Oleh: Azan bin Noordien | Juni 16, 2016

PUASA DAN IHSAN

تقرب الى اللهDi saat hawa nafsu tidak dikendalikan, manusia layaknya seperti binatang yakni memuaskan batinnya kepada sesuatu yang sifatnya lahirah dan materi, tidak lebih dari kebutuhan perut dan –maaf- sejengkal di bawah perut. Manusia juga tidaklah seperti malaikat, yang tidak memiliki nafsu dan keinginan hingga mampu terhindar dari kesalahan dan dosa, 100% taat kepada Allah Swt tanpa maksiat. Oleh karena itu di dalam Islam, kedudukan manusia sangat istimewa, karena pada saat ia memiliki potensi buruk, ia juga memiliki kesempatan memilih untuk menempuh dan menaikkan potensi baiknya. Baca Lanjutannya…

Oleh: Azan bin Noordien | April 13, 2016

Mewujudkan Ulama Di Tengah Umat

بسم الله الرحمن الرحيم

zxcvbnmvmcxzghgfdh1.jpg

Tersebarnya banyak kemaksiatan dan kerusakan dikarenakan karena kurangnya kehadiran sosok ulama di tengah masyarakat. Karena ulama ibarat lentera yang menerangi kejahilan dan kebodohan. Ulama adalah marja’ (rujukan) masyarakat agar menempuh jalan yang diridhai oleh Allah s.w.t yaitu syariah Islam. Allah s.w.t berfirman: “Bertanyalah kepada ulama jika kalian tidak mengetahui (AlAnbiya:7). Kita tidak perlu teriak “disini gelap, disini banyak maksiat” tapi cukup bawakan lampu, maka biarkan cahaya itu yang mengusir kegelapan dengan wibawa cahayanya.

Hadirnya sosok ulama yang benar-benar kredibel, mutlak sesuatu yang dirindukan insan beriman, sesuatu yang dibutuhkan bagi setiap masyarakat yang berakal. Namun sayangnya, tidak semua orang paham bagaimana cara mewujudkannya, apalagi bersedia berkorban untuk mencetak kader dan calon ulama di masa depan. Seolah pengkaderan ulama itu urusan orang lain, diri kita tidak ada andil sama sekali. Seolah-olah ulama itu muncul di masyararkat sekonyong-konyong, seperti turunnya hujan lebat di terik matahari siang. Baca Lanjutannya…

Oleh: Azan bin Noordien | September 9, 2015

Dakwah Lembut ala Rasulullah ﷺ

Bismillah walhamdulillah wassalamu alal habib almustafa, amma ba’du

1099531

Bangsa Arab yang tadinya keras, menjadi lembut karena akhlaknya Rasulullah

Sangat disayangkan , saat ini muncul sebagian pembicara yang kurang memahami ilmu komunikasi dakwah, melemparkan kalimat-kalimat yang ‘sulit’ kepada awam hingga menyulut perpecahan diantara kaum muslimin di masjid-masjid mereka. Kalimat haram, bid’ah, dolalah, sesat, neraka– adalah kalimat ‘berat’ di telinga orang awam. Oleh karena itu, dalam penyampaian hendaknya seorang mubaligh mau menyesuaikan tingkat pemahaman mustami’ (pendengar). Sebuah kalimat walaupun cuma sepatah kata, namun jika tidak sesuai pada tempatnya dan tidak sesuai dengan kadar ilmu mustami’, maka bisa menjadi sebuah awal terpeciknya api perpecahan dan suuzon. Oleh karena itu, muballigh harus memperhatikan gaya komunikasi dan melakukan pendekatan yang terbaik kepada umat.

Generasi salafuna salih dan para ulama sangat hikmah dalam komunikasi dalam dakwah dan ta;lim mereka. Contoh sederhana, sebagaimana ulama terdahulu biasanya mengganti kalimat ‘haram’ dengan menggunakan istilah ‘ma laa yurdhillah’ artinya apa-apa tidak diridhai oleh Allah. Atau kalimat bid’ah diganti dengan ‘khilaf assunnah’ (menyelisihi sunnah), atau dengan kalimat ‘sesat’ harus diimbangi dengan iringan do’a yang banyak (Allahumma yahdihim ‘smg Allah beri hidayah mereka) tanpa ada perasaan paling benar dan tidak perlu pakai ta’yin (menyebutkan nama atau kelompok tertentu). Ini semua soal uslub atau metode bayan, harus berhati-betul betul dengan umat Islam awam apalagi khitobnya kepada ahli masjid, kibaru-sin (orang-orang tua), apalagi tokoh agama.

Berikut beberapa ayat dan hadits yang memberi kita alasan yang kuat mengapa kita harus lemah lembut dalam berdakwah: Baca Lanjutannya…

Oleh: Azan bin Noordien | Agustus 30, 2015

Telaga Nabi dan Pendidikan Keluarga

بسم الله الرحمن الرحيم والحمد لله والصلاة و السلام على رسول الله أما بعد

وَإِنِّي مُنتَظِرُكُمْ عَلى الْحَوْضِ -الحديث. فانظر! إنما يكون ورودكم غدا على حسب الورود هنا إذا كنت تجيء مثل هذا المجلس ولك نية في صفاء القلب ولك نيه في رضى الرب ولك نية في العمل بالأوامر التي تسمعها فأنت وارد على حوضه. إذا رتّبت على نفسك تفقيه أسرتك في البيت وتعليمهم أحكام الشرع وتكون معينًا لهم على القيام بأمور الشرع.


كن معينا لأولادك على الإستقامة فإنه تتخطفهم أيادي كثيرة لتسوء أقوالهم فينطقون بالسوء أو لتسوء أفعالهم فيفعلون المنكرات أو يتركون الواجبات أو لتسوء أفكارهم. فيحتقرون الشريعة أو يحتقرون الدين أو يحتقرون النبوة و الرسالة وهذا ما تدعو إليه اليوم أصوات كثيرة تتخطف علينا أبنائنا يا ربي احفظ أبنائنا و أبناء المسلمين!
كن حارصا لبتاتك! كن حارصا لزوجتك! أعنهم على القيام بأمر الشريعة! ولا تكن حائلا بينهم و بين خير .إذا أرادوا خيرا ساعدهم أعنهم فإن المسؤولية كبيرة! (قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارَا)!

al-kawthar

Rasulullah ﷺ berpesan kepada kaum Anshar: “Aku menunggu kalian di telagaku (al kautsar)..” Renungkanlah! Kedatangan kalian besok disana akan sangat bergantung dengan keadaanmu di dunia. Jika engkau datang ke majelis seperti ini, dan ada niat untuk mensucikan hatimu, dan niat yang kuat untuk menggapai ridha Allah, dan niat yang kuat untuk mengamalkan apa-apa yang engkau dengar dalam majelis maka engkau akan sampai pada telaga Rasulullah! Jika engkau canangkan program pendidikan agama dan hukum syariah bagi keluargamu, dan engkau membantu mereka dalam menegakkan perintah syariat. Jadilah penolong bagi anak-anakmu agar mereka istiqamah, karena saat ini banyak sekali tangan-tangan yang mencengkeram mereka, yang bertujuan untuk merusak tutur kata mereka hingga mereka berbicara buruk, atau mereka berupaya merusak perilaku anak-anak kita hingga mereka berani berbuat yang terlarang, atau berani meninggalkan perintah agama, atau merusak akal mereka hingga berani melecehkan syariah, agama dan risalah kenabian. Hal inilah yang hari ini banyak dipropagandakan oleh berbagai media yang bertujuan mencengkeram anak-anak kita. Ya Rabb, jagalah anak-anak kami dan anak-anak kaum muslimin..

Jagalah putra-putri kalian! Jagalah istri-istri kalian! Bantu mereka menunaikan perintah-perintah agama, jangan malah jadi penghalang mereka dalam berbuat kebaikan. Jika mereka akan berbuat baik, bantu dan fasilitasi mereka! Karena ini tanggung jawab yang besar! Periharalah diri dan keluargamu dari api neraka!

(dikutip dari Nasehat Al-Habib ‘Umar ibn Hafizh, Mudir bi Ma’had Dar al-Mustafa liddirasaat Al-Islamiyah, Tarim-Hadramaut Yaman)

Oleh: Azan bin Noordien | Agustus 3, 2015

Ya Rabb, Ternyata Aku Masih Musyrik..

الشركSuatu ketika Sayyidina Abu Bakr Siddiq menangis dan menyesali kepada dirinya” Abu Bakr telah munafik, Abu Bakr telah munafik, Abu Bakr telah munafik..” begitu yang ia katakan kepada dirinya sendiri. Hingga perkataan ini didengar oleh Sayyidina ‘Umar ibn al-Khattab.

“Wahai Aba Bakr, mengapa engkau berkata seperti itu..?” tanya Syd ‘Umar ibn al-Khattab

“Sungguh aku telah munafik, ketika di depan Rasulullah ﷺ aku merasa seolah telah melihat surga dan neraka, namun ketika aku pulang ke rumahku berjumpa dengan keluargaku aku seolah melupakannya dan senang bercanda-canda dengan istri dan anakku hingga lupa kebesaran akhirat di majelis tadi..”

Syd ‘Umar berkata “Sungguh, aku juga merasakan hal yang sama..!” “marilah kita bicarakan hal ini kepada Rasulullah..” ajak Syd ‘Umar ibn Khattab. Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori