Oleh: Azan bin Noordien | November 7, 2008

Islam Now, growing like mushroom

New York City, USA – Gegap gempita dan maraknya kota New York, Amerika Serikat, ternyata di dalamnya menyimpan ratusan bangunan masjid. Kota yang selalu macet di siang hari ini berpenduduk 9 juta jiwa. Umat Islam di sana tercatat 1 juta orang.

Salah satu agenda safari Ramadhan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof Dr KH. Ali Mustafa Yaqub, di New York adalah memberi ceramah dan KH.utbah Jumat di Masjid Al Hikmah. Masjid itu dibangun tahun 1995 oleh Komunitas Muslim Indonesia, dengan total biaya 300 ribu dolar AS. Sebagian dari dana itu, yakni sebesar 125 ribu dolar AS berasal dari dana Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila.

Di kota New York terdapat 70 buah masjid, sedangkan di State (Negeri) New York terdapat 250 buah masjid. Sebelum tragedi Belsep (Sebelas September) kota New York hanya memiliki 25 masjid. Ternyata musibah Belsep banyak membawa hikmah.

Ketika KH. Ali Mustafa Yaqub bertanya pada salah seorang Indonesia yang sudah bermukim di New York sejak awal tahun 1970-an, tentang perkembangan Islam di New York, ia menjawab singkat, “Growing like mushrom” (tumbuh bagaikan jamur).

Seseorang juga menyebutkan bahwa setiap tahun ada 20.000 orang Amerika yang masuk Islam. Jumlah ini boleh jadi belum tepat, sebab sebuah sumber menyatakan bahwa sebelum Belsep, jumlah umat Islam di Amerika ada enam juta dan kini berjumlah delapan juta. “Artinya dalam masa tujuh tahun, jumlah umat Islam di Amerika bertambah dua juta orang,” ujar KH. Ali Mustafa Yaqub.

bush-jenggot-s2

Masjid Al Hikmah yang pengelolaannya di bawah naungan Yayasan Indonesian Muslim Community, tidak hanya dikunjungi oleh orang Indonesia. Masjid dengan kapasitas maksimal 500 orang itu selalu ramai dikunjungi berbagai bangsa; Amerika, Arab, Pakistan, Uzbekistan, Bangladesh, India, Filipina, dan lain-lain.

Karena itu, KH.utbah di masjid Al Hikmah ini menggunakan bahasa Inggris. Sedangkan untuk ceramah, apabila yang datang orang-orang Indonesia, menggunakan bahasa Indonesia. Tapi, begitu etnis lain memasuki masjid, ceramah langsung pindah ke bahasa Inggris.

Selain bangunan masjid, di New York juga terdapat 13 madrasah formal (regular) yang memiliki jenjang pendidikan dari TK (Taman Kanak-kanak) sampai Aliyah. Istilah mereka, kelas nol sampai 12. Antara lain, madrasah di bawah Yayasan Jamaica Muslim Community (JMC), yang saat ini dipimpin oleh Ustadz Muhammad Shamsi Ali, putra Indonesia asal Sulawesi Selatan.

Juga ada madrasah diniyah yang hanya memberikan pelajaran pada hari Ahad. Seperti di Islamic Cultural Centre of New York (Pusat Kebudayaan Islam di New York). Pusat ini berlokasi di kawasan Manhattan, sebuah kawasan bisnis bergengsi di New York.

Pusat Kebudayaan Islam ini diresmikan pada tahun 1991 oleh Amir Kuwait selaku ketua Organisasi Konferensi Islam (OKI) saat itu dan penyumbang dana terbesar di antara negara-negara anggota OKI lainnya.

Mustafa Ali Yaqub menuturkan, penduduk kota New York berjumlah sembilan juta dan yang Muslim satu juta orang, maka itu artinya dari 9 orang New York, satu orang adalah Muslim. Untuk mengetahui keislaman mereka, kata Ali Yaqub, dapat dilihat dari busana mereka, Khususnya kaum wanita yang mengenakan hijab atau kerudung.




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: