Oleh: Azan bin Noordien | Maret 14, 2009

Pudarnya Muruah Akhwat

akhwat1

Jilbab saja tidak cukup

Muruah adalah bahasa melayu artinya harga diri/kehormatan. Saya bisa katakan bahwa muruah adalah izzah yang harus dijaga. Adapun izzah perempuan dalam islam jelas sangat ditinggikan dan dimuliakan. Namun, terkadang kita terkecoh dengan makna izzah yang melekat pada diri seorang muslimah.

Okelah kalau saya bisa mengatakan bahwa izzah muslimah zaman sekarang –terutama yang awam- sudah hilang ditelan bumi. Namun, yang mau saya bahas dan kritik ialah izzahnya seorang akhwat.

Tulisan ini adalah bentuk kesedihan saya terhadap pemahaman Akhwat yang agaknya sudah dipertanyakan ketaqwaan dan kewara’annya, hingga yang tersisa hanya jilbab pembungkus badan. Hati di dalam pun patut dipertanyakan. Simak Kisah berikut:

Diliriknya jam di tangan kirinya, kemudian melangkah cepat ke sebuah mushala kecil di sudut kampus. Ternyata di sana sudah ada seorang ikhwan yang menunggu. Dengan nafas setengah terengah-engah, ia mencoba menenangkan diri dan berkata kepada si ikhwan”.

“Afwan, ana tadi ada syuro dadakan di LDK,..jadi agak telat” katanya ringkas sambil menundukkan pandangan.

“tidak apa-apa ukh,.” Ane juga baru datang” Ikhwan itu menyambut.

“Syukron” jawabnya lega.

“Yang lain apakah tidak hadir?” tanyanya keheranan.

“sepertinya tidak ada yang datang selain kita saja, ane tadi sudah cek, semuanya izin” jawab ikhwan mantap.

“jadi, bagaimana?” akhwat bertanya lagi.

“bagaimana kalau kita tetap adakan syuro, ini darurat dan amanah” usul ikhwan.

“Baiklah, apa agendanya..bla….bla….bla….” cerocos akhwat

Ya, begitulah. Siang itu mereka berdua berdiskusi panjang tentang ‘kiprah dakwah’ di kampus tercinta. Walau diselingi canda dan tawa. Mereka berijtihad bahwa itu tidak apa.

Keesokkan harinya, ikhwan dan akhwat kembali bertemu untuk bermusyawarah. Namun, kali ini tempat dan suasana yang agak berbeda. Yakni di Sekretariat BEM Kampus mereka. Wajar, mereka selain di Rohis, juga aktif di Kelembagaan lain. Alasannya karena amanah dakwah.

Semua anggota BEM dan struktur organisasinya terlihat hadir di ruangan 4 m x 3,5 m itu. Ruangan cukup pengap dan gelap walau sudah pakai philips. Disana terdapat satu unit komputer multimedia, kardus-kardus, air minum, dan segala peralatan keorganisasian yang lengkap, namun sayangnya tidak ada hijab antara laki-laki dan perempuan. Maklum, kampus ini bukan kampus islam, ini kampus sains sekuler.

Terlihat yang hadir kebanyakan adalah wanita berjilbab ‘gondrong’ dan beberapa laki-laki berjenggot tipis berdahi sedikit lecet. Nampaknya, mereka adalah ikhwan & akhwat. Hanya segelintir saya yang terlihat memakai baju agak ketat dan bercelana levis. Mungkin itu bukan ikhwan & akhwat. Pasti orang awam.

Musyarawah mingguan BEM pun dimulai. Ooopss, ada yang aneh ternyata!!

Owh, ternyata secara tiba-tiba memang ikhwan & akhwat berganti ‘mahdzab’. BNuktinya sudah tidak ada lagi hijab, tidak ada lagi ghadul bashar, semua lepas bebas, tercekik oleh setan yang ketawa melihat ‘gaya’ mereka yang baru.

Seminggu kemudian, pada agenda yang sama, ternyata tidak ada orang yang awam di dalam ruangan BEM itu. Semuanya dipastikan adalah Ikhwan dan akhwat. Waktu pun menggiring mereka untuk memulai musyawarah. Tapi lagi-lagi mereka keukeuh memakai gaya BEM yang konvensional daripada gaya syari’ah dalam bermu’asyaroh. Waduh, waduh…

***

Kisah di atas hanya segelintir dari embrio tarbiyah yang sedang tumbuh subur di kampus-kampus. Masih banyak hal-hal yang dipertanyakan secara syar’i mengenai tindakan yang dilakukan aktivis dakwah kampus (ADK).

Fokus kepada masalah kita. Kita harus benar-benar menyadari bahwa muruah akhwat telah dirajam dengan rentetetan batu-batu agenda harian, yang mereka fikir adalah dakwah dan amanah.

Itulah kenapa, bila seseorang tidak belajar islam secara benar menurut salafussalih dengan metode yang benar, akan mudah terjerumus dengan pemikiran (fikroh) dan harakah islamiyah, sedang mereka belum cukup dewasa menimbang-nimbang hakikat dari islam. Dengan alasan dakwah, semua dibabat habis. Mulai yang makruh hingga yang haram, serta dengan mudahnya mengambil ijtihad yang ringan.

Saya belum menceritakan bagaimana runtuhnya muruah Akhwat yang photo close-up nya dipajang di jalan-jalan sebagai caleg partai. Dan saya belum mengungkapkan bagaimana hilangnya muruah seorang akhwat ketika mereka ikut turun ke jalan/demonstrasi dengan alasan fii sabilillah. Faghfirlana ya Rabb…


Responses

  1. subhanallah. . .syukron taujihny ust…an merasa tersinggung skali dg artikel ust ini,..smoga ini bisa menjadi cambuk biar an bs mmperbaiki diri jd lebih baik lagi…sering2 bwt org tersinggung y ust,,,biar org2 pd sadar…jzklh..

    • Mmang, akhwat zaman sekarang saya kira sudah terlalu longgar dalam bersyariat.

  2. ada G’ yang langsung membhas Fiqh Wanita saja….

    • Sebenarnya saya belum berkompeten membahas masalah fiqih. Tapi, kalo kamu ada pertanyaan, insya Allah akan saya carikan jawabannya. Email saja: adzan.ikhwan@yahoo.com

  3. iya, realita dikampus rata2 memang seperti itu

  4. ada satu hal menarik yang saya baca di sini. antum memperhatikan SEMUA kejadian itu, hingga bisa bercerita sampai sedetil ini? atau ini hanya cerita rekaan? menarik sekali.
    lalu apakah ada yang sudah antum perbuat untuk mengingatkan mereka (jika kisah ini memang benar?). memperingatkan mereka langsung, atau tabayyun lebih dulu, itu saya rasa akan lebih berbekas ke hati mereka, untuk tidak diulangi di lain waktu.
    membaca postingan2 antum, kesan eksklusiv sangat saya rasakan. blog ini hanya untuk orang2 yang sudah mengerti, sehingga ketika membacanya langsung tersentuh dan say “yes” seketika. padahal muatan tulisan antum di sini banyak yang “bukan hanya untuk orang2 yang sudah mengerti”.
    antum bilang merasa kasihan dengan orang2 awam yang masih berpakaian ketat itu? lalu apa yang bisa kita lakukan? hanyakah berdiam diri (menahan di hati), atau sekadar menulis di blog yang pembacanya hanya dari kalangan terbatas ini? bahkan dengan bahasa yang sedikit sarkas ini, saya tidak yakin orang2 itu bakal say “yes”. karena semua butuh proses bukan?
    kita bisa mengajak dengan lembut, untuk mereka paham ancaman2 Allah. kita bisa berkata dengan lembut, untuk mengajak orang2 menuju perbaikan…begitu kan? ‘afwan.

    • Salam,

      Mohon maaf saya ingin menangapi comment anda di Blog saya.

      Mengenai masalah kandungan tulisan di blog saya, saya tidak mengerti yg dimaksud dengan org yg ‘sudah mengerti’ sept yg anda maksudkan.
      Setahu saya, tidak ada kebenaran yg harus ditutupi. jika itu benar, kita tinggal menyampaikan. Mengenai paham atau tidaknya itu tergantung individunya.
      Saya sudah berusaha utk menampilkan hal2 yg mudah dicerna utk org yg awam sekalipun. Bahasa yg saya gunakan sederana dan apa adanya.
      Terkadang memang ada hal2 yg tidak bisa dimengerti langsung, tetapi sejauh itu adalah benar maka saya bertanggung jawab mentablighkannya.

      Bahkan ada beberapa pstingan saya yg mengungkap kebenaran2 islam secara sains, yg saya rasa orang di luar islam pun bisa memahaminya. Jadi jelas blog ini bukan utk orang ‘yg sudah mengerti’ spt yg anda maksudkan.

      Kemudian,

      Cerita yg ungkapakan pada tulisan itu bukanlah rekaan tetapi fakta yg terjadi di lapang, bahkan ada yg lebih parah. Mengapa saya bisa mengetahui sedetil itu? karena saya pernah berkecimpung di pergerakan ikhwan. Banyak hal2 yg tidak sesuai dgn hati nurani saya. begitu byk yg peluang maksiat di gerakan2 PKS sehingga sulit utk menjaga kebersihan hati. afwan.

      Saya pun tlah berusaha menyampaikan secara langsung kpd tmn2 yg berlaku demikian. Tapi, saya fikir ini adalah gejala yag sudah terlalu membesar. Saya rasa, apapun yg sanggup saya lakukan utk mencegahnya, akan saya lakukan. termasuk dgn blog spt ini.

      Sebenarnya, blog ini juga hanyalah sebuah blog, jd bukanlah sebuah bentuk dakwah yg ‘sunnah’. Bagaimana sebuah blog pasti ada cerita2 mengenai peulisnya. Begitu pula saya, jikalau ada yg mengganjal di hati saya, maka sebagai blogger yg ‘baik’ saya akan mencurahkannya lewat blog ini. Jika anda memperhatikan, byk kisah2 harian saya yg saya ungkapkan. Betul khan?

      Coba baca postingan saya yg judulnya : jangan jadikan media sebagai patokan dakwah’ dan ‘adab dan prioritas dakwah’.
      Adapuan mengenai masalah2 keagamaan yg saya tulis adalah merujuk dari penjelasan2 daripada guru2 saya yg insya Allah sanad (sambungan) keilmuan mereka sampai kepada Nabi Muhammad saw. Saya, alhamdulillah ngaji dengan bertalaqqi dengan ustadz yg shahih dan sunnah. jadi, apa2 yg ungkapkan adalah hasil musyarah bersama umat islam, bukan sekedar pemikiran (fikrah) daripada gerakan2 islam.

      Wslm

  5. salam. ……………………..saya sangat sependapat dengan implifikasi positif diposting ini, saya juga sependapat dengan komentar kritis diatas tapi pada poin tertentu. Mmm.. kalau langkah untuk merubah keadaan, kita tidak pernah kekurangan metode, cara, sistim, atau apapun istilahnya, gerakan da’wah di tengah-tengah kita banyak sekali dengan kualifikasi yang boleh dianggap berprospek wah…! baik yang berada diatas (pemerintahan) maupun dibawah. namun begitulah….. manusia telah kehilangan FIGUR.

    • Figur kita masih ada yakni Nabi saw dan para pewarisnya yaitu ulama yg shalih yg bersambung keilmuannya kpd nabi saw.

      Tinggal kitanya, mau gak mendekati ulama tsb dgn amalan2 kita?

  6. subhanallah, saya merasa tertampar sekali setelah membaca tulisan ini, karena yang saya rasakan jg demikian. Sedih melihat keadaan diri sendiri dan rekan2 yg lain. Saya baru mengenal dunia dakwah 1 tahun, dan saya jg baru mengikuti liqo 1 tahun. Proses pengenalan saya dalam dakwah, adalah karena saya melihat ketenangan ketika bersama2 teman dlm majelis tsb. Maka saya tertarik untuk menggeluti. Tapi kini, yang saya rasakan berbeda. Saya belum pada posisi yang kuat, saya butuh penguat.

    Ketika hal itu terjadi, sebenarnya apa yg harus saya lakukan? Ketika saudara saya seperti itu, apa kah gerangan yang harus saya lakukan?

  7. Bismillah,..

    Tidak ada yg salah dalam liqoan yg membahas masalah islam. Malahan cara belajar dgn liqoan termasuk sunnah.

    Namun, kesalahannya ialah, pementornya kadang2 belum kompeten, baik dari segi ilmu, pemahaman, serata ruhani yg kuat utk bisa membina.

    Kesalahan selanjutnya ialah,ada pembahasan mengenai politik2 praktis, yg aplikasinya ialah seolah kita harus terjun juga dalam politik/organisasi secara langsung.

    Ini yg berbahaya, karena tidak semua iman org kuat utk bercampur kepada ‘dunia syubhat’ seperti itu.

    Maka, kita yg lemah2 iman, janganlah suka berkecimpung dalam hal2 yg bisa mengantarkan kita kepada hal2 yg haram. Walaupun terkdang niat kita baik, namun setan lebih ahli, sehingga byk saudara2 kita yg ‘kebablasan’.

    Utkseorang muslimah, mari jaga harga diri kita dengan ‘agak’ tegas utk urusan adab dengan non mahrom. Ada baiknya anda sering berkonsultasi dengan ustadzah yg berkompeten yg kuat ruhaninya, bukan bahasanya.

    Kemudian, bertaubatlah kepada Allah serta istiqamahlah dalam menjaga amalan shalat dan amalan yaumiyyah infirodiyyah. Insya Allah…

  8. Subhanallah…..
    Jujur saja ana mengenal dunia dakwah yang benar2 dibimbing oleh ustazdah yang kompeten masih 2 bulan….
    Sebelumnya ana menjadi aktivis dakwah di kampus, dan lucunya…ana belum berkompeten tapi selama 1 semester sudah dipercaya sebagai MENTOR. Hanya karena sya org yg penuh semangat, mampu menginfluence mahasiswa lain namun dengan bekal islam yang minim.
    Saat ini alhamdulillah ana bergabung dlm organisasi yg InsyaAllah jauh dari Syubhat, karena tiap event , akhwat dan ikhwan selalu diadakan di tempat yang terpisah.
    Lucunya dengan semakin ‘Lebarnya’ kerudung dan ana istiqomah memakai jilbab….adhek2 mentor ana pada banyak yang lari krn iillfeel.
    Jadi sementara ana bisa menyalurkan dakwah dengan membagikan buletin dan leaflet, untungnya karena sebelumnya ana sudah dekat dengan adhek mentor jadi terasa mudah membagikan.
    Namun ana minta usul untuk strategi dakwah selanjutnya dari ustadz…
    Ana harap bisa amat membantu…
    Jazakillahi khoiron katsiir…

  9. plak…!!!
    merasa ada yang mendarat begitu keras di pipi.

    tapi syukron dah “menampar”….

  10. ya….di kampus ane pun begitu maklum kampus saya kampus punya “nasional”
    ane dulu semangat aktif liqo, tapi kemudian saya sering diamanahkan ikut politik dan itu tidak sesuai dengan pandangan saya, kalo sudah ikut politik yang terjadi ya begitu bergabung dengan orang-orang bem dan susah untuk “mengontrol”…
    jadi sekarang saya menarik diri dari perliqoan namun apa yang saya dapat dari liqoan mudah2an tetap saya jalankan

  11. […] The busiest day of the year was March 13th with 99 views. The most popular post that day was Pudarnya Muruah Akhwat . […]

  12. Shodaqta…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: