Politik Kampus Menuju As Siyasah Al Islamiyah

Terlalu banyak perbedaan jika kita tidak mengikuti sunnah

Sore itu ketika saya baru keluar dari kampus, tiba-tiba dari arah belakang seorang mahasiswa yunior memanggil saya. “kak, udah tau ini belum..?” ia berbicara begitu semangat sambil menyodorkan secarik kertas putih yang agak lecek ke tangan saya. Saya memperlambat jalan dan mulai memerhatikan tiap kata dalam kertas itu. “Tadi ada yang membagi-bagikan di kampus, kaya selebaran gitu.” adik tingkatku itu kembali memberikan informasinya. “Kurang ajar! Salah kita sich yang terlalu ekstrim..!! “bawa-bawa nama ketua BEM lagi!” Ujarnya dengan agak kesal. “gimana nich kak..?!” ia pun mulai melayangkan pertanyaannya kepada saya. “Kalo antum marah-marah terus, gimana ane bisa membacanya..! Saya merespon kepadanya -sambil tersenyum- dengan maksud bercanda. “hehe….afwan kak!” sang ikhwah yunior itu mulai sadar dan agak tenang.Saya pun mulai serius menelangah isi kertas itu, walaupun sore itu otak saya sudah lumayan lelah setelah seharian dipakai. Kemudian…

“Oh…yang beginian sich sudah biasa, tiap tahun juga ada!” ungkap saya kepadanya setelah membaca satu paragraf. Memang, sejak saya kenal dengan aktivitas pergerakan kampus, saya sudah tidak asing dengan selebaran seperti ini. Ya, selebaran yang memuat kritik-kritik pedas terhadap fenomena demokrasi kampus yang sudah terlalu ‘diguritai’ (saya pake istilah ini, afwan) oleh para aktivis ikhwanul muslimin.

Namun, yang membuat saya cukup kagum ialah selebaran kali ini mencantumkan nama dan identitas penulis lengkap, plus bisa dihubungi! Ini mengindikasikan bahwa ‘langkah rahasia’ pergerakan ikhwan sudah mulai terdeteksi oleh orang awam. Sehingga dari kacamata ideologi demokrasi dalam bentuk formalnya, memang terlihat suatu ‘pelanggaran’ kode etik demokrasi yang sangat parah! Sehingganya lagi, si pengkritik ‘berani’ menunjukkan identitasnya karena ia sudah pede dengan pemahaman demokrasinya yang mungkin menurutnya selaras dengan ‘nada’ politik sebagaimana dipahami.

Disana, si pengkritik menilai bahwa segala kebijakan di dalam kampus yang terasa olehnya hanya memihak kepada satu golongan. Dan ia tahu bahwa golongan inilah yang memanipulasi kemenangan demi kemenangan dalam pemilihan umum di kampus. Sehingga yang menduduki jabatan-jabatan strategis akan selalu berada dalam genggaman ‘golongan rahasia’ ini, katanya. Dan ini adalah bentuk pendustaan terhadap demokrasi, simpulnya.

Saya sendiri tidak menafikan apa yang dikritiknya. Itu memang benar sekali. Analisa, penelitian, dan hipotesisnya bernilai 1 artinya benar!! kenapa? Karena saya tahu luar-dalam nya gerakan rahasia ikhwan itu. (duh, saya jadi teringat gerakan rahasia freemason yahudi… tanya kenapa??)

Back to our topic..

Sekarang, coba kita berbicara dengan hati. Coba kita kembali kepada Allah. Kita singkirkan dulu apa itu demokrasi, pancasila, politik, dan istilah-istilah ‘panas’ lainnya. Mari kita merenung dan bertindak jujur barang sejenak.

Sekarang, apa yang dipahami oleh golongan pergerakan rahasia ikhwan dengan si pengkritik tidak akan bertemu kecuali kedua-duanya kembali kepada pemahaman islam yang benar serta mencoba untuk belajar bagaimana langkah islam dalam mewujudkan kehidupan islam yang rahmatallil ‘aalamin.

Pertama. Jikalau kita bersandar kepada hukum positif dan pancasila serta tata tertib demokrasi, disini ikhwan harus berjiwa besar dan mengakui bahwa mereka sangat curang! Kenapa? Dalam demokrasi, aspirasi dan pendapat setiap jiwa adalah sama dan harus sampai kepada perwujudan kebijakan publik. Sedangkan yang terjadi di kampus ialah politisasi besar-besaran oleh kalangan ikhwan, agar segala yang bertentangan dengan hukum islam harus disingkirkan dalam kebijakan (walaupun tidak semuanya). Menurut demokrasi, ini salah, karena tidak semua orang beragama islam dan tidak setiap syariat islam klop dengan tatanan budaya lokal!

Kemudian, dalam demokrasi, semua jadwal pemilihan serta infrastruktur pemilihan harus adil, jujur, dan rahasia. Sedangkan praktik yang terjadi ialah ikhwan lagi-lagi berlaku curang. Jelas saja, para nasionalis dan liberalis tidak setuju. Lama-kelamaan tercium juga kan kecurangan-kecurangan seperti ini.

Kedua. Jika kita bersandar kepada fikroh (pemikiran) daripada gerakan ikhwan yang ingin mewujudkan tegaknya syariat, secara kasat mata, kita sebagai orang islam pasti setuju. Sayangnya, kaidah ‘kasar’ ini belum dipelajari detailnya bagaimana dan lansung selalu dipakai oleh para ikhwan, sehingga mereka lupa disana ada ‘rumah hantu’ demokrasi yang malah mereka ‘bela-belain’ masuk ke dalamnya.

Menegakkan syariat Allah di muka bumi, hati siapa yang tidak mau? Setiap orang kalau ditanya tentang hukum tuhan, pasti mereka ingin mewujudkannya. Namun sayangnya, dalam praktiknya manusia hidup dengan hati yang selalu diguncang oleh hawa nafsu dan setan. Sehingga hati mereka lalai dan kadang terlihat membenci hukum agama. Jika dipaksakan, sedang hati mereka belum siap, yang terjadi ialah gejolak yang sangat hebat!

Inilah yang saya takutkan! Di saat yang sama, kita para ikhwah capek-capek pontang-panting dalam kepanitian dan organisasi, tetapi di saat yang sama grafik kebencian masyarakat terhadap ketidakberesan fiqih da’wah islam yang diterapkan bertambah tinggi. Sehingga, syariat islam yang intinya adalah rahmah berubah -dalam kacamata orang awam- menjadi momok yang menakutkan!

Kalaupun sekarang gerakan ikhwan sukses mencetak kadernya taat dalam beribadah, itu murni dikarenakan hati-hati mereka yang telah ditundukkan oleh Allah dan menjadi wasilah mereka kepada Allah di zaman ’sekarat’ seperti ini. Kemudian, kalaupun PKS berhasil meraih perolehan suara yang lumayan -terlihat dari grafik kenaikannya yang signifikan setiap tahun- itu dikarenakan usaha mereka yang memang profesional dalam bidang politik plus didukung oleh pemikiran bahwa, islam maju karena politik! Semua orang -apalagi anak muda yang baru mencari-cari jati diri dalam islam- jika didorong oleh istilah aljihadu fii sabilillah, pasti mereka akan sangat bergairah. Nah, ikhwan-ikhwan ini terlalu bersandar kepada cita-cita ‘jihad dalam parlemen’ dan bercita-cita mendirikan khilafah islam lewat konstitusi!

Inilah yang saya cemaskan, dikala hati-hati manusia belum disentuh oleh da’wah lembut yang menghujam di hati, para mad’u malah terfitnah sehingga berbalik membenci islam. Jadi ternyata apa yang kita lakukan selama ini hanya membuang-buang waktu saja. Coba renungkan, usaha dan kesungguhan kita dalam kepanitian/organisasi sangatlah tidak sebanding dengan upaya kita dalam tazkiyatunnufus. Malah kita terhera-heran dengan istilah tasawuf dalam islam!? Apa itu tasawuf? Malah ada yang mengatakan bid’ah, ini sungguh kekacauan dari pemikiran yahudi! Dengan ulama/habaib/masyaikh pun kita jarang kenal, apalagi untuk bersu’bah dan mendengar nasehat-nasehat mereka. Kemudian yang terjadi kita sama sekali blank dengan hasil musyawarah ulama seluruh dunia. Yang tahunya cuma musyawarah DPP, DPR, MPR bahkan sidang mahkamah konstitusi yang membahas masalah KPK dan Polri!

Apa yang terjadi pada diri kita kemudian? Yang terjadi ialah gerakan kita dalam berda’wah malah terwarnai oleh hawa nafsu dan logika semata. Hati dikotori setiap hari, nasehat ulama pun sangat jauh dari diri kita. Kalaupun ada yang menyampaikan hasil musyawarah jumhur ulama, kita malah mengabaikan karena kefanatikan kita terhadap ulama harakah kita saja!

Seperti yang dikatakan para ulama yang shalih, saat ini kita umat islam -baik yang awam maupun ikhwah- terlalu sibuk dengan pemikiran-pemikiran yang tidak sampai kepada menjaga hati agar benar-benar takut kepada Allah! Kita lebih banyak duduk di ‘majelis sebab-akibat’ sehingga ruhani kita kosong dari robbul ‘alamin. Kita hari ini yakin bahwa kemajuan itu berasal dari keduniawian kita. Kita lupa bahwa pertolongan itu datang langsung dari Allah jika kita bertaqwa. Kita semua telah lupa dengan iman yang benar, ibadah yang benar, sunnah yang benar, dzikir yang benar, muamalah yang benar, dan akhlak yang benar.

Sebenarnya inilah hakikat Assiyasah Al Islamiyah! Yaitu bagaimana selalu berupaya membersihkan hati kita, kemudian mengajak keluarga dan lingkungan kita dengan hikmah dan akhlak yang karim agar semua orang kembali kepada islam yang seutuhnya. Simpel saja kan, mari amalkan islam kemudian sampaikan islam dengan akhlak yang mulia. Wallahu a’lam

Add comment November 18, 2009

Pesona Wajah orang yang Taqwa

Majelis As Syaikhul Ma'had

Pernah suatu kesempatan pada acara periwayatan hadits di sebuah  ma’had di Bogor, saya diberi nikmat oleh Allah untuk berkumpul dengan orang-orang shalih dan ulama-ulama lokal.

Saya melihat para ustadz, syaikh, santri berdatangan secara bergantian. Saya melihat, di sana terlihat jelas keberkahan dari pribadi-pribadi mereka yang mengagumkan. Itu terlihat dari cahaya wajah-wajah mereka yang penuh berkah. Tidak salah seorang Habib Munzir mengatakan “Jiwa yang banyak mengingat Allah, maka wajahnya akan memancarkan cahaya”. Habib Umar bin Hafidz pernah berkata “Para muttaqin akan memancarkan suatu kharisma, yaitu kharisma taqwanya kepada Allah.

Benar sekali bahwa Allah telah berfirman dalam Al Quran:

“Apakah orang yang dilapangkan hatinya oleh Allah untuk menerima Islam, ia dikaruniai oleh Allah dengan suatu cahaya” (Az Zumar:22).

Saya juga teringat sebuah itsar dari seorang sahabat Abdullah bin Mas’ud ra, bahwa “kebaikan itu akan memberikan cahaya pada wajah”. Bahkan Ali bin Abi Tholib pernah berkata: “Lintasan fikiran/perasaan seseorang akan Allah tampakkan pada dzohir(tampilan) mereka”. Bayangkan, jika seorang mukmin yang selalu berdzikir kepada Allah, maka Allah akan nampakkan kemuliaan pada dirinya.

Ajiib, saya jadi semakin yakin bahwa kemuliaan itu datang daripada kebaikan (‘amal shalih) yang dilakukan seseorang yang ikhlas hanya kepada Allah. Semakin dekat seorang kepada Allah, maka allah berikan balasan langsung kepada orang itu baik di dunia dan akhirat. Orang yang bersih hatinya, akan terlihat dari pesona pribadinya dan cahaya pada wajahnya. Orang yang telah dikarunikan nikmat seperti ini oleh di dunia, akan dilapangkan hatinya oleh dalam menjalani hidup di dunia ini. Allah melukiskan dalam Al Quran mengenai mereka di dalam Al Quran:

Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.. (Al Qiyamah:22) Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. (Al insan:11) Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan.(Al Mutahaffifin:24)

Sebaliknya, orang yang jauh dari mengingat Allah, maka Allah akan tampakkan pada dzahir tubuhnya. Baik pada muka,anggota badan atau gejolak hatinya. Orang yang banyak berdosa akan mengalami suatu kesempitan hidup yang terlihat dari gelagat dan akhlak yang bejat. Sebagaimana firman Allah

Barangsiapa yang lalai daripada mengingatKu, maka baginya kehidupan yang sempit” . Dan wajah-wajah pada hari itu muram..(Al Qiyamah:24) Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan..(Yunus:26)

Sholat dan Cahaya Ketaqwaan

Nabi saw bersabda “Sungguh, sholat itu ialah tiang agama”, jika baik sholatnya maka baik pula semuanya”. Allah juga berfirman “dirikanlah sholat untuk mengingatku”

Tidak bisa disangkal lagi bahwa sholat adalah amalan ‘ajaib’ yang bisa menghantarkan seseorang langsung menuju maqam (kedudukan) yang mulia di sisi Allah. Sebuah hadits yang panjang juga menjelaskan bahwa shalat bisa memberikan cahaya kesholihan pada wajah. Sebaliknya orang yang meninggalkan sholat, maka tercabutlah kesolihan dari wajahnya.

Shalat menjadikan diri bersinar dan penuh berkah

Ada sebuah kisah di zaman salaf yang pernah saya baca. Suatu kesempatan seseorang yang bertanya kepada seorang ulama yang shalih. ia bertanya “wahai ulama, mengapa orang-orang yang rajin sholat wajah orang itu terlihat bercahaya?” Maka, ulama itu menjawab: “karena ia sering menghadap kepada Dzat yang Maha Bercahaya (yakni Allah)”.Efek dari shalat yang benar akan berdampak besar terhadap kehidupan seseorang. Yang tadinya jauh dari ketenangan dan selalu gelisah, perlahan menjadi pribadi yang tenang. Yang tadinya ia suka berbuat maksiat, karena ia konsisten dengan sholat, akhirnya ia bisa menjadi ahli wara’. Seperti yang dikisahkan dalam hadits bahwa ada seorang laki-laki yang selalu mencuri padahal ia sholat. Kemudian nabi tersenyum dan mengatakan bahwa insya Allah shalatnya akan menghilangkan sifat suka mencurinya.

Nah, sekarang jikalau kita belum mampu untuk selalu khusyu’ minimal usaha kita ialah mencoba untuk ON TIME dalam menunaikan shalat. Kemudian belajar memahami arti dan makna bacaan-bacaan shalat. Belajar bagaimana untuk tuma’ninah yang sempurna serta bertanya kepada ulama shalih tentang shalat kita. Semoga Allah menyempurnakan. Wallahu a’lam

Add comment November 18, 2009

Menikmati Menjadi Muslim

Monday, 09 November 2009 10:02
Ia mengaku menikmati menjadi pendeta. Sayang, dari lubuk hatinya paling dalam, tak pernah merasakan kebahagiaan. Atas izin Allah, kebahagiaan itu ia temukan dalam Islam
Hidayatullah.com–Suatu hari ketika Idris Tawfiq sedang memberikan kuliah di Konsulat Inggris di Kairo, ia menyatakan dengan jelas bahwa dirinya tidak menyesali masa lalunya; tentang hal-hal yang dilakukannya sebagai seorang penganut ajaran Kristiani dan kehidupannya di Vatikan selama lima tahun.

“Saya menikmati saat menjadi pendeta, menolong orang selama beberapa tahun. Namun jauh di dalam hati saya tidak bahagia, saya merasa ada sesuatu yang salah. Untungnya, dengan izin Allah, beberapa peristiwa dan kebetulan terjadi dalam hidup yang membawa saya kepada Islam,” katanya kepada para hadirin yang memenuhi ruang pertemuan di Konsulat Inggris.

Tawfiq kemudian memutuskan berheni menjadi pendeta di Vatikan. Ia lalu melakukan petualangan ke Mesir.

“Saya dulu mengira Mesir itu sebuah negeri yang banyak piramidnya, unta, pasir, dan pohon palem. Saya menyewa pesawat untuk pergi ke Hurghada.”

“Terkejut karena keadaan di sana sama seperti pantai-pantai  Eropa, saya lantas segera mencari bis menuju ke Kairo, di mana saya mendapatkan pengalaman yang mengesankan seumur hidup”

“Itu pertama kali saya berkenalan dengan Muslim dan Islam. Saya memperhatikan orang Mesir begitu ramah, baik, tapi juga sangat kuat.”

“Seperti halnya semua orang Inggris, pengetahuan saya tentang Muslim hingga saat  itu tidak melebihi dari apa yang saya dengar di TV tentang bom bunuh diri dan pasukan perlawanan, yang memberikan kesan bahwa Islam adalah agama yang sering membuat masalah. Namun, ketika mengunjungi Kairo, saya menemukan betapa indahnya agama Islam ini. Orang-orang yang sangat sederhana yang berjualan di pinggir jalan, akan segera meninggalkan dagangan mereka begitu mendengar suara panggilan untuk shalat. Mereka memiliki keyakinan yang kuat terhadap keberadaan dan takdir Allah. Mereka puasa, shalat, membantu orang miskin, dan bercita-cita untuk pergi ke Makkah dengan harapan bisa mendapatkan surga di akhirat nanti,” cerita Tawfiq tentang pengalamannya di Mesir.

Tawfiq melanjutkan dengan cerita sekembalinya dari Kairo.

“Ketika saya kembali dari sana, saya melanjutkan pekerjaan sebagai guru agama. Mata pelajaran yang wajib dalam pendidikan di Inggris hanyalah kajian tentang agama. Saya mengajarkan tentang agama Kristen, Yahudi, Budha, dan lainnnya. Sehingga setiap hari saya harus selalu membaca tentang agama-agama itu, agar bisa menyampaikan pelajaran kepada murid-murid, yang kebanyakan adalah pengungsi Muslim. Dengan kata lain, memberikan mata pelajaran tentang Islam, mengajarkan saya banyak hal.”

Anak-anak muridnya secara tidak langsung lebih mengenalkan dirinya dengan kehidupan Muslim.

“Tidak seperti kebanyakan remaja yang membuat ulah, murid-murid itu merupakan contoh yang baik seperti apa Muslim itu. Mereka sopan dan baik, sehingga persahabatan terbangun di antara kami, dan mereka meminta izin apakah dapat menggunakan ruang kelas saya untuk shalat selama bulan Ramadhan.”

“Beruntungnya, kelas saya adalah satu-satunya ruangan yang berkarpet. Jadilah saya terbiasa duduk di belakang, melihat mereka shalat selama satu bulan. Saya mencoba menyemangati dengan ikut berpuasa selama bulan Ramadhan bersama mereka, meskipun ketika itu saya belum menjadi seorang Muslim.”

“Satu hari ketika saya membaca terjemahan Al-Qur’an di dalam kelas, saya sampai pada ayat: ‘Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur’an) itu yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) ….’. Tanpa saya sadari air mata pun mengalir. Saya berusaha keras untuk menyembunyikannya dari murid-murid.”

Kemudian terjadi peristiwa serangan 11 September 2001. Tawfiq pun mengalami titik balik dalam hidupnya.

“Pada hari berikutnya, saya terpuruk dan melihat bagaimana orang-orang merasa ketakutan. Saya juga takut hal yang sama terjadi di Inggris. Saat itu orang-orang Barat mulai menakuti agama ini dengan menyalahkannya sebagai teroris.”

“Bagaimanapun, pengalaman saya bergaul dengan Muslim memberikan pandangan yang lain. Saya mulai berpikir, ‘Mengapa Islam? Mengapa kita menyalahkan Islam sebagai agama atas tindakan teror yang kebetulan dilakukan oleh orang yang beragama Islam. Sementara tidak ada orang yang menyalahkan agama Kristen sebagai teroris ketika umat Kristen melakukan hal yang sama?”

“Satu hari saya pergi ke masjid terbesar di London untuk mendengarkan lebih banyak tentang agama ini. Sesampainya di Masjid London Central (ICC), di sana ada Yusuf Islam. Mantan penyanyi pop itu duduk dalam sebuah lingkaran, berbicara kepada orang-orang mengenai Islam. Setelah beberapa saat saya bertanya kepadanya, ‘Apa sebenarnya yang Anda lakukan jika ingin menjadi seorang Muslim?’”

“Ia menjawab bahwa seorang Muslim harus percaya kepada Tuhan yang Esa, shalat lima kali sehari, dan berpuasa di bulan Ramadhan.”

“Saya menyelanya dengan mengatakan bahwa saya percaya semua hal itu dan bahkan saya telah ikut berpuasa di bulan Ramadhan.”

“Lantas ia bertanya, ‘Apa yang Anda tunggu? Apa yang membuatmu tertahan?’”

“Saya bilang kepadanya, ‘Tidak, saya tidak bermaksud untuk pindah agama’”

“Saat itu terdengar panggilan untuk shalat dikumandangkan, semua orang lantas bergegas dan membentuk barisan untuk shalat.”

“Saya duduk di belakang, menangis dan menangis. Kemudian saya bertanya kepada diri saya sendiri, ‘Siapa yang coba saya bohongi?’”

“Setelah mereka selesai shalat, saya segera menghampiri Yususf Islam, memintanya untuk mengajarkan kalimat yang harus saya ucapkan untuk pindah agama.”

“Setelah ia jelaskan makna kalimat itu dalam bahasa Inggris kepada saya, kemudian saya mengucapkan dua kalimat syahadat dalam bahasa Arab, “Tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah,” cerita Tawfiq mengenai keislamannya, seraya berusaha menahan air matanya.

Sejak itu kehidupan Tawfiq berubah arah. Ia tinggal di Mesir dan menulis sebuah buku tentang dasar-dasar pemahaman tentang Islam.

Lewat bukunya Gardens of Delight: A Simple Introduction to Islam, ia ingin menjelaskan kepada dunia bahwa Islam bukanlah agama teror dan bukan agama yang berisi kebencian. Hal yang selama ini belum ada orang yang berusaha menjelaskannya.

“Maka saya putuskan untuk menulis buku itu, untuk menyampaikan kepada non-Muslim mengenai prinsip dasar Islam. Saya berusaha memberitahukan kepada orang, betapa indahnya Islam dan bahwa Islam memiliki harta kekayaan yang begitu mengagumkan. Bahwa hal terpenting menjadi seorang Muslim adalah saling mencintai. Nabi berkata, ‘Bahkan sebuah senyuman kepada saudaramu adalah sedekah.’”

Tawfiq juga menulis buku tentang Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam, yang menurutnya agak berbeda dengan buku-buku mengenai beliau pada umumnya.

Menurut Tawfiq, “cara terbaik dan tercepat” untuk mengenalkan wajah Islam yang sesungguhnya kepada dunia adalah dengan memberikan contoh yang baik dalam kehidupan nyata. [di/ri/www.hidayatullah.com]

Add comment November 17, 2009

Previous Posts


Almanak

Desember 2009
S S R K J S M
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Newest

Categories

Komentar Pembaca

wahyudi di Metode Salafusshalih dalam Men…
Azan di Pikir-pikir lagi kalo mau…
Azan di Pikir-pikir lagi kalo mau…
arvin di Pikir-pikir lagi kalo mau…
arfi di Pikir-pikir lagi kalo mau…
sukma di Pikir-pikir lagi kalo mau…
adisaputra. di Cara Mudah Meraih Sholat …
Roni di Pikir-pikir lagi kalo mau…
azan di Pikir-pikir lagi kalo mau…
Tiyu di Pikir-pikir lagi kalo mau…

Click!

Merenunglah sejenak... Subhanallah...! Syair dan Kisah... Think! Tips Untuk Perempuan What's up?

Paling banyak ditelaah