Oleh: Azan bin Noordien | Mei 13, 2009

Da’i dan mad’u yang terkecoh!

musuh nyata

Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh syaitan; Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu

Di dalam Al Quran, Allah seringkali menegaskan bahwa syaitan itu musuh yang nyata bagi umat manusia, dari dulu hingga hari kiamat. Karena syaitanlah Nabi Adam As dikeluarkan dari syurga. Karena Syaitanlah Nabi Nuh meninggalkan kaumnya ketika berdakwah. Karena dari syaitanlah Nabi Musa As dibuat repot ketika memimpin bani Israel. Karena Syaitanlah, Nabi Isa difitnah sebagai anak tuhan. Bahkan syaitan bisa berubah wujud menjadi siapapun yang ia kehendaki, kecuali Nabi Muhammad saw.

Begitu juga keadaan umat saat ini. Tidak hanya sekali, bahkan terlalu sering, kita semua telah ditipu oleh syaitan laknatullah. Karena memang demikian Iblis membuat perjanjian dengan Allah agar menyesatkan umat manusia. Berkata Iblis: “Ya Tuhanku, maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan. (Al Hijr:36)

Adapun Iblis dan Syaitan sama saja sifatnya, selalu menyesatkan. Ia menyesatkan manusia agar jauh dari tauhid yang benar. Ia menghendaki kita tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, sedangkan mereka sendiri beriman. Syaitan selalu saja merongrong hati kita lalai mengingat Allah, suka menuruti hawa nafsu dan malas beribadah. Bahkan, dalam kerja dakwah, syaitan akan lebih geram lagi, karena dakwah adalah amal istima’iah dan kerja amar ma’ruf nahi munkar.

Berkat kerja keras dan ‘dakwah’ syaitan-lah akhirnya umat hari ini semakin jauh dari hakikat islam. Kita semua sudah paham islam, sudah shalat mengaji dan sebagainya, namun kita belum lagi menikmati nikmatnya hati jika selalu bersama Allah, dan betapa lezatnya beramal sunnah. Adapun umat hari ini lebih suka beramal bid’ah dan syubhat, bahkan dikatakan bahwa mereka dalam rangka berdakwah! Na’udzubillah!

Langkah-langkah syaitan dalam terminologi dakwah sangat beragam, dan ada tingkatan-tingkatannya. Karena keterbatasan ilham dan ilmu, saya hanya bisa mengungkapkan beberapa saja. Afwan.

Pertama. Syaitan mengatakan bahwa dakwah itu tidaklah penting. Syaitan menyusupkan ke dalam hati-hati setiap muslim bahwa dakwah itu ada manfaatnya. Hanya buang-buang waktu saja. Akhirnya dakwah dianggap sesuatu yang sia-sia karena orang disekelilingnya adalah ahli maksiat dan mereka telah dikecoh syaitan. Padahal, seperti yang disepakati, bahwa dakwah adalah amal yang tertinggi. Dakwah adalah kerja kenabian dan khususnya bagi umat nabi Muhammad saw adalah kerja utama. Allah secara khusus berfirman dalam Al Quran:

Ali Imron,110, umat terbaik

Kamu adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk (seluruh) manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan (kalian) beriman kepada Allah.

Maka tidak heran, sejak zaman Rasulullah dan zaman salafussalih, banyak diutus rombongan-rombongan dakwah ke seluruh penjuru dunia. Dari Tanah Haramain terpancar hidayahtullah ke seluruh negeri. Maka, patutlah kita meniru usaha dakwah mereka. Penuh pengorbanan dan mujahadah.

Ke-dua. Syaitan mengatakan bahwa dakwah itu tidak pantas buatmu, dakwah itu buat orang alim ulama saja. Syaitan selalu menskreditkan orang awam dan mengatakan mereka tidak pantas terjun untuk berdakwah. Padahal jika kita baca sejarah para shahabat ra, tidak semua dari mereka yang alim. Bahkan ketika beberapa dari mereka ketika baru masuk islam, mereka langsung mendakwahkan islam. Intinya, dakwah tidak menuntut manfaat dari ilmu, tapi dakwah adalah wasilah agar allah memahamkan hakikat ilmu bagi kita. Banyak orang yang berilmu dan mereka berdakwah, namun justru ia menjadi asbab fitnah karena kesombongannya. Na’udzubillah.

Ke-tiga. Syaitan mengatakan bahwa dakwah itu bisa dikerjakan secara sambilan, tidak perlu berjamaah dan tidak perlu meluangkan waktu. Ini adalah godaan yang lebih tinggi setelah yang pertama dan kedua. Banyak orang yang menganggap dirinya sudah berdakwah, padahal sejatinya dia belum berdakwah. Dakwah tidak cukup dengan berceramah, membuat buku, membuat tulisan-tulisan. Syaitan menjadikan mereka berpuas diri, padahal sedikitpun mereka belum berkorban apa-apa untuk dakwah. Kita hari ini mengandalkan media-media dalam berdakwah, seperti TV, radio, majalah, web, termasuk perekonomian, politik dll. Tidak terlarang mengerjakan itu semua, namun jangan jadikan itu sebagai amalan dakwah jama’iah. Dakwah salafussalih tidak mengandalkan keduniaan, namun nasrullah dari Allah. Syaitan menjadikan amal dakwah itu terlihat begitu kompleks.

Di seluruh dunia saat ini, banyak harakah islamiyah yang telah berhasil disusupi oleh zionis. Setiap harakah yang bergerak dengan menagement syubhat dan keduniaan akan mudah disusupi oleh agen-agen Mosad. Akhirnya, kita berdakwah ibarat mementik api dalam sekam. Sekamnya terus ditambah, namun api dibawah semakin cepat membesar.

Ke-empat. Syaitan menjadikan sunnah itu berlepas diri dari dakwah, artinya dakwah itu tidak ada hubungan dengan amal sunnah. Sebenarnya tidak perlu adanya harakah islamiyah jikalau seluruh umat islam bersegera dalam sunnah. Namun sayangnya, kita sangat asing dengan sunnah baginda Rasulullah saw. Banyak yang beralasan karena dakwah, sunnah tidak apa ditinggalkan! Banyak dari kita yang telah melalangbuana dalam dunia dakwah, namun amalan sunnahnya justru semakin jauh. Jika terjadi seperti ini, pasti ada yang salah dalam fikroh dan manhaj dakwah yang dipakai.

Saat ini, aktivis islam lebih senang memakai atribut-atribut harakahnya. Kita lebih seneng memakai logo/lambang firqoh. Padahal Rasulullah saw menjadikan sunnah sebagai pembeda umat islam dengan kaum kuffar. Rasulullah memanjangkan jenggot, memakai imamah (sorban), bergamis dll. Pun Mahasiswa pergerakan lebih suka memakai jaket, baju partai, dll. Sungguh, ini keadaan yang telah menyimpang. Patut direnungkan.

Ke-lima. Syaitan memecah umat dengan perbedaan dalam fisi dan gerakan dakwah diantara antara kaum muda dan tua, kaum intelek dengan non-akademisi, orang ‘alim dengan orang awam. Pada akhirnya, dakwah tidak dilakukan secara berjamaah dan otomatis dakwah tidak bisa menyatukan umat islam. Adapun yang firqoh yang berjamaah, mereka hanya membawa segelintir macam orang saja. Singkatnya, kaum muda bergerak sendiri-sendiri, kaum tua bergerak sendiri, orang-orang  alim bergerak sendiri. Juga fiqh, jikalau ada gerakan islam yang ‘eksis’, mereka akan melebur dalam fiqih dan ushul fiqih yang sama, juga kebanyakan pergerakan bergerak karena faktor mahdzab yang sama.

Demikianlah sekelumit ’PR’ kita saat ini. Perlu instrospeksi betul dan perenungan. Syaitan tidak henti-hentinya ‘berdakwah’ dan memanipulasi keadaan dan suasana, hingga kita semua lalai dalam meningkatkan iman dan memperbaiki amal shalih kita. Jikalau fikroh kita sama dengan fikrohnya Rasulullah dan para sahabat, tentu jalan yang kita lalui akan terang. Namun, karena berbagai hal kita semua terkecoh akan makna dakwah. Mari sama-sama mengecoh syaitan dengan mengambil takaza dakwah! Wallahua’lam.


Responses

  1. mampir aja😀

    • mampir kemana?

  2. nice blog sobat.. boleh tukeran link? silahkan mampir dulu ke http://mynewland.co.nr mungkin bisa dipertimbangkan🙂 thx


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: