Oleh: Azan bin Noordien | Agustus 28, 2009

Pemuda, Cinta dan Akhir Zaman…

muslims

Sudah menjadi fitrah manusia untuk mendapatkan sesutu yang menyenangkan. Tidak ada manusia yang ingin susah. Setiap manusia yang normal selalu merasa butuh akan kehadiran cinta. Karena hanya cintalah sumber segala kebahagiaan itu berasal. Bahkan pekerjaan ringan pun akan terasa ringan bila disana ada cinta. Saya kali ini berbicara cinta sesama insan manusia. Apalagi masa-masa bujangan seperti ini, nampaknya berbicara akan cinta adalah sebuah kebutuhan tersendiri yang harus dipenuhi. ^-^

Banyak dialog yang saya lakoni -baik secara spontan maupun dengan kesengajaan- yang membahas mengenai percintaan anak manusia. Kebetulan saya banyak bergaul dengan anak-anak dari pesantrenan dan aktivis-aktivis islam. Juga dengan anak-anak remaja pada umumnya, terutama mahasiswa.

Pertanyaan semacam “kapan nikah?” sudah menjadi candaan sehari-hari di kalangan ikhwah. Apalagi bagi mereka yang sudah tingkat akhir, selalu ada muncul reaksi-reaksi yang bermacam-macam. Ada sebagian yang begitu bersemangat, ada pula yang tampak gelisah dan apatis. Tidak hanya ikhwan, ternyata terkadang akhwat lebih agresif. Tidak jarang saya menemukan pertanyataan langsung -di facebook, friendster, tulisan, dsb- dari para akhwats tentang keinginan mereka untuk segera dilamar oleh seorang ikhwan idaman. Padahal, jika ditelusuri betul (pernah ada pengalaman saya juga^-^), ternyata mereka yang kelihatan sudah begitu siap, ternyata sama sekali menolak ketika ditawarkan. Memang,  saya terkadang tidak mengerti jalan pemikiran wanita…. huf

Menjadi catatan penting, bahwa disana, tampak sebuah gejolak besar dari darah muda yang terasa mengalir deras hingga terkadang tidak dapat dibendung lagi dengan sekedar basa-basi. Berbicara masalah pasangan hidup memang menakjubkan dan terkadang karakter seseorang bisa dipertanyaan sesudahnya.

Saya juga banyak mendapat curhat dari adik-adik mahasiswa baru. Saya sebenarnya tidak heran, cuma merasa lebih teryakinkan dengan fakta yang ada di depan mata, bahwa kebutuhan akan hadirnya seorang pasangan hidup adalah mutlak dan menjadi sunnatullah bagi setiap manusia. Lalu akal logika saya muncul, apa yang harus dilakukan anak mahasiswa baru yang sudah memikirkan sebuah pernikahan??

Saya tentu membicarakan pernikahan, karena dalam benak saya tidak ada percintaan kecuali setelah menikah, dan saya berada di suasana islam yang baik. Tidak mungkin mereka yang menjaga adab kepada non mahrom akan bertindak di luar perintah agama -seperti pacaran- hanya karena memenuhi tuntutan biologis dan mental??

Untuk masalah yang satu ini sebenarnya saya juga merasa menggigit lidah dengan gigi sendiri. Begitu polosnya mereka mengadukan permasalahan mereka kepada saya yang dhoif ini. Saya jadi teringat ketika awal-awal kuliah dulu, saya juga berniat mengadukan masalah yang sama kepada ustadz saya. Namun, sampai saat ini lidah saya merasa kelu, dan sungguh saya merasa malu bila bicara nikah. Hmm…

Masalah memang selalu muncul bila kita hendak menginginkan sesuatu. Apalagi itu terkait sesuatu yang besar seperti nikah ini. Masalah klasik seperti penghasilan yang belum ada, orang tua yang tidak mengizinkan, beban studi yang masih panjang, dsb tiba-tiba berubah menjadi musuh-musuh ganas yang siap menghancurkan harapan seorang anak muda yang ‘haus cinta’.

Seakan mereka tertawa mengejek apa daya si pemuda. Pola sosial dan pemahaman agama umat saat ini memang jauh dari ideal apa yang dikehendaki islam – yang otomatis akan berdampak pada umat yang menjalankannya. Saya fikir, beginilah tantangan pemuda akhir zaman. Sungguh unik dan berat. Mulai dari pergaulan yang didominasi gaya hedon, pornografi, internet, dll. Semuanya seolah menjadi teman padahal semua itu siap menjerumuskan.

Memang benar kata Syaikh Nuruddin, “Untuk menjadi waliyullah di zaman ini jauh lebih mudah dibandingkan zaman dulu”. Memang benar!! Godaan duniawi juga selalu siap menggerogoti siapa saja yang melirik kepadanya! Kalau di zaman dulu, menjadi shaleh sangat gampang karena belum banyak faktor dunianya. Kalau zaman sekarang seperti yang kita ketahui bersama, sangatlah tidak mudah untuk melewatinya.

Kalau zaman dahulu, mungkin seseorang baru diangkat menjadi waliyullah kalau memenuhi standar ibadah yang sangat tinggi. Namun berbeda dengan zaman sekarang, pemuda yang shalat fardhu lima kali tepat waktu di masjid dengan memakai pakaian rapi saja mungkin sudah bisa dianggap waliyullah. Begitulah kira-kita analoginya.

Seharusnya kita harus banyak-banyak menangis dan beristighfar kepada Allah. Kondisi zaman kini sudah sangat jauh dari harga tiket masuk surga. Kondisi zaman saat ini seolah-olah hanya jembatan untuk menghantarkan setiap orang masuk ke dalam neraka!

Begitulah, kini, sesuatu yang haram seolah halal dan mudah didapatkan. Dan sesuatu yang halal -seperti sebuah pernikahan untuk seorang pemuda- menjadi sesuatu yang sangat mahal dan sukar. Hasbunallah wa ni’mal wakiil…


Responses

  1. ketika membaca baris demi baris tulisan diatas jelas sekali diuraikan tentang pergaulan pemuda/di jaman sekarang tidak terkendali dan itupun tidak bisa kita pungkiri seperti itulah keadaannya pada berbagai daerah yang pernah saya tempati.

    namun yang disayangkan pendidik maupun pengajar agama Islam di sini tidaklah begitu serius dalam mengemban tugasnya, saya menilai banyak ustadz “karbitan” yang menonjol dengan gaya modernisasinya cuma untuk komersial belaka (agama dijual), akibatnya apa?, ilmu agama Islam perlahan-lahan habis di muka bumi ini, coba saja rasakan sekarang,!!.

    untuk itu seyogyanya para ustadz yang benar-benar mengetahui Ilmu agama, memberikan ilmunya, mendidik dan mengajar, namun jangan cuma di Pondok pesantren yang dikelolanya saja, di jalan, di kolong jembatan, kampung-kampung pedalaman banyak sekali yang membutuhkan pengajaran dan penerapan ilmu Syariah Islam dengan benar, jangan hanya karena uang mereka mau mengajar.

    karena Allah tidak pernah minta Uang SPP, Iuran Wajib dan sebagainya ketika memberikan Ilmu Nya kepada kita..

    • benar

  2. sepertinya penulis sudah sangat berpengalaman dan paham tentng ‘tawaran’ yang harus diterima dan ditolak. tipsnya bagaimana ya?🙂
    Jazakallah

    • tipsnya: musyawarah dan istikharah, musyawarah itu berembuk dgn org2 terpercaya dan istikharah itu bermusyarah dgn ALLAH lewat shalat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: