampil membebaskan Baitul Maqdis.

Hari ini orang-orang menggembar-gemborkan: “Bebaskan Baitul Maqdis, bebaskan Baitul Maqdis!!”. Padahal tidak ada cara untuk membebaskannya melainkan dengan cara pertama. Yaitu manhaj Umar bin Khottob dan Shalahuddin Al Ayyubi, yag meupakan intisari dari ajaran tazkiyah/pembinaan jiwa oleh Rosulullah sholallahu’alaihiwassalam. Hal inilah yang memerdekakan Baitul Maqdis, selain ini tidak bisa.

Sibuk mereka membuat oranganisasi, pernyataan politik maupun kongres. Tetapi Baitul Maqdis tetap belum bisa dibebaskan, sampai kapanpun!Kecuali nanti melalui peran kelompok inilah! Dan dengan metode inilah (tazkiyah/tasawuf).

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum selama mereka belum merubahnya sendiri!”

Jika para pemuda kita di Palestina tidak menjalankan shalat. Pemuda islam kita di Palestina tidak menunaikan puasa. Remaja-remaja putri kita disana juga berpakaian seronok yang mengumbar aurat. Sementara itu kita berkata: Bebaskan Palestina! bebaskan Palestina!! Namun, apa yang terjadi?

Pada saat ini kaum kuffar memerangi kaum muslimin disana dan melakukan politik adu domba, hingga umat islam saling berperang satu sama lain. Apa sebenarnya penyebab semua ini?

Pengabaian upaya “Tazkiyatunnufus” (pembinaan jiwa) di kalangan umat islam mengakibatkan munculnya masalah-masalah besar yang menghantam mereka. Dan yang paling berperan untuk melakukan upaya ini (tazkiyah) tidak lain adalah tugas utama dari Allah untuk kita. (beliau mengutip beberapa ayat Quran dan hadits)

“Sungguh beruntung mereka yang telah mensucikan jiwanya, dan merugi mereka yang menodainya”

“Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan dirinya, menyebut nama Tuhannya dan menunaikan shalat”

“Musuhmu yang paling berbahaya adalah nafsumu yang ada pada dirimu sendiri”

“dan mengapa kamu ditimpa musibah, padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuhmu, kamu berkata: darimana datangnya ini? Katakanlah: itu dari dirimu sendiri”

Tugas yang Allah berikan kepada kita, kita tidak bersikap serius menjalankannya. Kita ingin melakukan perubahan tanpa memperbaiki jiwa kita. Sementara Allah, tidak seperti ini dalam menetapkan aturannya di alam semesta. Aturannya adalah: Perubahan akan terjadi jika ada upaya perbaikan pada jiwa. Karena itu, jerih payah yang dilakukan umat ini tidak akan berujung pada solusi. karena mereka tidak masuk melalui pintu yang sudah dibukakan oleh Allah untuk mereka.

Untuk itu pula kita dapati lembaga-lembaga pendidikan umat islam sepanjang sejarah sangat perhatian terhadap karya-karya besar Imam Abu Hamid Al Ghazaliy. Kemudian juga kitab-kitab Imam Abdul Wahab As Sya’roni. Begitu pula kitab-kitab Imam Abdullah bin Alwi Al Haddad. Begitu pula kitab-kitab ulama seperti mereka.

Keberadaan kitab-kitab tersebut yang diajarkan di tengah-tengah umat sangat berpengaruh pada pembinaan jiwa. Dan mampu mempersiapkan mereka untuk menjalin hubungan yang kuat dengan Allah yang Maha Suci. Bahkan, mempersiapkan mereka untuk masuk dalam area suci bersama kaum Muqarrobin.

Hal inilah yang kemudian membuahkan pengaruh kuat dalam realita kehidupan masyarakat. Hingga akhirnya para praktisi politik, ekonom, dan pebisnis ‘menyegani’ mereka! Mereka mempunyai pengaruh besar terhadap semuanya! Mereka mempunyai pengaruh besar terhadap semuanya!

Dan pengaruh mereka ini tidak lain adalah sunnatullah yang sudah ditetapkan oleh Allah! Ini tidak lain merupakan ‘kharisma’ shiddiq (kebenaran) dan kharisma seorang yang bertaqwa. Kharisma hubungan mereka dengan Allah yang menancap ke hati setiap jiwa! Sehingga semuanya menyegani dan menghargai mereka.

Karena itu kita harus kembali berkonsentrasi kepada tugas yang Allah dan RosulNya limpahkan kepada kita. Dan juga mengembalikan porsi tazkiyah/pembinaan jiwa yang memadai di tengah-tengah umat dan lembaga pendidikan islam khususnya. Sehingga tidak menjadi sebatas simbol, istilah atau sekedar membaca kitabnya saja secara teori. Akan tetapi, dengan hubungan kita yang kuat kepada Ahli tazkiyah/tasawuf, yang mengalir pengaruhnya dari mereka kepada kita dan dari kita kepada murid-murid kita. Bukankah tadi kita sudah menyimak ayat ini, Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang beriman jika disebut nama Allah, tergetar hatinya. Jika diperdengarkan ayat Kami, bertambah imannya, dan hanya kepada Allah mereka berserah diri. Mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Dan berinfaq dari sebagian apa yang Kami berikan kepada mereka. Merekalah orang2 mukmin (beriman) yang sejati”

Berapa banyak individu yang hidup bersama kita di pesantren dan juga di rumah-rumah kita, tidak sedikitpun di hatinya rasa takut kepada Allah. Bahkan rasa tersebut tidak muncul saat berdzikir maupun saat membaca Al Quran. Ia mendengarkan Al Quran tanpa adanya tambahan iman.

Begitulah situasi yang terjadi dari hari ke hari dan malam ke malam!

Apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita? (yaitu) Kita telah mengabaikan tugas yang Allah berikan pada diri setiap kita. Baiklah. Pertanyaannya, Siapa yang bertanggungjawab untuk mengembalikan sifat2 agung tersebut kepada umat islam?? (beliau kembali membacakan ayat Quran). (beliau kembali membacakan ayat)

“jika disebut nama Allah bergetar hatinya. Jika diperdengarkan ayat Kami, bertambah imannya, dan hanya kepada Allah mereka berserah diri”

Zaman sekarang, ada sebagian orang islam jika disampaikan padanya tentang Allah dan kekuatan-Nya, mereka berkata: “ya.. itu benar jawabnya, tetapi sekarang abaikan saja dulu hal itu…karena sekarang kita hidup di zaman teknologi dan persenjataan canggih…dan seterusnya“. Seolah menurutnya ada kekuatan selain Allah yang bisa lebih mengungguli kekuatan Allah! Pupus sudah nilai: “Hanya kepada Allah mereka berserah diri..”. Lenyap sudah spirit ayat ini!

Berbeda denga orang dulu yang berprinsip: “Kami berjuang bukan mengandalkan jumlah pasukan maupun persenjataan! Yang kami andalkan hanyalah Allah! Hanya Allah!

Amirul Mukminin, Sayyiduna Umar pernah menulis surat perntah untuk pasukannya: “Sesungguhnya kalian mendapatkan kemenangan dan musuh kalian dapat dikalahkan tidak lain karena keta’atan kalian pada Allah dan maksiat kalian kepada Allah. Jika kalian berbuat ma’syiat kepada Allah, maka kalian sama dengan mereka. Dan yang akan menang adalah mereka yang mempunyai kekuatan materi. Yang memiliki kekuatan materi merekalah nanti yang menang. Namun, jika kalian patuh pada Allah dan mereka bermaksiat kepada Allah, maka kelompok ta’atlah pasti memperoleh kemenangan. Sesungguhnya kalian mendapatkan kemenangan dan musuh kalian dapat dikalahkan. Jika kalian berbuat ma’syiat pada Allah, maka kalian sama dengan mereka, tidak akan menang! Allah tidak akan membela kalian! Yang memiliki strategi handal, merekalah yang menang! Inilah sunnatullah yang sudah Allah tetapkan dalam kehidupan” ***

(bersambung ke bagian ke 2)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: