Oleh: Azan bin Noordien | Agustus 18, 2017

Sabar dan Shalat (Tafsir QS Al-Baqarah: 45)

old-muslim-manAllah ﷻ berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Terjemahan:

_Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’_

 

📜 TAFSIR & PENJELASAN 📜

Ayat yang sedang kita bahas ini (2:45) masih termasuk rangkaian perintah Allah ﷻ kepada Bani Israil.

Bani Israil pada awalnya adalah bangsa yang hebat, hingga Allah sebut dalam alQuran: _Dan sungguh Aku unggulkan kalian (dahulu) daripada bangsa-bangsa lain di seluruh dunia_ (QS 2:47)

Bani Israil dijadikan bangsa yang unggul karena terlahir daripada kalangan mereka para nabi, dan orang-orang salih. Namun setelah itu mereka berpaling meninggalkan agama, maka generasi Bani Israil menjadi rusak. Allah ﷻ menceritakan keadaan mereka melalui ayat berikut:

_Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. *Maka datanglah sesudah mereka, generasi pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya*, maka mereka kelak akan menemui kesesatan_ (QS Maryam: 58-59)

Lantas Allah hendak memberikan rahmat atau pertolonganNya kepada Bani Israil dengan cara mengajak untuk merevitalisasi spiritualitas mereka, yang merupakan asas umat yang madani. Allah ﷻ berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِين
_Carilah olehmu pertolongan dengan sabar dan shalat_

Maksudnya pertolongan Allah (al-isti’anah) didapatkan melalui dua bentuk ikhtiar, yaitu

✅ Pertama, adalah dengan bersabar.

Sabar (الصَبْر) secara bahasa bermakna (الحَبسُ والصَوم) yaitu mengurung, menahan atau mengekang. Sebab itu bulan Ramadan disebut juga dengan bulan kesabaran. Menurut Said bin bin Jubair dari Malik bin Dinar, sabar itu adalah pengakuan seorang hamba kepada Allah terhadap apa-apa yang menimpa dirinya dengan mengharapkan pahala dariNya.

Dalam tafsir Al-Sa’di, *sabar di dalam agama ada tiga macam* yaitu:

*Pertama*, sabar dalam meninggalkan larangan dan apa-apa yang diharamkan Allah. *Kedua*, sabar dalam menjalankan perintah Allah, baik yang difardhukan maupun yang disunnahkan. *Ketiga*, sabar ketika ditimpa masibah atau ujian.

Sabar adalah amalan luar biasa, pahalanya tiada batas. Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
_Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas._ (QS. Az-Zumar 39: Ayat 10)

✅ Proses kedua, adalah dengan melaksanakan ibadah shalat.

Shalat (الصلاة) secara bahasa artinya doa ( الدُعاء ).

Secara istilah/syar’i, shalat adalah sebuah rangkaian amaliah yang dimulai dari takbir hingga salam, dgn syarat dan rukun tertentu. Adapun shalat yang dimaksud pada ayat ini adalah shalat dengan istilah syar’i.

Setelah hawa nafsu dilatih dengan bersabar kemudian langkah selanjutnya yaitu membersihkan jiwa dengan shalat (tazkiyatun nafs) dengan memperbanyak doa, dzikir dan munajat kepada Allah. Allah SWT berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِى وَلْيُؤْمِنُوا بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
_Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran._ QS 2:186

Ayat ini berkorelasi dengan penjelasan Rasulullah ﷺ dalam hadits berikut:

أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد ، فأكثروا الدعاء
_Jarak terdekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia bersujud. Maka perbanyaklah doa ketika itu._ (HR Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i)

Sebagian ulama mengatakan: adapun dikaitkannya antara sabar dan shalat pada ayat ini dikarenakan sabar ialah amalan yang membantu agar zuhud dari dunia, sedangkan shalat adalah amalan untuk mencapai cita-cita akhirat.

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwasanya makna huruf (وَ) penghubung antara sabar dan shalat bermakna (عَلى) ‘ke atas’ sehingga makna ayat menjadi: “Dan carilah pertolongan dengan sabar ke atas shalat..” sebagaimana firmanNya:

وَأْمُر أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ واصْطَبِرْ عَلَيهَا
_Dan perintahkanlah keluargamu untuk mengerjakan shalat dan bersabarlah ke atasnya.._

Selanjutnya,

وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
_Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’_

Mengenai kembalinya dhamir (kata ganti) huruf (ها) pada kalimat (وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ), ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan bahwa ia kembali kepada keduanya (sabar dan shalat) sekaligus. Sebagian ulama mengatakan bahwa kembali kepada taqdir yaitu (الوَصية) ‘wasiat’ yaitu agar berlaku sabar dan mengerjakan shalat. Namun menurut penulis, yang paling tepat adalah kembali kepada kata (الصلاة) ‘shalat’ karena paling cocok dengan siyaq kalimat dan sejalan dengan kaedah nahwu secara umum.

Sehingga bisa disimpulkan bahwa shalat adalah ibadah yang berat dan butuh kesabaran. Namun shalat itu bisa menjadi ringan, mudah dan penuh kenikmatan bagi mereka yang khusyu’. Sebagaimana ungkapan Rasulullah berikut:

وجُعلت قرة عيني في الصلاة
_Ketenangan yang tertinggi kuperoleh di dalam shalat_

Mengenai makna ‘orang yang khusyu’ ulama berbeda pendapat. Ibnu Abbas menafsirkan kata ) الخَاشِعِيْنَ ) yaitu orang yang beriman dan membenarkan apa yang diturunkan Allah berupa kitab suci. Sedangkan Abul Aliyah berpendapat, orang yang khusyu’ yakni mereka yang takut kepada Allah ﷻ. Sebagian ulama lagi berpendapat bahwa orang yang khusyu’ yaitu mereka yang merendahkan diri dan hatinya kepada Allah. Semua penafsiran ini tidak bertentangan, justru sangat baik bila dikombinasikan. ~Wallahu a’lam.

☕ FAEDAH & HIKMAH ☕

💡 Shalat merupakan ibadah yang mengundang pertolongan Allah ﷻ. Abul Aliyah berkata mengenai ayat ini (QS 2:45): Shalat adalah amalan terbaik dalam mengundang pertolongan Allah dan kita diseru melakukan itu sebagaimana firmanNya:

أُتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِن الكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاة إِن الصلاةَ تَنْهى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِوَلَذِكْرُ الله أَكْبَرُ
_Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari kitab (Al-Quran) dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar, dan sungguh mengingat Allah tsb (Shalat) adalah (amal yang ) paling agung._ (QS Al-Ankabut:45)

Ketika seorang mukmin ditimpa masalah dan persoalan, disunnahkan melaksanakan shalat hajat sebagai bentuk ikhtiar (usaha) yang utama, agar mendapatkan pertolongan (ma’ūnah) dari Allah Swt. Sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ, yang diriwayatkan dari Huzaifah ia berkata;

كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا حزبه أمرٌ صلى
_Nabi apabila ditimpa satu masalah beliau shalat_ (HR Abu Daud).
Dalam riwayat lain: _Jika Nabi ditimpa masalah, beliau bersegera mengerjakan shalat._

💡 Khusyu الخُشُوْع secara bahasa bermakna tunduk, takut, merendahkan, mengecilkan suara, menundukkan pandangan. Sedangkan secara istilah khusyu’ bermakna diam menfokuskan diri dan mengkonsentrasikan jiwa dengan menghadirkan kebesaran Allah di dalam shalat.

Khusyu’ adalah visi, sedangkan misi kita adalah melakukan ikhtiar atau usaha agar bisa khusyu’. Banyak ulama yang menjelaskan bagaimana cara agar bisa khusyu di dalam shalat, diantaranya;

✔Pertama, meningkatkan iman kepada Allah ﷻ, bahwasanya kita akan mati dan kembali ke hadiratNya. Sebagaimana dijelaskan makna orang yang khusyu’ Allah pada ayat berikutnya:

(الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ)
(mereka yang khusyu’ yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS 2:46)

Sebaik-baik perjalanan adalah dengan mempersiapkan bekal. Dan bekal terbaik adalah amal salih, dan amal salih yang terbaik adalah shalat.

✔Kedua, memahami arti bacaan shalat, jangan sampai bacaan shalat yang kita baca sekedar ‘komat-kamit’ berlalu tanpa makna. Mempelajari bahasa arab memang tidak wajib, tetapi mempelajari bahasa arab yang berkaitan dengan ibadah adalah fardhu ‘ain (wajib setiap muslim, jika tidak dilakukan maka berdosa).

✔ Ketiga, mempersiapkan diri sebelum shalat. Jika lapar makan terlebih dahulu. Jika udara begitu panas atau mengantuk, lebih baik ditunda agar bisa shalat dalam kondisi benar-benar prima. Yang terbaik menyiapkan diri sebelum masuk waktu shalat.

✔Keempat, mempersiapkan pakaian, tempat dan lingkungan shalat sekondusif mungkin. Jangan sampai mengganggu ketika shalat.

✔ Kelima, sempurnakan proses ‘taharah’ (bersuci) mulai dari etika/adab beristinja, perhatikan tatacara wudhu, tatacara mandi besar jika junub dlsb. Jika taharah kita tidak beres, maka rangkaian ibadah shalat juga kemungkinan besar tidak sah.

✔Keenam, membaca ( أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ), sebelum shalat agar terhindar dari was-was setan pengganggu shalat yang bernama Khanzab.

✔Ketujuh, menghindari dosa-dosa besar yang menghambat hati dari cahaya Allah. Dosa dan maksiat bisa menyebabkan tercabutnya rasa khusyu’.

✔Kedelapan, memperbanyak istighfar setelah shalat terutama kelalaian kita selama shalat dan membaca doa:

اللّهُمَّ أَعِنِّي عَلى ذِكْرِكَ وَشُكْرِك وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
_Ya Allah bantulah aku dalam berdzikir/mengingatMu dan mensyukuri (pemberian) Mu dan dalam memperbaiki keadaan ibadahku._

✔ Kesembilan, practice make perfect. Yaitu membiasakan dan memperbanyak shalat sunnah sebagai latihan. Semakin banyak shalat, semakin mudah terlatih untuk khusyu’. ~Wallahul musta’aan.

☕Demikianlah kajian kita seri kali ini. Semoga bermanfaaat, menambah wawasan keislaman kita, guna meningkatkan iman dan amal salih. Aamiin.

وَالسَّلَامُ عَلَيكُم وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ 🙏🏻
___________________________________
Jakarta, 14 Juni 2017/ 18 Ramadan 1438 H
___________________________________
✍ penulis: http://www.azansite.wordpress.com/penulis/
__________________________________
#albaqarah45
gabung @kajiantafsirLT (Telegram)

q

Iklan
Oleh: Azan bin Noordien | Agustus 18, 2017

Jangan seperti lilin! (Tafsir QS Al-Baqarah: 44)

bcbf25a0bab4377afd941e202029d1f4Allah ﷻ berfirman:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتٰبَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

TERJEMAHAN:

_Mengapa kalian menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kalian mengerti?_

📜 TAFSIR & PENJELASAN 📜


Asbabun Nuzul

Ada beberapa riwayat mengisahkan sebab diturunkannya ayat ini.

Pertama.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa ayat ini diturunkan kepada sebagian pemuka ahli kitab yang berdialog dengan sebagian kerabat mereka yang masuk Islam.

Mereka berkata: “Tetaplah kalian pada agama Muhammad (Islam), sesungguhnya itulah (agama yang) benar.” Mereka menyuruh orang lain berbuat demikian akan tetapi mereka sendiri enggan mengikuti kebenaran Islam tersebut. Maka turunlah ayat ini.

Kedua.
As-Suddi berkata: Bani Israil dahulu menyuruh orang-orang untuk menta’ati Allah, agar bertaqwa kepada Allah, agar berbuat amal salih, akan tetapi mereka sendiri tidak melakukan itu. Maka Allah ﷻ mencela perilaku mereka dengan ayat ini.

Allah ﷻ berfirman:

أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسهم
_Apakah kalian (ahli kitab) menyeru manusia kepada kebaikan (Islam) sedangkan kalian kalian lupa terhadap diri kalian sendiri?_

Pada ayat ini Allah menegur sikap pemuka yahudi dengan celaan teguran yang keras. Kata ‘apakah..’ pada permulaan ayat bukanlah kalimat tanya , akan tetapi sebuah bentuk teguran dan celaan.

Kata (البِرُّ) ‘kebaikan’ secara bahasa bermakna keta’atan, kebaikan, dan amal salih. Namun maksud kata ‘Al-bir’ pada ayat ini adalah agama Islam yang didakwahkan oleh Rasulullah ﷺ.

Sehingga makna ayat menjadi: kalian mengajak orang-orang kepada iman dan Islam, akan tetapi kalian tetap dalam kekufuran? padahal kalian tahu persis apa yang dibawa Nabi Muhammad itu adalah benar.?

Adapun redaksi:

وَأَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الكِتَابَ
_,padahal kalian membaca Alkitab_

Yaitu yahudi mengetahui persis bahwa beliau ﷺ adalah nabi yang mereka nanti-nantikan, bahwa kenabian beliau ﷺ adalah benar, yang membawa wahyu berupa Al-Quran dan wajib mereka imani.

Bahkan dalam banyak riwayat hadits, pemuka-pemuka yahudi madinah sering mendatangi dan menguji kerasulan Nabi Muhammad ﷺ, sesuai dengan informasi yang mereka punya pada kitab Taurat mereka.

Namun, setelah mereka mengetahui kebenaran, mereka justru semakin mengingkari. Tentu ini merupakan anomali dan sikap yang sangat aneh. Karena bagi orang yang berakal, tentu tidak akan membiarkan dirinya tersesat dan terjatuh kepada kesalahan padahal ia tahu jalan keselamatan?

Sebab itu, sangat pantas bila Allah menutup ayat ini dengan ungkapan:

أفلا تعقلون
_tidakkah kalian berfikir?_

Ulama bahasa arab mengatakan bahwa redaksi kalimat ini disebut dengan istifham inkari, yakni bentuk pertanyaan tetapi maksudnya adalah teguran.

Yakni: “Tidakkah kalian pergunakan akal sehat itu agar membimbing kalian kepada kepada hidayah dan petunjuk Allah?

☕ *FAEDAH & HIKMAH* ☕

Ayat ini mengajarkan kita tentang banyak hal, diantaranya:

💡 Pentingnya menyelaraskan antara perkataan dan amal perbuatan. Sebagaimana firman Allah swt:

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
_Sangatlah besar kemurkaan di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan._ (QS 61: 3)

💡 Ayat ini merupakan dalil bahwasanya wajib mendahulukan diri sendiri di dalam hal ibadah, sebelum orang lain. Sebagaimana kaidah:

الإيثار في العبادة مكروه و في غيرها من أمور الدنيا مستحب
“Mendahulukan orang lain dalam perkara ibadah tercela, sedangkan mendahulukan orang lain dalam urusan duniawi, dianjurkan.”

💡 Islam mencela sifat-sifat hipokrit. Jangan menjadi seperti lilin, menerangi orang lain akan tetapi menghancurkan diri sendiri.

Oleh sebab itu, di dalam berdakwah jangan sekali-kali memasang niat agar mengubah orang lain yang didakwahi (mad’u) agar menjadi lebih baik, akan tetapi ketika berdakwah hendaklah memasang niat untuk islah (memperbaiki) diri sendiri.

Hal ini dilandasi oleh firmanNya:

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. (يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ…)
_Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, pasti Allah perbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu.._ (QS 33:70-71)

Dan tidak ada ucapan yang paling baik selain kalimat-kalimat dakwah/mengajak manusia taat kepada Allah. Sebagaimana firmanNya:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ الْمُسْلِمِينَ
_Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?”_ (QS 41: 33)

💡 Banyaknya informasi tidaklah menjamin kesuksesan seseorang, akan tetapi semua itu harus dikembalikan kepada hidayah dan rahmat dari Allah ﷻ.

Ciri khas orang yahudi adalah mereka adalah ‘menuhankan’ ilmu dan pengehuan, tapi enggan mengamalkan ilmu mereka . Bahkan pada ayat yang lain Allah menganalogikan mereka seperti keledai. Allah ﷻ berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرٰىةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًۢا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِئَايٰتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِينَ
_Perumpamaan orang-orang yang diberi amanah berupa kitab suci Taurat, kemudian mereka tidak mentunaikannya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim._ (QS 62: 5)

Sedangkan ciri umat Muhammad ﷺ adalah menjadikan ilmu sebagai sarana untuk mengaplikasikan syariat Allah ﷻ. Inilah jalan yang seharusnya ditempuh setiap mukmin, sebagaimana doa kita di dalam shalat:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ . صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
_Berilah kami hidayah (petunjuk, agar senantiasa berada) di jalan yang lurus. Bukan jalan mereka yang dimurkai (yahudi) dan bukan pula jalan mereka yang sesat (nashara)_ (QS 1: 6-7)

☕Demikianlah kajian kita seri kali ini. Semoga bermanfaaat, menambah wawasan keislaman kita, guna meningkatkan iman dan amal salih. Aamiin.

وَالسَّلَامُ عَلَيكُم وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ 🙏🏻
___________________________________
Jakarta, 3 Mei 2017/ 7 Sya’ban 1438 H
___________________________________
✍ Penulis: http://www.azansite.wordpress.com/penulis/
__________________________________
#albaqarah44
q

imagesAllah ﷻ berfirman:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

TERJEMAHAN:

Dan dirikanlah oleh kalian shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.

 

TAFSIR & PENJELASAN

Ayat ini muncul di antara ayat-ayat yang membahas tentang Bani Israil, sehingga secara lahir ayat ini amemang ditujukan kepada orang-orang yahudi secara khusus.  Allah ﷻ berfirman:

واقيموا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ

_Dan dirikanlah oleh kalian shalat, tunaikanlah zakat_

Yaitu Allah memerintahkan Ahli kitab dari kalangan yahudi ahli kitab, agar melaksanakan shalat bersama Nabi Muhammad ﷺ dalam jama’ah, dan agar mereka menunaikan zakat.

Hal ini bermakna Ahli kitab juga diseru untuk melaksanakan syariah Islam, mereka adalah juga dibebankan taklif untuk melaksanakan cabang-cabang perintah agama Islam (yaitu ibadah) sebagaimana umat Islam pada umumnya, seperti kewajiban mendirikan shalat dan membayar zakat. Tentu dengan syarat mereka beriman dan bersyahadat sebagai syarat sahnya mereka memasuki gerbang Islam. Sebagaimana didahului oleh ayat sebelumnya yaitu:

وَآمِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ

_Dan berimanlah kalian terhadap apa yang telah Aku turunkan (yakni Al-Quran) yang membenarkan apa-apa yang ada pada kalian (Taurat/Injil)_ (QS 2:41)

Selanjutnya, redaksi ayat berbunyi:

وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

_”dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’._

Yaitu orang-orang yahudi  juga diseru untuk hidup berjamaah bersama kaum muslimin pada umumnya, menyatukan shaf dalam barisan orang-orang yang beriman/muslimin.

Disebutkannya lafaz ruku’ (الرُكُوْع) di penutup ayat ini, tidaklah bermakna melakukan ruku’ saja akan tetapi maksudnya ialah gerakan shalat secara sempurna. Ini adalah majaz mursal, yakni menyebutkan sebagian tapi bermaksud keseluruhan.

Sebagian ulama mengatakan: disebutkannya lafaz ruku’ menegaskan syariat bagi kaum ahli kitab agar mereka ruku’ ketika shalat, karena shalat mereka pada awalnya tidak ada ruku’. Wallahu a’lam.

FAEDAH & HIKMAH

💡 Ayat ini menghapus eksklusivitas Bani Israil ke atas bangsa-bangsa yang lain. Ras yahudi tidaklah lebih mulia di mata Allah ﷻ daripada bangsa-bangsa yang lain, kecuali jika mereka beriman dan tunduk dengan syariat yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.

💡 Sebagian mazhab Ahlussunnah seperti mazhab Hanbali dan Zahiry, menjadikan ayat ini sebagai dalil wajibnya shalat berjamaah, untuk shalat-shalat fardhu.

Sebab lafaz yang digunakan berbentuk perintah yaitu: (وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ ) _dan rukuklah beserta orang-orang yang ruku’_. Sesuai dengan kaedah ushul-fiqih bahwasanya:

الأصل في الأمر للوجوب

“Asal dari sebuah perintah adalah wajib”

💡 Bentuk ayat ini banyak terulang di dalam Al-Quran baik khitob (arah)nya kepada Bani Israil maupun kepada kaum muslimin.  Pemilihan dua ibadah secara terulang di banyak tempat di dalam Al-Quran, menunjukkan urgensinya keduanya.

Shalat sebagai ibadah ruhiyah yang utama dan zakat sebagai ibadah harta yang paling afdhal. Pembahasan mengenai berbagai ubudiyah Bani Israil akan dijelaskan lebih rinci pada tafsir QS 2:83. InsyaAllah.

💡  Dari ayat ini kita belajar, bahwa pentingnya hidup berjamaah. Berjamaah adalah simbol kesatuan dan sebab diturunkannya pertolongan dari Allah kepada kaum mukminin. Sedangkan perpecahan, pertanda dicabutnya keberkahan dan awal mula kehancuran suatu bangsa.

Jika yahudi saja dihimbau untuk bergabung bersama barisan kaum muslimin dan hidup berdampingan, apalagi kita sesama kaum muslimin. Tentu lebih utama lagi untuk dijalin kesatuan dan persatuan.  Sebagaimana firman Allah ﷻ: _“Berpegangteguhlah kalian kepada tali agama Allah dan jangan kalian bercerai berai..”_ (QS 3: 103)

Sebab dengan hanya dengan berjamaah-lah akan terwujud kehidupan masyarakat yang madani, baik dalam konteks sosial, ekonomi, bahkan jihad qital.

☕Demikianlah kajian kita seri kali ini.  Semoga bermanfaaat,  menambah wawasan keislaman kita, guna meningkatkan iman dan amal salih.  Aamiin.

وَالسَّلَامُ عَلَيكُم وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ 🙏🏻

___________________________________

Jakarta, 2 Mei 2017/6 Sya’ban 1438 H

✍  Penulis: www.azansite.wordpress.com/penulis/

__________________________________

#albaqarah43

gabung @kajiantafsirLT (Telegram)

q

Oleh: Azan bin Noordien | Agustus 18, 2017

Karakteristik Mereka yang Khusyu’ (Tafsir QS Al-Baqarah: 46)

old-muslim-manAllah ﷻ berfirman:

الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Terjemah:

_(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan (meyakini) bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.

Ayat ini adalah penjelas dari ayat sebelumnya; yakni tergolong kepada tafsir alquran dengan quran. Allah berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

_Carilah pertolongan dengan sabar dan shalat sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi mereka yang khusyu’_ (QS 2:45)

Allah menjelaskan karakteristik manusia yang khusyu’ tsb melalui ayat ini (QS 2:46) :

الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

_(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan (meyakini) bahwa mereka akan kembali kepada-Nya._

Mereka yang khusyu itu ialah mereka yang meyakini dengan imani yang sempurna bahwasanya mereka pasti akan bertemu dengan Rabb yang telah menciptakan dirinya, memberi ia rizki, dan begitu banyak nikmat selama di dunia. Sebagian ulama menafsirkan pertemuan disini adalah pertemuan khusus, yakni setiap individu dengan Allah saja.

Kalimat (ّالظَن) dalam lafaz ayat ini bermakna yakin (ُاليَقِيْن) bukan sangkaan/ keraguan (شَكٌّ).

Imam Ibnu Jarir berpendapat bahwa dalam bahasa Arab, kata ( ظَنٌّ ) adalah kata ‘musytarak’, yakni terkadang menggunakan kata (ظَنّ ) yang bermakna yakin dan ( ظَنٌّ ) yang bermakna sangkaan/keraguan.

Namun begitu Mujahid berpendapat bahwa semua lafaz ( ظَنٌّ ) di dalam Al-Quran bermakna yakin atau mengetahui.  Begitu juga pendapat Imam Ar-Razi dan mayoritas ulama.

Contoh penggunaan kata ( ظَن ) di dalam ayat Al-Quran:

إِنِّى ظَنَنْتُ أَنِّى مُلٰقٍ حِسَابِيَهْ

_”Sesungguhnya aku yakin, bahwa (suatu saat) aku pasti akan menerima perhitungan terhadap diriku.”_ (QS 69: 20)

☕ *FAEDAH & HIKMAH* ☕

 💡 Iman dan keyakinan kan pertemuan denganNya memotivasi seorang mukmin agar giat beramal salih dan meninggalkan maksiat. Sebagaimana seorang perindu yang hendak bertemu kekasih yang sudah lama berpisah. Maka sebelum pertemuan itu, ia siapkan segala sesuatu yang membuat sang terkasih ridha, bangga dan berbahagia.

Allah ﷻ berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

_Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya._ (QS Al-Kahf 18: 110)

Sebaliknya bagi mereka yang ketika di dunai tidak merasa rindu dan ingat perjumpaan dengannya, maka Allah Swt melupakan dirinya pada hari akhirat.

Imam Ibnu Katsir berkata: “Di dalam hadits yang sahih, pada kiamat Allah bertanya kpd seorang hamba:

“Bukankah aku telah menikahkanmu (memberimu pasangan)? Bukankan aku telah memuliakan dirimu (sebagai manusia)? Bukankah aku telah menaklukan bagimu kendaraan, menjadikanmu seorang pemimpin dan mengembannya?

Hamba itu menjawab: ‘Benar Ya Allah’

Maka Allah berfirman:

‘Apakah kamu meyakini pertemuan denganKu ini..?’

Dia menjawab:  ‘Tidak’

Maka Allah berfirman:

“Hari ini aku melupakanmu sebagaimana kamu dahulu melupakan diriKu.”

💡Pertemuan dengan Allah ﷻ di akhirat adalah kenikmatan tertinggi penghuni surga, merupakan cita-cita setiap insan beriman. Allah ﷻ berfirman:

{وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ.  إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ}

_Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat._ (QS Al-Qiyamah: 22-23)

{ لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ}

_Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi kami ada tambahannya._ (QS Qaf:35)

{لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ}

_Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya._ ( Qs Yunus :26)

Yang dimaksud dengan ‘tambahannya’ (الزِّيَادَة) pada ayat-ayat ini ialah kenikmatan bertemu dan melihat Allah ﷻ sebagaimana ditafsirkan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadits berikut:

” إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، قَالَ: يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ، وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ ” ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ: {لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ} [يونس: 26]

“Jika penghuni surga sudah masuk ke surga, Allah berkata kepada mereka: Apakah kalian menginginkan sesuatu nikmat kutambahkan untuk kalian? “

Mereka menjawab: “Bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke surga, dan menyelamatkan kami dari neraka?”

Rasulullah melanjutkan: “Kemudian Allah membuka hijab-Nya, maka mereka tidak diberi sesuatu yang lebih mereka sukai dari pada kenikmatan melihat Allah  ﷻ kemudian Rasulullah ﷺ membaca ayat:

{لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ} [يونس: 26]

_Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.._ (HR Muslim)

Demikianlah akidah ahlussunnah waljamaah bahwasanya pertemuan dengan Allah ﷺ di akhirat adalah benar. Bahkan termasuk nikmat yang paling besar bagi penghuni surga. Semoga kita kembali kepada Allah dalam  keadaan ridha dan diridhai. Amin.

☕Demikianlah kajian kita seri kali ini.  Semoga bermanfaaat,  menambah wawasan keislaman kita, guna meningkatkan iman dan amal salih.  Aamiin.

وَالسَّلَامُ عَلَيكُم وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ 🙏🏻

___________________________________

Jakarta, 15 Juni  2017/19 Ramadan 1438 H

✍  writer: www.azansite.wordpress.com/penulis/

#albaqarah46

q

shapeimage_1Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

TERJEMAHAN:

_Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq (kebenaran) dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui._

TAFSIR & PENJELASAN

Bani Israil dijuluki sebagai ahlul kitab karena mereka memiliki pengetahuan tentang risalah kenabian melalui kitab-kitab samawi, termasuk kerasulan Nabi Muhammad ﷺ sebagai Nabi penutup yang menyampaikan kitab suci Al-Quran.

Namun pemuka-pemuka agama ahlul kitab (yahudi) berusaha menyembunyikan kebenaran yang diturunkan Allah ﷻ, kemudian mereka justru membuat hal-hal yang mengada-ada (batil) di dalam memahami Taurat dan Injil. Mereka merubah-rubah ayat Allah untuk memuluskan kepentingan dan hawa nafsu mereka (QS 5:41).

Melalui ayat ini Allah menegur kebiasaan kaum cendekiawan atau ‘ulama’ yahudi yang lancang ‘mengobok-obok’ kandungan kitab suci yang Allah amanahkan kepada mereka, lalu mereka campuri dengan kebatilan yang mereka buat-buat. Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ

Jangan kalian campur-adukkan kebenaran dengan kebatilan.

Huruf (لا) pada ayat ini adalah negasi (nahiyah) yang berfaidah larangan secara mutlak. Sedangkan kerja (تلبسوا) ‘talbisuu’  berbentuk kata kerja aktif (fi’l mudhari’)  yang bermakna kesinambungannya  aktivitas tsb.

Maksudnya: Wahai kaum Bani Israil, janganlah kalian mencampur-adukkan antara kebenaran yang diturunkan Allah melalui kitabNya, dengan kebatilan-kebatilah yang kalian ada-adakan, dan jangan kalian ubah ayat-ayat Taurat tsb demi kepentingan dan hawa nafsu kalian.

وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

_dan kalian menyembunyikan kebenaran itu padahal kalian mengetahuinya.._

Kata ‘Al-Haq’ pada ayat ini maksudnya keterangan tentang Nabi Muhammad ﷺ yang termuat rinci di dalam Taurat. Dan perintah Allah agar mereka (yahudi)beriman dan mengikuti beliau ﷺ.

Secara lengkap, maksudnya redaksi ayat ini adalah: wahai Bani Israil, dan jangan pula kalian sembunyikan fakta mengenai ciri-ciri  Nabi Muhammad ﷺ yang kami jelaskan pada kitab Taurat, padahal kalian tahu persis tentang kenabian beliau ﷺ?

Lantas mengapa Bani Israil menyembunyikan fakta dan kebenaran Nabi Muhammad ﷺ. Apa motif dan tujuan mereka? Dan mengapa yahudi begitu benci dan menolak kenabian Rasulullah ﷺ? InsyaAllah dibahas pada kajian tafsir berikutnya.

FAEDAH & HIKMAH

 💡 Pengulangan kata ‘Al-Haq’ pada ayat ini sebanyak dua kali pada aya ini, sedangkan kata ‘batil’ –lawan dari kebenaran- hanya sekali saja, menunjukkan bahwa Allah memuliakan kebenaran tsb, dan Dia akan senantiasa memenangkan kebenaran di atas kebatilan. Ketiadaan dhamir (kata ganti) untuk kata ‘Al-haq’ pada frase kedua ayat –padahal itu memungkinkan secara gramatikal-, berfungsi untuk penekanan makna, menegaskan bahwa Allah menyukai penyebutan ‘Al-haq’ ketimbang kebatilan.

💡 Salah satu rukun iman adalah meyakini adanya kitab-kitab suci sebelum Al-Quran, seperti kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa, kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa, kitab Zabur kepada Nabi Daud, dlsb. Umumnya kitab-kitab samawi ini diturunkan kepada Nabi-Nabi di kalangan Bani Israil.

💡 Salah satu hikmah lain dari ayat ini, yaitu mengenai kewajiban menyampaikan kebenaran dan larangan menyembunyikan ilmu. Sebagaimana firman Allah ﷻ:

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati. (QS 2:159).

Meski ayat ini arahnya kepada orang kafir, namun khitob (pesannya) bisa dengan mudah kita pahami bahwa menyampaikan kebenaran meski pahit adalah sebuah urgensi dalam agama. Sebagaimana Rasulullah ﷺ melarang kita menyembunyikan ilmu agama. Beliau ﷺ bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللَّهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa ditanya mengenai suatu ilmu dan ia menyembunyikannya, maka ia akan dicambuk dgn cambuk dari api neraka pada hari kiamat. [HR Abu Daud]

💡 Ayat ini merupakan salah satu dalil bahwasanya kitab Taurat dan Injil yang ada saat ini sebagian besar telah mengalami perubahan-perubahan (tahrif). Dan Al-Quran datang melanjutkan dan menyempurnakan subtansi ajaran-ajaran kitab suci samawi terdahulu, dan mengungkapkan kecurangan yang dibuat-buat Ahli Kitab dalam merubah ayat-ayat Allah.

Lalu bagaimana sikap kita terhadap taurat dan injil yang ada di zaman sekarang?

Jawab: Sebagai muslim, kita tidak memungkiri dan tidak pula menerima. Akan tetapi kita beriman terhadap apa yang diberitakan Allah tentang kitab-kitab terdahulu yang termuat dan selaras dengan informasi yang terdapat di dalam AlQuran dan sunnah Rasulullah ﷺ. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata:

“Dahulu, ahli kitab (yahudi) membaca kitab Taurat dengan bahasa Ibrani (hebrew) dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab untuk diperdengarkan oleh kaum Muslimin. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: _Janganlah kalian benarkan perkataan ahli kitab itu, dan jangan pula kalian dustakan mereka, akan tetapi katakanlah, ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami (yaitu AlQuran)” (HR Bukhari)

☕Demikianlah kajian kita seri kali ini.  Semoga bermanfaaat,  menambah wawasan keislaman kita, guna meningkatkan iman dan amal salih.  Aamiin.

وَالسَّلَامُ عَلَيكُم وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ 🙏🏻

___________________________________

Jakarta, 3 Mei 2017/ 6 Sya’ban1438 H

 

#albaqarah42

gabung @kajiantafsirLT (Telegram)

q

Older Posts »

Kategori