Oleh: Azan bin Noordien | September 13, 2008

Aktivis dakwah kok nggak pake peci?

Dulu saya sempat bertanya-tanya, apakah sich hukumnya memakai peci bagi seorang muslim? Untuk mencari jawabannya, maka berbagai ustadz saya temui, dan bermacam pula jawaban yang saya dapatkan. Referensi tertulis pun juga perlu ditelaah. Alhamdulillah akhirnya ada titik terang dari semua ini! Ada baiknya sama-sama kita simak.

***

Islam lahir dengan syariat yang lengkap. Lengkap secara sistem dan lengkap secara aplikasinya. Kedua komponen tersebut –sistem dan aplikasi-, dicontohkan langsung oleh Rasulullah Muhammad saw. Jadi para ulama sepakat bahwa apapun yang ada pada diri Rasulullah adalah suri teladan yang baik. Termasuk cara berpakaiannya. Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (QS. Al Ahzab [33]:21)

Peci, seperti yang umumnya kita ketahui adalah sebuah icon keislaman yang sudah lama dikenal di kalangan umat. Peci ‘bundar’ itu sebenarnya bagian dari pakaian rasulullah saw, yaitu bagian penutup kepala beliau. Menurut shirah, biasanya setelah memakai peci, beliau melilitkan sejenis kain yang disebut serban/umamah pada peci itu. beliau jarang sekali melepas penutup kepalanya itu. Beliau lebih dominan memakai serban dan berbaju panjang.

Seiring perkembangkan zaman, maka serban/umamah mulai ditinggalkan oleh umat islam. Paling banter sekarang dipakai oleh ulama atau jamaah tertentu saja yang komitmen akan sunnah. Padahal jika kita perhatikan ulama-ulama klasik, mereka (rahimahullahu ajma’in) sangat berittiba’ kepada Rasul, termasuk masalah pakaian. Namun, jika kita perhatikan kini, jarang sekali ustadz-ustadz yang ‘rajin’ memakai serban. Tanya kenapa?

Kemudian hadirlah beberapa alasan yang ngawur (kalo tidak mau dibilang sekuler-pen), yang dengan enteng mengatakan bahwa serban/peci itu hanya budaya orang arab saja. Peci bukanlah termasuk syariat, atau bisa dikatakan masalah furu’iyah. Tidak penting.

Hati saya miris sekali mendengar alasan ini. Kenapa? Berikut akan saya kemukakan alasan-alasan yang mungkin lebih bisa diterima bagi orang yang berlogika (jika tidak mau disebut orang yang tidak punya hati nurani-pen). Simak dan renungkan J

Jika seseorang yang ngefans berat dengan artis idolanya, maka ia pasti akan berusaha meniru gaya, atribut, cara bicara, pernak-pernik, kebiasaan, dan semua hal yang mengenai idolanya itu. Apapun akan ia lakukan agar mendapatkan suasana artisnya itu. Kalau antum semua mengaku cinta rasulullah, mengapa tak terbesit sedikitpun untuk mencontoh pakaian beliau? Peci pun tidak?

Banyak sekali mahfum hadits yang mengatakan bahwa “berbedalah kamu dengan kaum musyrikin” atau “selisihilah orang nasrani, majusi dan yahudi”. Seandainya setiap muslim memakai peci, maka jelaslah perbedaan kita dengan orang kafir. Hal itu cukup membantu membedakan kita dengan kaum kuffar. Saya yakin, zionis akan takut kepada umat islam, bila semua muslim berpakaian cara rasullullah.

Jika antum nggak menganggap peci sebagai sunnah, hanya sebatas icon. Mengapa kita tidak bangga dengan icon kita itu? Padahal orang Yahudi dan Nasrani dengan bangganya mereka memakai kalung salib dan lambang zionis. Padahal mereka tidak tahu bagaimana cara berpakaian Nabi mereka. Apa nabi mereka pake kalung?

Jika antum ada kesempatan di luar negri yang mayoritas berpenduduk non-islam, ketika antum menemukan orang yang berpeci, maka -jangan bohong- kalo antum akan refleks gembira, dan kita akan berusaha memakai peci juga, karena faktor kesamaan aqidah. Nah lho??

Menurut ilmu psikologi, cara berpakaian sangat berpengaruh kepada sikap dan tingkah laku manusia sehari-hari. Jika berpeci, kita biasanya akan lebih mudah menjaga diri, mudah ghadul bashar, mudah menghindari maksiat, apalagi berpacaran. Resep ini terbukti lumayan ampuh. Coba deh!

Sholat memiliki rukun dan syarat sah. Diantara rukun sholat adalah sujud. Di antara syarat sahnya sujud adalah bersentuhnya kening dengan tempat sujud dengan pasti. Jika kita tidak memakai peci, kemungkinan besar rambut-rambut akan menghalangi sujud. Maka bisa jadi sujud kita tidak sah. Jika sujud kita tidak sah, maka sholat kita tidak sah. Jika sholat kita tidak sah, maka buruklah semua amalan kita. Karena siapa yang baik sholatnya, maka baik pula semua amalannya.

Dengan berpeci, kita lebih mudah berdakwah. Kita semua wajib berdakwah, kepada orang yang tidak dikenal , apalagi yang dikenal. Biasanya orang akan lebih terbuka dan membalas salam orang yang memakai peci, daripada tidak berpeci. Jika kita tidak berpeci bisa-bisa mereka bilang, ”siapa lho?” atau “tumben banget”. Gedubraklah kita!

Jika antum diminta untuk menjadi khatib atau imam pada sebuah masjid, pasti kita akan tampil dengan memakai peci. Tetapi mengapa setelah turun dari mimbar kita melepasnya? Bukankah itu namanya sekuler? Seakan peci hanya seremonial pelengkap ritual?

Ulama-ulama’ terdahulu seperti Tuanku Iman Bonjol, Pangeran Diponegoro, dll sangat istiqomah dengan style-nya rasulullah saw. Pada saat mereka hidup, masyarakat dan objek dakwah mereka umumnya berpakaian biasa seperti pakaian jawa, sumatera. Tetapi ulama-ulama ini tetap berpakaian cara Rosulullah. Namun, dakwah mereka terbukti sangat efektif. Apakah kita meragukan keimanan dan ilmu mereka?

Jikalau kita bisa berandai. Andai saja Rasulullah tiba-tiba muncul lagi ke dunia di zaman teknologi ini. Maka saya yakin 100% semua umat muslim akan berlomba-lomba dalam berittiba’ kepada Rasulullah dan meniru pakaian beliau semirip mungkin. Takut kalau-kalau nanti tidak diakui sebagai umatnya dan disangka kaum kuffar. Iya khan?

Sangatlah diragukan kecintaan seseorang kepada Rasululla saw, jika ia enggan menjunjung sunnah rasulullah dan tidak mau berittiba’urrasul sama sekali. Padahal begitu besar cinta dan jasa Nabi Muhammad kepada kita semua. Jika tidak ada Rasullullah dan dakwahnya, mungkin kita semua masih menyembah patung dan memakan babi.

Ya Rasulullah, di akhir hayatmu engkau masih mengingat kami, umatmu. “Ummati, ummati, ummati…umatku, umatku, umatku”, serumu dengan nafas yang tersendat-sendat di penghujung hayat. Tanpa ragu dan malu engkau menyampaikan risalah mulia demi kami. Namun, pada hari ini kami malu melaksanakan sunnahmu. Betapa bodohnya kami. Maafkan kami yaa ajmal al anbiya! Betapa pada hari ini kami lupa akan jasa dan meninggalkan sunnahmu. Allahumma shalli ‘alaa sayyidina wa maulana muhammad!


Responses

  1. Selamat Idul Fitri 1429 H
    Taqobalallahu Minna Wa Minkum, shiyamana wa shiyamakum
    Minal aidin wal faizin
    Mohon Maaf Lahir dan bathin

  2. Menarik sekali, Kritik sosial yang bagus……tapi memang sekarang bukannya gak bisa makai peci setiap saat, tapi lebih pada keadaan yang memaksanya menjadi pelengkap ritual. Karena ditempat kerja gak mungkin kan pake peci sementara Boss orang Non, Mungkin kalo kita di Padepokan atau Pesantren akan lebih mudah mengamalkannya karena lingkungan yang mendukung.

    BTW bagus banget artikelnya…….Sukses buat dakwahnya, tapi memang jaman sekarang dakwah gak perlu pake topi toch? kan ada Web, Blog, Dsb. Masa Blog mau dipake Peciiiii, Just Kid

    • ditempat kerja ngga bisa pake peci ?…

      alesan saja itu mah.

      ane kerja ditempat orang non muslim punya, hari2 pake peci…, sempet juga jaga studio musik pake peci juga.. ngga ada masalah…

      lagian orang islam mana yang melarang pake peci ?… keknya kalo melarang pake peci, kudu di cek dulu kepalanya (mungkin kejedot sesuatu). Harusnya yang dilarang itu perempuan yang ngaku muslim tapi pake rok mini, buka2 aurat, ato laki2 yang berpakaian kek perempuan, itu baru cocok bwt dilarang.

  3. “….tapi memang sekarang bukannya gak bisa makai peci setiap saat…”

    Semuanya ada proses. Berittiba’ pun butuh proses. Jadi, jgn terjebak virus seluler. Hati2 akhi!

    Saya hampir tidak bisa membedakan antara aktivus tarbiyah dgn JIL dari segi penampilannya.😦

  4. Jazahumullah khairan katsiran atas nasihatnya😉

  5. memang banyak sunnah yang telah ditinggalkan. sebenarnya ga aneh klo kita pake hal2 sunnah, cuma kita aza yang merasa aneh, jadinya ikut2an ama pemikiran orang sekitar yang non muslim atau pikiran2 ‘sepilis’


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: