Oleh: Azan bin Noordien | November 22, 2008

Ayo berdakwah!

Bagaimana kita bisa ‘mendapatkan’ islam pada hari ini?

Islam yg kita rasakan hari ini lahir, bukan tanpa pengorbanan. Nikmat berislam yg kita rasakan hari ini adalah hidayatullah yang datang bersama jasa para da’i da’i Allah yang tak kenal lelah dalam berdakwah. Untuk membawa agama tauhid ini, Allah mengutus 124.000 rasul ke seluruh alam, dari Nabi Adam As hingga Nabi Muhammad saw, seluruh Rasul siang malam menyerukan kalimat laa ilahaillallah kepada umat!

Seluruh rasul membawa hal yg sama kepada umat, yaitu untuk mentauhidkan Allah, hanya ada satu tuhan yaitu Allah. Maka ketika para Rasul masih hidup dan berdakwah, maka agama pun terus hidup. Namun ketika seluruh rasul itu wafat, maka agama pun hilang dari permukaan bumi. Hal ini dikarenakan dakwah agama sudah hilang dan tidak diteruskan oleh umatnya. Umat kembali kepada kekufuran. Umat Nabi Musa kembali menyembah patuh. Bani Israil dan Nasrani malah mengatakan Allah beranak. Begitulah keadaan umat terdahulu jika sudah ‘ditinggal mati’ oleh Nabinya.

Bagaimana dengan umat Nabi Muhammad? Agama ini masih ada sampai sekarang karena adanya dakwah yang dilanjutkan oleh umatnya sendiri. Para sahabat yang kurang lebih berjumlah 200.000 orang, diutus ke seluruh negeri untuk mendakwahkan islam. Sejarah mencatat hanya 10.000 sahabat/sahabiyah yang wafat dan dikuburkan di nageri Haramain (Mekkah & Madinah). Selebihnya di kuburkan di berbagai pelosok dunia. Mereka (r.a) rela mati dalam dakwah.

Di Indonesia sendiri dakwah islam telah ada sejak abad ke-7 Masehi. Makam Syeikh Mahmud di Kampung Barus, Sumatra Utara, diperkirakan merupakan salah seorang sahabat nabi yang pertam kali datang dan berdakwah ke Indonesia. Sebagian besar Walisongo yang bermisi dakwah di pulau Jawa pun, adalah keturunan Arab. Mereka di utus langsung dari Tanah Arab (tanah islam pertama) ke pulau jawa. Di Negeri Minangkabau, dakwah yang dulu sempat mati, dihidupkan kembali oleh para ulama dan syeikh dari mekkah, gerakan (harakah) ini dikenal dengan nama ‘Gerakan Paderi’. Dikarenakan dakwah Paderi ini, akhirnya kebobrokan yang terjadi di ‘padang’ berangsur-angsur hilang.

Lalu bagaimana dengan kita? Apa kita juga wajib berdakwah? Mengapa kita harus berdakwah?

Adalah, karena kita (umat islam) adalah umat terbaik. Umat yang sangat mulia jika dibandingkan dengan umat-umat terdahulu. Allah berfirman: “Kalian adalah sebaik-baik umat, yang dikeluarkan untuk umat manusia, mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah daripada kemungkaran (dakwah), dan [kalian] beriman kepada Allah”.(QS. 3:110)Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (QS.3:104)

Umat islam adalah umat termulia karena mereka melanjutkan dakwah nabinya, Muhammad saw. Malah sebagian riwayat menceritakan bahwa umat-umat -bahkan nabi-nabi bani israil- merasa iri dengan umat akhir zaman ini. Namun, jika kita-kita ini tidak berdakwah, maka kita tidaklah umat istimewa. Kita (muslim) adalah umat yang memiliki sifat ‘abid dan da’i sekaligus. Sedang umat terdahulu hanyalah berperan sebagai ‘abid (ahli ibadah) saja.

Jikalau saat sekarang kita hanya berpuas diri dengan ibadah untuk diri pribadi saja dan tidak mendakwahkan agama, maka alangkah ruginya. Jikalau kita melirik bagaimana ibadah-ibadah umat-umat terdahulu, maka tidaklah ada bandingannya dengan kita, umat yang ‘malas’ ibadah ini. Umat berdahulu beribadah siang malam,bersujud berhari hari, dan mereka berpuasa setiap hari.

Tidak bisa disangkal lagi bahwa kita semua harus berdakwah. Dakwahkan agama ini dengan niat memperbaiki diri dan untuk mencara ridho Allah semata.

Lho, kita khan bukan ulama? Bukannya tugas dakwah adalah para mubaligh dan ustadz saja?

Seperti yang telah disinggung di atas, bahwa kita adalah umat terbaik. Terbaik karena dakwahnya. Dan dakwah tidak butuh ilmu yang dalam. Dalam berbagai riwayat shahih menceritakan bahwa ketika para sahabat seperti Abu Bakar, Abu Dzar Al Ghifari, Abdullah bin Mas’ud -r.a ajma’in- baru masuk islam, dengan bangganya mereka menyerukan orang kafir untuk masuk islam. Padahal saat itu mereka –para sahabat r.a- hanya memiliki satu ilmu, yaitu kalimat Laa ilaha illallah Muhammadurrasulullah! Bahkan mereka belum mengerjakan perintah ibadah mahdhoh seperti shalat, zakat, atau puasa! Bagaimana dengan kita? Saya rasa kita semua sekarang lebih berilmu daripada sahabat ketika itu.


Responses

  1. saya adalah remaja 18 tahun saya tertarik dengan berdakwah tapi saya bukan orang yang berilmu berlimpah saya hanya manusia yang terus belajar dan memperbaiki diri,,,, bgaimana cara berdakwah yang asyik dan tidak monoton?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: