Oleh: Azan bin Noordien | April 28, 2009

Sudah benarkah fikrohmu?

Saya sangat sedih bila sudah membicarakan islam terkait firqoh (kelompok) dan fikroh (pemikiran). Apalagi melihat diantara kita sesama muslim yang gontok-gontokan. Seolah setiap kelompok merasa merekalah yang paling benar. Sebenarnya jika kita mau merenungi, inilah suatu indikasi atas prestasi zionis dalam memecah belah umat islam.

Kemarin, lagi-lagi saya dengar celetukan seorang teman dari aktivis tarbiyah, “ya…ane kurang enak aja kalo ngomong ma dia, karena berlainan fikroh!”. Ucapan seperti ini mengiris hati saya. Mana mungkin seseorang yg memperjuangkan islam berkata seperti itu, seolah temannya itu seseorang yang berlainan aqidah. Kadang, gap yang diciptakan oleh fikroh lebih besar ketimbang gap yang diciptakan karena perbedaan aqidah! Coba, ramah mana kita antara temen nonis dengan saudara yang berbeda harakah??

Sepertinya jika kita masih berfikir sempit dan menjunjung tinggi fikroh di atas segalanya, agaknya keislaman kitalah yang harus dipertanyakan. Bukankah islam mengajarkan akhlak yang kariim? Bukankah sesama mukmin itu bersaudara. Saya ingat sebuah hadits: Laa yukminuu ahadukum, hatta yuhibbu li akhihi maa yuhibbu li nafsihi. Tidak beriman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya (sesama muslim) layaknya ia mencintai dirinya sendiri. Dan Al Quran menyebutkan: Innalmukminunaikhwah, sesungguhnya (sesama) mukmin itu bersaudara. Pikirkanlah, apakah islam kita benar? Saya rasa, dua keterangan di atas sudah cukup untuk dijadikan bahan renungan.

Saya yakin, terjadinya gab yang disebabkan fikroh adalah karena ego atau ketidak pahaman akan hakikat dari islam. Aneh sekali, katanya kita memperjuangkan islam, tapi hakikat islam dan ukhuwah islamiyah saja kita lalai??

Jika kita benar-benar mempelajari akhlak rasulullah dan mengikuti sunnah-sunnah beliah secara utuh, menghindari syubhat, dan memiliki sifat itsar (mendahulukan kepentingan saudara sesama muslim), maka saya yakin umat ini akan bersatu padu! Rasulullah saw dan sunnah beliau adalah perekat umat. Hari ini umat terpecah belah karena sunnah-sunnah rasulullah SAW ditinggalkan. Kita lebih suka ber’amal syubhat daripada ber’amal sunnah. Kita lebih suka ngompol (ngomong politik), daripada bicara iman. Kita lebih suka memakai atribut-atribut fikroh (bendera, lambang yang jelas kontras perbedaanya), daripada memakai pakaian sunnah. Kita lebih suka melihat kejelekan orang lain, daripada mengoreksi iman dan meningkatkan ‘amal shaleh.

Jika fikroh seseorang itu sama dengan ‘fikroh’ Rosulullah saw yang haq, maka dimanapun ikhwah itu berada ia akan menjadi rahmat bagi lingkungannya. Ia akan menjadi perekat bagi saudara-saudaranya yang berbeda pendapat. Ia akan bergaul dengan siapa saja. Silaturrahimnya luas. Dan bagi ikhwah yang berfikroh seperti Rosulullah saw, ia akan menganggap semua muslim adalah saudara yang harus diperjuangkan darah dan kehormatannya, tanpa melihat dulu ‘apa’ fikroh dan harakahnya.

Bagaimana dengan kita? Kita baru bisa bicara kalo sesama fikroh, kita baru merasa ‘ada’ kalo di lingkungan fikroh yang sama . Iya khan? Jika ya, berarti ada yang salah dengan kepribadian muslim kita!

Saya mempunyai kenalan seorang ustadz. Beliau dikenal di semua kalangan, baik ikhwan, salafy, Hizb dll. Beliau dengan istiqomah mengisi ceramah dimana saja ia diminta. Ia selalu menebar senyum. Pergaulan beliau menjadi luas. Beliau pun disenangi dan disegani. Menurut saya, beliau ini adalah orang yang benar fikrohnya sebagaimana fikroh Rasulullah saw yang sayang kepada umatnya.


185914


Kita semua rindu islam bersatu. Kita semua ingin islam benar-benar wujud pada diri kita dan umat seluruh alam. Maka, mutlak bagi kita semua untuk kembali ke sunnah dan belajar mempraktekkan akhlak Rosulullah saw yang sempurna lagi mulia. Jangankan kepada saudara sesama mukmin, bahkan kepada orang-orang kafir dan munafik yang jelas-jelas selalu memerangi beliau, rasulullah saw tetap memberikan akhlak yang terbaik kapada mereka. Kita yang hina ini sebenarnya mau apa kalo mau ribut karena perbedaan-perbedaan?

Berikut ada hal-hal yang sebenarnya perlu diperhatikan dalam ber-ukhuwah islamiyah: Kita mesti menghindari dari membicarakan perkara status sosial, masalah khilafiyah, masalah politik praktis. Dan diantara kita sesama muslim hendaknya selalu saling ingat-mengingatkan dalam amar ma’ruf nahi mungkar, saling mendukung dalam beriman dan beramal shalih, dan saling bersinergilah dalam kebaikan dan taqwa. Jika, demikian insyaAllah akan jaya! Maka, ta’awanu ‘alal birri wattaqwa, wa laa ta’awanu ‘alal ismi wal ‘udwan. (azansite.wordpress.com)


Responses

  1. Ulasan yang sangat bagus.
    Mohon saran, apa yang perlu qta lakukan manakala perbincangan kita sudah menyangkut masalah aqidah. Sementara banyak saudara qta yang taqlidnya tinggi sekali.
    jazakumullah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: