Oleh: Azan bin Noordien | April 4, 2009

Metode Salafusshalih dalam Menuntut Ilmu

gurun2

Akhir-akhir ini banyak orang yang ribut masalah mahdzab, tak terkecuali di lingkungan saya. Saya heran mengapa ‘topik’ semacam ini kembali menyeruak. Padahla jika kita tilik, maka sebenarnya hal semacam inibukanlah masalah yg krusial dari zaman dulu-dulunya. Saya fikir ada baiknya saya mencoba -sedikit- berbagi ilmu, sebanarnya bagaimana sich terminologi belajar ilmu syar’i sesuai dengan Salaf As Shalih, dan hubungannya dengan mahdzab bagaimana.

Belajar ilmu syariah itu mulia. Man kharaja fi tolabil ‘ilmi, fahuwa fii sabililah, hatta yarji’. Barangsiapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka sama dengan keluar di jalan Allah, sampai ia kembali. Tentu banyak sekali hadits-hadits mngenai mulianya menuntut ilmu, namun tidak akan dibahas disini. (karena bukan kapasitas saya mensyarah hadits)

Sebenarnya saya kagum dengan seseorang yang begitu semangat belajar agama, apalagi di zaman seperti ini. Saat ini ilmu agama nyaris diacuhkan, sepertinya lebih berharga ilmu kedunian daripada ilmu islam yang mulia.

Namun, semangat dalam tolabil ‘ilmi saja tidak cukup. Ada hal-hal yang perlu dipahami agar semangat yang ada tidak mjd sia-sia atau malah menjadi bahaya. Byk org yang ‘alim ilmu agamanya, tapi akhlaknya jadi buruk. Suka menghina, mengkafirkan, menyalahkan orang lain, padahal orang lain itu adalah muslim juga. Byk orang yang hafal quran dan hadits-hadits, tapi karena salah niat sehingga ia menjadi orang yang sombong dan congkak.

Tentu kita semua tidak menginginkan hal-hal yang demikian bukan? Maka dari itu, perlu kita pahami uraian berikut ini.

Hal pertama ialah niat, niatkanlah untuk menjadikan ilmu sebagai wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah, niatkan sebagai ibadah, niatkan untuk menjadikan ilmu sebagai cara kita mengikuti kehidupan para sahabat, shalihin, shodiqin, tentunya jadikan tolabil ilmu sebagai media mengenal Rosulullah dan berusaha mengikuti sunnah2 beliau. Niatkan untuk menjadikan tolabil ilmi sbg kompetensi diri ketika berdakwah.

Kedua, cek apakah keilmuan kita bersanad kepada Rosulullah, dan salafusshalih? Apakah guru kita itu, keilmuannya shahih sampai kepada ulama-ulama mahdzab?

Bermahdzab adalah suatu cara mempelajari ilmu syar’i dengan mudah dan benar, mulai dari orang yang awam (muqollid) hingga orang yang ‘alim. Semua orang pasti bermahdzab kecuali ia berstatus ‘mujtahid mutlak’ (yakni para sahabat, dan ulama2 mahdzab itu sendiri).

Bahkan Imam Nawawi bermahdzab Syafe’i. Padahal sebenarnya beliau mampu untuk mendirikan mahdzab baru, tapi untuk menghormati mahdzab yang ada dan ingin umat ini tidak bingung dengan sudah adanya beberapa mahdzab beliau tidak membuat mahdzab baru dan hanya mempelajari mahdzab imam Syafe’i.


Cara belajar para shalafusshalih adalah talaqqi (berhadapan langsung dengan guru), tidak dengan metode filologi saja (mempelajari kitab secara mandiri). Jadi, ketika seorang guru mengajari muridnya, ia akan bahas kitab tersebut secara terperinci sesuai yang diajarkan oleh gurunya dulu. Setelah murid itu tamat mempelajari kitab tsb, maka kemudian ia berhak mengajari kepada muridnya nanti. Bisa kita lihat, hal membuat suatu rangkaian keilmuan yang shahih, bersambung hingga ke Sahabat dan para tabi’in yang ’alim.

Banyaknya perbedaan pendapat yang muncul belakangan ini, bahkan munculnya paham liberal, dikarenakan oleh metode belajar ilmu syar’i yang tidak benar (salah satunya dengan teknik Filologi), yang hanya mengandalkan Al Quran terjemahan, kitab hadits terjemahan, atau kitab-kitab terjemahan lainnya. Sehingga menimbulkan kerancuan pemikiran. Sehingga pada akhirnya muncullah oran-orang yang sok tahu dan sok berfatwa.

Ketika kita sudah mendapati seorang guru, kita tidak bisa langsung belajar begitu saja dengannya. Melainkan kita harus tahu sanad (sambungan) keilmuannya. Apakah sampai kepada generasi shalaffsussalih apa tidak? Kemudian kita mesti mengetahui apa mahdzabnya. Karena dari kecil, kita sebagai org indonesia bermahdzab syafe’i (ingat tata cara shalat ketika diajari kewaktu kecil?), maka kita harus mendapati guru yang bermahdzab syafe’i pula. Jangan sampai kita salah dalam hal ini. Masih beruntung kalau kita bertemu dengan mahdzab2 di luar syafe’i yang muktabar, misal mahdzab Maliki, Hanafi, dan Hambali. Namun, untuk mempelajari mahdzab di luar syafe’i itu, kita harus me’restart’ kembali semua fiqih ibadah kita. Itu membutuhkan waktu yang lama sekali. Wallahu a’lam. [azansite.wordpress.com]


Responses

  1. sy stuju dengan wacana ini memang betul menuntut ilmu harus sprti ini, tapi jangan smpai salah paham, metode filologi juga dianjurkan stelah kita belajar dr guru. Yaitu dengan cara mudzkarah dan muthala’ah. sebab kita tidak bisa hanya mengandalkan ketika ada guru tanpa kita lihat lagi kitab dan bukunya untuk dicermati dan dimengerti yang tidak tahu ditanyakan kpd guru. Bukannya ulama mengarang buku itu untuk pembelajaran umatnya?. salah jika kita hanya mengandalkan buku dan kitab saja tanpa ada guru. al-quran juga berbentuk filologi, dan kita semua secara tidak langsung sebenarnya belajar dengan metode filologi, tidak ada orang yg belajar al-quran tidak dg filologi. Wallahu a’lam.

  2. ya trimakasih atas apresiasinya. Memang benar, teknik filologi tetap diperlukan. Namun, kita mesti menekankan kepada saudara-saudara kita, agar menuntut ilmu dengan mengutamakan teknik muwajahah dan talaqqi, dibanding teknik filologi mandiri.

    Banyaknya beredar buku-buku agama, bisa memberikan bias yg buruk juga, terutama buka fiqih. semua orang sepertinya bisa menjadi mujtahid dan sudah fasih berdalih dgn hanya mengedepankan 1 atau 2 hadits saja. Padahal mereka jauh dari layak.
    Wallahua’lam

  3. Bismillah,
    Baca baca di blog ini.. dakwahnya salafus shalih.. barakallahufiik.

  4. metode bersyariah adalah sebuah pilihan. kita sesuaikan dengan dirikita apakah yang kira2 cocok dengan kita pada suatu metode yang untuk beribadah kpd Allah.misalnya kita sadar pabila kurang konsisten dngan keimanan kita maka kita pilih metode yang betul2 mengarahkan kita ke arahnya.. ada istilah islam abangan,islam ktp..karena keseharian kita tidak di lingkupi lingkungan yang islami..sehingga kita tidak terarah dan tdk pernah berfikir untuk ber islam secara kafah.
    Mungkin pendapat saya ini salah tolong di komentari..
    Terimakasih semoga Allah memberi petunjuk atas kita semua…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: