Oleh: Azan bin Noordien | September 26, 2009

Kecewa dengan sang ikhwan?

ikh-one

Urusan hidayah adalah milik Allah. Kita tidak bisa memastikan siapa-siapa yang telah benar-benar mendapat hidayah dari Allah. Bagi yang telah terjun di medan dakwah sekalipun, kita tetap tidak bisa mengatakan bahwa mereka benar-benar selalu dalam penjagaan daripada hidayah Allah yang sejati. Menjadi seorang ikhwan aktivis dakwah bukan berarti telah menjadi hamba Allah yang taqwa dan ikhlas.

Terlibat dalam urusan syi’arnya agama Allah bila tidak dilandasi oleh keikhlasan beramal semata-mata hanya untuk Allah, justru akan membawa kepada adzab. Apapun agenda dalam dakwah wajib hukumnya untuk takut dulu kepada Allah, dan kemudian berusaha memurnikan niat hanya untuk Allah semata. Maka, seorang da’i yang sejati akan bergerak dalam koridor kehati-hatian dalam beramal (wara’). Nah, sikap wara’ mustahil bisa diperoleh jika disitu masih terdapat ‘dunia’. Apakah itu harta, jabatan, wanita (mungkin dalam hal ini akhwat ya…). 

Pernah seorang da’i kondang nasional ditanya mengapa ia tidak lagi muncul di acara TV dan mengisi tabligh-tabligh akbar. Dengan penuh rendah hati beliau menjawab: ”Saya ingin belajar untuk mendengarkan, selama ini saya terlalu banyak menyampaikan. Saya khawatir muncul sikap sombong  dalam diri saya…”

Kemudian, seorang kiyai yang juga familiar di tanah air juga ditanya mengapa beliau sudah jarang sekali mengisi pengajian di TV. Dengan tenang beliau menjawab: “Saya ingin belajar ikhlas. Dan saya ingin mengajak mustami’ (pendengar) saya untuk mengaji hanya semata-mata karena Allah bukan karena figur saya.” Subhanallah! Sikap beliau-beliau ini adalah cerminan dari sikap wara’ dan takut kepada Allah.

Sekali lagi, sikap wara’ mustahil bisa diperoleh jika disitu masih terdapat ‘dunia’ dan ‘dunia’. Apakah itu harta, jabatan, maupaun karena lawan jenis.

Seorang ikhwan yang saya kenal juga ditanya perihal kenapa ia kerap kali enggan untuk menjadi moderator atau MC dalam berbagai acara di kampus. Dengan singkat beliau menjawab: : ”Ane belum bisa ikhlas tampil di depan para akhwat, ntar ane bisa salah amal..”. Padahal yang saya tahu beliau adalah orang yang aktif sekali berdakwah.

Sebaliknya, saya terkadang kecewa dengan beberapa kenalan daripada teman-teman ikhwan. Jika dilihat dari kulit luar, maka tak ada yanga ragu bahwa ia adalah juru dakwah tulen. Gaya bahasanya ikhwah banget, belum tampilan dan performanya dalam syuro. Tetapi ketika dilihat amalan yaumiah beliau di kosan sangat amburadul. Tidak beda dengan orang-orang kebanyakan.

Saya juga banyak mendapat kaduan daripada kaum ummahat –yakni mantan akhwat- yang kecewa dengan suaminya -yakni ikhwan yang dipilihnya dulu- tentang amalan harian di rumah tangga mereka. Tidak sedikit ummahat yang menangis ketika membangunkan “sang ikhwan” suaminya untuk bertahajjud. Ujung-ujungnya, ummahat berada dalam nestapa. Kecewa…

Saya jadi berfikir, bagaimana hal ini bisa terjadi? Apa dakwah yang dilakukan benar-benar ikhlas karena Allah? Kok dakwah malah melemahkan ‘amalan? Karena sejatinya  dakwah tidak untuk pamer muka, meraih harta, ataupun untuk mengejar wanita.

Sekali lagi, urusan hidayah adalah milik Allah. Kita tidak bisa memastikan siapa-siapa yang telah benar-benar mendapat hidayah dari Allah.

Saya jadi kagum dengan ulama’-ulama dan da’i-da’i yang tersembunyi (karena dilindungi Allah). Mereka sedikit bicara, tapi penuh tenaga dalam berdakwah. Mereka tidak repot dengan dunia. Malah dunia mereka jauhkan daripada dakwah. Bagi mereka dakwah adalah usaha untuk mengingatkan setiap insan untuk kehidupan selanjutnya.


Responses

  1. sedikit comment…
    saya kira banyak cara dalam ‘menyampaikan’. sehingga dakwah bisa menyentuh ke berbagai golongan.
    tentang kekecewaan anda, inilah fungsi kita bersaudara, bukan begitu? agar dapat saling menguatkan jika saudara sedang lemah. iman ga selalu mendaki bukan,meski itu bukan apologi.
    lalu tentang umahat yang kecewa dengan suaminya, memang menikah itu 1/2 agama kan, jadi gampangnya, sekarang kita sedang menjalankan separuh, dan beratnya yang separuh akan ditanggung saat menikah. so, its not easy i think. makanya seorang umahat pernah bilang kalau mengingat menikah bukan sunah dan tujuan mulia ingin membangun peradaban, beliau tidak akan menikah.

    • ya…namanya juga blog mba. ini bukan artikel ceramah atau semacamnya. Kalau ada manfaat ya diambil, kalau banyak kurangnya…wajar.

      saya cuma berusaha menceritakan pengalaman2 hidup saya, namun karena saya lagi belajar2,saya selipkan pemahaman islamnya. jadi yg baca juga mengikuti alurdan tidak merasa diceramahi,syukran

  2. makasih banyak ilmu yang saya dapat..
    jadi bahan introspeksi diri, akan sebuah ke ikhlasan..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: