Oleh: Azan | Januari 27, 2012

Jatuh cinta dengan…bahasa arab

Banyak hal yang membuat saya cinta terhadap ilmu syar’i. Salah satunya ialah faktor bahasa arab, bagi saya bahasa arab adalah bahasa yang indah, baik bentuk hurufnya yang indah, cara penulisannya, ketepatan bahasanya, kefasihan pelafalan, keindahan struktur bahasanya, keluasan makna yang dihasilkan, dan keindahan ketika membaca Al-Quran sebagai satu alunan nada yang menyentuh dan berirama. Tidak bosan bagi diri saya belajar dan belajar bahasa arab. Melihat huruf arab sudah menjadi ‘something fun’ ,dan tidak menjemukan bagi diri saya. Ada satu kenikmatan tersendiri ketika huruf arab berjejer di setiap dokumen saya, folder laptop, kitab-kitab, maupun catatan-catatan hadits dan qoul ulama yang saya pelajari.

Dan satu hal yang ajaib dari bahasa arab, adalah sangat mudah dalam menghafalkan kalimah (frase) karena struktur bahasanya yang memang sistematis. Setiap kata dari bahasa arab bisa ditelusuri akar katanya (fi’il madhi), mudah ‘mengejar’ i’robnya dengan nahwu, dan bahasa inilah satu-satunya bahasa yang memiliki sighat (sintaks) yang mencapai ratusan perubahan kata. Cukup bagi seseorang mengetahui beberapa kata dalam bahasa arab, maka dgn ilmu shorof ia bisa mengembangkan dan mengetahui ratusan kata dari beberapa kata yang ia ketahui itu. Ditambah lagi jumlah huruf dalam bahasa arab berjumlah 29 macam (huruf alif hingga ya’) dengan 4 posisi vokal (fathah/kasroh/dhommah/jazm) akan semakin menggodok jutaan kata. Berbeda dengan bahasa ‘ajam yang umumnya menggabungkan antara vokal dengan huruf konsonan dalam satu jajaran huruf. Baca Lanjutannya…

Allah, indahnya namamu ketika disebut. Runtuhlah seluruh kehinaan ketika namamu disebut. Terangkatlah derajat seorang hamba ketika mengingati diriMu. Bukan karena kemampuan dan amal kami, tetapi karena Engkaulah yang hadir di sanubari ketika kami mengingat asmaMu. Engkau pernah berfirman dalam hadits qudsi:

من ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي
“Siapa yang mengingatku dalam dirinya, pasti Aku akan mengingatnya pula dalam diriKu.”

Alam ruhani memang sesuatu yang amat luas, menyelaminya seperti menyelami samudra indah yang seolah tiada berbatas. Kenikmatan dan keindahan bersama Allah adalah anugrah terindah, menjalani diri sebagai hambanya adalah satu semesta yang tiada habisnya. Nikmat luar biasa, tiada bisa dijelaskan dengan kata-kata bahasa dunia.

Kembali ke alam zhahir dan hiruk pikuk dunia, sebuah konsep spiritual terkadang sulit dipahami secara praktik oleh sebagian hamba. Seolah ada jurang pemisah antara Spiritual dengan pemecahan masalah-masalah yang selalu dihadapi manusia. Padahal jika kita sedikit mau mujahadah berfikir dalam, maka akan ditemukan jalan-jalan dan alur yang cerdas berwibawa ketika kita dengan Allah.
و من يتق الله يجعله مخرجا
“Siapa yang bertaqwa kepada Allah, dijadikan baginya jalan-jalan keluar (dari masalah)” Baca Lanjutannya…

Oleh: Azan | Januari 24, 2012

Adab dalam mempelajari hadits di zaman digital

Belajar hadits secara instan lewat sarana elektronik memang memudahkan. Zaman yang serba canggih, semua informasi mudah didapatkan dan dipelajari. Begitu juga tentang materi-materi agama, khusus untuk kajian agama –memang sangatlah diperlukan- ada satu perlakuan khusus dan adab dalam mempelajarinya terutama yang berkaitan dengan nash-nash sumber hukum Islam mutlak seperti ayat Al-quran dan al-hadits.

dalam mempelajari hadits, ada ada beberapa syarat dan ketentuan mengingat satu kaidah syariat yang mungkin cukup ‘ekstrim’ bagi kebanyakan umat islam. Salah satu kaidahnya syar’iyyah-nya yang mau saya singgung yaitu:
الحديث مضلة إلا للفقهاء
Al-Hadits itu menyesatkan, kecuali bagi fuqaha/ulama’ (Imam Syufyan bin Uyainah, guru Imam As-Syafi’i)

Maksud ‘menyesatkan’ disini adalah kurang memahami atau bahkan salah paham terhadap apa yang dimaksudkan oleh lisan Nabi Muhammad -salallahu alaihi wassalam. Karena dalam mendalami hadits, seseorang minimal sudah memahami ayat al-quran, ulumul hadits (mustolahat hadits), asbabul-wurud al-hadits, paham fiqh dasar, dan ada guru yang membimbing. Guru yang membimbing pun benar-benar orang yang bisa dipertanggungjawabkan keilmuannya haditsnya, berakhlak mulia, bertaqwa, wara’, dan benar-benar tsiqah (terpercaya). Baca Lanjutannya…

Adakah laki-laki yang lebih halus perasaannya daripada wanita? Untuk zaman kini, wanita sudah rendah rasa malunya, sudah hilang sisi halusnya. Jika pun ada, itu cuma basa-basi untuk menggaet lelaki yang sedang mencari kefeminiman wanita. Laki-laki ini berbeda, perasaannya lebih halus daripada wanita, bukan karena ia bencong atau waria, tetapi karena ada sesuatu yang lain darinya.

Kita berbicara tentang seorang laki-laki yang beriman. Punya keyakinan yang kuat di dalam hatinya, punya prinsip yang mengakar dalam jiwanya, punya naluri yang bersih dalam sanubarinya, punya kasih sayang yang melimpah dalam setiap ulurannya, dan punya pandangan yang teduh setiap gerak persoalan dunia. Inilah lelaki yang lebih halus perasaannya daripada wanita. Baca Lanjutannya…

Seringkali hati ini merasa sesak akan takdir Allah (qadarullah) yang berlaku, merasa benci dengan adanya takdir dan ketetapanNya. Banyak hal yang tidak sesuai dengan harapan dan keinginan ditanggapi dengan sikap cengeng dan tidak sabar. Pada situasi ini tidak jarang muncul sikap berkeluh kesah dan mengeluh. Sebaliknya, seringkali sesuatu hal yang kita nantikan dan inginkan, terjadi lebih baik dari perkiraan seperti sebuah  surprise. Namun pada situasi kedua ini, manusia jarang bersyukur dan asyik ber-euphoria larut dalam kesenangan. Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori