Oleh: Azan bin Noordien | Februari 11, 2009

Sudahkah kita berdakwah Sunnah?

Ba’da magrib, seperti biasa, aku niatkan untuk i’tikaf sejenak hingga shalat isya di masjid dekat rumahku, tepatnya rumah orang tuaku. Rupanya hari ini ada pengajian (pangaosan, kalo urang sunda bilang), hingga waktu isya.

Seusai salam shalat isya, aku duduk sebenar sambil zikiran. Aku duduk tepat di sebelah ustadz yang ceramah tadi. Sepintas tapi pasti, kulihat DKM menyerahkan amplop putih yang dilipat, ke tangan ustadz itu. Sembari bersalaman, amplop segera resmi menjadi milik sang ustadz. Keduanya terlihat saling memberikan senyum.

Memang sudah menjadi suatu budaya, di Kota Padang, jika ustadz-ustadz yang mengisi ceramah diberikan sedikit ‘santunan’. Intinya, hampir semua penceramah mendapatkan uang seperti itu. Memang hal ini menjadi keunikan tersendiri.]

groupe01-thumb

Jika ditilik sejarah, kita sama-sama tahu bagaimana perjuangan Rasulullah saw dan para sahabat, tabi’in dalam memperjuangkan agama Allah. Betapa hebatnya pengorbanan mereka dalam berdakwah. Mereka siap korbankan harta, waktu, keluarga, bahkan jiwa raga mereka, agar bagaimana agama ini tetap didakwahkan.

Namun sangat ironi, bila kita sedikit membandingkan ‘dakwah kebanyakan’ (saya menyebutnya Dakwah Modern) yang terjadi zaman sekarang dengan dakwahnya para salafussalih (saya namakan dengan istilah dakwah sunnah). Walaupun sama-sama dikatakan berdakwah, rupanya sangat berbeda sekali. Berikut bisa saya uraikan ‘sedikit’ perbedaan dakwah modern dan dakwah sunnah.

  1. Dakwah Sunnah mengajak hanya kepada Allah, tidak kepada golongan (Ashobiyah). Sedangkan dakwah Modern kebanyakan mengajak kepada golongan mereka. Misal, aktivis PP* ngajak nyoblos partainya. NU ngajak agar dukung Gusdurnya. Walaupun pada hakikatnya ‘mereka bilang’ ud’u illaah (mengajak pada taat pada Allah), namun pada kenyataannya, dalam benak mereka hanya terfikir bagaimana rekrut suara sebanyak-banyaknya, hingga menjadi syubhat yang mencampurkan mana yang hak dan yag batil. Intinya, susah sekali dalam meluruskan niat dan menjaga kesucian hati.

  1. Dakwah Sunnah mengajak umat agar beriman dan taat kepada Allah. Sedangkan dakwah Modern mengajak kepada persamaan fiqih, fikroh (pemikiran), harokah (pergerakan), bahkan khilafah. Misalnya, semenjak dahulu Muhammadiyah sibuk mengurusi fiqih mahdzab Muhammadiyah agar diterapkan masyarakat, padahal masyarakat sudah mantap bermahdzab Imam Syafe’i. Terkadang karena sibuk dengan fikroh, sehingga aktivis2 lupa dengan ulama’-ulama’ lain yang keilmuan dan sunnahnya lebih baik. Menurut saya hal-hal ini diungkapkan bukan untuk diperdebatkan, tapi hendaknya menjadi bahan renungan. Nabi saw bersabda: “Bukanlah dari golongan kami orang yang menyeru kepada ashobiyah…”(HR Ahmad)

  1. Dakwah Sunnah menyatukan umat dengan sunnah, bukan membuat sebuah kelompok (firqoh) dan memajukan kelompok itu. Dakwah Anbiya ‘Alaihissalaam berhasil menyatukan umat dengan iman dan sunnah, tanpa memandang ras, suku, warna kulit dll. Semuanya bersatu padu dalam aqidah, iman, dan sunnah. Tapi hari ini umat terpecah belah karena faktor politik1, dan kepentingan. Hal ini disebabkan umat –baik yang awam maupun aktivis- sudah jauh daripada sunnah. Baik sunnah yang tampak (pakaian, cara hidup, bermualah dll), maupun yang tidak tampak (misal kerisauan dan mindset nabi saw akan hidayah untuk umat).

  1. Dakwah Sunnah berharap hidayah turun, dakwah Modern berharap syariat ‘sekedar’ tegak. Sudah banyak upaya yang dilakukan agar syariat islam tegak, namun semuanya hampir sia-sia, karena memang umat belum siap keimanannya untuk menerima syariat. Atau boleh jadi syariat tegak, namun tidak ada ketaqwaan bersamanya. Hal ini bukan yang diinginkan Allah, Allah hanya ingin umat ini beriman dan ber’amal dengan keilkhlasan. Jadi, jikalau iman mantap, maka syariat itu akan seperti bayang-bayang badan, selau ikut kemana badan itu berjalan di siang bolong.

Hal ini persis yang dicontohkan nabi saw yang menempa iman para sahabat ra selama 13 tahun, baru kemudian dengan mudah ‘menyuntikkan’ syariat selama 10 tahun sesudahnya. Nah, baru kemudian dengan sendirinya terbentuk kekhalifahan dan umat yang sama-sama shahih. Namun, kebanyakan harokah sekarang –dengan konsep dakwahnya- malah sibuk menegakkan khilafah hingga lupa men-tarbiyah iman & amal shalih diri, keluarga, dan umat pada umumnya.

  1. Dakwah Sunnah siap korban harta, jiwa, diri, waktu, keluarga, perasaan, bahkan. Dakwah modern kebanyakan malah ‘siap’ menerima uang, tunjangan, pinangan, jabatan, dan kesenangan duniawi lainnya. Bagaimana hidayah akan turun, jika da’i-da’inya malah ‘menduniakan’ dakwah?

  1. Dakwah Sunnah dilakukan dengan cara mendatangi umat. Dakwah modern malah minta didatangi. Banyaknya Tabligh Akbar, Pengajian, Ceramah-ceramah hari ini yang tidak ada pengaruh yang berarti bagi umat. Nabi saw sendiri lebih banyak mendatangi dan mengetuk pintu-pintu rumah, ketimbang berkoar-koar di mimbar. Berapa kali nabi saw yang mulia, dilempari, diejek, dihina, ketika sedang berdakwah? Hari ini banyak yang mengaku umat nabi saw, tapi maunya dakwah senang-senang di parlemen? Memang tidak terlarang menegakkan syariat di parlemen, tapi sudahkah kita mencoba dakwah yang sunnah? Tidak rindukah kita berdakwah cara Rasulullah, mengikuti jejak-jejak kaki beliau?2

Demikian sedikit paparan yang saya sugukan bukan untuk diperdebatkan, namun untuk menjadi bahan renungan. Apakah kita berdakwah sudah dengan cara sunnah? Apakah kita tergolong dakwah ashobiyah yang dilaknat Allah? Apakah kita gunakan dakwah untuk kepentingan dunia?? Seharusnya, dunialah yang digunakan untuk dakwah. Semoga Allah pahamkan kita agama ini. Amin.

Berikut sebuah hadits shahih yang patut menjadi renungan bagi kita semua:

Rasululllah Saw bersabda: Apabila umatku telah mengagungkan dunia, maka akan tercabut darinya kehebatan Islam, dan apabila mereka meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, maka mereka akan terhalang dari keberkahan wahyu, dan apabila umatku saling menghina satu sama lain, maka jatuhlah mereka dari pandangan Allah. (HR. Hakim dan At Thirmidzi dalam kitab Durul Mantsur)

Notes:

1) Politik yang dimaksud disini adalah politik praktis

2) Lihat Shirah Nabawiyah, Syeikh Al Mubarakfury, hal. 44


Responses

  1. assalamu alikum,,,
    ana salut pada anta yang punya pemahaman yang kuat, banyak teman teman saya yang dari lulsan pesantren yang mempunyai pemahaman yang sama tetapi tidak ada yang muncl di aktivis dakwah kampus, karena ya..itu disini menerapkan konsep dakwah modern(menurut anta), tulisan anta cukup bagus untuk dipublikasikan lebih luas. Menurut saya cobalah anta membuat buku, karena itu lebih mengena untuk di renungkan dari pada hanya membaca sekilas,…

  2. Lulusan pesantren tidak menjamin seseorang bisa taqwa dan ambil bagian dalam usaha dakwah hakiki.

    Dakwah modern itu akan lenyap karena byk sekali syubhatnya.

    Dakwah modern akan hilang bila listrik padam, komputer hilang, TV hancur, baliho lenyap.

    Sementara dakwah sunnah akan tetap ada dan semakin membesar walau perlahan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: