Oleh: Azan bin Noordien | Mei 13, 2008

Bantahan Argumen: Nabi Muhammad menikahi Sayyidah ‘Aisyah pada usia 9 tahun

Bismillah walhamdulillah was shalatu ala Rasulillah wa ala alihi wa ashabihi ajma’in, amma ba’du

عائشة-بنت-أبي-بكر-الصديق-ورضي-الله-عنهاBeberapa hadits menceritakan mengenai umur istri Nabi yakni Sayyidah ‘Aisyah pada saat pernikahannya dengan Nabi yaitu ketika Aisyah berumur 7 dan 9 tahun? Informasi ini telah menjadi bahan olok-olokan kepada ajaran Islam. Bahkan banyak dari kaum muslimin yang tidak faham dan bagaimana menyikapi hal ini. Saya akan menyajikan beberapa bukti yang melawan khayalan yang digembar-gemborkan selama ini dan untuk membersihkan nama Rasulullah dari segala tuduhan yang keji seperti pedofil, maniak seks, dlsb wa iyadzubillah kita berlindung kepada Allah dari celaan kepada ajaran Islam dan Rasulullah.

Bukti #1: Kritik Riwayat Hadits

Sebagian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercetak di hadist yang semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisyam ibn `Urwah, yang mencatat atas otoritas dari bapaknya, yang mana seharusnya minimal 2 atau 3 orang harus mencatat hadist serupa juga. Adalah aneh bahwa tak ada seorangpun yang di Madinah, dimana Hisyam tinggal, sampai usia 71 tahun baru menceritakan hal ini, disamping kenyataan adanya banyak murid-murid di Madinah termasuk yang kesohor Imam Malik ibn Anas tidak menceritakan hal ini. Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Irak, di mana Hisyam tinggal disana dan pindah dari Madinah ke Irak pada usia tua.

Tahzib At-Tahzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi catatan Jarh wa Ta’dil para periwayat hadist, menurut Yaqub ibn Shaibah mencatat : ” Hisyam sangat bisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah pindah ke Irak ”. Dalam pernyataan lebih lanjut bahwa Malik ibn Anas menolak riwayat Hisyam yang dicatat dari orang-orang Irak: ” Saya pernah diberi tahu bahwa Malik menolak riwayat Hisyam yang dicatat dari orang-orang Irak” (Tahzib At-Tahzib, IbnHajar Al- `asqala’ni, Dar Ihya At-Turath Al-Islami, Vol.11, hal 50). Mizan Al-I’tidal, kitab lain yang berisi uraian riwayat hidup pada periwayat hadist Nabi saw mencatat: “Ketika masa tua, ingatan Hisyam mengalami kemunduran yang mencolok” (Mizan Al-I’tidal, Al-Zahbi, Al-Maktabatul-Athriyyah, Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, hal 301).

KESIMPULAN:
Berdasarkan referensi ini, banyak ulama yang memberikan Jarh (kritik) kepada perawi hadits Nabi bernama Hisyam bin ‘Urwah karena buruknya hafalan beliau setelah pindah ke Irak. Kemungkinan karena faktor usia yang sudah tua, atau karena pencampuran kabar oleh hadits-hadits palsu yang memang berseliweran di Irak dibandingkan bumi Madinah. Sehingganya, riwayat hadits dari Hisyam mengenai umur pernikahan Aisyah adalah sangat bisa diragukan. Wallahu a’lam.

Timeline

Timeline dan kronologi sejarah adalah sangat vital untuk mencatat dan mengingat tanggal penting dalam sejarah Islam. Berikut titik-titik poin timeline Islam terkait sejarah hidup Ummul Mukminin Sayyidah ‘Aisyah

Pra-610 M        : Zaman jahiliyah, sebelum turun wahyu
610 M              : turun wahyu pertama, dan Sayyidina Abu Bakr As-Sidiq menerima Islam
613 M              : Nabi Muhammad memulai dakwah di Makkah
615 M              : Hijrah ke Abyssinia (Etophia)
616 M              : Sayyidina ‘Umar ibn al-Khattab menerima Islam
620 M              : (dikatakan) Rasulullah meminang Sayyidah ‘Aisyah?
622 M              : Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Madinah
623/624 M       : (dikatakan) Rasulullah berumah tangga dengan Sayyidah ‘Aisyah?

Bukti #2: Riwayat Imam At-Tabari –rahmatullah ‘alaihi

Imam At-Tabari meriwayatkan bahwa: “Semua anak Sayyidina Abu Bakr (yang berjumlah empat orang) dilahirkan pada masa jahiliyah dari kedua orang isterinya ” (Tarikh Al-Umam wal-Mamluk lil- Imam At-Tabari, Vol. 4, hal 50, Dar Al-Fikr, Beirut 1979).

Sayyidina Abu bakar adalah ayah kandung dari Sayyidah Aisyah Ra. Jika kita lihat riwayat yang mengatakan bahwa Sayyidah ‘Aisyah dipinang pada tahun 620 M yaitu ketika berumur 6 tahun dan berumah tangga yakni sekitar tahun 623/624 M pada usia 9 tahun, hal ini mengindikasikan bahwa Sayyidah Aisyah dilahirkan pada tahun 613 M. Sehingga berdasarkan nukilan dari Imam At-Tabari di atas, Sayyidah Aisyah seharusnya dilahirkan pada 613 M yaitu 3 tahun sesudah masa Jahiliyah usai yaitu tahun 610 M. (Rujuk ke Timeline Sejarah di atas)

Padahal telah jelas Imam Tabari meriwayatkan seluruh anak Sayyidna Abu Bakr lahir sebelum masa jahiliah, disini terlihat kontradiktif dan tidak reliable. Jika kita berpegang pada riwayat Imam At Tabari dan menghindari permasalahan riwayat dari Hisyam bin ‘Urwah, maka seharusnya Sayyidah ‘Aisyah telah berusia minimal 14 tahun ketika dinikahi Rasulullah. Dan ma’ruf di zaman dahulu, usia belasan tahun adalah usia yang matang untuk seorang wanita menikah. Ini pendapat yang lebih reliable.

Bukti # 3: Umur Sayyidah ‘Aisyah jika dihubungkan dengan umur Sayyidah Fatimah

Sayyidah Fatimah adalah putri Rasulullah ﷺ dari Sayyidah Khadijah. Menurut Imam Ibnu Hajar Al ’Asqalani, Sayyidah Fatimah lebih tua lima tahun daripada Sayyidah Aisyah. Imam al Asqalani menyebutkan bahwa: “Fatimah dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi berusia 35 tahun… Fatimah berusia 5 tahun lebih tua dari Aisyah” (Al-Isabah fit-Tamyizil-Sahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol. 4, hal 377, Maktabatu’l-Riyadh Al-Hadith, Al-Riyadh, 1978).

Dari nukilan Imam Ibn Hajar di atas, bisa diketahui bahwa Sayyidah ‘Aisyah lahir pada saat Rasulullah ﷺ berumur 40 tahun. Jika menurut riwayat Sayyidah ‘Aisyah dinikahi Nabi pada saat usia Nabi 52 tahun, maka usia Aisyah ketika menikah adalah 12 tahun. Pendapat ini pun lebih reliable.

Bukti #4: Umur Sayyidah ‘Aisyah dihitung dari umur Sayyidah Asma’ putri Abu Bakr Siddiq

Menurut Abdurrahman ibn Abi Zannad: “Asma’ lebih tua 10 tahun dibanding Aisyah” (Kitab Siyar A`la’ ma’al-nubala’, Imam Adz-Dzahabi, Vol. 2, hal 289, Mu’assasah Ar-Risalah, Beirut, 1992). Menurut Imam Ibn Katsir: “Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya (Aisyah)” (Al-Bidayah wan-Nihayah, Ibn Katsir, Vol. 8, hal 371, Dar Al-Fikr Al-`Arabi, Al-Jizah, 1933).

Menurut Imam Ibn Katsir: “Asma melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5 hari kemudian Asma meninggal”. Menurut riwayat lainnya, dia meninggal 10 atau 20 hari kemudian, atau beberapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 hari kemudian. Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada waktu Asma meninggal Ia berusia 100 tahun” (Al-Bidayah wan-Nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, hal 372, Dar Al-Fikr Al-`Arabi, Al-Jizah, 1933)

Menurut Ibn Hajar Al-Asqalani: “Asma hidup sampai 100 tahun dan meninggal pada tahun 73 atau 74 H.” (Taqrib At-tahzib, Ibn Hajar Al-Asqalani, hal 654, Lucknow). Menurut sebagaian besar ahli sejarah, Sayyidah Asma’ saudari tertua dari Sayyidah ‘Aisyah berselisih usia 10 tahun. Jika Asma wafat pada usia 100 tahun tahun 73 H, Asma’ seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah tahun 622 M). Jika Asma berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah berumah tangga), Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, Aisyah berusia 17 atau 18 tahun ketika hijrah pada tahun dimana Sayyidah ‘Aisyah berumah tangga dengan Rasulullah ﷺ.

Bukti #5: Perang Badar dan Perang Uhud

Sebuah riwayat mengenai partisipasi Sayyidah ‘Aisyah dalam perang Badar dijabarkan dalam hadist Muslim, (Kitab Al-Jihad wa Assiyar, Bab karahiyati’l-isti`anah fi’l-ghazwi bikafir). Sayyidah ‘Aisyah, ketika menceritakan salah satu moment penting dalam perjalanan selama perang Badar, mengatakan: “ketika kita mencapai Syajarah (pohon?)”. Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar.

Sebuah riwayat mengenai pastisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab Ghazwi’l-nisa’ wa qitalihinnama`a’lrijal): “Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, Orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah [pada hari itu,] Saya melihat Aisyah dan Ummu Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb].

Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut berada dalam perang Uhud dan Badr.

Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitab Al Maghazi, Bab Ghazwati’l-khandaq wa hiya’l-ahza’b): “Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengijinkan dirinya berpastisispasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14 tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi mengijinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tsb.”

Berdasarkan riwayat diatas dapat kita simpulkan bahwa anak-anak berusia dibawah 15 tahun akan dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perang, dan Sayyidah ‘Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud. Jadi bisa ditarik kesimpulan mengenai usia Sayyidah ‘Aisyah tidaklah berusia 9 tahun ketika itu, tetapi minimal telah berusia 15 tahun. Disamping itu, wanita-wanita yang ikut menemani para pria dalam perang sudah seharusnya berfungsi untuk membantu, bukan untuk menambah beban bagi mereka.

BUKTI #6: Surat Al-Qamar

Menurut beberapa riwayat, Sayyidah ‘Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Shahih Bukhari, Sayyidah ‘Aisyah berkata: “Saya seorang jariah*) ketika Surah Al-Qamar diturunkan. Kata ‘jariyah’ dalam bahasa arab bermakna gadis muda/belia.

Surat ke-54 dari Al Quran itu diturunkan pada tahun ke-8 sebelum hijriah yang menunjukkan bahwa surat tsb diturunkan sekitar tahun 614 M. Jika Sayyidah ‘Aisyah memulai berumahtangga dengan Rasulullah pada usia 9 di tahun 623 atau 624 M, Sayyidah Aisyah masih bayi yang baru lahir pada saat Surah Al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat diatas, secara aktual tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda belia (jariah), bukan bayi yang baru lahir (sibyan) ketika turunnya surat Al-Qamar.

Jadi, Aisyah, telah menjadi ‘jariyah’ bukan sibyan (bayi), jadi beliau telah berusia 6 -13 tahun pada saat turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karena itu sudah pasti berusia 14-21 tahun ketika dinikahi Nabi ﷺ.

Bukti #7: Terminologi Bahasa Arab

Menurut riwayat dari Imam Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertama Rasulullahﷺ, Sayyidah Khadijah, Sayyidah Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepadanya tentang pilihan yang ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata: “Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita yang pernah menikah (tsayyib)”. Ketika Nabi bertanya tentang identitas gadis tersebut (bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah.

Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata bikr dalam bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun. Kata yang tepat untuk gadis belia yang masih suka bermain-main adalah Jariah, seperti dinyatakan didepan. Bikr disisi lain juga digunakan untuk seorang wanita yang belum menikah serta belum punya pengalaman dengan pernikahan, sebagaimana kita pahami dalam bahasa Inggris “virgin”. Oleh karena itu, tampak jelas bahwa gadis belia 9 tahun bukanlah “wanita” (bikr) (Sumber: Musnad Ahmad ibn Hanbal, Vol. 6, hal 210, Dar Ihya al-Turath al-`Arabi, Beirut).

Kesimpulan: Arti literal dari kata bikr (gadis) dalam hadits diatas adalah “wanita dewasa yang belum punya pengalaman seksual dalam pernikahan. Oleh karena itu, Sayyidah Aisyah adalah seorang wanita dewasa pada waktu menikahnya, bukan anak-anak.

Bukti #8. Teks Al-Qur’an

Seluruh muslim setuju bahwa Al-Quran adalah buku petunjuk. Jadi, kita perlu mencari petunjuk dari Qur’an untuk membersihkan kabut kebingungan yang diciptakan oleh para periwayat pada periode klasik Islam mengenai usia Aisyah dan pernikahannya. Apakah Al-Quran mengijinkan atau melarang pernikahan dari gadis belia berusia 7 tahun?

Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti itu. Ada sebuah ayat, yang bagaimanapun, yang menuntun muslim dalam mendidik dan memperlakukan anak yatim. Petunjuk Qur’an mengenai perlakuan anak yatim juga valid diaplikasikan ada anak kita sendiri sendiri.

Allah berfirman yang artinya:

وَلَا تُؤْتُوْا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللهُ لَكُمْ قِيَامًا وَ اْرْزُقْهُمْ فِيْهَا وَ اكْسُوْاهُمْ وَ قُوْلُوْا لَهُمْ قَوْلاً مَعْرُوْفاً

Dan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya (yaitu anak yatim) janganlah kamu serahkan harta (yakni harta mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (QS. Annisa 4:5)

Dalam hal seorang anak yatim yang ditinggal orang tuanya, seorang muslim diperintahkan Allah untuk (a) memberi makan mereka, (b) memberi pakaian, (c) mendidik mereka, dan (d) menguji kedewasaan “sampai usia menikah” sebelum mempercayakan mereka dalam pengelolaan keuangan, apalagi rumah tangga.

Disini ayat Qur’an menekankan butuhnya bukti yang teliti terhadap penilai tingkat kedewasaan intelektual dan fisik melalui hasil test yang objektif sebelum memasuki usia nikah dan untuk mempercayakan pengelolaan harta-harta kepada mereka, baik kepada yatim maupun kepada siapun karena ini berlaku umum. Dalam ayat yang sangat jelas diatas, tidak ada seorangpun dari muslim yang bertanggungjawab akan melakukan pengalihan pengelolaan keuangan pada seorang gadis belia berusia 7 tahun. Jika kita tidak bisa mempercayai gadis belia berusia 7 tahun dalam pengelolaan keuangan, Gadis tersebut secara tidak memenuhi syarat secara intelektual maupun fisik untuk menikah. Ibn Hambal rah.a menyatakan bahwa Aisyah yang berusia 9 tahun lebih tertarik untuk bermain dengan mainannya daripada mengambil tugas sebagai isteri (Musnad Ahmad Ibn Hanbal, vol.6, hal 33 dan 99)

Oleh karena itu sangatlah sulit untuk mempercayai, bahwa Abu Bakar Siddiq yang merukan seorang khalifah pertama Umat Islam sekaligus manusia terbaik etelah Rasulullah, akan menikahkan anaknya yang masih belia berusia 7 tahun dengan Nabi yang berusia 50 tahun?! Sama sulitnya untuk membayangkan bahwa Nabi ﷺ menikahi seorang gadis belia berusia 7 tahun!

Sebuah tugas penting lainnya dalam menjaga anak adalah mendidiknya. Marilah kita memunculkan sebuah pertanyaan,” Berapa banyak di antara kita yang percaya bahwa kita dapat mendidik anak kita dengan hasil memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 atau 9 tahun?” Jawabannya adalah nol besar! Logika kita berkata, adalah tidak mungkin tugas mendidik anak kita dengan memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 tahun, lalu bagaimana mana mungkin kita percaya bahwa Sayyidah Aisyah telah dididik secara sempurna pada usia 7 tahun seperti diklaim sebagai usia pernikahannya?

KESIMPULAN: Pernikahan Sayyidah Aisyah pada usia 7 tahun akan menentang hukum kedewasaan yang dinyatakan di dalam al-Quran dan tujuan Syariah Islam itu sendiri. Oleh karena itu, pendapat yang mengatakan pernikahan Sayyidah ‘Aisyah pada usia 7 tahun sangat diragukan.

Bukti #9: Tinjauan Fiqih Islami

Dalam fiqh Islam, seorang perempuan harus ditanya dan diminta persetujuan agar pernikahan yang dia lakukan menjadi sah, persetujuan yang kredible dari seorang wanita merupakan syarat dasar bagi kesahan sebuah pernikahan. Dengan mengembangkan kondisi logis ini, persetujuan yang diberikan oleh gadis belum dewasa berusia 7 tahun tidak dapat diautorisasi sebagai validitas sebuah pernikahan.

Adalah tidak terbayangkan bahwa Abu Bakr, seorang yang faqih dan paham betul hukum Islam, akan berpikir dan mananggapi secara keras tentang persetujuan pernikahan gadis 7 tahun yaitu anaknya sendiri Sayyidah ‘Aisyah. Dan di sisi yang sama, Nabi pun tidak mungkin menerima persetujuan pernikahan dari seorang gadis yang menurut hadith dari Muslim masih suka bermain-main dengan bonekanya ketika berumah tangga dengan Rasulullah?

KESIMPULAN: Rasulullah tidak menikahi gadis berusia 7 tahun karena akan tidak memenuhi syarat dasar sebuah pernikahan islami tentang klausa persetujuan dari pihak isteri. Oleh karena itu, hanya ada satu kemungkinan Nabi menikahi Aisyah seorang wanita yang dewasa secara intelektual maupun fisik.

RINGKASAN:
Pendapat mengenai usia Sayyidah Aisyah saat menikah dengan Rasulullah adalah 7 atau 9 tahun adalah masuk wilayah zhonni dalam khazanah ilmu Islam. Zhonni yaitu wilayah pembahasan yang luas dan tidak final  absolut benar (qath’i) hingga pintu hipotesa terbuka lebar hingga akhir zaman. Hal ini terbukti dengan banyaknya kritik pendapat ini dengan berbagai disiplin ilmu dan perspektif, seperti

  1. Riwayat hadits yang mengemukakan bahwa Sayyidah ‘Aisyah dinikahi Rasulullah pada usia 6 tahun dan berkumpul dengan beliau pada usia 9 tahun, mengalami kritikan dari beberapa ulama pada seorang rawi (periwayat) yang bernama Hisyam bin ‘Urwah yang banyak di-jarh (dikritik) oleh ulama hadits.
  2. Timeline dan fakta sejarah Islam yang mengungkap usia Aisyah ketika menikah yang lebih reliable:
    • Berkisar di atas 14 tahun menurut komparasi nukilan sejarah Imam At-Tabari
    • Berkisar di atas 12 tahun menurut komparasi nukilan sejarah Ibnu Hajar
    • Berkisar di atas 18 tahun menurut komparasi nukilan sejarah Ibnu Katsir
    • Berkisar 18-21 tahun menurut asbabun nuzul surat Al Qamar
  1. Kaidah bahasa Arab secara umum tentang kalimat Bikr, Sibyah, dan Jariah
  2. Kaidah hukum Islam dan Al-Quran secara umum terkait usia layak menikah dan keikutsertaan dalam perang yang telah dijelaskan di atas

    Akhirul kalam, Wallahu A’lam bis Showab (Allah yang Maha Tahu fakta yang sebenarnya)

_______________

Diterjemahkan, diedit dan diramu dari berbagai sumber
(Note: The Ancient Myth Exposed By T.O. Shanavas , di Michigan.
© 2001 Minaret from The Minaret Source: http://www.iiie.net/)


Responses

  1. saya cp ps dulu ya…
    terimakasih sudah berkunjung ke tempat saya🙂

  2. Ooooooh…, gitu tho?!
    *soalnya sempet bingung, temen sy malah bilang “nabiullah kan gak phaedophili!!” sambil emosi* Jadi.., makasi sudah ‘meluruskan’🙂

    -Salamun ‘Alaikum-

  3. tetap ja pak..dah sya copas jg mereka ttap mnjelekkan Nabi Muhammad….ya mudah2an ni tlsan+pnjelasan ini mnjadi asbab hidayah….

  4. Wallahu a’lam bish-shawabi…..(tambahan refrensi) …syukron….

  5. Mungkin maksudnya awalnya ‘sembilan belas’ tahun tapi oleh penulis hadisnya cuma tertulis ‘sembilan’… (Perawi hadist kan jg manusia, jd bisa sj lupa)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: